Melawan Akrofobia di Kereta Gantung TMII

Bangunan beratap kuning itu telihat mengkilap dari kejauhan. Hanya sekilas saja, sebelum mobil yang saya tumpangi bergerak menjauh, lalu melesat putar balik ke gerbang utama Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Gedung itu tak lain adalah Teater Keong Emas. Sebuah teater berbentuk unik karena bentuknya mirip keong sawah. Sebuah teater yang selalu saja memutarkan ulang film-film dokumenter tua nan membosankan. Sebuah teater dengan parkiran luas yang selalu digunakan untuk manasik haji.

Seiring mobil mulai melewati gerbang utama Taman Mini, aroma nostalgia itu semakin menguat. Membawa kembali memori-memori saya dahulu kala ketika masih berkantor di belakang Teater Keong Emas yang tadi saya ceritakan.

Sejatinya kedatangan saya kali ini bukanlah untuk mengorek kenangan masa lalu, melainkan untuk ber-euforia atas keberhasilan adik bungsu saya menyelesaikan pendidikan S1-nya. Kebetulan, kampus adik saya ini memang selalu langganan ngadain wisuda di Gedung Sasono Utomo. Dan yap, hal itu pulalah yang akhirnya membawa raga saya kembali ke tempat ini.

Sayangnya, tak begitu banyak hal yang berubah. Bahkan, setelah trilyunan uang digelontorkan serta waktu renovasi yang tak sedikit.

Gerbang utamanya kini memang terlihat lebih megah, namun bentuknya tetaplah serupa. Gedung Aula Sasono Utomo pun sekilas masih sama saja, tak tersentuh renovasi.

Dari beberapa perubahan yang ada di Taman Mini, hanya ada 2 hal saja yang bikin saya jadi ‘pangling’.

Pertama, kolam renang SnowBay yang dulu jadi wahana favorit saya, kini telah lenyap dan bertransformasi jadi gedung parkiran ekstra luas dengan 3 lantai.

Kedua, akses menuju ke anjungan serta berbagai rumah adat dibatasi, hanya untuk dengan kendaraan listrik atau armada bus yang telah disediakan. Jadi kalo bawa mobil, musti diparkir ke gedung di poin pertama tadi, lalu jalan kaki ke shelter terdekat.

Dan disinilah masalahnya. Jarak dari parkiran itu ke shelter, itu lumayan jauh. Manalah cuaca Jakarta kan lagi panas-panasnya ya, kita yang jalan kaki berasa macem lagi dipanggang. Pantesan banyak yang bilang kalo ‘wajah baru’ Taman Mini ini kurang friendly buat orang tua serta anak-anak kecil.

Menyadari keribetan yang harus kami hadapi, maka kami pun mencoba untuk bersikap realistis. Rencana awal untuk melipir ke berbagai rumah adat dan wahana wisata pun langsung kami revisi. Dipersempit jadi 2 destinasi aja, Kereta Gantung, dan Taman Burung.

Kereta gantung, kebetulan posisinya yang paling deket sama parkiran. Sementara Taman Burung, yang posisinya paling jauh. Ini ibarat traveling di Indonesia tapi maennya cuma ke Sabang sama ke Merauke-nya aja, hahahaha

Kereta Gantung yang Tak Banyak Berubah

Udah pernah 2 tahun kerja, plus udah ga keitung juga udah pernah berapa kali bolak-balik kesini, Kereta Gantung tetep belum pernah saya coba. So, ini bakal jadi pengalaman pertama saya ke salah satu wahana tertua di Taman Mini ini.

Baca Juga :  Mencari yang Hijau-Hijau di Taman Mangrove PIK, Jakarta

Emangnya kenapa, kok ga mau sih?

Soalnya saya tuh punya Akrofobia, alias takut sama ketinggian. Jangankan naik kereta gantung, naik ke eskalator lantai 5 Mall aja kadang kaki saya udah kerasa dingin, hahaha.

Tapi untungnya kali ini saya ditemenin oleh Thina dan Putri. Jadi ada temen buat sama-sama takutnya, hahaha. Kan kalo kata pepatah, 2 orang penakut kalo ketemu, bakal jadi 2 orang pemberani. Betul tidak?

Sayangnya begitu langkah kaki kami semakin mendekat ke stasiun kereta gantung terdekat, keraguan kami justru semakin meninggi. Stasiun berbentuk gedung tinggi itu nampak tua, tanpa banyak pembaharuan. Hanya cat silver saja yang nampak sedikit berkilau, sementara besi-besi yang ada di beberapa sudut sudah terlihat kusam dan berkarat.

Setelah melewati sebuah stan cenderamata yang berukuran cukup luas, kami disambut oleh loket pembelian dengan antrian yang cukup panjang. Loket itu dicat berwarna abu juga, namun dengan bentuk dan ornamen yang terlihat sedikit ketinggalan zaman. Meski begitu, saya bersyukur karena disini sudah menerima berbagai pembayaran non-tunai, termasuk QRIS.

Harga tiket untuk menaiki wahana ini adalah Rp. 50.000,- saat hari kerja, serta Rp. 60.000,- saat akhir pekan. Karena kami datang di hari Selasa, total yang kami bayarkan hanya Rp. 100.000,- saja untuk naik berdua.

Take Off yang Bikin Dag-Dig-Dug

Setelah tiket ada di tangan, kami langsung bergegas menaiki anak tangga. Segera setelahnya, kami disambut oleh deretan kereta gantung berwarna warni yang sedang ‘diparkir’. Sepertinya sedang diistirahatkan atau rotasi dulu untuk sementara waktu.

Seluruh proses untuk naik ke dalam kereta akan dibantu oleh seorang petugas yang berjaga. Ia akan memeriksa tiket, menahan kereta serta mendorong kereta jika kita semua sudah siap. Agak unik juga ya sistemnya, rada manual gitu.

Sebenarnya tiap kereta tuh muat sampe 4 orang, tapi jujur saya ga rekomen. Soalnya ini tuh keliatan banget yang barunya cuma cat-nya aja. Keretanya mah tetep kereta lama, belum ada pembaruan sama sekali. Jadi demi kemaslahatan bersama, saya sarankan kalian naik cukup berdua saja, gausah rame-ramean.

Lagipula, petugasnya juga mempersilahkan kok. Mau naik berempat maupun berdua, silahkan saja..

Yang ga boleh itu kalo kita ngajak satu rombongan RW! ga muat soalnya. ehehehe.

Pintu segera ditutup, kereta pun didorong.. Kami segera berkomat-kamit dalam hati untuk meminta keselamatan kepada Gusti Allah.

Eh, belom kelar ngedoa, tiba-tiba terdengar suara…

Gedebuk.. Gedebuk.. Gedebuk…

“Ebuset dah apaan itu?”, saya mulai panik.

Semakin kencang kami berkomat-kamit, semakin kencang pula guncangan dan suara gedebuk itu terdengar. Rupanya, memang beginilah kondisi take off kalau naik kereta gantung. Karena agak ‘nanjak’ di awal, membuat guncangan dan suara gedebuk jadi tak terelakkan. Setelahnya, meski kereta mulai stabil, suara gedebuk serta guncangan itu pun terus kami hadapi. Khususnya tiap ketemu sama tiang penyangga.

Baca Juga :  Tips Membuat Itinerarity Perjalanan Ala Fajarwalker

Kaki saya mulai terasa dingin. Sepertinya aliran darah mulai terhambat karena jantung saya berdetak tak karuan. Saya mencoba melihat ke sekeliling untuk menenangkan diri… tapi gagal total. Malah makin panik, hahaha

Yha gimana gak panik, liat dalem kereta ini emang berasa tuaa banget. Kacanya udah retak di beberapa sudut. Cat-cat di bagian dalam terasa kusam. Tapi yang paling serem, bagian bawah untuk alas kaki kerasa tipis banger bahan fibernya.

Mendadak saya langsung hafal surat Al-Baqarah…

Pemandangan Istimewa Memanjakan Mata

Seiring kereta semakin bergerak menjauh, saya pun mencoba untuk berdamai dengan keadaan. Apalagi, view yang ditawarkan memang luar biasa indah. Dari ketinggian ini, kita bisa melihat berbagai anjungan serta wahana terbaik yang ada di Taman Mini.

Tapi yang paling indah, itu pas ngelewatin Archipelago Indonesianya sih. Buat yang belum tau, di Taman Mini tuh ada pulau buatan berbentuk miniatur Indonesia. Miniatur ini tuh bagus banget, dan bisa diliat juga di dalem peta daring macem Google Maps sekalipun.

Nah, kalo selama ini saya cuma liat dari sudut mobil atau sepeda motor, ternyata kalau liatnya di kereta gantung… itu beda banget ya. Semacem jadi dua kali lebih indah dipandang mata. Uhuyy…

Nanti ketika kereta sudah tiba di stasiun tujuan, ga perlu panik ya. Kita ga akan disuruh turun, melainkan lanjut memutar kembali ke arah stasiun awal kita berangkat. Jadi ini bukan perjalanan satu arah, melainkan pulang pergi ke titik awal pemberangkatan.

Perjalanan yang menegangkan ini menghabiskan waktu 20 menit saja. Setelah kereta bergerak mendekat ke stasiun awal, kita akan dibantu kembali oleh petugas untuk membuka pintu dan turun dari kereta.

Uhuy, akhirnya berhasil juga nyobain kereta gantung. hahaha

Beberapa Fakta Tentang Kereta Gantung TMII

  • Diresmikan pada tahun 1973, bersamaan dengan diresmikannya TMII
  • Ada 3 stasiun, yakni Stasiun A, B dan C. Stasiun B cuma untuk putar balik, jadi rutenya akan membentuk huruf V.
  • Beroperasi mulai pukul 9.30 sampai 16.00 WIB
  • Ketinggian kereta di gantung TMII sekitar 20M dari permukaan tanah.

Yuk, siapa lagi yang belom pernah coba kereta gantung di Taman Mini?.

Bekasi, 18 Desember 2023
Ditulis sambil minum menahan rasa pusing yang mendadak menyerang kepala.


Semangat penulis kadang naik turun, jadi boleh lah support biar update terus.

Silahkan klik link dibawah
Atau bisa juga dengan cara transfer ke :

BCA : 6871338300 | DANA : 081311510225 | ShopeePay : 082110325124

Fajarwalker

A Man with frugal style living. Sering dikira pelit, padahal cuma males keluar duit.

More Reading

Post navigation

25 Comments

  • Jadi inget aku pernah e TMII bbrp puluh tahun yang lalu jaman masih lucu2nya aku hahahah,,,seindah itu TMII kala itu:)
    Tapi miris juga setelag baca tulisan mas fajar kalao ternyata sampai sekarang belum ada perubahan yang berarti..kereta gantungnya aja kayak gitu entah kalo aku berani naik apa gak ya krn kondisinya yg sdh tua dan keliatannya tdk ada pembaharuan…kesimpulannya kemana dana2 yang selama ini digelontorkan upssss

  • Ketakutan itu emang kudu dilawan ya, Mas? BTW aku penasaran ama gedung keongnya ituu. Ternyata filmnya ya begitulah.
    Kalo ga salah kereta gantung ini namanya ‘titihan samirono’ minta koreksi ya kalau salah.

  • Paling tidak sekarang Taman mini sudah melakukan improvment lah ya, Tampilannya sudah bikin pangling dan yang aling penting wahananya bisa terawat dengan baik.
    Seru juga untuk mengajak keluarga refreshing kesini, BTW salut lah saya, mampu mengalahkan ketakutan yang terkadang sangat berat untuk ditaklukkan. sebuah pencapaian 2023

  • Duh duh benar banget, TMII baru ini malah menyusahkan karena kendaraan ngga bisa masuk, naik bus gratisnya nunggu lama dan haltenya jauh huhu.. tadinya mau memberanikan diri naik kereta gantung habis baca ini mundur dehhh keretanya tuwir yaa huhu

  • Duh duh benar banget, TMII baru ini malah menyusahkan karena kendaraan ngga bisa masuk, naik bus gratisnya nunggu lama dan haltenya jauh huhu.. tadinya mau memberanikan diri naik kereta gantung habis baca ini mundur dehhh keretanya tuwir yaa huhu..

  • sampe sekarang aku masih inget momen waktu SD naik kereta gantung di TMII, asli seneng banget waktu itu. Ngeliat bentuk rumah adat meskipun replikanya aja udah seneng
    terus pas kuliah sempet main ke TMII lagi tak ga sempet explore sampe ke dalam area keong mas dan kereta gantung
    Kayaknya waktu kecil dulu, aku ga merasa ada takut-takutnya, malah hepi, padahal biasanya anak-anak kan ada yang takut atau gimana gitu ya, tapi seingetku nih aku malah senyum senyum kegirangan

    • Iya dulu aku juga seneng banget mbak kalo ke TMII, sebenarnya banyak banget yg bisa dieksplor. CUma manajemennya emang agak absurd sih. Tiap wahana, manajemennya beda-beda, bukan satu kesatuan.

  • Hahahahaha pas yg gedebuk2 aku auto ngakak sih bayangin kalian panik . Maaapkeuuun…

    Soalnya sebagai pecinta ketinggian, aku malah berharap ada kereta gantung yang terbuka, semuanya, jadi pandangan mata lebih bebas mas . Makin tinggi, makin seru pastinya hahahahah. Maklumin aja, aku cinta mati ama ketinggian, kayaknya dulu kepengen jadi burung sih .

    Tapi aku blm pernah ke TMII, JD blm pernah naik ini juga . Ntr deh kawan2 ajakin anak. Sbnrnya LBH pengen liat rumah2 adat di sana..kalo kereta gantungnya krn tidak terlalu menantang, jadi memang ga kepikiran naik . Aku penasaran kalo kalian naik kereta gantung kristal di genting atau Hong Kong yg bawahnya transparant

    • Wkwkwk meni tegaaa.. Aku mah ga kebayang mbak, kalo kereta gantung kayak yg di luar negeri gitu gimana feelingnya yak. kok bisa bentukannya cuma bangku doang sama pembatas. Itu kalo ngglosor gimanaaa, syereeem.
      Jadi kebayang film Frozen, bukan yang Elsa, tapi yang tahun 2010.

  • Nah, pas bulan Oktober lalu aku pun sengaja ke TMII buat naik kereta gantung nya, dan belain cuti di hari biasa supaya lebih murce hehhehe tetep yaa perhitungan banget. Kereta gantungnya rada ngagetin di beberapa titik sih kaya suara dudugdugdug sambil kaya agak terhentak wkwkwk sensasi nya emang lumayan buat yang takut ketinggian, but safety dan aman ya. Bisa lihat view indah dari atas, rumah-rumah adat serasa sebuh perkampungan dari atas, danau nya juga jadi nampak kaya peta.
    Seru sih TMII buat di explore asal ga panas aja cuaca nya

    • Iyaaa, dibilang nysel2 amat sih nggak. Cuma emang agak deg-degan aja mbak. Baru tau kalo kereta gantung tuh ada bunyi dug-dug-dug gitu

  • Lhaa..iyaya, cable car-nya usianya lebi tuwir dari aku.
    ((berasa muda, wkwkkw))

    Tapi beneran cat-nya cantik loh.. jadi aku pikir maintenance-nya uda oke siih..
    Kalo gak butuh mesin yang lebih baru, gapapa, semuanya bisa beroperasi dengan aman.

    Mayan ngintinpin wahana di TMII dari langit. Berasa keliling INdonesia dalam hitungan menit.
    Tapi sebenernya di TMII tuh boleh berkeliling menggunakan kendaraan pribadi gasii?
    Engga kali yaa..??

    Soalnya.. terakhir aku kesana tuh rame banget.
    Trus jalannya jauuh.. huhuhu, mo putus asa karena panas banget.
    Cuma kan kudu bertahan sampe ketemu hal-hal unik yang bisa dijadiin bahan edukasi untuk anak-anak.

    Seru siih.. ke TMII.
    Bangga banget kalo abis dari Istana Anak-anak Indonesia yang mirip castle di negeri dongeng ituu..

    • Nah, itu diaa. Sebenarnya sih kalo dari sisi maintenancenya lumayan yaa. Tapi fakta kalo ini kereta gantungnya setuwir itu, ya kita juga jadi kepikiran yhaa.

      Sekarang mah udah gaboleh keliling TMII, kecuali bawa kendaraan listrik. Enak banget dah yang punya mobil listrik mah

  • saya terakhir naik kereta gantung di TMII ini tahun 2015an kayaknya kalau ga salah, sudah lama ga pernah naik lagi dan tahun lalu rayain tahun baru di sana sayangnya ga sambil nyobain wahana-wahananya. Saya pun untuk beberapa kondisi takut ketinggian tapi kalau menggunakan alat seperti kereta gantung seperti ini sih ga, tapi kalau ga pakai alat apa-apa baru saya ngeri Mas, palingan worry sama alatnya aja apakah masih layak pakai atau tidak

    • Asalkan masih tertutup rapat mah, aku berani juga mba. Tapi kalo terbuka macem di luar negeri, aduh nyerah deh ga kuat hahaha

  • Wah ternyata bener ya info yang aku denger kalo agak ribet bawa anak kecil ke sini…
    Sayang banget ya, padahal TMII itu tempat bagus untuk memperkenalkan tentang Indonesia kepada anak-anak…
    Musti nunggu ponakan rada gedean sepertinya… hahaha…
    Thank you infonya kaaak…

    • Bener bangeeet. Apalagi kalo bawak-bawak stroller, haduh.. capek bangeeet.
      Semoga aja makin banyak unit shuttle baru sih, biar antrinya ga kelamaan.

  • Baru tahu di TMII ada kereta gantung, hehe *yaiyalah kan emang belum pernah ke sana. Lihat dari sudut kendaraan aja udah indah banger ya, apalagi dari atas, gak kebayang indahnya jadi pengen coba juga tapi sama nih aku juga takut ketinggian cuma bolehlah dipaksa berani asal naiknya nggak sendirian,.

    • Berdua aja kak, udah paling amaan. Sebenarnya masih aman banget sih, soalnya ini kereta gantungnya full ketutup, ga ada area yg terbuka sama sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *