Sungguh, belum pernah saya merasakan kenikmatan nan syahdu sesederhana ini. Pagi hari itu, di atas kasur pegas yang berwarna kuning menyala itu, saya merebahkan tubuh dengan begitu rileks. Daun jendela kamar yang sedikit terbuka menyambut saya dengan hembusan angin pagi yang semilir lembut, meliuk-liuk mesra dan menyejukkan hingga ke relung hati. Mentari yang biasanya sudah memancarkan sinar teriknya, difiltrasi dengan sempurna oleh gugusan awan kelabu di langit-langit kota Kuningan ini. Saya tertidur pulas, penuh kebahagiaan.

Ini adalah hari kedua pasca saya berlebaran di kampung halaman, jauh meninggalkan kontrakan sempit nan panas membara di sudut kota Bekasi. Dan seperti biasa, ruas jalanan Jakarta yang macet pun mulai berpindah ke kampung halaman saya ini. Dengan jalanan utama yang hanya terdiri dari dua jalur berlawanan arah, Kota Kuningan di setiap momentum lebaran selalu identik dengan kemacetan tak berujung. Niat berkunjung ke tempat wisata agaknya hanyalah momentum buang-buang waktu dan bensin belaka. Maka tentu saja, tak ada kenikmatan lain yang lebih syahdu bagi saya selain tidur pulas di pagi hari yang mendung ini.

Namun sayang sekali, segala kebahagiaan yang saya nikmati di pagi hari itu mendadak harus sirna, tatkala sebongkah bantal persegi menghujam deras ke kepala saya. “Bangun… Banguuun… Udah pagi oooy”, begitulah suara yang terdengar oleh setengah kesadaran saya ini. Rupanya Farid, adik saya yang bungsu itu tidak senang dengan peringai malas saya di pagi hari ini, sungguh tidak berperi-keadikan.

Dengan segala kepasrahan saya kumpulkan segenap sukma kembali. Pandangan mata yang buram saya atasi dengan memasangkan kacamata minus ber-frame kayu ke depan bola mata. Sayup-sayup kembali terdengar suara dari arah dapur, kali ini Ibu saya yang bicara setengah berteriak, “Aa banguuun, jangan males-malesan! sana temenin ayah lari pagi ke Agrowisata!”.

Kalau Ibunda sudah bertitah, maka tak seorang pun yang sanggup membantah. Sungguh, andaikan sesosok Venom yang sangar bertemu dengan Ibu saya, niscaya dia akan tersimpun memohon pengampunan. Jika Ibunda menghadap perkara, maka bersiaplah menerima deraian kata-kata dari mulutnya, menghujam ke ulu hati, menggelegar ke seisi rumah. Dan tentunya itu bukanlah hal yang saya harapkan untuk memulai pagi di hari libur nan syahdu ini.

Maka secepat kilat saya pun menghampiri Ayah yang sudah menanti di halaman rumah. Dengan kompak menggunakan kaos seadanya dan celana basket berbahan mengkilap, kami berjalan santai meninggalkan rumah menuju ke arah jalan raya.

 

Ternyata tak butuh waktu yang lama untuk bisa sampai ke lokasi yang dituju. Hanya dengan berjalan sekitar 3 kilometer dan melewati sebuah jembatan kecil, kami sudah tiba di pintu masuk kawasan Agrowisata Jalaksana ini. Posisinya tak jauh dari Polsek dan Puskesmas Jalaksana.

Tak ada papan selamat datang, patung berbentuk simbol, apalagi balon-balon raksasa ala Meikarta yang super-alay itu. Kami hanya menemukan sebuah spanduk sederhana bertuliskan “Selamat Datang di Agrowisata Desa Jalaksana” yang dipasang pojok kiri dari gerbang masuk. Tak ada satupun petugas yang berjaga sehingga kami bisa leluasa menerobos masuk tanpa rasa dosa. Wajar, karena pembangunan kawasan wisata ini memang belum rampung seluruhnya.

Jalanan setapak berlapis beton menjadi akses utama kami menuju Agrowisata, membelah kawasan persawahan dan tertuju langsung ke arah Gunung Ciremai. Hanya beberapa ratus meter dari pintu masuk, kami sudah dapat merasakan sensasi yang tak biasa : Hamparan Oryza Sativa yang terhampar luas memenuhi pelupuk mata, dengan latar belakang Gunung Ciremai yang gagah perkasa berselimut kabut pagi, diperkaya lagi dengan semilir angin pagi nan sejuk yang bergerak tak tentu arah. Hati siapa yang tak takjub merasakan kedamaian se-gratis ini?

Sebagai kota yang terletak persis di kaki-kaki gunung Ciremai, semesta menganugerahi Kuningan dengan kontur dataran yang tinggi, iklim yang sejuk nan damai, serta tanah yang gembur nan subur. Maka tentu saja Kuningan tak hanya menjadi salah satu kota Agraria termasyhur, melainkan juga memiliki potensi wisata yang luar biasa. Pernah satu waktu saya berkelakar, “Di Kuningan itu, kalau ada tanah nganggur dikit, poles saja sekenanya dan beri hiasan-hiasan mini. Niscaya esok hari ia akan menjadi tempat wisata yang ramai”.

Pernyataan itu bukan tanpa bukti, di momentum lebaran ini Kuningan tak pernah kekurangan wisatawan yang tergerak karena informasi dari media sosial. Sebut saja Taman Cisantana, Bukit Panembongan, Taman Mayasih atau Bumi Pelangi Jalaksana yang tak lain adalah tanah tak terurus yang dipoles ulang oleh tangan-tangan kreatif hingga menjadi destinasi pariwisata. Dan tahun ini, geliat perkembangan wisata itu semakin menjadi-jadi. Agrowisata Jalaksana hanyalah contoh kecil diantara keseluruhannya.

 

 

Sambil melanjutkan langkah kaki secara perlahan, kami menyempatkan sejenak waktu untuk berinteraksi dengan salah seorang petani yang sedang mengawasai area sawahnya. Ia menyambut dengan ramah, dan tak sungkan untuk berbagi angpao cerita tentang kawasan persawahan ini. “Kenapa sawahnya ditanami padi dan umbi-umbian pak? kenapa tidak coba menanam gandum?”, celetuk saya yang disambut dengan wajah heran sang petani. Ayah langsung menjitak kepala saya dengan spontan.

Menyenangkan sekali rasanya bisa menyapa dan berdiskusi langsung dengan para petani. Selain bisa meningkatkan kadar keilmuan saya perihal bercocok tanam, saya juga bisa leluasa bertukar pikiran, meskipun akhirnya malah menjadi obrolan yang melantur, seperti “Apakah tanaman padi bisa tumbuh lebih cepat kalau diberi musik koplo?”, “Jika kita mengawinsilangkan padi dengan cokelat maka apakah akan jadi koko krunch?”, atau “Apakah padi akan berhenti vakum andai sekiranya saya jadi vokalis baru?”. Wait, sebenarnya ini kita sedang membahas padi yang mana si.

Lupakan paragraf tidak penting barusan. Kini saya dan Ayah melanjutkan lagi langkah kaki sesuai dengan tujuan awal. Sepanjang jalan kami berbapapasan dengan gapura berkerangka besi dengan beragam desain dan warna. Awalnya kami sempat bingung, apa sebenarnya motif penempatan kerangka besi yang kusam di sepanjang jalan ni, namun setelah berdiskusi beberapa saat akhirnya kami sadar apa maksud tujuannya : Tanaman rambat!

 

 

Meskipun beberapa kerangka yang ada masih teronggok kosong dan kusam, tapi di sebagian kerangka lain kami dapat menemukan sejumlah tanaman rambat yang mulai menggeliat pertumbuhannya. Bahkan, ada juga yang yang sudah menghasilkan buah berukuran besar sempurna. Timun suri, pare, atau bahkan anggur bisa jadi akan memenuhi kerangka-kerangka warna warni ini kelak. Sebuah konsep yang menarik.

Jika lelah berjalan kaki dan ingin duduh sejenak menikmati pemandangan yang tersaji, kalian bisa beristirahat di sejumlah saung-saung permanen yang ada di sebelah kanan dan kiri jalan setapak. Seperti tak ingin kalah meriah, saung-saung ini pun diwarnai dengan warna-warna cerah seperti merah, biru dan kuning. Untuk para jomblo, cobalah membawa gadis incaranmu ke saung ini dan nyanyikanlah ia lagu You’re still the one karya Shania Twain, niscaya seisi semesta akan menggerakkan hatinya untuk menerima pinanganmu. Tapi itu juga kalo suara kalian merdu aja sih.

Oke, kini kami telah tiba di penghujung jalan setapak yang sedari tadi kami lalui. Sebuah papan rangka besi bertuliskan Agrowisata Jalaksana menjadi penanda bahwa kami telah tiba di tujuan akhir. Colorful, adalah satu kata yang tepat untuk menggambarkan tempat ini. Dinding-dinding bermotif batu, gedung besar bertuliskan ‘Bale Tani’, dua buah miniatur lumbung padi hingga tempat duduk kayu yang nyaman, semuanya kompak diberikan warna-warni nan cerah. Saya merasa seperti LGBT kembali ke masa muda lagi.

 

Tak butuh waktu lama, saya langsung menyadari perihal ke arah mana pemasaran Agrowisata Jalaksana ini kelak. Selain bisa dijadikan destinasi ber-lenjeh-lenjeh ria di sore hari, tempat ini juga sangat memungkinkan untuk digunakan sebagai sarana mempelajari dunia pertanian bagi generasi masa kini yang lebih akrab dengan pabji dibandingkan dengan padi. Bahkan, kalau saya ber-imajinasi lebih luas lagi, saya membayangkan tempat ini bisa dijadikan semacam bioskop terbuka untuk memutar film-film G30SPKI yang sedang trend saat ini. Ya, layar tancep.

Jikalau sedang masa sepi diluar peak season, tempat ini juga bisa digunakan sebagai destinasi prewedding sekaligus venue pernikahan dengan konsep garden party. Ahh.. rasa-rasanya berbagai potensi bisa digali mendalam dari sepetak tanah di tengah-tengah sawah ini. Akan tetapi, tentu semuanya kembali ke manajemen yang menaungi. Apakah sanggup untuk berinovasi dan beradaptasi atau mau begitu-gitu saja?

Jujur saja, dari berbagai destinasi wisata di Kuningan, hanya ada satu hal yang selalu saya benci : Tarif tiket masuk yang seringkali tidak masuk akal. Entah sudah kesekian kali saya mengunjungi sebuah tempat wisata baru, membayar 25 hingga 50 ribu rupiah diluar biaya parkir (yang bisa sampai 5 ribu), hanya untuk menemui seonggok tanah yang dihias purwarupa. Hiasannya pun seringkali bukan berbentuk permanen, hanya tersusun dari bambu-bambu yang direkatkan dengan paku seadanya. Sungguh, ini bukanlah perkara sederhana, kalau dibiarkan terus menerus maka bukan tidak mungkin masa depan pariwisata yang cerah akan berangsur memburam.

Entah sudah berapa banyak teman saya yang menyampaikan rasa gundahnya, “Kemarin saya abis dari tempat wisata nganu yang baru tuh. Ternyata yaudah gitu doang, mana bayarnya mahal banget anjir, ga worthed banget deh sama tiket masuknya”. Nah, dari curhatan itu saja saya sudah bisa mengambil intisari paling mendasar : Silahkan pasang tarif mahal, asalkan sebanding dengan fasilitas yang ditawarkan. Kalau bahasa ekonominya, jangan buru-buru kepengen Break Even Point.

Untungnya apa yang ada di hadapan saya kali ini agak bertolak belakang dari biasanya. Meskipun jalan setapak yang kami lalui belum seluruhnya tertutup beton, tapi keseluruhan sarana yang tersedia sudah berbentuk bangunan permanen, bukan abal-abal. Fasilitas yang tersedia pun cukup lengkap, seperti toilet, kantin hingga mushola. Cuma perkara tarif masuknya saja yang kini masih belum pasti.

 

 

Tak terasa mentari yang sedari tadi tertunduk dibalik awan kini mulai menunjukkan sinar teriknya. Hawa yang sejuk berangsur-angsur menjadi panas, pertanda sudah waktunya kami untuk pulang. Sambil melangkahkan kaki meninggalkan lokasi, hati saya bergumam menyampaikan do’a; kelak ketika pembangunan telah rampung dan kawasan ini resmi menjadi area wisata, semoga tiket yang diaplikasikan tidak terlalu berlebihan, apalagi sampai pake hitungan ajimumpung.

Karena kemenangan terbesar sektor pariwisata adalah saat kita berhasil membuat pengunjung bahagia dan bercerita kesana kemari, bukan sekedar datang sekali dan tak pernah kembali lagi.

 

Bekasi, 24 Juni 2019
Ditulis sembari mendengar kegaduhan di rumah tetangga.