Kota Cinema dan Nafas-Nafas yang Tersengal Karena Pandemi

Setelah sekian lama berjibaku dengan perencanaan yang gagal terealisasi, akhirnya Saya dan Thina pergi ke nonton layar lebar juga. Sejujurnya kunjungan kami kali ini sebetulnya agak accidental sih, karena niat awalnya mau nganterin Thina ke tempat klinik Acupressure di sekitaran Wisma Asri. Namun sayang, setelah berkeliling kesana kemari mencari alamat di tengah terik mentari, kami berdua tetap gagal untuk menemukan lokasi yang dituju.

Nomor rumah yang tercantum tidak bisa ditemukan. Nomor telepon yang tertera tidak bisa dihubungi. Bertanya ke satpam pun, malah disambut dengan ekspresi bingung dan keheranan. Akhirnya saya simpulkan bahwa klinik yang ada di google maps tersebut hanyalah fiktif alias penipuan belaka. Raut sedih pun terlihat jelas di wajah Thina. Wajar saja, kami sudah berjalan sejauh ini ke Wisma Asri, hanya untuk mendapatkan kenyataan pahit yang menyebalkan.

Tapi tak apa. Mumpung matahari masih tinggi dan weekend belum usai, saya pun mengajak Thina untuk nonton film layar lebar di Kota Cinema. Kebetulan posisinya pas karena searah dengan arah pulang ke Duren Jaya. Plus, harga tiketnya juga super duper murah. Bayangin aja, posisi weekend gini kok bisa-bisanya ya tiket film Box Office cuma 25 ribu per orang. Tentu saja orang yang price oriented (atau bisa dibilang medit bin mereki) macem ini saya jadi semangat untuk segera melipir.

 

Tumbang – Bangkit – Lalu Tumbang Lagi

Setibanya di area parkir Kota Cinema, kami mendapati sebuah pengumuman tertera di dekat mesin palang parkir. Pengumuman itu disusun dalam kertas laminating polos berukuran A4, dengan informasi yang singkat, jelas, dan cukup menyedihkan untuk dibaca.

“Superindo sudah tutup per tanggal 30 September 2021”

Kedua bola mata saya dan Thina pun segera bertemu, saling menatap dalam ekspresi penuh kebingungan. Asal kalian tahu saja ya, gedung properti ini pada awalnya adalah milik sang raksasa ritel Giant sepenuhnya. Pusat berbelanjaan ini sejatinya punya potensi, karena selalu ramai oleh pengunjung. Mungkin karena faktor lokasinya yang dekat dengan jembatan macet kali ya.

Namun seiring performa jeblok dari anggota Hero Group ini – plus ditambah badai pandemi juga – akhirnya komplek perbelanjaan ini pun tutup di sekitar tahun 2020. Tak lama berselang, tongkat estafet pun diambil oleh Superindo Group, yang segera menggunakan sebagian area gedung untuk dijadikan lokasi perbelanjaan. Sementara beberapa sisa area yang tersisa, dijadikan kios untuk tenant, wahana bermain serta bioskop Kota Cinema yang saya datangi ini.

Sayang sekali, kebangkitan yang diharapkan malah gagal terwujud karena Superindo pun memilih angkat kaki di akhir September kemarin. Kini, praktis hanya Kota Cinema dan beberapa tenant kecil saja yang tersisa di komplek gedung ini.

Baca Juga :  Akhirnya Ada Alasan Juga Buat Ke Playtopia

 

 

Tetap Sepi Meskipun Hari Minggu

Kemana ini petugasnya euy?
Mas nya cuma jaga sendirian.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di pintu masuk Kota Cinema, intuisi saya segera dapat menyimpulkan bahwa bioskop ini memang relatif sepi. Tak banyak ambience yang terdengar selain suara pengumuman perihal pintu teater. Kursi tunggu berbentuk melingkar di dekat pintu masuk pun hanya diisi oleh beberapa muda-mudi saja.

Bahkan tak cuma itu, pegawai bioskopnya pun ikut-ikutan sepi. Sejauh mata memandang, saya hanya melihat 2 karyawan yang berjaga disini. Satu untuk mengurusi pembelian tiket on-the-spot, dan satunya lagi untuk melayani pembelian soft drink serta popcorn. Tak ada satpam yang berjaga, jadi tak ada yang benar-benar memeriksa absensi kamu di aplikasi PeduliLindungi. Bahkan staff yang biasanya masuk dan menawarkan snack di ruang theater, sama sekali tak kelihatan batang hidungnya disini.

Wha, sesepi itu ternyata.

Meski begitu, untuk harga tiket hanya 25 ribu sebetulnya bioskop ini lumayan oke punya kok. Keseluruhan area-nya bersih terawat. Desain interiornya pun cukup estetik serta cukup fun untuk di-eksplorasi atau dijadikan objek foto di Instagram. Seperti beberapa foto yang saya ambil berikut ini :

 

Karena hanya ada sedikit film yang tayang tepat di pukul 4 sore, maka akhirnya kami pun sepakat untuk menonton sebuah film bertema aksi dan petualangan dengan judul Jungle Cruise. Film ini cukup membuat kami penasaran karena dibintangi oleh Dwayne Johnsohn yang suah banyak sukses di film ber-genre aksi, berduet dengan Emily Blunt yang terkenal karena perannya dua seri film A Quiet Place.

Apakah duet keduanya bisa memberikan hiburan dan jokes yang baru dan segar?

Entahlah, saya sih tidak berminat untuk ngasih spoiler seputar filmnya. Karena yang saat ini saya bahas adalah bioskopnya, so keep that line lah ya. Kalau penasaran, silahkan kalian tonton sendiri ya filmnya di Bioskop. Ingat, nonton yang legal. Jangan nonton bajakan ya!

Bioskop pun masih pakai protokol new normal

Selama menonton film berdurasi 2 jam 7 menit ini, saya merasakan limpahan aura cozy dan happy. Pertama, dari segi kursi duduknya yang nyaman, empuk dan ergonomis. Tidak ada sedikitpun aura-aura tiket murah disini, pokoknya duduk disini tuh rasanya mirip seperti duduk di bioskop dengan harga yang lebih mahal.

Kedua, dari segi screen dan audio pun saya merasa tidak ada kekurangan apapun. Layarnya tajam, cerah serta dapat jelas dipandang dari kursi paling belakang sekalipun. Sementara untuk audionya pun tidak terdengar sember ataupun pecah. Good value for the good price lah ini sih.

 

 

 

Pasar Malam yang Hening. Entah Menunggu Siapa

Melihat suasana bioskop yang sepi seperti ini saja sudah bisa bikin hati kami semua terenyuh. Namun ternyata, saat langkah kaki bergerak menuju parkiran, masih ada pemandangan yang tidak kalah menyedihkan. Penyebabnya karea wahana pasar malam yang berada di luar bioskop, ternyata masih beroperasi dan bukan pajangan semata.

Baca Juga :  Oase Kecil Untuk Pecinta Buku di Sudut Jakarta Kota

Ada empat wahana bermain klasik yang masih beroperasi di depan mata kami. Diantaranya adalah komidi putar, bianglala, kereta-keretaan dan ontang anting mini. Semuanya beroperasi, namun semuanya juga sepi. Sama sekali tidak ada pengunjung yang naik kesana. Padahal, kalau saya intip tarif yang dipatok sepertinya tidak terlalu mahal kok. Cuma 10.000 saja per orang.

Semangat nungguinnya ya bang

 

Mungkin karena efek Superindo tutup kali ya, jadinya semakin minim saja pengunjung ke area gedung ini. Kalau Superindo masih ada, mungkin ada kemungkinan bocah-bocah kecil yang datang untuk ikut orang tuanya berbelanja. Tapi sekarang, mengharapkan bocil datang karena bioskop pun rasanya mustahil. Lha wong anak 12 tahun kebawah belom boleh nonton.

Gara-gara wahana inilah, kami yang tadinya akan bergegas meninggalkan parkiran, akhirnya urung dan malah kembali berjalan mengamati sekeliling. “Kasihan yang, ini beneran ga ada yang naek banget lho”, ucap Thina.

“Ayo kita cobain naik yuk. Cuma 10 rebu ini kan.”

“Beneran? Yowis hayuk dah”, Thina sumringah mendengar respon saya.

Kami pun segera bergegas menghampiri wahana ontang-anting di salah satu sudut parkiran. Seorang mas-mas berumur sekitar 25-an menyambut kami, mengarahkan kami untuk duduk dan memberi sedikit instruksi. Mendadak sedih banget sih, soalnya gara-gara kami cuma naik berdua jadi duduknya pun mesti berseberangan biar seimbang. Gabisa samping-sampingan.

Ontang anting yang bikin pusing

Tapi yowis lah, wahana pun segera dinyalakan oleh mas-mas operator. Kami duduk di kursi masing-masing, tak bisa saling sapa karena terhalang tiang ontang-anting. Selama sekitar 10 menit, saya hanya duduk sambil melamun. Di sisi kanan saya ada jalan raya yang macet tak karuan, sementara di sisi kiri saya malah tersaji hal sebaliknya. Bioskop yang sepi, pasar malam yang tak punya pengunjung, serta supermarket yang sudah bangkrut.

Sambil duduk berputar, kepala saya berpikir banyak hal yang rumit dan menyedihkan. Seperti, berapa biaya listrik yang dikeluarkan untuk wahana ini? Berapa pengunjung yang datang, apa jangan-jangan cuma kami berdua? Apakah pendapatan hari ini akan cukup untuk si mas-mas nya? Apakah mereka bisa bertahan ke depannya?

Ah… entahlah. Lagi-lagi, sebagai manusia biasa saya hanya bisa memberi bantuan yang terdengar sangat klise, yaitu doa terbaik di dalam hati.

Tepat saat ontang anting ini berhenti berputar. Ketika motor kami meninggalkan parkiran dan masuk ke jalan raya. Kepala saya menoleh sejenak, dan hati saya kembali bergetar.

Gusti Allah, jika memang pandemi ini adalah ujian ketabahan bagi kami semua. Tolong berikan kekuatan berlipat bagi kami semua yang terdampak, untuk selalu bangkit dan lebih kuat lagi setiap harinya ya.

 

 


 

 

Terima kasih sudah membaca tulisan ini sampai ke paragraf terakhir ya. Kalau kamu merasa tersentuh dengan cerita yang saya tulis ini, jangan lupa klik tombol kuning dibawah buat beliin saya kopi biar kuat begadang ya.

Nih buat jajan

 

 

Bekasi, 18 Oktober 2021
Ditulis sambil menatap nyamuk malam yang jahil dan bikin gatal.

Fajarwalker

A Man with frugal style living. Sering dikira pelit, padahal cuma males keluar duit.

More Reading

Post navigation

2 Comments

  • Aku yg baca ikutan sedih mas :(. Ga tega kalo liat pedagang yg pemasukannya jadi sepi begini. Termasuk juga bioskop2 . Kemarin aku nonton di green Pramuka Square, tapi agak seneng Krn rame sih. Walopun jadi deg deg an karena aku masih parnoan di tempat rame. Tapi pokoknya happy Krn berarti bisnis mulai menggeliat. Semoga ya mas, ke depannya jadi semakin baik lagi. Akupun berharap bisa kembali traveling normal seperti dulu

    • Iya kak, akupun sedihnya bukan main. Banyak wahana banget disana tapi gada satupun pengunjung.
      Di sebrangnya persis padahal ada jalanan yang luar biasa ramai. Gimana ga terenyuh rasanya 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *