Nostalgia Sejenak ke Taman Reptil TMII, Recommended ga ya?

Sebenarnya ini adalah cerita dan foto-foto lama di bulan desember tahun kemarin. Entah kenapa mood menulis saya tidak kunjung-kunjung datang, sampai-sampai baru sempat menulis di bulan maret tahun ini *hiks. Jadi, dalam kesempatan kali ini kami berdua pergi ke Taman Mini dalam rangka merayakan anniversary 1 tahun hubungan kita (duilee…).

Sebelumnya Saya dan Thina sempat galau, bingung kali ini mau jalan-jalan kemana. Yang saya ingat, waktu itu kami sedang ingin sekali menikmati suasana alam nan hijau, tapi malas kalau harus berjalan jauh keluar dari daerah Jakarta. Setelah sejumlah diskusi ringan, akhirnya tercetuslah ide untuk mampir ke Taman Mini aja yang tidak begitu jauh.

Nah, berhubung sebelumnya saya sudah mengajak Thina ke hampir semua wahana di Taman Mini ini, mulai dari Aquarium Air Tawar, PP-IPTEK, hingga Taman Burung. Tinggal satu aja nih wahana ‘hijau’ yang belum kesampean, yakni Museum Komodo dan Taman Reptil. Dan yes, inilah yang menjadi destinasi wisata kami berdua kali ini.

Langsung berangkat ahNgeeeeng…

 

Tiketnya mayan juga.

 

Taman Mini Indonesia Indah bukanlah tempat yang asing lagi bagi saya, karena sebelumnya saya pernah bekerja di salah satu wahana disini yakni Keong Emas. Sebagai karyawan, tentunya saya memiliki keleluasaan untuk mengunjungi hampir seluruh wahana wisata, museum dan anjungan disini satu per satu. Termasuk juga dengan Museum Komodo & Taman Reptil ini.

Kunjungan kali ini, selain dalam rangka anniversary, juga menjadi momen nostalgia saya dengan Taman Reptil setelah hampir 2 tahun lebih saya belum pernah berkunjung lagi kesana. Seperti apakah bentuknya? Apakah lebih baik atau lebih buruk?

Well.. Let’s see it through.

 

—-

 

Pertama-tama, saya agak sedikit terkejut karena tiket masuk kesini ternyata cukup menguras kantong. Untuk tiket masuk ke Taman Reptil nya sih wajar ya, cuma 25 ribu per orang. Tapi tiket masuk TMII-nya itu lho, sama petugasnya saya disuruh bayar 50 ribu. Ebujubuneng, perasaan tahun kemaren bawa motor boncengan berdua cuma kena 16 ribu deh, kenapa naiknya parah bener ya? Apa karena lagi tanggal merah? Hmm.. 🙁

Tapi ahh ya sudahlah, sudah terlanjur sampai di depan gerbang, masa iya sih mau batal dan balik lagi. Jadi saya putuskan untuk langsung saja tarik gas motor dan parkir persis di depan Taman Reptil. Kondisi parkiran saat itu cukup padat, antrian masuk kendaraan roda dua nampak sudah mulai nampak menjalar. Sayup-sayup mata saya memandang ke arah gedung, nampak sebuah bangunan unik berbentuk kepala komodo.

Ya, sesuai dengan namanya ‘Museum Komodo & Taman Reptil‘, maka desain bangunannya pun dibuat menyerupai reptil purba khas Indonesia ini. Bahkan bukan cuma berbentuk kepalanya saja, tapi juga lengkap dengan kaki serta ekor komodo-nya. Membuat gedung ini nampak seperti seekor komodo raksasa.

 

Desain ala Komodo

 

Baca Juga :  Mengakak Bersama di Jalan Braga

Sekilas memang ada sejumlah perbaikan dari segi dekorasi museum ini, meskipun tidak begitu banyak. Salah satunya adalah patung baru di area depan, menampakkan 2 ekor komodo yang sedang berkelahi. Itu saja. Selebihnya sih hampir tidak ada perubahan sama sekali. Loket masuk pun masih memberikan kami tiket sobek, alih-alih menggunakan tiket print thermal yang lazim digunakan di era digital masa kini.

Beberapa langkah dari pintu masuk, kita akan langsung disambut oleh gerombolan kura-kura yang sedang berjemur di tepi kolam. Ukurannya tidak terlalu besar, dan sebagian diantaranya sepertinya masih berumur muda. Kalau kita penasaran ingin memberinya makan, kita bisa membeli pakannya yang sudah tersedia di sisi kolam. Murah kok, cuma 2 ribu rupiah saja.

Tak jauh dari kolam itu, ada satu kolam lain yang dilindungi oleh lapisan kaca yang cukup tebal. Wajar saja kalau dilindungi seperti itu, karena sang penghuni dari kolam tersebut bukanlah reptil sembarangan. Melainkan seekor Buaya Irian berukuran sedang yang terlihat menyeramkan dan menyeringai kepada para pengunjung.

 

Meskipun kolam buaya ini dilindungi oleh lapisan kaca yang cukup tebal, akan tetapi menurut saya ketinggian kacanya terasa kurang maksimal. Sehingga ibu-ibu yang membawa anak kecil sepertinya harus ekstra hati-hati, karena bisa saja anak yang penasaran akan memanjat kaca dan masuk ke dalam kolam. Hiiii….

Di sepanjang area luar gedung Museum, ada cukup banyak koleksi reptil asal indonesia dan luar negeri. Masing-masing sudah dikelompokkan berdasarkan jenis dan ukurannya. Kita bisa menemukan berbagai koleksi reptil langka disini, seperti Biawak, Kadal, katak, hingga ular-ular beracun. Sayangnya, sebagian reptil ini agak sulit untuk ditemukan karena biasanya mereka beristirahat dan bersembunyi ketika siang hari. Sejumlah kandang malah nampak kosong, dengan kondisi yang sangat berdebu dan dipenuhi sarang laba-laba di sisi-sisinya. ( Hiks, ini dibersihin ga sih 🙁 )

Oya, khusus untuk ular beracun, posisinya tidak berada di luar seperti reptil-reptil lainnya. Melainkan ditempatkan di sebuah ruangan khusus sebelah pojok belakang gedung. Ruangan tersebut sangat gelap dan sangat hening. Thina sampai-sampai merinding ketika tangan saya menuntunnya untuk masuk ke dalam. Ada cukup banyak koleksi, seperti Ular Kobra, Ular Hijau dan lainnya. Sayangnya karena terlalu menyeramkan, kami berdua pun akhirnya lari berhamburan keluar ruangan.

 

 

Sejujurnya saya sempat terheran-heran, karena Komodo berukuran raksasa yang menjadi ‘hewan ikonik’ museum ini nampak tidak ada di posisi seharusnya. Padahal, poster komodo baru saja saya lihat beberapa detik yang lalu. Namun yang ada di hadapan ini justru sejumlah kawanan Buaya yang tak kalah raksasanya.

Usut punya usut, ternyata kandang komodo kini telah ‘digeser’ posisinya di samping ruangan ular berbisa. Komodo yang ada di kandang pun sepertinya koleksi baru, karena ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan yang saya lihat 2 tahun yang lalu. Apa jangan-jangan komodo yang dulunya mati ya? Ah.. entahlah.

Baca Juga :  Naik Delman Malam-Malam di Taman Kota Kuningan

Saking malesnya, saya sampai lupa untuk mengambil foto komodo tersebut. Hanya posternya yang saya abadikan dengan kamera. Itupun karena translate bahasa inggrisnya mengundang gelak tawa saya dan Thina. *Duh ini translatornya siapa sih…

 

Tapi tak butuh waktu lama bagi saya untuk melupakan rasa kecewa tersebut. Karena tak jauh dari kandang komodo tersebut, ternyata ada satu hal yang lebih menarik. Yap, seperti yang saya jelaskan sebelumnya, kandang yang digunakan komodo raksasa sebelumnya kini diisi oleh buaya-buaya raksasa. Ukurannya bahkan hampir 2 kali lipat buaya irian yang ada di depan tadi.

Nah, dari pihak museum ternyata menyediakan fasilitas berupa makanan dan ‘alat pancingan’ apabila kita ingin mencoba memberi makan buaya tersebut. Tentu saja saya dan Thina langsung antusias, ingin mencoba ‘memancing’ buaya, hehehehe. Uang sepuluh ribu rupiah pun segera saya serahkan kepada petugas yang sedang berjaga.

Adalah kepala ayam, makanan yang kita berikan kepada sang buaya yang lapar ini. Petugas pun dengan cekatan membuat simpul tali di ujung alat pancing tersebut. Segera setelah semuanya siap, saya pun mengambil pancingan tersebut dan mengarahkannya perlahan ke mulut buaya.

 

 

Dasar ga mau rugi, saya pun tidak mau secara langsung memberikan makanan tersebut ke mulut buaya. Dengan sedikit ayunan, makanan tersebut saya dekatkan dan saya tarik mendadak ketika buaya tersebut ingin mencaplok makanan tersebut. “Eaaaa.. Eaaaa…” saya becanda dan ketawa sendiri. Thina cuma geleng-geleng liat kelakuan saya.

Tapi ternyata buaya tersebut terlalu responsif untuk bisa saya taklukkan. Tak butuh waktu lama bagi sang buaya untuk menyergap umpan tersebut dengan terkamannya yang secepat kilat. Suara mulut buaya yang sedang mencaplok makanan tersebut pun terdengar sangat nyaring, sampai membuat saya merinding.

Kebayang ya kalo saya nyungsep kesitu.  Udah auto-game over, hehehe

 

Oya, ini sedikit video keseruan saya waktu ngasih makan buaya ya :

 

Selain kandang buaya raksasa di area luar ini, jangan lupa kunjungi juga area dalam museum yaa. Di area dalam, kita bisa menemukan sejumlah koleksi rangka, spesimen dan ilustrasi dari reptil-reptil di seluruh dunia. Area dalam juga cukup nyaman karena Full AC. Jadilah saya dan Thina bisa beristirahat sejenak dari terik siang matahari yang membakar kulit.

 

Gimana pendapat kami mengenai Museum Reptil & Komodo Ini?
Overall sih, museum ini masih layak untuk dijadikan destinasi wisata keluarga. Namun sayangnya perawatan dan maintenance-nya kurang maksimal, sehinggal bisa kita temukan sejumlah kandang kosong, atau bahkan berdebu. Harga yang lebih mahal dibandingkan Ragunan pun akhirnya jadi pertanyaan.

Tapi yaaah.. sudahlah. It is still okay for me.

 

Museum Komodo dan Taman Reptil
Alamat: Jl. Taman Mini Indonesia Indah, RW.2,
Ceger, Cipayung, Kota Jakarta Timur,
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13820

Fajarwalker

A Man with frugal style living. Sering dikira pelit, padahal cuma males keluar duit.

More Reading

Post navigation

19 Comments

  • Ini museum bagus untuk edukasi anak-anak ya, Fajar. Tapi ternyata komodo besarnya tidak ada di situ … ya mungkin sudah mati, atau ini pertanda dirimu harus datang ke sini untuk melihat sendiri di Pulau Rinca atau di Pulau Komodo wkkwkwkkw 😀

    • Benar kakm sudah lama sekali aku bercita-cita, di sisa hidupku ini minimal bisa ngunjungin wisata sepopuler itu.
      Doakan saja yha 😀

  • ngakak dah itu translatenya,, rasa2nya google translate masih lebih oke haha..

    wah sayang banget malah hewan ikoniknya nggak sempat difoto ya… eh next time kalau mau nyari yg ijo2 di jakarta, coba ke hutan mangrove PIK.. mayan seger hehe..

    -Traveler Paruh Waktu

    • Iya, aku heran kenapa begitu ngasal ya untuk perihal translate yang vital begitu. Malu-maluin kan ya kalo sampe diliat turis asing 🙁

      PIK udah pernah gan, hehehe. Lumayan melelahkan perjalanan kesana 😀

  • Wah, museum komodo, tapi yang ditampilkan buaya ya, mungkin datangkan komodo ukuran sebesar buaya sangat sulit kali, dan komodo gampang stres kali kalau dibawa ke ibukota, berbeda dengan buaya yang dimana-mana ada, apalagi buaya darat hahahaha

    Btw, kalau sampe kepleset jatuh ke bawah, bisa langsung End Game ckckckck

    • Iya, dulunya disini ada komodo ukuran besar, tapi entah kenapa sekarang menghilang. Mungkin beliau sudah wafat.

      Bukan End Game lagi, Pasrah sudah lah itu petugasnya 🙁

    • Benar sekali mas Vicky, agak menyeramkan kalau sampai ada bocah yang ‘nyemplung’ kesitu 🙁

    • Kayaknya sih lumayan stress kak. Orang tiap aku kesana dia cuma diem aja ga ada aktivitas apa-apa, hiks

      Memang ada baiknya hewan langka itu dilepas liarkan saja ya di habitatnya 🙁

  • Laah …, kok … hewannya disana bukan kayak ikoniknya tapi berganti buaya, yaach ..

    Jangan-jangan buaya berukuran raksasa itu buaya pindahan dari bonbin Ragunan yang pernah kulihat di kandamg di aliran sungai kecil …, ukuran besarnya bikin begidik !

    • Kalau buaya itu sepertinya sumbangan dari warga sekitar mas, aku dapat info dari petugas yang bertugas disana. Tapi heran juga ya, kok bisa sampai ada warga yang bisa memelihara buaya sebesar itu 😀

    • Beneeer, keren banget desainnya. Walaupun sebal juga karena yang keren cuma patung depannya saja, di dalamnya, tidak sama sekali 🙁

  • Aku pun mungkin ga berani ke bagian yg ular2 mas, apalagi kalo gelap. Merinding langsung. Mana berbisa kan.. jangan sampe deh itu ada yg lepas ..

    Seumur2 yaaa sampe skr blm pernah ke TMII .. pdhl dibilang jauh banget ya ga juga. Tapi katanya TMII udh di renov habis juga kan. JD banyak perubahan yg bagus. Semoga aja museum reptilnya juga masih ada yaaa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *