Eksplorasi Kubah Aviari di Taman Burung TMII

Ngelanjutin cerita sebelumnya di Kereta Gantung, perjalanan kami berlanjut dengan menuju ke destinasi kedua, yakni Taman Burung.

Berbeda dengan sebelumnya, perjalanan kami menuju ke Taman Burung ini terasa lebih istimewa dan excited. Pasalnya, Taman Burung adalah salah satu area yang mendapatkan cukup banyak pembaruan ketika TMII ditutup sementara demi renovasi besar-besaran.

Kami pun jadi penasaran, seperti apa sih wajah Taman Burung yang baru?

Ga pake ba-bi-bu, langsunglah kami semua melipir…

Aksesibilitas yang Bikin Kepala Pening

Sejak diresmikan kembali oleh Pak Presiden Jokowi di 1 September kembarin, TMII memang mengusung konsep baru yang bernama Green Zone. Konsep yang cukup keren, sebenarnya. Bayangin aja, ruang hijau yang tadinya cuma 50%, sekarang bertambah pesat jadi 70%. Itu berarti ruang hijaunya bertambah banyak, sementara bangunannya ya makin dikit.

Ngga cuma itu aja, kendaraan yang diperkenankan masuk juga dibatasi. Sekarang cuma buat kendaraan yang bebas emisi doang, alias kendaraan listrik. So, teruntuk para pengunjung yang mobilnya masih minum bensin, mau gamau ya mesti parkir di area yang sudah disediakan. Selanjutnya gimana? Ya disambung naik kendaraan yang sudah disediakan.

Dan disinilah masalahnya…

Tranpostasi di dalem Taman Mini itu lumayan terbatas, dan bikin pegel kaki. Dari parkiran mobil, kita perlu jalan kaki ke shelter terdekat; and we have no clue where it is.

Kami sempat mencoba bertanya ke seorang satpam berseragam kuning. Oleh beliau kami diarahkan ke sebuah mobil truk pengangkut berwarna cokelat gelap.

Baru aja mau nyamperin truk tersebut, eh tiba-tiba sopir truknya teriak ke arah kami.

“Oooiiit… Masnya baru ya disini?”

“Lha iya mas, kita baru ke Taman Mini lagi, mangkanya bingung”, jawab saya agak kesal.

“Bukan, maksud saya itu, satpamnya. Masnya baru ya kerja disini?”, Sopir itu malah menunjuk satpam yang barusan.

Owalah, kirain mau negur saya toh. Ternyata mau negur satpam tadi, hahaha. Jadi ternyata truk cokelat barusan itu cuma buat bantu akses dari Sasono Utomo ke gerbang Utama TMII aja, bukan buat masuk ke area dalam. Kalo mau ke Taman Burung, kita mesti jalan lebih dalam lagi, melewati Sasono Adiguno dan mendekat ke Gedung Pusat Kontrol Mobilitas TMII.

Saya mah cuma bisa misuh-misuh aja. “Lha piye toh.. karyawannya kurang di-training apa gimana, kok bisa ga sinkron begitu.”

Setibanya di shelter, tampak beberapa orang sudah berbaris menunggu. Agak heran, kok bisa ada penumpukan. Padahal ini kan hari kerja, dan pengunjung tentu tidak sepadat macam di akhir pekan. Tapi apa daya, kami harus menunggu hampir sepuluh menit sampai mobil pengangkut tiba di hadapan kami. Saya langsung buru-buru ngerapihin barang bawaan, ngelipet stroller, dan naik ke atas mobil.

Mobil pengangkutnya sih lumayan bagus, soalnya ya keliatan masih baru dan bertenaga listrik juga. Modelnya terbuka tanpa ada pintu sama sekali, tapi ada semacam tirai gulung gitu di sisi kanan-kirinya. Mungkin buat jaga-jaga jika sewaktu-waktu turun hujan, biar engga tampias.

Baca Juga :  Melawan Akrofobia di Kereta Gantung TMII

Sepanjang perjalanan, kita bakalan dapet penjelasan mengenai berbagai gedung yang dilewati. Entah itu anjungan, archipelago, maupun wahana wisata lainnya. Ini lumayan oke sih, jadi rada berasa aja gitu vibes liburannya. Macem jadi turis yang lagi keliling Indonesia, tapi versi ekonomis-nya, hehehe

Setelah berjalan cukup jauh hingga ke area belakang Taman Mini, mobil yang kami tumpangi pun akhirnya tiba di area Taman Burung. Stroller langsung dibentangkan, barang-barang pun dirapihkan. Sejenak pandangan saya terpaku dengan pemandangan yang ada di depan mata.

“Waaaah, Taman Burungnya sekarang jadi cakep banget yaaak!”

Wajah Baru Taman Burung

Tepat di area depan Taman Burung, auranya udah lumayan beda. Mulai dari loket yang lebih modern, desain arsitektur yang lebih minimalis, serta penggunaan pintu gerbang elektronik bikin vibes-nya jadi beda banget.

Oya, namanya juga sekarang udah berubah, jadi Taman Burung Jagat Satwa Nusantara. Ah ilah, kepanjangan tapi… Udah ya, seterusnya kita sebut Taman Burung aja. Biar simpel.

Untuk Harga tiket masuk Taman Burung, itu Rp. 50.000,- di hari kerja, serta Rp. 60.000,- di akhir pekan. Worth it apa nggak? Well, lets see..

Area utama Taman Burung ini terdiri dari dua buah kubah aviary raksasa, dengan sebuah kolam alami di tengah-tengahnya. Di area seluas 6 hektar ini, kita bisa bertemu langsung dengan hampir 2.000 burung dari 218 spesies yang sebagian besarnya ialah burung endemik Indonesia.

Di dalam kubah aviary ini, beberapa burung dipisahkan dalam kandangnya masing-masing, sementara beberapa burung dibiarkan bebas terbang kesana kemari. Di tiap kandang atau area burung, kini tercantum jelas deskripsi masing-masing spesies. Entah itu asal muasal, jenis makanan, hingga status konservasi. Ini penting dan seru banget sih buat jadi bahan edukasi ke anak.

“Tuh put, ini tuh namanya Jalak Suren Jawa…”

“Bwaa.. Huaa.. Bwwawawaaa..“, Putri jawabnya pake bubbling, hahaha

Kalo mau lebih dekat lagi, kita bisa berjalan naik ke lintasan kayu yang ada di dalam aviary. Ini lintasannya ramah untuk stroller, tapi agak kurang ramah untuk dengkul. Lumayan abisan, tanjakannya bikin kaki jadi pegel.

Meski begitu, rasa pegal yang kami rasakan jadi reda seketika, tatkala beberapa ekor Jalak Bali bergerak mendekat tanpa rasa takut. Burung langka dengan paduan warna putih dan biru ini, terbang kesana kemari dan dalam jarak yang relatif dekat dari pandangan mata. Bikin kita jadi sumringah, karena akhirnya bisa berinteraksi tanpa sekat pembatas. Putri pun mulai ajrut-ajrutan di atas stroller-nya.

Perjalanan kami lanjutkan dengan keluar dari aviary, dan masuk ke sebuah terowongan di pinggir kolam. Di sini ternyata ada sebuah cafe tersembunyi, yang dilengkapi area terbuka untuk berinteraksi lebih dekat bareng burung pelikan.

Kalo gasalah, tadinya tempat ini tuh semacem spot gitu untuk foto bareng burung-burung. Tapi sekarang, area ini udah direnovasi jadi cafe, jadi kita bisa ngopi santuy sembari memperhatikan rombongan pelikan yang berlalu lalang.

“Ini kita gapapa nongkrong disini ga beli apa-apa?”, Thina terdengar agak khawatir.

“Coba liat aja menunya. Yang paling murah apa?”

“Thai Tea..”

“Yaudah, pesen Thai Tea satu..”, ujar Saya dengan santuy.

“Heu, dasar medit bin mereki….”

Tak Ada Kasuari, Merak Pun Jadi

Kami melanjutkan perjalanan dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Sepertinya seluruh kalori di tubuh telah tersedot habis dalam proses perjalanan kesini. Niat untuk eksplorasi semua sudut di Taman Burung pun kami anulir. Lemes banget euy!

Satu-satunya yang masih ingin saya tuju, hanyalah bertemu dengan si burung purbakala, Kasuari.

Dulu seingat saya, posisi burung ini ada di pinggiran aviary, dalam kandang dengan pengaman khusus. Tapi setelah bertanya ke petugas, ternyata Kasuarinya sekarang dipindah ke area luar di tengah-tengah kedua kubah aviary.

Sebenarnya tak butuh waktu lama untuk bisa menemukannya, tapi sayang sekali.. burungnya kayaknya lagi badmood. Entah kenapa, kasuari yang biasanya selalu berdiri tegak pandangan nan sombong serta sinis, kini hanya duduk rebah di-atas rumput. Posisinya lumayan jauh dari pintu tempat, sehingga kami merasa kurang puas.

Ada apakah dengan Kasuari ini? Apa jangan-jangan perutnya mules, kebanyakan makan seblak? Atau.. jangan-jangan kolesterolnya naik gara-gara makan sate kambing?

Well, entahlah, saya ngga punya clue sama sekali. Sudah dipanggil berkali-kali pun, Kasuarinya hanya diam saja tak bergeming. Sekalinya ngerespon, dia cuma ngeluarin suara aja. Manalah suaranya gede banget, macem bapak-bapak abis minum teh dua gentong terus sendawa.

“Bwwueeeeeee……”, suara Kasuarinya kenceng banget.

Kami semua langsung ngibrit, kaget sama suaranya. Reuni bersama kasuari pun gagal total.

Dengan sisa-sisa tenaga terakhir, kami masuk ke pintu Aviary kedua. Putri masih excited dan penuh tenaga, sementara emak bapaknya udah lowbatt parah.

Eh, puji syukur banget.. Tiba-tiba ada seekor burung super duper cantik yang mendadak berlalu di hadapan kami.

BURUNG MERAAAK!

Asli deh, burung eksotis yang pernah jadi ilustrasi duit 100 perak ini, benar-benar menawan di hadapan mata. Bulunya berkilau cerah, dengan padanan warna biru dan hijau dalam komposisi yang pas. Di atas kepalanya, ada semacam jambul yang terlihat bagaikan mahkota.

Ini dia cuma lewat biasa aja, kita semua udah dibikin kagum. Apalagi kalo pas dia musim kawin yak! Semua bulu di ekornya kelak akan dibentangkan dan membentuk sebuah kipas besar yang sangat indah.

Dan ga cuma satu lho, melainkan ada beberapa ekor Merak juga yang dilepas bebas di dalam aviary ini. Ada satu yang nongol diatas jembatan layang, menatap tajam ke arah kami semua. Seakan-akan ia ingin berujar dalam bahasa manusia :

“Hilih, ada rakyat jelata lagi yang datang…”

Bekasi, 19 Desember 2023
Ditulis sambil mendengarkan lagu Journey Starts Here oleh rumahsakit


Semangat penulis kadang naik turun, jadi boleh lah support biar update terus.

Silahkan klik link dibawah
Atau bisa juga dengan cara transfer ke :

BCA : 6871338300 | DANA : 081311510225 | ShopeePay : 082110325124

Fajarwalker

A Man with frugal style living. Sering dikira pelit, padahal cuma males keluar duit.

More Reading

Post navigation

26 Comments

  • Aku terakhir ke TMII tuh mungkin delapan tahun yg lalu, wkwkkw dulu kesana naik taksi dan ternyata luaas banget, cuman nyobain naik kereta gantung dan keliling ke beberapa stand rumah tradisionalnya aja, blom sempet ke taman burungnya, udah keburu capek,ooh jadi sekarang ga bisa sembarangan semua kendaraan masuk yaa mas …

  • Hwhw kena lempar sana-sini sama pegawainya jadinya. Pernah juga beberapa kali kejadian, pas traveling, nanya A disuruh ke B, pas di B dimarahin, “bukan di sini, mestinya di A” lha piye!!

    Itu yang foto terowongan mengingatkanku pada terowongan Taman Sari di Jogja. Bedanya yang ini lebih terang dan modern, kalau yang di Jogja terowongan tua. Pengen juga jadi main ke taman burung ini. Mesti ajak ponakan sebab mereka akan takjub liat beraneka burung yang ada di sana.

    Untung HTMnya masih standar. Nggak yang bikin istighfar banget haha

    • Udah ngga standar ini mas.. Naiknya 2 kali lipat euy! Dulu mah cuma 25 ribuan ajaa. Sekarang udah sampe 60 ribu kalo pas weekend-nya, ngerii naiknya ga kira-kira

  • Seru banget ya kalau misal ada kebun khusus burung gitu, jadi kita betul-betul lebih spesifik tahu keragaman burung. Dia aceh untung-untung ada kebun binatang, itupun saya belum pernah sampai kebun binatang baru wkwkw tapi lumayan juga budgetnya kalau di sini ke kebun binatangnya 30 per orang dan itu bisa encok harus pakai mobil kalau misalnya yang sepuh. Mungkin ini karena lebih spesifik ya jadi betul-betul burung yang jarang ditemukan di kebun binatang pun bisa di amankan disini.

  • Wahh mau ke Taman Burung aja ribet gitu. Coba kalau ada persewaan sepeda atau skuter ya buat alternatif kendaraan.
    Alhamdulillah kalau ketemu merak ya, eksotis banget.
    Ada tiket terusannya gak Mas di TMII? Jadi gak dikit2 bayar tiket lagi.

    • Ada juga mbaa, cuma ya kalo bawa keluarga mah tetep ga efektif. Solusinya ya mau gamau beli mobil listrik (kalau mampu)
      TMII mah ga bakalan ada tiket terusannya mbak. Soalnya tiap wahana tuh punya manajemennya masing-masing. Bukan satu manajemen.

  • Belum pernah masuk ke taman burung, asik juga ya, ajak keluarga rame-rame kesini, tempatnya juga adem
    dan aku pengen ngerasain naik mobilnya itu, pengunjung dimudahkan dengan adanya shelter ini ya, meskipun nanti di taman kita banyak jalan, tapi seru juga sihini

    aku lupa kapan terakhir kali liat merak, masuk kebun binatang aja terakhir kayaknya SD 😀

    • Sebenarnya positif ya. Tapi kurang nyaman kalo bawa anak kecil. Kalo buat lari pagi atau halan-halan sih, yaa lumayan pas

  • hahahaaha kocak gak sie baca tulisannya mas fajar bener2 menghibur hahahaha…
    brarti mungkin kemarin dananya habis buat taman burung semua mass hehehe ups…
    bener2 bagus kok mana ada cafenya juga jadi kita beristirahat sejenak sambil menyelonjorkan kaki..taman burungnya mengajak pengunjung buat sekalian olahraga sehat hahah…60rb yaa worthed mungkin yaa…tp ya tetep mahal sie apalagi kalo berame2 berasa eii haha

    • Bisa jadiiii, soalnya renovasinya agak lumayan kerasa sih yaa disini.
      60rb berasa banget sih, soalnya dulu tuh saya inget banget kesini masuknya cuma 25 doang.
      Tapi yaa… Madesu banget dulu mah, suram. Hahaha

  • Sudah lama banget ga ke sana ke Taman MIni, pasti banyak banget tempat wisatanya yang baru dan katanya setelah direnov makin bagus dan nyaman ya, terakhir tahun awal tahun gara-gara nikmatin acara tahun baruan di sana, wah penasaran juga pengen eksplor kubah Aviarinya

    • Lumayan banyak sih yang direnov, tapi banyak juga ya podo wae, alias ga ada perubahan sama sekali.
      Next destinasi kemana yaaa enaknya..

  • Terakhir ke TMII udah luama buanget! Dulu saya dan keluarga sering banget kayaknya ke sana. Bapak saya suka nonton wayang kulit yang semalem suntuk gitu di sana. Tentunya dulu pernah juga ya ke Taman Burung, ngeliat udah dipugar dan jadi bagus, jadi pengen ke sana juga ngajakin anak saya.

    Tapi rasanya akses transportasi di TMII emang udah PR dari dulu deh ya. Dulu aja kayak ke mana-mana di sana pasti pakai kendaraan pribadi. Soalnya kan cukup jauh ya dari satu anjungan ke anjungan lain, semisal harus jalan kaki. Gempor juga kalau mau ke PPIPTEK dari Taman Burung atau dari Keong Mas. Eh, masi ada nggak tuh keong mas? Hehe..

    • Kalo PP IPTek ke Taman Burung masih deket kak, soalnya tetanggaan. Tapi kalo Taman mini, emang lumayan jauh si.

      Aku dulu pernah hitchhiking di dalem taman mini. Gara-gara kesorean, akhirnya dibantu naik motor sama karyawan disana hahaha

  • Nah, pas Oktober lalu Aku emang ga masuk ke Taman Burung karena takut keburu lelah, secara keliling ajungan pake mobil atau naik kereta gantung aja udah lumayan tuh, udah gitu pake HTM lagi masuk ke Taman Burung, ku masih ngerasa sayang rogoh kocek tambahan alias medit emang. Etapi keren juga ya Taman Burung yang sekarang, tampilannya fresh bener, mana ketemu sama burung merak yang indah itu, auto kebayar ya rasa lelah muter-muter TMII.

    • Nah itu yang berat sih. Sekarang TMII tuh udah makin kerasa mwahalnya. Apa-apanya kerasa banget naiknya
      Termasuk tiket Taman Burung yang naiknya hampir 100% juga dari harga awalnya.

  • Wkwkwkwkwj dasaaaar beliin Thai tea doang . Kebayang muka thina waktu bilang pelitnya

    Aku udh banyak baca ttg taman burung ini, pas awal2 selesai renov. Udh tertarik sih ngajakin anak2′ kesana. Tapi tunggu waktu pas mas. Dan jujur agak males pas denger cuma bisa kendaraan listrik plus bus gratisnya ini yg boleh jalan yaaa. Eh tapi kalo ga salah ada sewa sepeda listrik itu bener ga sih?

    Taman burungnya baguus yaa. Setidaknya koleksinya lumayan ok nih, ga cuma sedikit. Aku sampe browsing lagi beda kasuari dan merak . Kenapa selama ini aku anggab sama hahahah

    • Cobain aja mbaa, tapi kalo kataku, mending pas weekdays aja sih. Atau kalo mau ya sewa kendaraan listrik aja di dalamnya. Ada kok sewa kendaraan di dalamnya, itu kayaknya lumayan membantu untuk menghindari antrian kendaraan yang membludak.

  • Kalau baca istilah aviari itu jadi inget kebun binatang burung punya irfan hakim juga namanya sama ya. Jujur kita tuh bersyukur banget ya kak Indonesia ini punya alam yg sangat nyaman untuk beragam hewan tinggal disini

  • Wkwkw.. kenapa meraknya salty banget?
    Kakanya yang kerja di Taman Burung Jagat Satwa Nusantara ini juga mungkin merasakan hal yang sama yaah.. Lokasinya kini semakin bagus dengan perbaikan di sana-sini dan aturan baru, tapi agaknya jadi sedikit membutuhkan effort lebih.
    HIiks~

    Aku kemarin terakhir ke monas juga gini nih..
    Ada kendaraan khusus dan ada bwanyaaaa banget pengunjung yang antri di shelter dan antriannya makin makin gajelas kalo pendatang dari luar Jekarda.
    Huuff~
    Kudu banyak bersabar dan istighfar kalo berlibur pas peak season tuh yaa..

    • Iyaaa, capek banget otw kesananya. Padahal kalo dulu mah, tinggal masuk dr pintu belakang aja, terus jalan kaki. Sekarang tuh kesana kemarinya syuliit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *