Menyusuri Sawah Lope yang Ngga Ada Lope-lopeannya

Hmmm… Sawah Lope. Ketika pertama kali mendengar namanya, hal pertama yang terbayangkan adalah sebuah sawah berkonsep cinta-cintaan. Entah sawahnya yang membentuk love sign raksasa, atau balon raksasa yang berbentuk hati dengan warna pink muda. Atau, mungkin ada beberapa dekorasi ornamen berbentuk hati yang bisa jadi objek foto selfie berlatarkan hamparan sawah hijau yang luas.

Kamu punya imajinasi seperti itu? Saya juga sama. Namun sayang beribu sayang, ketika pertama kali menginjakkan kaki di area wisata yang sempat viral beberapa waktu lalu ini, semua yang ada di pikiran saya buyar seketika. Tak ada sawah berbentuk love sign, tak ada dekorasi cinta-cintaan, apalagi balon raksasa. Yang ada di depan pelupuk mata hanya saung gazebo, kumpulan tukang dagang, dan tentu saja… Sawah.

 

 

Berawal dari jalan sawah, Jadi wisata persawahan

Sawah Lope sejatinya adalah agrowisata yang berawal dari ketidaksengajaan. Awalnya pemerintah desa cuma berniat membangun jalur motor untuk memudahkan akses petani. Tak diduga, ternyata jalan tersebut tak cuma jadi akses untuk bercocok tanam, melainkan juga jadi ajang untuk menikmati pemandangan persawahan dan kilau Gunung Ciremai yang syahdu bagi para kawula muda. Berbagai foto yang dibagikan di akun sosial media pun akhirnya membuat wisata ini menjadi viral. Banyak yang tertarik untuk datang berkunjung, terutama warga kota yang sudah jenuh dengan rimba beton dan merindukan hamparan hijau yang luas.

Nama Sawah Lope sendiri tentu diambil dari kata “Love” yang berarti cinta. Terinspirasi dari banyaknya muda-mudi yang doyan pacaran sembari menikmati teduhnya senja di area ini.

Tapi kenapa harus banget di-spell “Lope” (aka : Lo – pe) dan bukan Love dalam English spelling? Entahlah, kalau ini sih saya juga gabisa menjawab. Yang pasti ini bukan karena orang sunda ngga bisa ngomong F ya. Siapa juga lagian yang berani-beranian bilang kalo orang sunda ngga ngomong F?

Hih… PITNAH!

 

 

 

Yha, Kita Semua Butuh Orang Dalem

Saya berkunjung ke wisata Sawah Lope ini di pertengahan Oktober kemarin. Niat awalnya cuma ingin ikut memanen tomat dan cabe di salah satu sawah, namun karena lokasinya berdekatan akhirnya kami sekeluarga pun melipir sejenak ke Sawah Lope.

Berhubung Bibi saya mah orang desa Cikaso asli, jadi masuk ke Sawah Lope pun cukup lewat jalur samping saja biar gratis, ndak usah bayar ehehehe. Soalnya kalau masuknya lewat gerbang depan, kita akan diminta biaya tiket masuk sebesar 5.000 rupiah. Mayan lah pengiritan. Dan tentu saja itulah fungsinya orang dalem, hehehe.

Setibanya di area utama, kami langsung nge-take sebuah gazebo bambu yang berada persis di depan Cafe Saung Kopi Sawah. Yap, selain gazebo disini juga ada cafe buat kalian yang pengen menikmati sensasi kulineran bernuansa persawahan. Konsep cafe-nya juga desa banget, soalnya hampir semua bangunannya terbuat dari bilik-bilik bambu dengan beberapa ornamen sederhana dan tirai putih yang membuatnya elegan dipandang mata.

Baca Juga :  Traveling Sekeluarga ke Geopark Ciletuh

Namun sayang, di waktu sepagi ini cafe tersebut belum buka. Jadi kami pun tidak sempat untuk menikmati atmosfer didalamnya. Yah, maybe next time lah ya.

 

 

Jajanan Murah Meriah, Arung Jeram Alakadarnya

Kalau sudah duduk bersila di dalam gazebo, tentu yang paling nikmat adalah nyari jajanan yang gurih-gurih nyoy. Apalagi udara pagi di Kota Kuningan itu memang luar biasa adem, menyegarkan hati dan juga pikiran. Paling nikmat ya cari cemilan pagi alias ngawedang kalau dalam bahasa sunda.

Nah, selain Saung Kopi Sawah yang saya sebutkan sebelumnya, di Sawah Lope ini juga biasanya banyak banget tukang dagang kaki lima yang sudah mangkal dari sejak pagi. Jadi, kalau kalian cari jajanan mainstream mah, gausah ribet karena disini lumayan lengkap. Mau cari apa? Pentol, cilor, tahu bulet, gorengan, atau kopi? Semuanya ada. Tinggal samperin abang-abangnya lalu bayar di tempat.

Harganya pun cukup murah meriah, dan cukup mengejutkan saya dan Thina yang kesehariannya berjibaku dengan jajanan ibukota. Nemuin menu pentol bakso lengkap dengan tahu dan sandung lamur cuma dihargai lima rebu perak, rasanya jadi pengen nambah dua mangkok.

Duh, ini masnya beneran jualan kan ya? Bukan niat sedekah, ngoehehehe.

Selain ragam perkulineran, disini juga ada wahana arung jeram lho. Gimana, bingung kan? Kok bisa ya di tengah sawah gini ada wahana arung jeram. Iya bisa dong, soalnya arung jeramnya juga arung jeram mini alias segede air kali doang, ehehehe.

Jangan ber-ekspektasi ketinggian ya, soalnya arung jeram ini memang cuma buat bocah-bocah doang. Aslinya ya cuma saluran air yang ada di pesisir sawah. Cuma ya karena kebetulan airnya masih bening, bersih serta arusnya lumayan kencang. Bocah-bocah pun jadi demen karena bisa dipake buat main aer dan anyut-anyutan. Akhirnya ya pengelola juga gamau ketinggalan momentum dengan menjadikan saluran air ini sebagai wahana arung jeram mini, lengkap dengan penyewaaan ban.

Ajegile, emang jago ya warga Jabar kalo masalah monetisasi. Apa baek diduitin ahahaha

 

 

Dekat Dengan Mata Air Keramat

Sudah puas menikmati sepoinya angin dan ngabisin pentol dua mangkok, saya melanjutkan langkah ke situs mata air Cikabulakan yang berada tak jauh dari Sawah Lope. Ini bukan sembarang mata air ya, karena ternyata mata air ini sudah dikeramatkan oleh warga sekitar. Denger-denger sih, mata air ini ada kaitannya dengan cerita para leluhur desa Cikaso. Mangkanya, selain biasa dipake buat bersih-bersih oleh petani, air disini juga acapkali digunakan untuk pengobatan oleh pesantren dan pendatang.

Baca Juga :  Liburan Murah Meriah ke Taman Mangrove, Pantai Indah Kapuk

Situs mata air Cikabulakan ini merupakan satu dari tujuh mata air yang ada di desa Cikaso, diantaranya adalah mata air Cilangga, Cinangsi, Cibango, Cimalayan, Cipasantren, dan Cihanyir. Banyak banget kan ya? Maka dari itulah kenapa desa ini pun disebut dengan nama desa Cikaso. Yang mana berasal dari kosakata Sunda “ci atau “cai” yang berarti air dan “kaso” yang berarti pohon kaso. Jika dirangkaikan nama Cikaso berarti “air yang berasal dari pohon Kaso”.  Nama yang cukup sesuai dengan kenyataan, karena di desa ini sumber air cukup melimpah dengan area persawahan yang luas serta kolam ikan yang ada dimana-mana.

Kalau saya pribadi sih, ngga ada agenda khusus ya. Datang kesini ya cuma karena kepo aja, pengen tau ada apa disini. Dan jawabannya tentu saja ada…. air, hahaha. Yeee, namanya juga mata air.

Ukuran situs mata air Cikabulakan ini sebenarnya ngga terlalu besar, cuma sekitar 3 x 3 meter aja. Tapi kalau dipandang lebih dekat, itu satisfying banget sih ke bola mata. Airnya bener-bener jernih dan bening, sampai-sampai kita bisa melihat jelas ke dasarnya. Ikan-ikan kecil pun nampak berenang bebas di dalam area mata air itu.

Denger-denger sih, mata air ini tidak pernah kekeringan sepanjang sejarahnya. Selalu menghasilkan air dan jadi berkah bagi para petani di sekitarnya. Alhamdulillah atuh ya!

 

 

Terakhir, waktunya nimbrung panen!

Selesai bersih-bersih di Cikabulakan, akhirnya saya dan keluarga tiba di agenda terakhir yakni : Panen Cabe!

Judulnya kali adalah nimbrung aja. Karena sejujurnya Saya dan Thina ngga tau ini sawah punya siapa, dan apa aja yang boleh dipetik. Wes lah, seng penting nyebur. Begitu kaki-kaki masuk ke galangan sawah, tangan-tangan kami semua pun langsung luwes memetik cabe-cabe merah yang sudah siap panen. Pengalaman baru yang seru banget ini sih. Dari yang biasanya cuma panen hasil sawah di game Township, sekarang jadi panen di sawah beneran. Meskipun kaki susah payah karena terbenam ke lumpur, tapi semangat gaspol terus.

Tak mau kalah, Thina juga ngga sekedar mengambil cabe merah. Kini beberapa butir buah tomat sudah ada di tangan mungilnya. Nampaknya Dia pun sangat senang sudah saya ajak maen kotor-kotoran di sawah begini.

 

Saking seru dan semangatnya, seluruh anggota keluarga saya terlihat sibuk dan fokus untuk mengamati dan mencomot cabe dari dahannya. Di momen inilah saya mencoba untuk bersinar. Mumpung masih di area persawahan, dan mumpung semuanya lagi jadi petani. Saya pun mencoba untuk bernyanyi dengan sepenuh penghayatan…

Marilah seluruh rakyat Indonesia,
Arahkan pandangan ke depaaaaan…

Lirik yang legendaris dengan makna yang mendalam terdengar. Tak lama berselang, sebutir tomat pun nemplok di kepala.

 

 

Bekasi, 16 November 2021
Ditulis sambil ngantuk-ngantuk dan nyender di tembok kamar

Fajarwalker

A Man with frugal style living. Sering dikira pelit, padahal cuma males keluar duit.

More Reading

Post navigation

3 Comments

  • Tapi ini beda Ama Cikaso di ujung genteng ya mas? Baca nama desanya jadi inget Ama Curug Cikaso soalnya .

    Duuuuh cakeeeep loh tempat sawah lope nyaaa. Aku berharap Yaa, biar aja alami begini. Ga usahlah ditambahin spot foto yg terlalu warna warni norak. Cukup saung begini, ada view sawah. Lebih alami sih. Suka bangetttt liat kolam mata airnya dan kali kecil yg buat arung jeram anak2 😀

  • Beda kaaak, kalau ini nama desa. Kalo Curug Cikaso itu di sukabumiii.
    Sebenarnya ada spot foto gitu di dalem resto nya kak, cuma terpisah sama area-area gazebo ini sih.
    Arung jeramnya sebenarnya ya cuma sekedar kali aja dikasih nama ehehehe

  • Hahahha akupun membayangkan ada sign love raksasa atau spot foto dgn sign love gitu, ternyata zonk ya wkwkwk

    Tapi ini keren bgt mas, alami banget, daripada dikasih sign love gitu malah udah biasa, lebih natural kaya gini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *