Setelah sekian minggu sebelumnya hanya menghabiskan waktu ngider-ngider di sekitaran Bekasi saja, akhirnya di minggu awal bulan Februari ini saya tergerak hati untuk mengajak Thina jalan ke tempat ke yang jauhan dikit. Harap maklum, entah kenapa di bulan ini pemasukan saya lagi agak seret, jadinya rada males kemana-mana (bukan ga punya duit, tapi males aja keluar duit, hahaha). Dan destinasi kali ini pun masih di kisaran Bekasi sonoan dikit sih, tapi kalau ditilik di Maps lumayan juga  ya jaraknya. Sekitar 35 km.

Dengan bermodalkan informasi “10 cafe instagrammable di Jakarta” yang kami temukan di Google, kami berdua akhirnya sepakat untuk berkunjung ke…. Guest House Arif-Inn di Cilandak. “Keren nih tempatnya, tempatnya colorful, trus ada kolam renangnya gitu, bikin kita jadi berasa di Bali”, ucap Saya dengan penuh ke-sotoy-an. Iya, seumur hidup saya emang belum pernah ke Bali.

Sayangnya hari ini keberuntungan belum memihak kami. Setelah menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam dari Bekasi, kami harus kecewa karena ternyata Restoran tersebut sedang digunakan untuk wedding party dan tertutup untuk umum. Sejenak saya coba meminta penjelasan dari satpam, katanya restoran baru dibereskan dan dibuka untuk umum sekitar jam 3 sore nanti. Saya mengintip arloji dan waktu menunjukkan pukul 12 siang. Alamak, masih jauh panggang dari api kalo nungguin sampe jam 3 sore sih.

“Mau nunggu aja nih sampe restonya dibuka nanti jam 3?”, tanya saya ke Thina yang raut wajahnya mulai kelabu.

“Kesorean ngga pulangnya? Kalo ngga cari tempat lain aja deh”.

Baiklah, terpaksa kami meninggalkan parkiran sembari merestrukturisasi kembali rencana perjalanan hari ini. Sempat kami singgah sejenak di Indomaret Point karena hujan yang mendadak menerpa, momen meneduh itu kami jadikan kesempatan untuk mencari-cari destinasi lain yang lebih masuk akal. Akhirnya saya merekomendasikan restoran yang tak kalah colorful, yaitu Happiness Kitchen & Coffee. Jaraknya hanya sekitar 5 menit dari tempat kami sekarang, so.. we just go. No wasting time anymore.

 

Dari luar, suasana yang cozy dan colorful langsung dapat kami rasakan. Desain restoran yang menyerupai rumah-rumah di Belanda (ini sotoy aja ya, saya juga belum pernah ke Belanda) dengan jendela-jendela yang lebar, warna yang cerah dan sejumlah tanaman hias dalam porsi yang cukup membuat kami dapat merasakan ambience yang nyaman. Di area tamannya tersedia sejumlah meja dan kursi untuk pengunjung yang ingin menikmati suasana outdoor, lengkap dengan deretan bohlam lampu yang tersusun rapi di atasnya. Saya yakin, area taman ini akan lebih keren lagi jika kami datang di malam hari.

Berhubung cuaca hari itu sedang tidak konsisten; kadang panas menyengat dan kadang mendadak hujan semaunya; maka kami putuskan untuk masuk saja ke dalam restoran. Bye-bye outdoor area.

 

Masuk ke dalam, seorang pelayan langsung melemparkan senyum ramah dan memandu kami ke salah satu kursi kosong di sudut ruangan. Segeralah saya duduk dan melepaskan tas ransel yang membebani punggung sedari tadi. Sambil menengok ke sekiling, saya dapat merasakan suasana yang lebih cozy lagi dari yang tergambarkan di luar tadi.

Tembok-tembok yang nampak seperti sudah mengelupas serta tanaman-tanaman artifisial yang menjuntai di eternit tidak membuat restoran ini nampak kumuh dan menyeramkan. Yang saya rasakan justru sebaliknya, dengan hiasan-hiasan berupa gantungan papan kayu, grafiti, serta sejumlah positive vibes membuat restoran ini sangat-sangat-sangat intagrammable. Dijepret dari sudut manapun, kayaknya bakalan bagus deh di tangkapan kamera.

Saat kami datang, suasana restoran sedang cukup ramai meskipun tidak sampai crowded sekali. Ada 2 kelompok anak muda, 3 pasangan sejoli dan 2 orang pemuda yang sedang asyik menyendiri sambil menatap layar gawai-nya masing-masing. Saya merasa tempat ini sangat nyaman untuk dikunjungi siapapun dalam jumlah berapapun. Baik untuk ngumpul ramai-ramai, romantisme berdua maupun ber-introvert ria. Satu yang paling saya suka adalah banyaknya colokan listrik yang tersedia di sudut-sudut meja, membuat kita bisa leluasa nongkrong lama tanpa takut hape kehabisan daya.

Terlalu semangat menatap sekeliling, Thina menyadarkan saya dan mengingatkan untuk segera memesan makanan. Buku menu restoran ini cukup unik dan tebal, halaman covernya berbentuk jendela dan senada dengan desain jendela gedung ini.

Ternyata, meski dekorasi dan venue adalah poin penjualan utama di Happiness Kitchen & Resto, tapi menu-menunya ternyata lumayan lengkap juga lho. Mulai dari yang standar seperti nasi goreng dan soto; yang sehat seperti salad; rice bowl  hingga berbagai dessert seperti waffle dan pofferties.

Thina yang paling doyan sama menu sambal matah, langsung memesan satu porsi Rice Bowl Ayam Sisit Sambal Matah dengan penuh semangat. Sementara saya, yang biasanya paling cari aman dengan membeli menu standar semacam nasgor, mendadak ingin coba yang berbeda juga. Akhirnya pilihan saya jatuh padaaa… Mie Terbang. Hahaha, mie juga sih, cuma diatur sedemikian rupa aja biar keliatan kayak terbang gituu. Lumayan, bisa buat foto unik di timeline.

Terakhir, untuk minumnya kami pesan Milkshake Chocholate Doughnut yang toppingnya kayaknya rame banget.

Kisaran harga menu di Happiness Kitchen & Coffee ini lumayan standar sih… maksudnya standar anak Jaksel yang borjuis gitu. Satu porsinya kisaran 30 sampai 50 ribuan. Segitu kayaknya masuk itungan Standard price kalo pake kacamatanya anak Cilandak dan sekitarnya. Tapi bakal beda cerita kalo kita pake kacamata orang Bekasi, ehehehe. Makanan di Bekasi kayaknya sih lebih murah dan affordable.

Satu-satunya yang bikin saya kaget adalah Es Teh Manis yang harganya 22 ribu segelas, dan itu non refill lho! Wuidih, harga segitu kayaknya udah bisa dapet 4 gelas thai tea di drinkshop pinggir jalan tuh, hahaha. Wes positif thinking lah, mungkin maksud empunya punya resto itu biar kita lebih tertarik nyobain minuman lain yang lebih mahal.

 

 

Dan seperti biasa, yang pertaman kali datang adalah minumannya dulu. Milkshake Chocolate Doughnut ini disajikan dalam satu buah gelas berukuran ekstra besar. Toppingnya lengkap dan rame banget kayak pesta ultah bocah di MCD. Dalam hamparan cream manis itu Saya bisa menemukan Oreo, Pocky, Wafer, Cokelat, Biskuit sampe ke Popcorn segala. Rasanya sudah pasti manis, meskipun tidak berlebihan. Tapi tetap saja, sebanyak ini kalau dihabiskan sendiri ya mbelenek.

Jadi sepertinya merupakan keputusan tepat dari kami untuk membeli minum seporsi  berdua saja, karena kalau milkshake ini saya habiskan sendiri, mungkin setelahnya saya harus segera pergi ke dokter untuk memeriksakan gejala diabetes.

 

 

Sekitar 10 menit menanti, pesanan kami pun sudah tiba di atas meja. Saya yang memesan Mie Terbang langsung antusias ingin melihat bentuk mie unik ini. Yap, mie ini terlihat seperti bisa mengangkat sendiri meskipun saya tidak mengangkatnya. Dan tentu saja, ini bukan karena ilmu sihir macem Voldemort atau ilmu telekinesis kayak di film X-men. Ehm, don’t watch movie too much.

Yang bikin mie ini bisa ‘ngambang’ adalah karena ada sebatang plastik bening berdiri yang tertutupi oleh mie. Batang plastik inilah yang bikin ilusi seakan mie-nya bisa terbang. Tapi duh.. batang ini juga yang bikin saya kesusahan pas mau menyantap mie-nya. Kehalangan gitu, hahaha. Akhirnya ya mau tidak mau setelah saya mengambil foto, batang itu saya singkirkan juga daripada nanti tangan saya keserimpet.

Rasanya? Hmm.. sama aja kayak sih kayak mie goreng di restoran-restoran pada umumnya, macem di Solaria misalnya. Tapi porsinya sih pas dan rasanya cukup gurih di mulut. Intinya sebenarnya Mie Terbang ini adalah Mie Goreng yang dikasih topping batang plastik, hahaha.

Oya, gimana dengan menu sambal matahnya Thina? Sejauh saya perhatikan si, sepertinya dia cukup menyukainya. “Enak bangeeeet”, kata Thina sambil menggoyangkan kepala pertanda senang. Rice bowl yang satu ini tidak disajikan di mangkuk pada umumnya, tapi di batok kelapa. Saya jadi teringat Es Basian (Batok Isian) yang dulu pernah populer, tapi sayangnya sekarang sudah menghilang entah kemana, hiks.

Satu-satunya hal yang tidak disuka Thina adalah porsinya yang sepertinya terlalu banyak. Jadi wadah batok kelapa yang dipakai ini bukan kelapa ukuran kecil, tapi ukuran lumayan jumbo. Alhasil, Thina pun tidak sanggup untuk menghabiskan seluruhnya. Biasanya sih, dalam kondisi ini saya akan menjadi ‘malaikat penolong’ (heleh) yang membantu menghabiskan. Tapi saya ga terlalu suka sambal matah, jadi… yah, sudahlah.

 

Wis, segitu aja sih kayaknya review saya kali ini. Secara garis besar kami menyukai tempat ini dan akan berkunjung lagi kalau ada kesempatan. Mungkin kalau Arief inn nya tutup lagi, hahaha.

 

Overall rating by me : 8/10
What We Like :
Dekorasi colorful dan instagrammable, Banyak Colokal, Pelayannya sangat ramah.
What We Don’t : Harga agak overprice (apalagi teh manis nya)

 

Happiness Kitchen & Coffee
Jl. Moh. Kahfi 1 No.36 A, Ciganjur, Kec. Jagakarsa,
Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12630

Telp : (021) 22714835

Rabu, 12 Februari 2020
Ditulis sambil mendengarkan ketukan pianonya Ardhito Pramono