Mengejar Titan Arum Di Kebun Raya Cibodas

Bagi sebagian besar orang, ia mungkin hanya seonggok bunga beraroma tak sedap belaka. Tapi bagi saya, ia adalah simbol dari kesabaran dan kesetiaan. Sabar, karena harus menunggu hingga bertahun-tahun lamanya hanya untuk melihatnya mekar selama beberapa hari saja. Pun juga setia, karena ada masanya ia akan memasuki fase ‘istirahat’ yang membuatnya nampak lemah dan layu tanpa bisa kita prediksi kapan akan bangkit dan tumbuh kembali.

Ialah sang bunga bangkai, titan arum atau biasa disebuh amorphopalus titanum di dalam bahasa latin. Sebuah bunga yang unik karena alih-alih berukuran mungil dalam genggaman, ia justru menjulang tinggi hingga 2 meter lebih. Berwarna merah dengan tekstur seperti daging mentah, namun ber-aroma tidak sedap seperti daging busuk.

Tak mudah untuk menemukannya. Karena sejauh ini, diluar dari habitat aslinya ia baru berhasil dikembang biakkan di beberapa tempat budidaya. Salah satunya adalah Kebun Raya Bogor dan Kebun Raya Cibodas. Well, mari  lanjutkan scroll ya, karena berikutnya saya akan banyak bercerita tentang petualangan untuk mengejar sang titan arum…

 


Bunga Bangkai yang (masih saja) tertukar.

Kiri : Bunga Bangkai – Kanan : Bunga Rafflesia

Jika bicara tentang Bunga Bangkai, saya yakin pasti sebagian besar orang akan membayangkan sebuah bunga dengan kelopak merah cerah bernama latin Rafflesia Arnoldi. Padahal, bunga bangkai dan bunga rafflesia itu berbeda jauh lho antar satu sama lain. Memang sih, keduanya punya bau busuk yang mengundang serangga, serta sama-sama dalam status dilindungi dan sangat langka. Namun jika kita lihat dari bentuk, sifat biologis serta siklus hidup, keduanya sungguh amat berbeda jauh.

Bunga bangkai itu punya ukuran yang raksasa dengan tonggol atau spadix yang menjulang tinggi ke atas. Sedangan bunga rafflesia hanya berukuran beberapa puluh centimeter dengan bentuk yang melebar ke samping. Bunga rafflesia tergolong sebagai tumbuhan parasit yang hanya bisa hidup bergantung dari pohon inang. Sementara bunga bangkai tergolong dalam keluarga talas-talasan – memiliki umbi, batang serta akar sehingga ia bisa mencari makan sendiri.

Kalo udah mulai paham, kita lanjut bahas titan arum ya!

Sesuai yang saya jelaskan di awal, tumbuhan ini memang butuh waktu hingga bertahun-tahun untuk bisa mekar. Masa hidupnya terbagi dalam 2 siklus utama yakni fase vegetatif dan fase generatif. Dalam masa vegetatif, ia akan tumbuh tinggi dengan bentuk mirip pohon pepaya, namun mudah dibedakan dari batangnya yang berwarna hijau dan bercorak totol putih. Sementara dalam masa generatif, ia akan ber-reproduksi dengan membentuk bunga raksasa. Dan diantara kedua fase itu, ada fase dorman dimana ia berubah menjadi umbi dan layu, menanti waktu yang pas untuk bertumbuh kembali.

Siklus hidup bunga bangkai. Sumber : erianggorokasih.com

Supaya makin tertarik, saya lampirkan beberapa fakta unik tentang Titan Arum ya!

  • Kerabat dekatnya adalah amorphopallus gigas, yang punya kelopak bunga lebih kecil tapi tingginya menjulang tinggi hingga mencapai 5 meter.
  • Kata Amorphophallus berasal dari bahasa Yunani amorphos yang artinya berbentuk aneh dan phallus yang berarti kemaluan pria. Disebut begitu karena bentuknya yang (katanya sih) mirip dengan kemaluan pria. Hmmm, coba liat deh. Emang segitu miripnya ya?
  • Punya umbi raksasa dengan ukuran sekitar kurang lebih 50 Kg.
  • Suhu bunga saat mekar bisa mencapai 50 hingga 60 derajat celcius. Jadi kalo disorot cahaya keliatan ‘ngebul’ gitu.

 

 

Rindu bertemu sang Titan Arum

Pertama kali saya mendapat info mekarnya bunga bangkai itu dari instagramnya @kebunraya_id, tepatnya di tanggal 8 oktober kemarin. Salah satu dari beberapa spesimen tanaman mereka telah memasuki fase generatif dan membentuk kuncup bunga raksasa. Tingginya pun bukan main, hingga mencapai 2 meter. Saya pun segera menyalakan lonceng notifikasi instagram agar tidak ketinggalan informasinya.

Lima hari berselang, tepatnya di tanggal 13 oktober saya dapat info lagi bahwa bunga bangkai sudah mekar sepenuhnya. Ukurannya pun tambah besar, dengan tinggi perbungaan mencapai 289 cm dan lebar 145,5 cm. Langsung saja hati ini tergerak untuk ingin berangkat, namun sayangnya terbentur pekerjaan karena hari itu posisinya masih hari Rabu.

Baca Juga :  Melawan Akrofobia di Kereta Gantung TMII



Saya sempat mengajak Thina untuk staycation di area puncak. Namun apa daya, karena satu dua hal akhirnya niat tersebut kami urungkan dan kami pun menginap di rumah mertua di daerah Duren Jaya, Bekasi. Tak mau kehilangan momen langka, saya dan thina pun sepakat untuk one day trip saja. Berangkat dari Bekasi di Minggu pagi dan pulang kembali di siang hari menjelang sore.

Sebuah keinginan yang menggebu dan minim perhitungan, karena setelah dilihat lagi di maps, ternyata jarak kesana luar biasa juga. 95 Km lebih euy!

Tapi karena kadung kepengan mengejar sang titan arum, kami pun berangkat dengan penuh semangat.

Seperti biasa, yang tadinya niat berangkat jam 4 subuh, karena keteledoran saya akhirnya jadi mundur ke jam 6 pagi. Di pukul ini suasana Bekasi masih syahdu dan udara pun masih segar, namun cahaya mentari mulai mengintip perlahan dari ufuk timur. Dengan mengendarai Vario Putih kami menyusuri Jalan Raya Narogong hingga ke Cibinong, kemudian lanjut lagi ke Sentul melewati Bukit Pelangi . Keramaian mulai terlihat dari segala sisi, karena banyak sekali masyarakat yang lalu lalang dan menimbulkan kepadatan di beberapa sudut jalan raya.

Kami sempat terkejut saat melewati gerbang bukit pelangi, karena mendadak ada sekumpulan polisi yang menghadang. Beberapa pengendara pun disuruh putar balik oleh mereka. “Wuih, ada razia apaan nih?”, batin saya dalam hati. Sempat ragu, namun karena merasa tidak melanggar apapun, saya memilih untuk lurus terus menghampiri kerumunan polisi tersebut.

“Yak, ganjil masuk… ganjil masuk”, sahut salah satu polisi yang melihat kami berdua. Owalaaah, ternyata ini bukan razia, melainkan penertiban aturan ganjil genap yang sudah digalakkan di daerah Bogor. Saya agak kaget sih, karena kalau di Ibukota biasanya ganjl genap berlaku di weekdays dan hanya menyasar kendaraan roda empat saja. Disini, malah kebalikannya persis.

Untungnya pelat nomor motor saya ganjil, jadi kami pun bisa leluasa melanjutkan perjalanan hingga ke daerah Gadog. Tak jauh dari sini, kami tiba di persimpangan jalan ke jalur utama Jl. Raya Puncak Cisarua yang lebih padat lagi. Sejenak saya mengeluarkan handphone untuk melihat jarak yang tersisa menuju Kebun Raya Cibodas. Lalu keluarlah angka syahdu yang membagongkan.

Buset, masih 30 Kilometer lagi !!!

 



 

Retribusi ini, retribusi itu. Retribusi semuanya.

Bukan wisata Jawa barat kalo ga banyak karcis

Singkat cerita, setelah meliuk-liuk menyusuri jalan raya puncak yang berkelok dan menanjak, akhirnya kami pun tiba di gerbang utama wisata Gunung Gede Pangrango. Dari gerbang ini, kami tinggal belok kiri sedikit untuk mengakses area Kebun Raya Cibodas. Ga begitu jauh kok, cuma sekian ratus meter saja.

Tapi dari sini, persiapkanlah doku dan mental kalian sekuat mungkin ya, karena bukan wisata Jawa Barat namanya kalo ngga mwahal. Sepanjang dari gerbang utama sampai ke kebun raya, kalian akan disambut dengan biaya ini biaya itu, serta retribusi ini retribusi itu. Pokoknya kalo kata Mr. Krab, “Uwang uwang uwang uwang… hyakhyakhyak”

 

Silahkan di-zoom, kalian akan menemukan penyesuaian tarif

Saya coba breakdown ya. Saat berada di gerbang utama, kalian akan diminta uang untuk retribusi kendaraan sebesar Rp. 5000,- dan biaya kebersihan masing-masing juga senilai Rp. 5.000,- per orang. Ini masih diluar dari tiket masuk ke area Kebun Raya Cibodas sebesar Rp. 25.500,- per orang di hari weekend.

Tapi yang perlu dicatat, pengguna motor ga bisa membawa masuk kendaraannya ke area kebun raya ya. Jadi mau gamau, suka ga suka harus parkir di luar kebun raya dan lanjut dengan berjalan kaki. Nah, momen di parkiran inilah yang paling membagongkan, karena kalian akan diminta biaya sebesar Rp. 10.000,- dengan keterangan Rp. 8.000,- untuk parkir dan Rp. 2.000,- untuk jasa helm (apa pulak ini). Udah gitu, musti dibayar cash di muka pulak.

 

Parkir 10 rebu. Warga jawa tengah kalo kemari pasti culture shock

Kalau dihitung-hitung, total biaya kami berdua naik motor kesini adalah Rp. 76.000,-. Ini belum termasuk biaya bensin, jajan dan makan, serta biaya untuk ngurut pasca pulang dari puncak nanti. Lumayan juga ya kalo dihitung-hitung, huehuehue

 

Baca Juga :  Sea World dan Nostalgia Bersama Coelacanth

 



 

Berjuang. Berharap. Lalu Meng-sedih

Sebagai manusia, kita memang hanya bisa berjuang dengan sekuat tenaga. Sementara takdir mah, masih saja bisa becanda. Itulah yang kami rasakan setelah berjalan beberapa ratus meter dari gerbang kebun raya menuju area bunga bangkai, hanya untuk melihat sang titan arum sudah dalam kondisi layu dan mulai tumbang.

Meng-sedih.

Yang paling ngeselin, ketika saya mengirimkan foto bunga yang sudah layu itu ke grup keluarga, adik saya langsung respon dengan video call. Apakah dia berniat menghibur? tentu tidak. Dengan tanpa perasaan berdosa dia bilang, “Rasakan… Rasakaan.. Rasakaaaan… Hahaha”. Belum puas, dia lanjut ngata-ngatain lagi, “Kamu jadi orang gagal hari ini. Gagal.. gagal..gagaaal… hahahaha”

Dasar adik kampret.

Thina pun tak mau kalah. Ia segera mem-video call ibunya. Tentu saja, saya masih mengharapkan ada sedikit ucapan hiburan atau motivasi yang akan terlontar setelah fisik dan dompet kami terkuras hari ini. Tapi respon yang kami dapat tidak kalah menohok, “Kasian banget yaampun. Niatnya mau ngeliat bunga bangke, eh malah bunganya udah jadi bangke”

Double kill. Meng-sedih lagi.

Tapi ya sudahlah, mungkin memang belum rezeki kami tahun ini untuk melihat sang raksasa mekar. Salah saya juga, tidak mengecek lagi pembaruan terakhir karena sejatinya sudah hampir 4 hari berlalu dari sejak ia dikabarkan mekar sempurna. Kata-kata bijak pun terngiang, You’re nevel fail. Either you win or you learn something. Hari ini pun saya jadikan pembelajaran agar lebih crosscheck lagi sebelum bepergian.

Sambil beristirahat, saya mencoba melihat dan mengagumi area bunga bangkai disini. Di area ini, pembatas besi dengan kawat tinggi tinggi dibangun oleh pengelola kebun raya. Bukan tanpa alasan, tentu saja. Kalau tidak salah, dulu pembatasnya tidak setinggi ini, namun ada seorang pengunjung usil yang melempar batu hingga mengakibatkan salah satu spesimen jadi rusak. Ada-ada aja emang kelakuan manusia jamet.

Untunglah, di area kebun raya ini masih ada banyak spesimen yang tumbuh subur dalam fase vegetatif. Itu artinya, masih ada kemungkinan sang bunga akan mekar kembali dalam beberapa tahun mendatang.

Karena fisik sudah terkuras habis, kami pun memutuskan untuk kembali ke gerbang dengan menaiki bis keliling seharga Rp. 15.000,- per orang. Sebetulnya masih ada banyak area untuk dieksplorasi disini, namun kami berpacu dengan waktu untuk segera kembali ke Bekasi. Untungnya mas-mas sopir bus-nya baik. Kami diberikan waktu untuk singgah sejenak di area rumah kaca yang jadi trademark Kebun Raya Cibodas. Kami pun memanfaatkan momen ini untuk berfoo-foto ria sebelum kembali ke area parkir motor.

 

 

Niat self-healing, malah jadi self-exhausting

Dari perjalanan singkat (yang ga singkat-singkat amat) hari ini, saya dan thina mendapatkan banyak sekali pelajaran berharga. Salah satu yang harus saya sebarkan dan tegaskan adalah :

Kalo kalian niat berangkat ke puncak tapi ngga staycation, mending gausah!

Demi apapun, perjalanan kami untuk pulang benar-benar menguras energi dua kali lipat dari perjelanan berangkat. Bayangkan saja, setelah dua jam perjalanan dari Cibodas, kami baru berada di titik persimpangan Gadog. Masih jauh asap daripada api untuk menuju ke Bekasi. Padahal waktu itu lagi jalur turun, tapi jalanan macetnya bukan main. Jangankan mobil, motor aja ngga bisa gerak sama sekali. Orang-orang seperti kesetanan melihat banyaknya tempat wisata yang kembali dibuka. (salah satunya saya, tentu saja)

Saya pun sampai memutuskan untuk mematikan mesin, karena ya buat apa. Wong gerak aja dikit-dikit dan posisi kontur jalan pun menurun. Bau asap dan kopling kebakar jadi teman setia penciuman kami sepanjang perjalanan. Turun dari Cibodas sekitar jam 12 lewat sedikit, kami akhirnya baru benar-benar tiba di rumah ketika Adzan Maghrib sudah berkumandang.

Niatnya mau cari hiburan, malah dapetnya kemacetan. Hiks, meng-sedih lagi.

 

 


 

 

Demikianlah cerita derita saya dalam menyusuri dan mengejar sang titan arum. Kalau kamu merasa terhibur dengan tulisan saya, jangan lupa klik tombol kuning dibawah biar saya semangat terus menulis ya!

Nih buat jajan

 

 

Bekasi, 20 Oktober 2021
Ditulis sambil memantau saldo rekening yang tak kalah layunya

Fajarwalker

A Man with frugal style living. Sering dikira pelit, padahal cuma males keluar duit.

More Reading

Post navigation

29 Comments

  • Duuuuh sing sabar mas :D. Next liat lagi si bunga bangkai :D. Tapi reaksi Adek dan mertua kocak juga yaaa hahahahah.

    Btw, itu tiket parkir dan helm, 10rb, kok di tiket cuma terlihat 8 RB yg utk parkir doang. Berarti yg jasa helm masuk kantong sendiri lah yaaa :p. Kebiasaan memang -_-. Kalo helm nya kita bawa, tetep harus bayar jasa helm ga :D?

    Memang jomplang banget sih tiket di Jawa barat dan Jawa tengah. Aku sebagai org Jakarta aja selalu shock tiap mudik ke kampung suami di solo. Kok bisaaa ada harga semurah itu wkwkwkwjw . Kami sampe putusin, kalo ntr pensiun, udahlah balik solo aja :D.

    Udah lama banget aku ga ke Bogor. Jadi kepengin juga liat di bunga bangkai kalo mekar nanti. Aku termasuk yg suka lupa kalo bunga bangkai beda Ama raflesia. Ngeliat raflesia, tetep aja bilangnya bunga bangkai hahahah. Eh penasaran Ama bau mereka sbnrnya. Sebusuk apa. Dibilang kayak daging busuk, tapi tetep pengen mencium sendiri gitu :p.

    • Pengen guling-guling di pasir tau lho kak rasanya, hahaha. Udah sampe sana, keluar duit, ga dapet yang dipengen, dibully pulak.

      Peer banget memang untuk wisata di jawa barat tuh. Sampe sekarang aku masih suka mikir-mikir kalo mau kesana kemari.
      Soalnya ya lumayan juga harganya untuk itungan masyarakat menengah ya. Ibarat kalo di yogyakarta 10rb bisa masuk satu tempat wisata, di jawa barat mah cuma parkir doang. Ini kan masalah ya…

      Follow instagramnya aja kak di @kebunraya_id. Akupun taunya dari situ. Bunga raflesia pun pernah mekar lho di kebun raya. Cuma bukan raflesia arnoldii, tapi raflessia padma, Yah masih sodara kembarnya gitu lah ya, hehehe

  • suamiku kalau diajak melihat fenomena bunga bangkai dari dekat pasti ga mau. alasannya karena jalan menuju sana pasti macet. jadi kita-kita yang pada mupeng ini cuma disuruh lihat youtube.
    beruntung banget mas fajar bisa lihat, yah walaupun sudah layu. hehe..

    sepertinya saat ada pengumuman di IG, langsung saja berangkat ya.

  • Banyak banget yang bisa aku komentarin ini hahaha. Dari yang kagum sampe ketawa ngenes. Dulu, di Palembang juga sempat heboh ada bunga bangkai muncul di perkarangan orang. Pas aku liat fotonya, langsung, “loh gini doang?” hwhw. Sebab yang ada di bayangangku yang kayak di Bengkulu itu. Jadi ya emang ada beberapa jenisnya ternyata.

    Soal biaya ini itu, asli kesel. Keliatannya sedikit “cuma” 2 sd 5 ribu, tapi kalau di beberapa titik dimintain ya muntab juga. Ini niatnya mau memajukan wisata tapi bikin orang males datang ya percuma. Belom lagi pemberlakukan ganjil genap yang ngagetin hehehe.

    Aku juga suka stres kl berkendara di jalanan macet. Jadi ya bener, niat healing malah jadi kumat anxiety. Hahaha,

    • Yah begitulah, ngenessss banget yak wkwkwk.

      Memang wisata di jabar mah begittu mas. Bukan perkara harga sih, tapi lebih ke ga worth it aja jadinya.

  • Bela2in menempuh 95 KM demi berfoto ama bunga Titan Arum yg sedang mekar eh jadinya zonk. Sad ending beneran ya. Mana bayarnya juga mayan.

    Ituu macetnya udah dari zaman bahuela yaa kapan wilayah sana gak macet?

  • Dulu taunya bunga ini di buku paket ipa kelas 5 dan diceritakan kalau ada di kebun raya Bogor, semoga kesampaian juga menyaksikan bunga langka ini secepatnya biar bisa diceritakan pada anak cucu kelak

    • Kadang di kebun raya juga ada kaaak. Cuma ya emang agak susah si nemu momennya. Dia masa vegetasinya lama banget sampe puluhan tahun.

  • wkwkwkwk kok aku jadi ikut ketawa juga yakkkk..upsss maafkan masss habis tanggepan nya lucu2 juga sie gak adik gak ibuk haha…

    eh tapi bener loo aku kira bunga bangkai itu ya raflesia arnoldi itu tp pas pertama td liat gambar nya paling atas kok bentuknya beda tahuku raflesia kan mekr bulet itu ternyata memang bunga yang berbeda 🙂
    btw itu tiket kenapa banyak banget masing2 ada tiketnya sendiri2 mahal amat jatuhnya yakkkk hehe

    weekend di bogor emang semacet itu ya mas?? tp kita gak akan pernah tahu klo gak ngalamin sendiri kan:)

    • Jangan ikutan ketawa dooong, itu kita ngenes euyyy wkwkwkw

      Nah, emang begitulah wisata di Jawa barat tuh. Pada banyakan punglinya, atau kadang manajemennye terlalu ambil margin.
      Jadinya ga menarik lagi.

  • Yaampun ini kisah nya sangat menarik sekaligus agak ngenes ya. Btw aku selaku orang Bogor, jujurly selalu gagal mau trip ke Kebun Raya Cibodas. Pertama males lalui jalur yang super macet kalau weekend, kedua kalau weekday jarang ada waktu buat healing.

    Tanggepan adek dan Ibuk pun yaampun yaa, hehehe bikin ngakak juga. Gapapa sesekali healing nya agak zonk

    • Nah, emang Bogor mah kalo weeekend malah macet ya mba. Malah mending ke Jakarta, lengang. Orang-orangny pada ke bogor semua hahaha

  • Aku pun sering banget ketuker, trus aku td sempet mau tanya juga, raflesia itu bau gak sih, hahaha ketebak yaaa..
    Aku jadi tau ternyata itu bedanya jauhhh banget ya, mirip pun engga. Makasih ya uda edukasi, aku pun baru tau ada kebon raya ini

  • Ternyata aku pernah baca ini, tapi ttp ngakak baca komentar ibu mertua muuu .

    Aku salut lah, kalian kuat 90an km one way, blm baliknya ke sana. Astagaaah, bener sih, next staycation aja sekalian.

    Tapi setelah baca ini lagi, aku mau idupin notif IG si bunga bangke.

    Penasaraaaaan, Ama baunya . Aku ga tertarik kalo bentuk, toh bisa liat di internet. Tapi baunya ini loooh. Sebangke apa sih ahahahahahah

    • Iyaaa, sekarang mah udah ogah aku juga kalo ga nginep mah. Apalagi udah bawa-bawa buntut, mana bisaaa

      Follow nya Kebun raya cibodas sama kebun raya bogor mba. Di 2 tempat itu sih yang sering ada mekar bunga bangkai.

  • Hahah iya bener, masih bnyk yg salah nama menunjuk bunga bangke dgn rafflesia itu. Akupun yg org Bogor blom pernah liat si bunga bangkai itu mekar di kebun raya. Kuncup2 aja pas datang ke sono. Hiks

  • Wah seru banget ini bisa main ke Cibodas. Udah lamaaaa deh aku gak ke sana. Dulu zaman kuliah, sering. Dan iya, lihat bunga raksasa itu. Kudu pas ya waktu datangnya. Biar bisa lihat pas lagi mekar-mekarnya. Kapan ya aku bisa ke Cibodas lagi. Kangen deeeeeeh.

    • Iyaaa, tapi ga cuma cibodas si sebenarnya. Di kebun raya bogor juga kadang suka ada kak. Tapi ya frekuensinya lebih jarang aja

  • Aku ikutan sedii..
    Tapi aku salut siih.. perjuangan banget pengen liat Titan Arum dan menunjukkan Ayang Thina.
    Alhamdulillah, kesampaian.

    Selalu suka dengan kisah ka Fajar.
    Rasanya artikelnya selalu mengalir dan bikin pembaca ikutan garuk-garuk pala..
    wkkwkw.. ngikik.

  • Walaupun mas nulisnya derita mengejar bunga bangkai, tapi tidak nampak tuh.
    Buktinya masih foto-foto dengan muka bahagia. Apalagi waktu kena macet di jalan, makin terbukti kalau mas dan istri gembira-gembira saja, senyumnya semringah euy…
    Saya sih membayangkan senyum kalian tuh kecut apalagi habis di ejekin sama adik dan ibu mertua, hahaha… Maaf yah bersyandaaa..

    • Iya bu, kalo udah depan kamera mah mesti tetap keliatan ceria dooongs, meskipun aslinya mah emang merana, hahaha

  • Selama ini berarti aku juga salah kak, karena menganggap dua jenis bunga bangkai itu ya sama saja. Ternyata beda ya. Meskipun sama-sama mengundang serangga dengan bau busuk. Aku lebih familiar sama Titan Arum karena pernah lihat beberapa kali pas kecil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *