Thina sepertinya sangat ketakutan, sampai-sampai punggung saya dapat merasakan jemarinya yang bergetar. Sesekali ia bergumam, “Haduuuh..” sambil membuat ratapan wajah yang cemas. Hari itu kami berdua memang sedang berboncengan cukup jauh dengan sepeda motor. Melintasi jalan Narogong, Cileungsi hingga Cibinong untuk menuju tujuan akhir kami yakni Curug Nangka.

Bukanlah gaya mengendara saya yang membuatnya ketakutan, melainkan karena sepanjang jalur Narogong dan Cileungsi ini memang ada banyak sekali Truk Besar yang berlalu-lalang. Sukses menyalip 1 Truk, maka saya akan berhadapan dengan truk lain. Begitu seterusnya hingga tak terasa sudah 20 truk yang sukses saya salip. Parahnya lagi, jalanan yang kami lalui memang cukup menyeramkan. Selain karena hanya dua arah dan banyak lubang,  jalanan juga nampak cukup berpasir. Sehingga saya pun harus ekstra hati-hati saat ingin menancap gas.

Perjalanan ini bukan perjalanan yang singkat, menghabiskan waktu 2 jam perjalanan dengan jarak tempuh sekitar 75 km. Setelah berhasil melalui jalanan Narogong yang penuh dengan truk, kami lantas menghadapi jalan Sukajadi yang menanjak cukup curam. Sesekali kami pun beristirahat terlebih dahulu untuk meluruskan kaki dan me-refresh energi sejenak. Pengen tau betapa jauhnya? Lihat saja peta di bawah ini sebagai gambarannya.

 

 

Semakin jauh kami berjalan, semakin kuat juga hembusan angin yang kami rasakan. Udara dingin yang mulai menusuk-nusuk ke dalam jaket menjadi penanda bahwa kami semakin dekat dengan tujuan kami.

Benar saja. Tepat sekitar pukul 12 siang kurang sekian menit, akhirnya GPS pun berceloteh bahwa kami sudah tiba di tujuan. Gerbang Masuk menuju Curug Nangka pun lantas terpampang jelas di depan mata. Tanpa basa-basi, tanpa pake adegan bengong-bengongan seperti di sinetron, kami pun langsung bergegas menuju gerbang utama tersebut.

 

 

Nampak ada 2 orang paruh baya yang stand by menjaga kendaraan yang berlalu lalang. Sikunya bersandar diantara sela-sela kayu di loket pembayaran, sementara kaki kanannya bersilang ke kaki kiri dalam posisinya yang masih berdiri. Ia dengan cekatan menghentikan kami berdua dan menagih biaya tiket masuk.

“2 orang, jadi 25 ribu rupiah mas”, ucapnya instan tanpa berhitung sama sekali. Sepertinya ia sudah cukup berpengalaman sehingga bisa menghitung cepat hafal tarif diluar kepala. Setelah mengeluarkan uang dari dompet dan membayar, Saya pun langsung tancap gas ke dalam area Curug.

Namun alangkah terkejutnya saya ketika saya kemudian menemukan pintu gerbang lain yang dijaga oleh sekerumunan orang. Sama seperti pintu gerbang sebelumnya, kali ini mereka meminta tarif sedikit lebih mahal, yakni 27 ribu rupiah. Awalnya saya sempat berburuk sangka dan mengira mereka semua adalah para preman dadakan yang menarik tarif masuk seenaknya. Tapi ternyata dugaan saya salah, karena mereka ternyata memberi saya sejumlah tiket resmi.

“Lho, kok ada 2 gerbang masuk gini sih?”, Thina bertanya kepada saya sambil keheranan. Saya hanya bisa menggelengkan kepala.

Tapi kalau menurut saya sih, Wisata Jawa Barat ya memang seperti ini. Dari dulu sudah terkenal dengan tarifnya yang tinggi, yang seringkali tidak sebanding dengan fasilitas yang ditawarkan. Saya tidak sedang berbohong. Kalau kalian tidak percaya, silahkan saja cari nama-nama Curug di Bogor via Google Places dan lihatlah, betapa banyaknya keluhan-keluhan netizen akan HTM yang tinggi dan banyaknya pungutan liar di tempat wisata.

 

 

Pun begitu juga dengan Curug Nangka ini. Meskipun memang tidak ada pungutan liar seperti di curug-curug lain, tapi biaya sebesar 53 ribu untuk tiket masuk 2 orang via sepeda motor, nampaknya bukanlah sesuatu yang realistis dan masuk akal.

Lihat saja foto tiket-tiket yang saya kumpulkan di atas. perhatikan ada 2 karcis masuk yang dicover oleh 2 jasa asuransi yang berbeda. Selain itu ada juga karcis masuk kendaraan roda dua beserta ‘karcis jasa parkir’, padahal kenyataannya di dalam kita masih harus bayar tukang parkir juga sebesar 5 ribu rupiah. Dan belum lagi biaya-biaya lain seperti biaya kebersihan, keamanan, kenyamanan, kesempurnaan cinta…… Eh, kok saya malah jadi nyanyi begini sih 😀

Tapi ya sudahlah.. Daripada terus menggerutu dan mengeluarkan aura negatif, saya memilih untuk berdamai dengan alam. Biarlah masalah tarif itu urusan mereka yang punya kuasa saja. Sekarang ini adalah waktunya saya untuk menikmati hijaunya dedaunan, yang berpadu bersama gemilir angin yang berhembus perlahan.

Kami berdua lantas mulai berjalan melintasi hutan pinus yang begitu rindang. Langkah demi langkah kami lewati, sambil terus menikmati nuansa hijau di depan mata. “Wih, begini nih yang namanya Vitamin Green. Udah langka banget di Jakarta”, gumam saya dalam hati.

 

 

Sebenarnya disini ada 3 opsi curug yang bisa kami kunjungi. Diantaranya adalah Curug Nangka , Curug Daun dan Curug Kawung. Akan tetapi karena mempertimbangkan waktu dan tenaga yang tersisa, kami akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Curug Nangka saja yang posisinya paling dekat.

Hanya beberapa menit berjalan kaki, kami sudah melihat sebuah papan informasi memberikan petunjuk untuk belok ke arah kanan. Kami pun mengikuti petunjuk tersebut, dan berbelok menyusuri bantaran sungai yang penuh dengan bebatuan alami. Kami harus ekstra hati-hati, karena kalau salah berpijak bisa-bisa terpeleset dan nyebur ke dalam sungai.

 

 

Sekitar 500 meter kemudian, suara gemericik air mulai terdengar oleh telinga kami. Pertanda bahwa posisi kami sudah semakin dekat dengan Curug Nangka. Kami pun semakin bersemangat, dan terus mempercepat langkah kaki. Hingga akhirnya, Curug Nangka pun benar-benar sudah ada di hadapan kami. Udara dingin pun kini semakin tajam menusuk-nusuk kami. Mungkin karena begitu derasnya air dari curug yang turun, berharmoni dengan angin sehingga membuat suhu terasa sangat dingin.

Langsung saja kami berjalan perlahan, mendekat dan mencari spot terbaik untuk berfoto ria. Thina lah yang kemudian pertama kali mendapatkan kesempataan berfoto. Setelah menanti ‘antrian’ orang-orang yang hendak berfoto, selanjutnya dengan cekatan ia mengambil posisi terbaik tepat di bawah curug.

Tak mudah untuk mengambil foto full portrait bersama curug. Banyaknya orang yang berlalu lalang membuat saya harus pintar-pintar menentukan angle dan menanti momen yang pas ketika tidak ada orang di frame.

Dan inilah hasil jepretan saya… Jangan di-bully yak kalau kurang bagus. Saya masih newbie 😀

 

 

Sayangnya ketika giliran saya yang hendak gantian difoto, mendadak masuklah sejumlah muda-mudi alay yang sibuk berfoto dan selfie dengan begitu hebohnya. Saya pun lantas mengalah, mencoba menanti saja mereka semua selesai berfoto terlebih dahulu. Tapi dasar bocah alay, bukannya paham dan minggir dari frame, mereka malah terus-terusan mengambil foto selfie.

Bahkan lebih dari itu, mereka pun membuat Video ala-ala vlog YouTube, “Hello Gaesss, kita lagi ada di curug nangka nih. Duh asyikkk seger beneerr..”, sahut salah seorang bocah tersebut sambil berbicara di depan kamera smartphone, bergaya seperti seorang vlogger terkenal.

Saya mulai merasa kesal dan mengumpat, “Biarin dah, liatin aja bentar lagi juga nyebur dah tu hape”. Namun tentu saja ucapan saya tersebut tidak terkabul. Saya terus mencoba sabar, namun para bocah alay itu terus saja berfoto dibawa curug tanpa memperdulikan orang-orang yang sedang mengantri untuk mengambil foto. Hadeh, mungkin harus saya seret mereka semua ke studio nya Darwis kali ya, biar pada belajar cara ngambil foto yang bagusan dikit.

Pada akhirnya kesabaran saya pun habis, dan saya menyerah untuk menantikan para bocah-bocah ini selesai berfoto. Saya hanya meminta Thina untuk memotret saya di salah satu sudut yang sepi dan penuh dengan ranting-ranting, kemudian berpose seperti manusia purba yang sedang terdampar di mulut gua. Itung-itung buat ngilangin rasa bete lah, hehehehe.

Megantropus Anakostus

Bocah bocah alaaaaay… hadeeeh.

 

Selesai dari Curug Nangka, sebenarnya kami berniat untuk mampir ke Pura Jagatkarta, tempat yang direkomendasikan oleh salah satu sobat blogger Idris Hasibuan. Namun spanduk larangan masuk yang terpampang jelas di depan pura membuat kami berdua urung untuk mencoba masuk kesana. Belakangan saya baru tau, ternyata Idris berhasil masuk kesana tanpa ada yang mengusir sama sekali. Duh, tau gitu kenapa ga saya coba terobos aja 🙁

Tapi untungnya kami sempat mampir sejenak ke salah satu warung di dekat Pura Jagatkarta. Memang sebenarnya nampak tak ada yang istimewa dengan warung tersebut, hanya warung bilik biasa yang menjajakan sejumlah makanan ringan dan instan. Namun, pemandangan perbukitan di sekitar warung tersebut membuatnya sangat menakjubkan. Apalagi tersedia banyak tempat duduk bambu, sehingga kami bisa leluasa beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke rumah.

 

Romantis sekali abang dan teteh ini….. 🙂

Berhubung laper, jadi makan popmih dulu.

Tanpa terasa, matahari sudah tergelincir jauh dari posisi muasalnya. Arloji saya pun menunjukan waktu pukul 4 sore waktu setempat. Kami pun segera mempersiapkan diri untuk kembali menempuh perjalanan pulang selama kurang lebih 2 jam. Tapi sebelum itu, tentunya kami sempatkan diri dulu untuk…… Ber-selfieeeee 😀

 

 

Curug Nangka
Sukajadi, Tamansari, Sukajadi, Tamansari, Bogor, Jawa Barat 16370
Telepon / Reservasi : 0858-8820-8799

 

Bekasi, 09 Oktober 2018
Ditulis paksa setelah kepending sekitar 3 mingguan di draft.