Jujur, sebenarnya materi ini adalah materi lama. Sebuah materi khusus yang saya persiapkan untuk mengisi acara Sishopee, diadakan oleh Kampus Shopee Bekasi pada tanggal 24 Agustus kemarin. Acara tersebut bertepatan juga dengan ulang tahun saya yang ke-23.

Emangnya apa itu Sishopee?
Sishopee adalah salah satu acara sharing online, alias berbagi pengalaman antar para seller shopee di bekasi yang diadakan secara virtual alias online. Acara ini sendiri diadakan secara live di grup Whatsapp Kampus Shopee Bekasi.

Selama saya menyampaikan materi, grup akan dibuat menjadi silent terlebih dahulu (tak ada anggota yang bisa berkomentar). Barulah setelah seluruh materi selesai disampaikan, grup dibuka kembali untuk selanjutnya masuk ke sesi pertanyaan.

Tak sengaja di pagi hari ini saya melihat materi SiShopee ini nangkring di folder draft laptop saya. Ketimbang saya hapus dan hilang begitu saja, mungkin pikir saya lebih baik kalau materi ini diupload ke blog pribadi saya. Manatau bisa bermanfaat untuk teman-teman sekalian 🙂

Apalagi, saya juga berencana untuk vakum dulu dari semua komunitas marketplace hingga awal tahun 2019 nanti. Jadi besar kemungkinan posting ini akan menjadi posting komunitas terakhir saya di tahun 2018 ini.

So, seperti apa sih materinya? Nih.. silahkan dicek aja sendiri yak!

 


 

 

Assalamualaikum wr. wb.

Selamat siang, semuanya. Sebelum memulai materi, izinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu ya 🙂

Nama saya Fajar Fathurrahman.. Biasa dipanggil Fajar, Atuy atau Jare. Nama pena saya adalah Fajarwalker. Tapi sumpah, saya ga ada sangkut pautnya dengan Alan Walker, apalagi mendiang Paul Walker. Dalam hal ini, Walker artinya adalah Pejalan. Saya terinspirasi untuk menggunakan nama Walker, karena dulu suka jalan kaki ke kantor.. demi ngirit ongkos tentunya, hehehe.

Saya lahir di Kota Jakarta, 24 Agustus 1995 silam, yang sepertinya jatuh tepat di hari ini. Well, itu artinya tepat di hari ini saya resmi nambah umur setahun. Sebagai bentuk rasa syukur, nanti saya mau ngasih Giveaway berupa 1 buah Jam Tangan di akhir acara Sishopee ini ya 😀

Sebelum melangkah lebih jauh, sepertinya harus saya sampaikan dulu bahwa saya disini bukan untuk menggurui ya. Jujur, saya juga ilmunya masih belum dalem banget kalo dibandingin suhu-suhu disini. Apalagi dibandingin sama Om Indra, duh saya merasa seperti butiran beras.

Adapun saya disini hanya ingin sharing-sharing ringan serta curahan hati saja. Semoga saja bisa menjadi manfaat bagi saya pribadi maupun teman-teman semuanya 🙂

Untuk toko yang saya kelola saat ini adalah Pakar Ayam (shopee.co.id/pakar-ayam), yang merupakan supplier daging ayam dan sapi online. Pakar Ayam sendiri baru mulai beroperasi pada September 2017 kemarin, yang artinya secara umur belum ada genap satu tahun. Tapi alhamdulillah, kini Pakar Ayam mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu Star Seller di Shopee. Hatur nuhun shopee 😀

Untuk memulai materi kali ini, izinkan saya untuk memulai data yang cukup menarik. Data ini saya dapatkan dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (Disingkat APJII) pada tahun 2017 kemarin.

 

 

Berdasarkan data yang dihimpun oleh APJII ini, dapat kita ketahui bahwa jumlah pengguna Internet di Indonesia ternyata mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan dalam 10 tahun terakhir. Tak hanya itu, tingkat penetrasinya juga kini sudah mencapai angka 54.7%, yang mana artinya dari 262 juta penduduk di Indonesia, sekitar 144 juta orang sudah terhubung ke Internet.

Dari sini bisa kita tarik kesimpulan, bahwa Internet kini semakin komersil di Indonesia. Kalau dulu yang melek internet hanya kalangan-kalangan borjuis. Kini mungkin sopir angkot, tukang tambel ban hingga mbok-mbok jamu pun terhubung ke internet. Kalau dulu media komunikasi hanya lewat telpon dan sms, kini orang tua saya pun sering update status dan melakukan videocall. Yap, internet kini digunakan di hampir seluruh kalangan masyarakat.

Semakin familiarnya Internet tentunya akan berdampak di dalam kehidupan kita sehari-hari. Dulu saya ke mall untuk belanja barang yang saya mau. Kini, saya ke mall untuk menandai barang apa yang saya mau. Kemudian, pulang dari mall langsung buka hape, dan cari lagi di Shopee, hehehe. Intinya adalah What You See Is What You Get. Apapun bisa saya dapatkan dengan menggunakan Internet. Jadi buat apa cape-cape keluar rumah?

Apalagi  Jakarta dan sejumlah kota-kota besar lainnya di Indonesia kini mengalami masalah yang pelik, yakni Kemacetan. Setiap tahunnya jumlah produksi dan pemasaran kendaraan bermotor senantiasa naik, sementara pertumbuhan jalan ya segini-gini aja.

Akhirnya jalanan pun semakin macet, dan orang-orang pun mulai frustasi dengan kemacetan tiada henti ini. Mangkanya tak aneh kalau go-food, go-send dan sejumlah bisnis ekspedisi pun laris manis. Itu karena orang-orang kini cenderung malas untuk melangkah keluar rumah.

Hal inilah yang akhirnya membuat saya berfikir. Kalau orang-orang sudah semakin malas keluar rumah, dan mulai membeli segala sesuatunya lewat internet… Maka kenapa saya juga harus capek-capek keluar rumah?

Sumber gambar : Gojek.com

Ketimbang mengikuti metode teman-teman marketing lain yang ber-kanvasing ria, membagi-bagikan brosur dan keliling komplek di siang bolong. Saya lebih memilih untuk stay di depan laptop dan fokus membangun kekuatan di media online.

Pun begitu juga dengan Pakar Ayam. Saya tidak pernah mau menghabiskan waktu untuk kanvasing, alias berkeliling menghampiri restoran dan catering di Jabodetabek. Fokus utama saya adalah membangun citra lewat berbagai media online seperti website, marketplace, dan lain-lain. Awalnya mungkin sulit, tapi kalo fokus sih Insya Allah pelan-pelan bakal ketemu ritme nya.

Kini, sebagian besar customer yang repeat order di Pakar Ayam mungkin akrab dengan saya, tapi rata-rata belum pernah sekalipun bertemu. Beberapa lainnya pernah bertemu, tapi paling cuma sekali-dua kali saja. Yang pasti saya hanya akan menemui pelanggan kalau probabilitas dealingnya cukup besar, atau si pelanggannya yang penasaran dan ingin bertemu. Kalau tidak, ya sudah.. ga perlu ketemu. hehehe

Inilah yang lantas menginspirasi saya untuk membuat materi hari ini dengan judul, ‘Marketing Tanpa Tatap Muka’.

 


 

 

Berhubung materi kali ini lumayan luas, sementara waktu yang tersedia tidak terlalu banyak. Jadi mau tidak mau saya sederhanakan dulu menjadi empat poin ya. Ya, cukup empat poin saja..

1. Bersolek secara online
2. Menata toko online
3. Pendekatan emosional
4. Menyebarkan flyer secara online

Dan tanpa basa-basi lagi, mari kita lanjut langsung ke poin yang pertama ya…

 

 

1. BERSOLEK SECARA ONLINE.

Sumber gambar : Gq.com

Sebagai seorang marketing, penampilan tentunya merupakan salah satu poin penting saat kita bertemu dengan pelanggan. Saya pribadi memang tidak terlalu perduli dengan penampilan. Sehari-hari saya lebih senang pakai kaus oblong, celana jeans dan sendal swallow.

Tapi kalau mau ketemu sama customer, pasti saya akan bersolek terlebih dahulu. Minimal pake kemeja lengan panjang, rambut dipakein pomade, dan semprot wewangian biar pas lewat wanginya semriwiiiing..

Intinya saya percaya, bahwa cara kita mengatur penampilan akan mempengaruhi psikologis pelanggan dalam menilai pribadi kita. Sulit rasanya menjual barang yang mahal, apabila saat bertemu dengan pelanggan rambut kita awur-awuran, pake kaos oblong, ditambah bau badan kita tidak syedap. Yang ada pelanggan bakal ilfeel. Ya kan?

Nah, sesuai logika barusan, dalam berjualan online pun sebenarnya ‘bersolek’ itu sangat kredensial. Dalam berbagai media Online, penting sekali untuk menampilkan identitas kita secara elegan, sehingga bisa menumbuhkan keyakinan dan kepercayaan di mata calon pelanggan.

Ada 3 tips dari saya mengenai bersolek online ini..

 

Poin Pertama, pisahkanlah antara kehidupan pribadi dengan toko online.
Jujur, awalnya saya tidak terlalu perduli dengan poin yang satu ini. Tapi semakin kesini, saya semakin sadar bahwa memisahkan antara ranah dagang dengan ranah kehidupan pribadi merupakan sesuatu yang sangat penting. Oleh karena itulah, kini saya menggunakan dua handphone dengan nomor yang berbeda. Handphone yang satu untuk interaksi sehari-hari, dan yang satunya khusus untuk jualan online saja.

Ada beberapa dampak negatif apabila kedua ranah ini digabung. Misalnya suatu ketika saya sedang galau, kemudian saya update status gundah gulana di Whatsapp. Status itu bisa saja dilihat oleh pelanggan-pelanggan saya dan membuat mereka ilfeel.

Oh iya, apalagi sekarang nih lagi musim kampanye pilpres. Misalnya saya update status mengenai kubu A, kemudian dilihat oleh pelanggan kita yang ternyata pro ke kubu B. Bisa saja pelanggan tersebut jadinya malah mem-block kita. Itulah kenapa dua ranah ini harus dipisah : Supaya kita tetap bebas berekspresi, tanpa ada kemungkinan pelanggan jadi benci. ehehehe.

 

Kedua, gunakanlah Display Picture (DP) yang elegan.
Menurut Saya, DP adalah salah satu cara untuk menunjukkan jati diri kita kepada pelanggan. Dalam berhubungan di media online baik di socmed, aplikasi chatting maupun marketplace, salah satu hal yang pertama kali dilihat orang adalah DP.

Maka dari itu, sebaiknya jangan gunakan DP yang aneh-aneh, yang ga jelas, apalagi alay, heheheh. Maksimalkanlah DP ini untuk untuk membangun citra premium dan keren di mata pelanggan. Biasanya kalau DP ini sih saya memang gonta-ganti, tapi disesuaikan dengan kondisi. Bisa menggunakan Logo, menggunakan ilustrasi khusus atau promo yang saat ini sedang berlangsung. Contoh nya seperti ini :

 

Ketiga, memaksimalkan Whatsapp for Business.
Tentu kita tahu, Whatsapp kini merupakan salah satu media komunikasi dengan pengguna terbesar di Dunia. Dalam komunikasi online, rata-rata orang akan meminta nomor Whatsapp kita terlebih dahulu untuk berkomunikasi lebih jauh dan personal. Karena itu lah, bagi saya Whatsapp adalah salah satu poin penting yang harus dimaksimalkan.

Salah satu cara memaksimalkan Whatsapp adalah dengan menggunakan Whatsapp Business, alias Whatsapp yang didesain khusus untuk bisnis. Tinggal buka play store lalu search saja yak 😀

Ada 3 fitur unggulan Whatsapp Business dibanding Whatsapp biasa. Pertama adalah deskripsi profil yang lebih detail dan meyakinkan. Kedua, bisa set autoresponse (sangat berguna ketika kita sedang liburan). Dan yang ketiga, fitur balas chat cepat, sehingga kita bisa lebih responsif saat menghadapi pertanyaan pelanggan. Langsung aja saya kasih contoh ya 😀

 

Ini adalah perbedaan tampilan deskripsi profil pada whatsapp business.

 

Ini contoh fitur autoresponse, yang bisa diset waktunya.

Dan ini contoh fitur balas cepat. Jadi untuk membalas, ‘Ready kakak, silahkan diorder..’ itu kita cukup ketika /ready saja, nanti langsung muncul opsi balas cepatnya.

 

 

2. MENATA TOKO ONLINE

Sumber gambar : Sacyaci

Selesai berbenah tampilan di media-media ‘pribadi’, kini kita lanjut ke poin selanjutnya yaitu menata toko online. Logikanya, jika pelanggan datang ke toko kita, tapi ternyata toko kita berantakan… ambyar ga karu-karuan. Bisa jadi pelanggan tersebut akan merasa malas, dan akhirnya ga jadi beli.

Saya membagi poin nomor dua ini kedalam 2 materi..

 

Pertama, membenahi tampilan toko online.
Dalam mengelola toko online, dalam hal ini Shopee, tentunya. Tampilan toko, deskripsi toko dan produk merupakan poin yang selalu saya utamakan untuk dibenahi. Fokuslah terhadap detil-detil kecil yang mungkin bisa membuat toko kita terlihat lebih menarik di mata pelanggan.

Pembeli itu tidak semuanya ketika menemukan sebuah produk, lalu langsung dia bayar. Adakalanya mereka lihat toko kita dulu, lalu lihat produk-produk yang lain. Kalau toko kita nyaman dilihat, bisa jadi si pembeli tadinya cuma mau beli satu, akhirnya jadi beli macem-macem, hehehe.

Sebagai toko online, Shopee sebenarnya sudah memiliki cukup banyak keunggulan. Salah satu yang paling saya sukai adalah ilustrasi dan deskripsi toko yang sangat fleksibel. Deskripsi toko ini dapat kita maksimalkan untuk branding, informasi promo ataupun produk unggulan. Kalau di pakar ayam, saya atur tampilannya menjadi seperti ini :

Selain deskripsi toko, tampilan produk juga tidak kalah pentingnya. Dari dulu sampai sekarang, saya sudah beberapa kali mengganti keseluruhan tampilan produk. Itu karena saya menginginkan tampilan terbaik, yang nyaman dipandang ketika pelanggan datang ke toko saya.

Di mata orang-orang, jualan ayam itu identik dengan pasar konvensional, yang mana agak becek-becek dan sedikit kumuh. Mangkanya, hampir semua produk di Pakar Ayam itu saya potret sendiri. Saya membangun citra ‘higienis’ di mata orang-orang yang mampir ke toko saya. Setiap produk pun selalu saya atur deskripsinya secara maksimal dan detail, mulai dari fungsinya untuk apa, spesifikasinya bagaimana, aturan pemesanannya bagaimana. Pokoknya selengkap mungkin.

Intinya adalah, bukan tentang produk apa yang kita jual, tetapi bagaimana menyampaikan value produk tersebut kepada pelanggan. Anggaplah misalnya kita jualan (maaf) kotoran sapi. Kalau pun kita bisa menyampaikan value dari kotoran sapi tersebut, (misalnya untuk bahan bakar biogas ramah lingkungan) dan menyajikannya dengan cara yang menarik, maka pelanggan pun akan melihat produk tersebut sebagai sesuatu yang menarik juga 😀

 

Lanjut, kedua. Datangkan pelanggan dari luar Shopee.
Anggaplah toko kita adalah sebuah spot kecil dari sebuah mall besar bernama Shopee. Siapakah yang akan datang ke toko kita? Tentu saja orang-orang yang kebetulan mampir dan masuk ke mall tersebut.

Bagaimana caranya supaya toko kita lebih ramai lagi? Tentu saja, dengan mengajak orang-orang dari luar mall untuk masuk ke dalam mall. Yap, logikanya seperti itu.

Karena itulah, saya pribadi tidak pernah mengandalkan Shopee sepenuhnya untuk mendatangkan pembeli. Penting juga untuk mendatangkan traffic dari media-media lainnya seperti google, website, atau mungkin blog pribadi saya sendiri. Di  media-media tersebut biasanya selain ber-iklan, saya juga mencantumkan link menuju toko shopee saya.

website pakar ayam

Website Pakar Ayam, yang beralamat di www.pakarayam.id, merupakan salah satu media andalan saya. Saya percaya, dengan memiliki sebuah website, maka bisnis kita akan memiliki nilai prestise yang lebih tinggi di mata pelanggan. Dan website ini jua lah yang turut andil dalam menghadirkan traffic menuju toko Shopee saya.

Seringkali, pembeli menemui website saya saat mencari di google / bing. Dari website tersebut ia lantas menghubungi saya melalui whatsapp. Dari percakapan di whatsapp lah kemudian ia saya arahkan untuk berbelanja di Shopee. Jadi, jangan pernah andalkan shopee sepenuhnya, tapi datangkan pembeli dari media-media lainnya menuju ke Shopee 🙂

 

 

3. PENDEKATAN EMOSIONAL

Sumber gambar : Lupa 🙁

Poin pertama, cara berkomunikasi pelanggan dengan baik.
Berhubung sebagian besar pembeli saya tidak pernah bertemu saya secara langsung, maka cara dan attitude kita saat menghubungi pelanggan merupakan hal krusial. Dalam berkomunikasi dengan pelanggan, sebagian besar media yang saya gunakan adalah media tekstual seperti chat (baik di shopee maupun di whatsapp) dan email.

Salah satu hal yang saya sadari adalah, pada dasarnya media komunikasi tekstual merupakan media komunikasi yang cukup buruk. Mengapa demikian? Karena dalam komunikasi tekstual, cukup sulit untuk mengetahui ekspresi serta kondisi emosional lawan bicara kita. Jika cara penulisan pesan kita yang kurang tepat, maka seringkali kita akan dianggap jutek, atau bahkan tidak sopan oleh pembeli.

Berdasarkan pengalaman saya, ada beberapa tips sederhana supaya terlihat lebih friendly dan sopan di mata pembeli.

 

Tips #1, Jangan pelit kata-kata.
Salah satu permasalahan dalam komunikasi dengan pelanggan adalah, kita dianggap judes, karena membalas dengan jawaban yang terlalu singkat. Padahal, apa salahnya sih ngetik panjangan sedikit? Lagipula kalau dipikir-pikir, pertanyaan yang masuk juga biasanya itu-itu saja. ‘Ready kak?’, ‘Bisa kirim hari ini ga?’, dan lain sebagainya.

Ketimbang menggunakan balasan singkat seperti ‘Ready’, ‘Iya’, kenapa tidak balas panjangan sedikit. Semisal, ‘Ready kakak, silahkan diorder ya 🙂 ‘. Jangan lupa sertakan emoji, karena emoji adalah salah satu cara kita untuk menyampaikan ‘ilustrasi emosi’ kita kepada pelanggan.

Malas mengetik? Tenang.. coba aja gunakan Abbreviation Software, alias software untuk membuat pintasan tulisan. Jadi kita bisa mengatur jalan mudah untuk mengetik ‘Ready kakak, silahkan diorder :)’, menjadi cukup mengetikkan @Rd  saja, misalnya.

 Kalau di android bisa menggunakan aplikasi TextPand. Sedangkan kalau di komputer / laptop bisa menggunakan aplikasi AutoHotKey. Yapp.. silahkan dicoba sendiri yak! 😀

 

 

Tips #2, Jangan  ragu untuk menelpon pelanggan.
Berhubung komunikasi tekstual sejatinya adalah media komunikasi yang cukup buruk, maka dalam kondisi tertentu, jangan ragu untuk menghubungi pelanggan lewat panggilan telepon. Komunikasi dengan telepon adalah salah satu media terbaik, karena sangat komunikatif. Customer pun biasanya merasa ‘diperlakukan istimewa’ apabila ada permasalahan tertentu, lalu mereka dikabari lewat telepon.

Jika ada masalah dalam pengiriman Go-jek di Shopee, maka yang pertama kali saya telepon biasanya CS Gojek ataupun CS Shopee, melainkan pelanggan saya terlebih dahulu.

“Selamat siang… Halo kak, Saya Fajar dari Pakar Ayam. Mohon maaf kak, saya ingin meng-konfirmasi untuk pesanan kakak di Shopee. Saat ini transaksinya ada kendala sistem sehingga drivernya bla… bla… bla… Jadinya kemungkinan baru bisa sampai besok kak.” Ketika sudah ditelpon seperti itu, biasanya customer akan lebih mengerti, dan tidak lagi memborbardir kita dengan sejumlah pertanyaan di chat.

“Duh.. boros dong kalo pulsa kalo dipake nelpon terus”, ya pesen paket nelepon atuh 😀

 

Poin kedua, jaga komunikasi pelanggan dengan bantuan CRM.
CRM, atau akronim dari Customer Relationship Management, merupakan salah satu cara agar kita bisa menjaga hubungan dengan terus melakukan pendekatan dengan pelanggan. Pendekatan ini memungkinkan untuk mempertahankan pelanggan dan membuat pelanggan lebih akrab dengan kita.

Saya biasanya menyimpan data-data customer ‘besar’ dan potensial nya pakar ayam. Dari data itulah saya lantas mengatur jadwal kapan saya harus mem-follow up mereka kembali.

Sebenarnya ada banyak software atau tools untuk mengelola CRM ini, seperti VTiger, SalesForce atau Microsoft Dynamics. Tapi berhubung skala usaha pakar ayam masih kecil-kecilan, dan belum terlalu rumit. Jadi saya menggunakan cara yang paling simpel saja : Microsoft Excel, hehehe.

Ini saya lampirkan contoh CRM ala pakar ayam ya.. silahkan disesuaikan dengan gaya masing-masing 😀

 

 

4. SEBAR FLYER LEWAT MEDIA ONLINE

Meskipun dalam pemasaran lewat media online sebenarnya kita lebih banyak di depan laptop, tidak berjalan kemana-mana. Tapi itu bukan berarti kita berdiam diri saja. Boleh juga sesekali kita melakukan usaha membagi-bagikan flyer untuk mendapatkan pelanggan baru. Cuma bedanya, bagi-bagiin flyernya juga lewat media online.. Alias bahasa kerennya adalah Broadcast.

 

Tips #1 Broadcast Lewat Whatsapp.
Ini metode broadcast yang paling sering saya gunakan. Biasanya sih saya cukup sering mengirimkan broadcast di media ini. Mungkin bisa 3 sampai 4 kali dalam waktu 1 minggu. Interval antar broadcast disesuaikan tergantung dengan tujuan kita. Kalau tujuannya untuk update harga, tiap hari juga tidak apa-apa. Tapi kalau tujuannya untuk branding / kirim promo, sebaiknya jangan terlalu sering.

Untuk memulai broadcast lewat Whatsapp ini, pertama-tama kita harus membuat list broadcast / daftar siaran. Caranya klik menu 3 titik di pojok kanan atas aplikasi Whatsapp, lalu pilih ‘Siaran Baru’. Setelah itu masukkan satu per satu kontak yang ingin kita tambahkan ke dalam daftar broadcast. Dan.. selesai.

Untuk mengirimkan pesan broadcast, kita cukup buka saja daftar siaran yang sudah kita buat tadi. Lalu copy paste materi yang ingin kita broadcast. Seluruh kontak yang ada di daftar tersebut akan menerima broadcast kita. Tapi dengan catatan : hanya kontak yang menyimpan nomor kita saja yang akan menerima pesan.

Silahkan dicobaa 😀

 

Tips #2 Broadcast lewat Email.
Media lain yang bisa kita gunakan untuk broadcast adalah e-mail. Sebenarnya probabilitasnya tidak terlalu tinggi, tapi lumayan lah untuk kita coba, toh sampai sekarang masih banyak perusahaan teknologi yang mengirimkan broadcast lewat e-mail. Yah, barangkali saja ada satu atau dua orang yang membaca email kita, hehehe.

Sayangnya untuk layanan broadcast email ini rata-rata tidak gratis. Untuk software bisa menggunakan Sendblaster, yang mana ada versi gratisnya untuk 100 kontak saja. Sementara untuk layanan online bisa menggunakan layanan kirim.email hanya saja sistemnya berlangganan per bulan.

Tutorialnya terlalu panjang untuk dituliskan pada materi kali ini, jadi silahkan dicoba sendiri saja ya.. ehehe.

 

 


 

Waduh, panjang banget nih ya materi saya hari ini. Padahal niatnya cuma pengen ngetik 5 paragraf doang, tapi jemari saya tergelincir, jadi banyak banget ngetiknya.

Untuk materi kali ini saya sudahi dulu sampai disini ya. Saya pribadi mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan atau ada yang kurang berkenan. Saya pamit undur diri dulu dan saya kembalikan kembali ke moderator yang bertugas 🙂

Wassalamualaikum Wr. Wb.

 

 

Bekasi, 24 Agustus 2018.
Ditulis sambil meniup kue ulang tahun yang sulit dipadamkan