Sepertinya, orang-orang masih banyak yang belum bisa membedakan antara Jakarta Aquarium dengan SeaWorld. Bahkan tak jarang, kedua venue tersebut dianggap sebuah identitas brand yang sama, padahal sudah jelas-jelas keduanya berbeda jauh antara satu dan lainnya. SeaWorld berada di dalam area Taman Impian Jaya Ancol, sementara Jakarta Aquarium berada di lantai dasar Mall Neo Soho, percis di samping Central Park.

Itulah yang saya rasakan saat menolak ajakan Pak Eko untuk mampir ke rumahnya pada hari minggu, dan mengutarakan rencana saya untuk liburan ke Jakarta Aquarium.

“Duh, Minggu ini saya udah ada rencana pak, mau ke Jakarta Aquarium.”

“Aquarium? Oh maksudnya SeaWorld itu kan ya”

“Bukaaaan… Beda pak, ini yang di mall Neo Soho”.

“Yaelah, sama-sama aja ah. lagian ngapain juga lu liburan nontonin aquarium. Di rumah saya juga ada aquarium tuh”

“Au ah. Beda lah keleus”.

Ketimbang meladeni obrolan bersama pak Eko yang semakin absurd, saya pun memilih untuk membuka smartphone dan mulai mencari tiket dengan harga termurah. Berbagai aplikasi pun saya jajal dan saya komparasi harganya satu dengan yang lainnya. Mulai dari Tokopedia, Tiket.com, Traveloka, Pegi-pegi, MisterAladin, dan berbagai aplikasi hedon lainnya.

Dari sekian banyak aplikasi yang saya sebut tadi, ternyata harga tiket termurah ditawarkan oleh Traveloka. Di aplikasi tersebut, harga tiket reguler weekend yang ditawarkan adalah sebesar 186 ribu rupiah saja. Sebenarnya tidak terlalu jauh selisihnya dengan penyedia lain. Namun karena kebetulan sedang ada kode promo diskon 10% untuk wahana rekreasi, membuat saya hanya perlu membayar 334 ribu rupiah saja untuk 2 orang. Cihuy!

Ada juga opsi tiket premium yang sudah mencakup tiket tembusan menuju wahana bioskop 5D. Namun selisih harga yang ‘lumayan’ (harga tiketnya diatas 200ribu cuy), dan pertimbangan bahwa saya ga doyan-doyan amat nonton bioskop. Akhirnya saya putuskan untuk membeli paket reguler saja.

And finally, here we go..

 

 

Berhubung lokasi Mall Neo Soho ini lumayan jauh, tepatnya di Grogol Jakarta Barat, maka niat membawa sepeda motor pun saya urungkan. Berdua bersama my lovely travel partner, Thina, kami pun berangkat dengan menggunakan Kereta Commuter Line dari Stasiun Bekasi.

Berbekal panduan singkat dari aplikasi Trafi, kami pun akhirnya menyadari bahwa rute perjanan ke Neo Soho ternyata lumayan njelimet. Pertama-tama dari Stasiun Bekasi, kami naik Commuter Line dulu dan turun di stasiun Juanda. Dari stasiun Juanda kami berpindah transportasi ke Bus Transjakarta Koridor 9 arah kalideres, kemudian turun di halte Grogol 1. Dari halte Grogol 1 jalan kaki sekitar 5 menit untuk transit ke halte Grogol 2, kemudian lanjut sebentar saja untuk turun di halte S. Parman Podomoro City.

Setibanya di halte S. Parman Podomoro City, nampak dari kejauhan kita bisa melihat ada Podomoro University, Mall CentralPark, Hotel Pullman dan Neo Soho yang saling berdampingan. Lokasi ini memang tempatnya orang-orang borju, yang biasa tinggal di apartemen. Jadi wajar saja kalau pusat berbelanjannya bwanyak bwanget dan berdempetan satu sama lain. Oya, kami pun harus menyiapkan sejumlah tenaga untuk berjalan kaki, karena cukup jauh juga jarak dari halte ke Neo Soho.

 

 

Saat langkah kami terhenti di depan pintu masuk mall, salah seorang petugas memberikan saya kode isyarat sepuluh jari. Mungkin maksudnya adalah, ‘kembali lagi kesini nanti jam 10’. Karena ketika kami tiba, waktu saat itu baru berada di pukul 09.45, sementara jam operasional mall ini adalah dari pukul 10.00 sampai 22.00.

Yasudahlah, kami pun putar balik lagi dan singgah sejenak ke Indomaret untuk membeli segelas kopi dan sebungkus tao kae noi. Lima belas menit kemudian, kami berjalan kembali ke mall Neo Soho, dan sepertinya petugas sudah mulai stand by di depan sana. Wahwah, benar-benar tepat waktu sekali ya.

 

 

Ternyata selain tepat waktu, petugas di mall ini cukup ramah dalam melayani pengunjung. Ketika saya kebingungan mencari arah dan bertanya ke petugas tersebut, ia menjawab dengan gestur yang sopan, serta senyum yang ramah. Dari beliau lah saya mendapatkan informasi untuk turun satu lantai dengan eskalator, kemudian berbelok sedikit ke arah kanan.

Dan ternyata sudah ada cukup banyak orang-orang yang mengantri di pintu masuk. Sepertinya sedang ada rombongan siswa dari salah satu sekolah yang sedang ber-vakansi ria kesini. Mereka semua nampak riuh ramai, dan tidak sabar untuk segera masuk.

 

 

Untungnya, saya memesan tiket via aplikasi Traveloka. Sehingga saya tidak perlu ikut bergabung di dalam antrian tersebut, karena Traveloka sudah bekerja sama dengan Pihak Jakarta Aquarium untuk menghadirkan jalur antrian khusus bernama Easy Access. Jadi cukup berikan kode booking di aplikasi Traveloka kepada petugas yang berjaga, sejurus waktu kemudian kita pun akan segera diarahkan menuju jalur khusus tersebut. By the way, serius ini bukan endorse-in Traveloka ya, hehehe.

Oya, Jakarta Aquarium terdiri dari dua lantai dengan sebelas zona, yang keseluruhannya menampilkan berbagai satwa unik, lucu, dan langka yang dapat kita lihat dalam habitat tiruan aslinya. Zona satu hingga lima berada di lantai atas, sementara ketujuh zona sisanya berada di lantai bawah. Yuk ah, langsung aja kita lanjut ke zona pertama.

 

Ternyata kodenya diketik ulang, bukan discan 😀

Langsung nembus antrian..

 

Berjalan masuk ke area pertama di Jakarta Aquarium, kami mendapati suasana sekeliling yang langsung berubah total. Arsitektur di ruangan pertama ini penuh dengan koral selayaknya habitat laut asli, dan penerangannya pun dibuat menjadi agak remang dengan dukungan sound effects musik instrumental yang bernuansa tenang. Saya pun mulai sibuk mengambil gambar dari kamera, meskipun tentunya cukup sulit karena kondisi cahaya yang cukup minim.

Di bagian atas kita bisa melihat sejumlah hiasan ikan yang dibentuk sedemikian rupa sehingga nampak seperti sedang bergerombol menuju ruangan didepannya. Ada juga sejumlah layar dengan visualisasi ikan laut di sisi kanan kiri, sehingga membuat ruangan ini cukup ‘padat’ dan nyaman dipandang mata.

Koleksi ikan di ruangan pertama ini masih ikan yang kecil-kecil saja. Namun, Saya dan Thina nampak begitu antusias saat melihatnya, karena ada dua ikan favorit kami yang disimpan berdampingan dalam satu aquarium. Kedua ikan tersebut adalah Ikan Badut dan Ikan Blue Tang, yang tentunya langsung mengingatkan kita akan karakter Marlin dan Dory dalam film Finding Nemo. Bahkan kehadiran dua ikan tersebut semakin lengkap dengan adanya Anemon, yang sukses mengingatkan saya tentang tempat tinggal Nemo ini.

Saya jadi berfikir, jangan-jangan yang di dalam aquarium ini adalah Nemo, dan sekarang Bapaknya sedang berpetualang untuk bisa segera mengeluarkannya, hihihi. 😀

 

Ikan-ikan sedang ‘bergerombol’ di atas ruangan

Ikan Blue Tang alias Dory, aslinya pasti pelupa nih

Clownfish yang sedang istirahat di dalam anemon. Lucu sekali…

 

Masuk ke ruangan selanjutnya, kita akan mendapati sejumlah koleksi satwa non-aquatik yang ternyata dimiliki juga oleh Jakarta Aquarium. Beberapa hewan seperti ular piton, berang-berang dan biawak mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita, karena bisa kita temukan dengan mudah sejumlah kebun binatang yang mainstream.

Tapi selain dari itu, ada juga satwa-satwa unik yang biasanya hanya bisa kita tonton di layar YouTube saja. Misalnya ada Tarantula, si laba-laba raksasa yang ukurannya hampir sebesar jari tangan manusia. Ada Axolotl, si salamander unik asal meksiko yang punya kemampuan regenerasi sel tubuh ala karakter Deadpool.  Dan ada juga Kalajengking Hitam Raksasa, yang nampak menyeramkan dengan capit hitam besarnya.

Sayangnya, ada salah satu spot disini yang saya rasa kurang tinggi kaca pembatasnya. Padahal satwa yang ada di dalamnya adalah Ketam Kenari yang notabene punya capitan luar biasa kencang dengan kekuatan 3000 N. Jari tangan manusia bisa putus lho kalau terkena capitannya. Hiiii… Harus hati-hati nih orang tua jagain anaknya. Takut anaknya manjat kesitu.

Tapi meski begitu, banyaknya petugas yang senantiasa terus berlalu lalang sepertinya bisa membuat hati saya sedikit lebih tenang. Terlebih lagi, para petugas tersebut sangat ramah, dan tak segan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pengunjung yang penasaran dengan satwa-satwa disini.

 

Berang berangnya peliiit.. gamau bagi-bagi makanan

Tarantula…. Silahkan pegang kalau berani

Coconut Crab, atau yang biasa disebut Ketam Kenari

 

Salah satu hal yang membuat saya senang disini kolaborasi antara arsitektur yang keren dengan teknologi masa kini. Dalam zona Nurseries of the Sea misalnya, terdapat satu spot dimana ada sebuah ‘sungai buatan’ dengan pepohonan di kanan kirinya. Sungai buatan ini dibentuk dari sejumlah LCD yang tersusun di lantai, menyajikan visualisasi air sungai, lengkap dengan ikan Koi yang sedang berlalu-lalang. Benar-benar konsep teknologi yang keren.

Bahkan untuk mengakses informasi dari satwa yang dipajang disini pun sungguh sangatlah mudah, di karena setiap aquarium atau kandang satwa, selalu ada sebuah Tablet Android yang bisa kita gunakan untuk menggali informasi lebih lanjut (walaupun beberapa ada yg error sih, hihihi). Atau kalau membawa smartphone, kita bisa juga bisa mendapatkan informasi dengan melakukan scan kode barcode yang terpasang di setiap kandang hewan. Tapi emang agak susah si, soalnya pencahayaannya agak kurang jadi butuh usaha ekstra untuk mengatur fokus kamera hape ke barcode tersebut. Eh, apa ini mah hape saya nya aja yang jelek ya 🙁

Oya, ada juga satu spot cukup menarik dimana lantai dibawah spot tersebut merupakan kaca bening nan tebal yang bersinggungan langsung dengan aquarium raksasa di lantai bawah. Efeknya, kita pun bisa melihat langsung ikan-ikan asli yang sedang berenang kesana kemari. Kali ini ikan betulan ya, bukan cuma panel LCD belaka, hehehe.

 

Sungai buatan dari visualisasi LCD

Barcode yang bisa digunakan untuk akses informasi

Lupa bilang, ada panel interaktif juga cuy.

Lantai kaca bening, bikin Thina jadi ketakutan. Eh, saya juga takut sih.

 

Lanjut lagi ke dalem yuk ah! Ada aquarium besar yang didalamnya terdapat anak ikan pari dan hiu lho. Menarik sekali rasanya saat melihat ikan pari, soalnya dia enerjik sekali berenang meliuk kesana kemari. Sesekali ia menempelkan tubuhnya ke kaca pembatas, sehingga kami berdua dapat melihat mulutnya yang terlihat seperti sedang tersenyum 😀

Saat kami berada disini, seorang petugas sedang sibuk berenang sembari memberikan makanan kepada ikan-ikan ini. Adapun makanan yang diberikan adalah potongan ikan tuna, udang, dan cumi-cumi. Cara memberi makannya bukan dilempar ‘awur-awuran’ seperti ngasih makan ikan koi loh ya, melainkan disuapi langsung dengan bantuan tongkat khusus. Kata petugasnya sih, karena hewan-hewan ini masih kecil jadinya harus disuapi langsung seperti ini. Kalo tidak, nanti ada kemungkinan dia ga kebagian makanan alias kalah rebutan sama ikan lain.

Berbeda dengan Ikan Pari yang langsung antusias nyamperin petugas, ikan hiu justru nampak malu-malu, dan menghindar saat disuapi makanan. Duileh, lagi ga mood makan kali ya, hehehe .

 

Thina dan Ikan Pari saling berbalas senyuman 🙂

 

Turun 1 lantai kebawah, kita akan disambut oleh sebuah aquarium raksasa berbentuk tabung  yang diisi berbagai jenis ikan laut. Ditengah-tengah kolam tersebut ada sebuah pohon (mungkin ganggang) yang tumbuh menjulang ke atas. Ikan-ikan ini pun terus berputar mengelilingi pohon tersebut. Pemandangan ini sangat indah untuk ditangkap mata, oleh karena itu saya pun segera bergerak mengambil gambar. Saya sampai rela njoprak di lantai demi bisa mengambil foto terbaik, hihihi. FIX, Fotografer Propesyonel.

Oya, karena sedari tadi belum ada foto berdua antara saya dan Thina, akhirnya kami pun meminta bantuan seorang petugas foto yang ada disana. Ia pun langsung bersemangat, mengarahkan gaya dan menuntun kami agar bisa mendapatkan foto romantis ala-ala film Titanic, ngoehehe.

Namun saat akan mencetak foto tersebut di salah satu spot printing, mendadak kami dibuat terkaget-kaget. Di bayangan saya, mungkin kisaran 75 – 100rb lah biaya untuk mencetak foto yang harus saya keluarkan. Owalah aslinya ternyata jauh lebih mahal dari itu! Untuk cetak album yang terdiri dari 2 foto, dihargai 300 ribu, sementara yang termurahnya adalah seharga 200 ribu. Tentu saja saya dan Thina menolak keras.

Seraya berbisik ke Thina, “Sssst.. Ini ga salah? tiket masuk kita aja ga sampe 200 ribu loh”. Akhirnya kami berdua pun ambil jurus ngeles dan kabur dari spot printing tersebut. Ajegile… overprice benerrr.

 

 

Kalau merasa bosan hanya bisa melihat koleksi ikan saja, maka kalian pun bisa mendatangi touching pool, yang posisinya tak jauh dari tangga turun tadi. Disini kita bisa bebas menyentuh dan memegang hewan-hewan display yang unik. Seperti bintang laut, teripang dan ikan pari. Yups, ikan pari lho. Tenang saja, ikan pari yang dipajang disini sudah dicabut duri beracunnya, sehingga aman untuk dipegang anak-anak.

Tapi ada satu hewan yang sukses membuat saya kaget dan senang bukan main. Hewan itu adalah Horshoe Crab, atau dalam bahasa indonesia disebut dengan Belangkas. Hewan ini punya bentukan yang unik, seperti tapal kuda kalau dilihat dari atas, namun dari bawah terlihat ada banyak kaki dan capit selayaknya kepiting. Meski memiliki capit, tapi Belangkas ini aman untuk dipegang dengan tangan karena ukurannya capitnya kecil dan ia puntidak mengandung racun.

Hal menarik dari Belangkas ini adalah, Ia merupakan salah satu ‘fosil hidup’ yang tersisa dari zaman prasejarah. Tentu saja kita bisa melihatnya dari bentuknya yang unik dan memang menyerupai hewan purba. Selain belangkas, ada juga koleksi fosil hidup lainnya disini, yakni Nautilus.

Apa itu nautilus? Ia adalah salah satu fosil hidup lainnya yang tersisa, bentuknya menyerupai campuran antara Siput dengan Cumi-cumi. Ia memiliki cangkang yang keras seperti siput, namun punya kemampuan berenang dan memiliki tentakel selayaknya cumi-cumi. Unik kan :D. Lihat fotonya dibawah yha.

 

Touching pool. Bisa touching heart juga ga ya? hehe

Belangkas, hewan purba yang masih tersisa.

Nautilus, campuran antara siput dan Cumi-cumi.

 

Di sudut ruangan terakhir dari Jakarta Aquarium ini, kita akan disajikan sebuah aquarium berukuran raksasa, dimana didalamnya ada begitu banyak ikan berukuran besar juga. Mulai dari Ikan Pari, Ikan Kerapu Rakasasa, hingga Ikan hiu pun ada di dalam aquarium ini. Saya sampai sulit untuk beranjak dari tempat duduk tatkala menikmati pemandangan ini, karena suasanya membuat hati begitu tenang dan tentram. Melihat ikan berukuran raksasa tersebut berenang dengan santai, membuat saya seperti terhipnotis akan keindahannya.

Tak jauh dari aquarium tersebut, ada sebuah set panggung lengkap dengan kursi penontonnya. Disinilah pertunjukan teatrikal berjudul ‘Pearl of The South of The Sea’ akan digelar setiap pukul 13.00 waktu setempat. Dan berhubung waktu kala itu baru 12.30, saya dan Thina pun memutuskan untuk istirahat sejenak dan mengambil di salah satu sudut kursi yang kosong.

Hanya selang beberapa waktu kemudian, seluruh kursi pun langsung penuh terisi oleh pengunjung. Para pengunjung yang tak kebagian tempat duduk akan diarahkan untuk ‘ndeprok’ di lantai ole petugas. Beruntung sekali saya masih kebagian tempat duduk dengan spot yang bagus, hehehe.

Tepat pukul 13.00, pertunjukan pun dimulai dengan narasi berbahasa inggris. Karakter-karakter seperti Raja, Putri permaisuri dan ratu yang jahat pun mulai bermunculan untuk membawakan aksi teatrikal tanpa dialog ini. Efek-efek kabut dan kembang api pun dimunculkan untuk memperkuat visualisasi drama yang sedang dibangun.

 

 

Nampak tak ada yang benar-benar istimewa dengan pertunjukan berdurasi 20 menit ini, sampai kemudian perlahan tirai pun ditarik keatas dan muncullah…. Mermaid!

Yap, bukan cuma satu, tapi tiga mermaid yang dimunculkan. Semuanya nampak lihai berenang melenggak lenggok di dalam air, sambil sesekali naik kembali ke permukaan untuk mengambil nafas. Benar, mereka semua berenang dengan tanpa menggunakan bantuan alat selam apapun. Bahkan lebih keren lagi, selain adegan mermaid tersebut ada juga adegan pertarungan antara dua monster raksasa gitu… Ah mwantap bangat lah pokoknya.

Okelah, kalau kalian penasaran, bisa lihat langsung pertunjukannya lewat rekaman amatir saya berikut ini ya.

Ahh, selesai sudah vakansi singkat saya ke Jakarta Aquarium hari ini. Perasaan saya puas sekali, karena selain bisa melihat dan berinteraksi langsung dengan satwa-satwa unik, saya juga bisa melihat pertunjukan mermaid yang luar biasa keren. Biaya tiket lebih dari 300 ribu untuk dua orang terasa masuk akal. worth it!

Oya, ada beberapa tips nih dari saya untuk yang mau kesini :

  • Sebaiknya pesan tiket dari Traveloka (bukan endorse), karena dia sudah kerjasama dengan pihak Jakarta Aquarium.
  • Kalau mau simpel, berangkatlah via Bus Transjakarta Koridor 9 dari halte Pinang Ranti. Cukup sekali naik gapake transit kemana-mana.
  • Sebaiknya jangan bawa uang pas-pasan karena ini daerah elit. Apa-apanya mwahal.
  • Bawalah Kamera Mirrorless atau DSLR, karena pencahayaan di dalam sangat sedikit, sehingga sulit untuk memotret dengan kamera smartphone. (gaboleh pake flash ya)

Well, see you on another trip brooo..

 

Bekasi, 20 November 2018.
Ditulis sembari bermalas-malasan seharian penuh di kosan.

 

 

Jakarta Aquarium
Neo Soho, Jl. Letjen S. Parman No.Kav. 28, RT.3/RW.5,
Tj. Duren Sel., Grogol petamburan, Kota Jakarta Barat
Telepon : (021) 1500212
Website : https://www.jakarta-aquarium.com/id