Traveling Sekeluarga ke Geopark Ciletuh

Setelah sekian minggu frase “Ciletuh” terlontar berulang-ulang di obrolan keluarga, akhirnya Sabtu, 7 Oktober kemarin kami berangkat juga nih. Padahal tadinya udah sempet mau di-reschedule, perkara Nek (Nenek) mendadak harus masuk ke rumah sakit.

Tapi dasar udah ngebet banget pengen liburan ya, even di rumah sakit sekalipun ngomonginnya Geopark Ciletuh mulu. Untungnya keluar rumah sakitnya tuh pas hari Kamis, jadi masih ada jeda sehari buat istirahat dulu di rumah. Kebayang ya, baru aja masuk IGD eh 2 hari kemudian udah siap traveling lagi. Jiwa-jiwa butuh liburan mah begitu.

Oya, mulai hari ini konten Fajarwalker sudah hadir dalam bentu audiovisual ya, termasuk cerita yang satu ini. Silahkan dibaca dan di-subscribe biar saya makin semangat ngonten.


Perjalanan Super Ekstrim

Dari sekian banyak perjalanan traveling, bisa jadi ini salah satu yang paling ekstrim sih ya. Dari pas keluar tol jagorawi dan masuk ke desa cikidang, jalanannya udah modelan huruf S yang disambung-sambung meliuk-liuk euy.

Dari Desa Cikidang, kami melewati beberapa area perkebunan sawit yang alamaaak, jalanannya lumayan ancur euy. Silahkan bayangkan ya, udah mah jalanan berkelok, berlubang pulak. Perut bener-bener berasa dikocok-kocok.

Kalo kata Asep (yang didapuk jadi kang sopir kali ini), sebenarnya ada jalur alternatif lain, cuma itu tuh lebih jauh dan bikin perjalanan jadi lebih lama. Yaudahlah kita mah ngikutin apa kata pak sopir wae.

Setelah 2 jam perjalanan menyusuri hutan dan pedesaan, saya sempat bersorak ketika melihat plang “Pelabuhan Ratu” terlihat di sisi jalan. Tapi euforia itu ternyata masih terlalu dini, karena setelah dari pelabuhan ratu, jalanannya jauh lebih ekstrim dan lebih berkelok. Manalah pinggirannya juga jurang pulak. Hiiii, serem.

Mobil Mitsubishi Kuda Diesel yang kami tumpangi terus bergerak membelah jalanan. Sementara kedua bola mata saya hanya mau fokus menatap ke depan saja, gamau lirik kanan kiri karena khawatir bisa mendadak pusing dan mabuk. Padahal, pemandangan di kanan kiri itu lagi bagus-bagusnya lho.

Yap, setelah melewati Pantai Loji (yang kemaren abis rame-rame pandawara itu), perjalanan membelah bukit ini menyajikan pemandangan yang luar biasa indah dan menyegarkan mata. Kami berhenti di salah satu warung untuk istirahat sejenak, berfoto dan juga nyuapin si Mput.

Kami berpapasan dengan beberapa pengendara motor yang berlalu-lalang. Semuanya nampak bersusah payah, karena tepat setelah tikungan ini langsung disambut oleh tanjakan yang menjulang ke langit. Seorang pengendara Honda PCX mencoba mengakalinya dengan berjalan zig-zag ke kanan kiri. Saya baru tau ada metode nanjak yang seperti itu.


Tiba di Pantai Ciletuh. Waktunya Ngegelar Tiker!

Ketika arloji menunjukkan pukul sembilan pagi, mobil yang kami tumpangi akhirnya tiba juga di Pantai Ciletuh. Angin pantai yang kencang segera menyambut kami, senada dengan suara deburan ombak yang bisa terdengar dari jauh. Kami menggelar tikar tak jauh dari posisi parkir mobil. Asep dan Wawa langsung ‘menculik’ mput ke pinggir pantai.

Karena check in ke penginapan baru bisa sekitar jam 12 nanti, otomatis selama 3 jam kedepan yang bisa kita lakukan adalah bersantai dan menikmati suasana di pinggir pantai saja. Di sekitar pantai ini ada banyak warung yang berderet, dan semuanya tidak menerapkan biaya sewa. Yah, asalkan tau diri ajalah ya, minimal belanja apaan kek disitu.

Baca Juga :  Pengalaman Pertama Pulang Kampung via Bus Primajasa Bekasi - Kuningan

Saya berjalan mendekat ke arah Asep yang sedang menggendong Mput di bibir pantai. Bukannya ketakutan, si Mput malah nyosor-nyosor ke bawah, minta diturunin biar bisa ngerasain deburan ombak. Emang ya, ni bocah satu ga ada takut-takutnya.

Sementara itu, Nek dan Abahnya lagi gelar lapak di bawah pohon. Semua perbekalan dibongkar, biar bisa dimakan bareng-bareng. Ada sayur asin, ikan teri, sama daging semur juga. Ini beneran lho nek masaknya H+1 dari rumah sakit. Sesemangat itu, hahaha

Semakin siang, suasana rasanya makin ga karuan. Anginnya kenceng, tapi mataharinya berasa keroyokan. Panas banget! Saya pun menyeret Thina dan Mput ke warung, biar bisa sedikit bersembunyi dari panas sinar matahari. Kami memesan sebuah kelapa muda utuh plus es batu. Dan pas bayar, kita langsung saling berpandangan mata.

Cuma Rp. 10.000,- masa, wagelasih murah banget lhooo…



Penginapan Al-Falah yang Murah Meriah

Terik sinar matahari yang makin tidak berbelas kasih membuat kami semua memutuskan untuk jalan langsung ke penginapan aja, meskipun sebenarnya waktu belum mendekat ke pukul 12 sama sekali. Untungnya, kami diperkenankan masuk.

Penginapan yang kami sewa ini standar-standar saja, dengan fasilitas berupa twin bed, AC, toilet dan juga televisi. Harganya juga murah kok, cuma 350.000 aja semalam. Cukuplah untuk jadi persinggahan kami yang berjumlah 6 orang dewasa dan 1 bayi.

Cuma yaaa, karena ini gedungnya didominasi oleh hampi 90% kayu, suhu di dalam pas lagi siang bolong tuh puaaanaasss banget. Apalah itu Air Conditioner, ga ada pengaruhnya, babak belur dia. Kalo ga dibantu sama kipas portabel yang kami bawa, siang menujur sore rasanya bakal luar biasa menguras cairan tubuh.

Udah gitu TV nya juga lucu ya. Dari abis dinyalain, channelnya ga bisa diganti sama sekali, macem error gitu remote-nya. Jadilah cuma bisa stay di 1 channel, dan itu channel isinya cuma iklan-iklan dari K-Vision. Laaah, masa kita ,mau nontonin iklan hahaha



Puncak Darma yang Pemandangannya Luar Biasa

Sore hari sebelum matahari tenggelam, kami naik mobil lagi ke salah satu view terbaik yang ada di Ciletuh. Namanya adalah Puncak Darma. Ini tuh semacem area perbukitan gitu yang sebenarnya sih ga tinggi-tinggi amat ya, cuma 230 meter aja dari permukaan laut.

Meski begitu, dari Puncak Darma ini kita bisa melihat berbagai pemandangan indah seperti Teluk Ciletuh yang berbentuk tapal kuda, tebing-tebing, pesawahan, serta pantai yang ada di kawasan Geopark Ciletuh.

Tiket masuknya juga ga mahal kok, cuma Rp. 3.000,- aja per-orang. Udah dapet free wifi pulak di dalemnya. Ini saya ga nyobain sih, soalnya udah ada sinyal telkomsel jadi yaudah males aja konek-konekin lagi ke public wifi.

Pemandangan sunset disini emang ga ada duanya. Selagi masih sempat, segeralah ambil kamera dan berfoto bersama untuk jadi kenang-kenangan. Atau kalau mau lebih sedikit vintage, bisa juga pake jasa mas-mas ber-rompi Canon yang ada di sana. Mayan lah, cuma Rp. 10.000,- aja bisa minta difotoin pake kamera DSLR plus dapet cetak fotonya juga.


Waktunya Snorkling di Lepas Pantai!

Tepat di minggu pagi, setelah melewati malam yang ternyata lebih dingin dari yang kami perkirakan, kami segera berangkat menuju ke area kapal-kapal tak jauh dari pasar ikan. Disini, kami ditemani oleh Kang Salman. Seorang pemandu lokal yang menuntun kami menaiki kapal kecil yang akan menyusuri Pulau Manda, Pulau Kunti, Snorkling, sebelum kemudian berlabuh di Pantai Pasir Putih.

Baca Juga :  Kota Cinema dan Nafas-Nafas yang Tersengal Karena Pandemi

Setelah jangkar diangkat, kapal pun langsung melesat. Angin pagi yang bergerak kencang menciptakan gelombang ombak yang menari-nari. Membuat kapal kami bergoyang naik turun tatkala bergerak maju mendekati pulau.

Ada 2 pulau purbakala yang akan kami lewati. Pulau mandra yang berbentuk seperti manusia yang sedang rebahan. Serta Pulau Kunti yang sejatinya adalah cikal bakal awal terbentuknya Pulau Jawa. Arti nama Kunti disini mungkin terdengar mistis, tapi sebenarnya nama itu tuh efek dari banyaknya gua laut yang mengitari pulai ini. Gua laut ini, ketika terkena deburan ombak tinggi akan menghasilkan gema yang terdengar seperti suara orang ketawa.

Spot snorkling kami berada tak jauh dari kedua pulau ini. Mas-mas pemandu segera menurunkan jangkar, dan membagikan beberapa peralatan snorkling. Yang turun kali ini cuma berempat saja. Thina, Nek, Asep dan Wawa.

Abah mah emang ga bisa berenang dan takut sama air laut. Sementara saya, males aja basah-basahan. Ribet nanti musti mandi lagi, hahaha

Lagi seneng-senengnya snorkling. Eh, tiba-tiba ada tragedi konyol. Jadi pas Thina udah naik lagi ke atas kapal, kita baru ngeuh kalo ternyata arus laut saat itu tuh bener-bener kencang. Wawa dan Asep keseret arus laut, menjauh dari kapal. Sementara Nek, untungnya masih sempat balik lagi naik ke kapal.

Dari yang tadinya cuma menjauh sedikit, lama-lama makin jauh. Sampe kedua orang itu cuma keliatan macem titik kecil di lautan. Asli, serem banget ya arus laut disini. Akhirnya Mas-mas pemandu pun menyalakan mesin kapal dan menjemput mereka berdua. Untung aja ga ada apa-apa ya, aman semua.



Spot Terakhir : Pasir Putih yang Tak Pernah Gagal

Setelah insiden snorkling tadi, kapal laut bergerak merapat ke salah satu pantai dengan pasir putih. Kami di-drop disini dan baru dijemput lagi ketika matahari sudah tinggi. Mungkin biar kami bisa bebas menikmati suasana pantai ya.

Sama seperti sebelumnya, disini juga banyak warung-warung. Cuma bedanya, bentuknya itu nggak permanen, cuma dibuat dari kayu-kayu yang ditutup dengan terpal saja. Wajar sih, soalnya ini bukan pulau berpenghuni. Jadi pedagangnya juga ga ada yang stay, tiap hari bolak balik dari pasar ke pulau ini.

Maka dari itu janganlah berharap ada gorengan. Udah pasti ga ada, susah soalnya bawa kompor, minyak, dan bahan-bahan gorengannya. Tapi kalo mau minuman dingin, kopi, teh, kelapa sampe mie instan sih ada. Harganya sedikit lebih mahal dari pantai ciletuh, tapi its okey lah.

Di spot terakhir ini yang saya lakukan hanyalah bersantai, menemani Mput main pasir, sambil sesekali membongkar pasir yang berisi cangkang kerang lucu.

Pada akhirnya, kami hanya bersantai dalam menghabiskan waktu disini. Mumpung masih ada waktu, sebelum harus kembali ke penginapan, balik lagi menyusuri jalanan berkelok dan lanjut menghadapi realita kehidupan.

Tak lama, seorang mas-mas memanggil kami untuk merapat ke kapal.

Baiklah, selamat jumpa Ciletuh… Semoga nanti kita bisa kesini lagi yaa pas mput udah gedean!

Depok, 15 Oktober 2023
Ditulis sambil memikirkan masa depan yang tak menentu.


Semangat penulis kadang naik turun, jadi boleh lah support biar update terus.

Silahkan klik link dibawah
Atau bisa juga dengan cara transfer ke :

BCA : 6871338300 | DANA : 081311510225 | ShopeePay : 082110325124

Fajarwalker

A Man with frugal style living. Sering dikira pelit, padahal cuma males keluar duit.

More Reading

Post navigation

27 Comments

  • Asiiiik akhirnya ada YT nyaaa. Udh subcribe dong aku, ntr aku mau tonton juga . Walopun sbnrnya memang lebih suka baca tulisan sih mas. Cuma terkadang kalo udh baca tulisannya, jadi terbayang pas melihat videonya sekalian.

    Gilaaa ih arusnya kuat berarti yaaa. Aku sih termasuk yg ga suka berenang di mana2, apalagi laut. Sama alasannya, Krn males bersih2 setelah itu . Pasir itu susaaah ngilanginnya. Beda Ama air kolam renang kan.

    Nenek berani juga ikutan snorkeling yaa. Mana sempet masak pula ..baru sakit gitu, gimana kalo lagi fit2 nya . Saluuut.

    Ciletuh ini aku udh lama denger, tapi sampe skr blm kesampaian kesana. Dulu ingetnya foto yg dr atas itu mas, yg menggambarkan garis pantai. Ikonik bangt foto itu. Kalo liat, udh lgs tau itu pantai Ciletuh

    • Makasih ya Mbak. Aku sih juga ngerasanya gitu, mending baca tulisan dulu, baru abis itu nonton biar ada gambaran. Abisan, bikin konten YT juga ternyata lebih cape daripada nulis. Plus, lebih menguras tenaga juga pas ambil kontennya. Gabisa sekali jepret udah jadi bahan konten, tapi mesti banyak record juga.

      Iyaaa, arusnya serem banget. Kakakku langsung anyut jauh banget dari kapal. Tapi meski begitu, saranku sih kalo mau kesini mending pas udah musim ujan aja. Kalo kemarau gini panasnya kebangetan. Terus air terjun juga jadinya kering banget.

      • Nah iyaaa, kalo air terjun debitnya kurang, berasa gimanaaa gitu liatnya. Air terjun ya sebaiknya debit air kenceng, biar kliatan air terjun, bukan pancuran mandi .

        Itulah kenapa aku blm tertarik YT mas. Capek edit, capek videoin . Blog aja keteteran, apalagi nambah YT hahaha

  • Tempat wisata yang indah itu memang biasanya butuh perjuangan keras sebelum akhirnya sampai di tempat. Bisa dengan mendaki yang lamaaa banget atau perjalanan dengan mobil tapi jalanannya bikin mules duluan 🙂 Terbayar ya semuanya dengan pemandangan yang indah di Geopark Ciletuh ^_^

    • Iyaaa, ini ga ada hikingnya sama sekali sih. Dengkul kaki aman jadinya.
      Tapi perjalanannya alamaaaak, bener-bener meliuk-liuk.musti kuat perut dan kepala.

  • Wahh asyik bisa liburan bareng dan ramai2 gitu sambil ngepantai. Kalau liburan gini seneeng ya sampe lupa habis di RS. Ehh kemarin sakit apa Mas?

    • Kemarin orang tuaku mendadak kena sakit diare akut. Sampe lemes banget dan akhirnya mesti dirawat inap 2 malam. Alhamdulillah nya sih, abis itu udah ga Kenapa2 lagi mba.

  • Kaya paket komplit ini ya, perjalanan menantang, ada gunungnya, ada snorkeling dan pasir putihnya. Apalagi penginapannya murmer pula, masyaallah. Sayangnya aku jauh bgt dari lokasi ini ya

    • Iya memang agak jauh si mbak, Enaknya kesini mending bawa mobil atau touring naik motor aja. Kalo angkutan umum macem bis, kayaknya agak sulit.

  • Yaampun, tiap traveling tu pasti ada aja cerita serunya ya. Jalannya berliku dan penuh perjuangan segala lah. Setelah badai pasti ada pelangi, biarpun di jalan perut terkocok-kocok, terbayarkan setelah sampai tujuan ya. Asyik banget dedek kecil udah diajakin traveling gini. Semoga bisa balik lagi pas udah gede, barangkali dia de javu. Hehe..

  • Halo Mas Fajar Salam Kenal…

    Btw, seru banget bacanya.. agak sedih pas Nek masuk RS. untung bisa pulang lebih awal jadi rencana liburan tetap jalan.. Btw lagi.. Ciletuh ini brrti masuk kawasan perpantaian Pelabuhan Ratu kan ya..? Aku dulu tahun lalu sih pas akhir tahun 2022. pernah jalan kesana, cuma jalannya di tutup.. karena longsor kalau nggak salah..

    Belum smpat kesana lagi karena jauh sih kalau dari rumah. Kemarin karena pas kebetulan lagi di Sukabumi aja.. hehe. Skarang aksesnya katanya ada yang lebih mudah mas karena ada jalan Tol ke sukabumi langsung dari Jakarta.. cuma aku sndiri belum nyoba sih.. ini baca2 berita aja.. hehe

    Seruu yaa.. Emang tahu duduk di Pantai sambil makan bareng keluarga tuh nikmat banget.. Aku kangen banget momen kaya gtu.. Udah jarang banget soalnya. Dulu mah kecil, sering bolak-balik Anyer. Berenang sambil di suapin Emak Mie Goreng

    Itu serem banget smpe kebawa arus.. aku mah udah mikir yg dibawahnya, kaya hewan2 apa gtu.. nggak tahu kenapa, tapi aku kalau main ke pantai terus berenang, lebih banyak mikirin apa yang ada di bawah

    Semoga Mas Fajar bisa kembali berkunjung kesana lagi yaa bareng keluarga..

    • Aku belum tau sih berita info jalan baru. Cuma emang kalau ada opsi jalan lain yang lebih santuy, kayaknya lebih baik si ketimbang perut dikocok-kocong sepanjang jalan.

      Iya, arusnya kencang banget. Manalah kita baru banget nonton film The Meg 2, jadinya mikir yang engga-engga, hahaha. Untungnya sih ya ga kenapa-kenapa juga. Alhamdulillah aman sampai dijemput ke perahu lagi.

  • Biasanya kalau liburan gini aku suka mikir dr segi budget, tp ini menyenangkan bgt ya harganya termasuk murmer, kalau kaya gini jd ga kepikiran dan lepas buat full ngabisin waktunya 😀 jd bisa ke banyak tempat sekaligus.

    Btw kepo deh kalau yg berAC berapa untuk penginapannya? Kalau harganya nggak jauh beda dr non AC sepertinya lumayan buat pas siang2 yg panas

    • Iyaa. Kalo bawa mobil sendiri, plus bawa makanan sendiri juga, jatuhnya hemat sih. Penginapan juga cari yang biasa aja, gausah yang mahal-mahal.

      Buat yang AC 350K mba. Kalo yang non ac aku gatau, pasti dibawahnya itu sih. Tapi mending cari yang dinding semen aja. Kalo dinding kayu alamaaak gakuat, panas banget euy.

  • Meski sempet di aduk-aduk perut karena jalanan yang luar biasa exstrem semua lelah terbayarkan dengan keindahan alam Geopark Ciletuh ya. Berarti rekomend juga buat ajak balita, selama orangtua full mengawasi, beneran berasa enjoy banget travelling nya..seru pisan, jadi pengen kesana juga deh ajak Ibu, bapak dan ponakan

    • Boleh banget, asalkan siapin juga ya plastik dan antimo buat jaga2 takut mabok. Soalnya jalannya ekstrim banget euyy..

  • Baru tau ada pulau mandra dan pulau kunti di sana. Ternyata macem² ya wisata yg bisa dilakukan di Geopark ini.Awalnya sy pikir cuma liat pemandangan n foto² aja hehe. Jadi pingin ajak keluarga ke marii

  • ini serius kayak suara kunti kah? jadi seram gitu ya apalagi kalau ada nelayan malam2 lewat. btw untuk puncak darmanya emang lagi berkabut cuaca gak mendukung atau karena emang diatas ketinggian jadi penampakan begitu ya?

  • Wah senang sekali kalau travelling rame-rame sekeluarga gini. Pasti jadi momen tak terlupakan. Apalagi ada insiden hanyut saat snorkeling. Alhamdulillah selamat. Perkara arus laut jangan dianggap sepele. Percaya deh, pengalaman pernah hanyut juga. Penasaran belum pernah ke dua pulau purba ini. Apalagi pulau kunti yang seakan banyak orang ketawa. Selama ga malam aman kali ya?

  • Uda ketebak pasti dikawasan Jabar soal ya nyunda pisyan, well amazing sii walaupu jauh terbayar banget ya kang endingnya mengesankan sangat mana HTM nya murmer yang kaya giniiisii bikin betah dan bikin males pulang apalagi hawa rombongan orang tersayang yak.

    • Iya euy, atuh nya gimana kah kita mah urang sunda, hahaha.
      HTM nya murah sih, lumayan kontras sama tempat wisata lain di Jawa Barat. Biasanya pada mwahall

  • Wah akhirnya bisa piknik ke Ciletuh yaa penasaran terobati dan jalannya ternyata ekstrim yaa itulah yang mengurungkan niatku main ke sana hihihi…pantainya cakep yaa

  • Menulisnya sambil memikirkan “Next…destination” yaa, Bang.
    Rasanya seneng sih, bisa menikmati Pantai Ciletuh bersama keluarga. Persiapannya bener-bener mateng nih.. karena ada menu yang dihidangkan.

    • Iya, soalnya kebentur sama waktu dan uang yang tiris mulu hahaha.
      Betul mba, asyiknya bareng keluarga tuh, salah satunya ya kita jadi ga pusing mikir perbekalan. Lengkap semua hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *