Wisata Masa Lalu di Gedung Perundingan Linggarjati

Sebagai pasangan sejoli, sudah barang tentu saya dan Thina punya beberapa kesamaan. Entah itu sama-sama suka ngorok, sama-sama suka gibah, atau bahkan sama-suka kentut sembarangan, HAHAHA. Tapi dari sekian kesamaan, ada satu yang paling saya syukuri, yakni kami berdua sama-sama menyukai destinasi wisata ber-aroma alkisah dan sejarah. Apapun itu.

Mau itu ke museum, cagar budaya, ataupun bangunan peninggalan lama. Pokoknya kami sangat senang untuk berkunjung dan belajar dari kisah-kisah hidup yang terjadi di masa lampau. Itulah yang mendorong kami untuk berangkat ke daerah Linggarjati di sela-sela kepulangan kami ke Kuningan kemarin. Di desa linggarjati yang dekat dengan kaki gunung Ciremai ini, terjogrok sebuah gedung sederhana yang jadi saksi bisu perjuangan Indonesia mempertahankan kemerdekaan lewat jalur diplomatik.

Yap, inilah Gedung Perundingan Linggarjati.

 

 

Wisata sejarah yang murah meriah

Tak butuh banyak effort bagi kami untuk mengunjungi cagar budaya ini. Perjalanan dari rumah saya di desa Padamenak menuju ke desa Linggarjati hanya memakan waktu sekitar 10 menit saja. Aksesnya bisa lewat jalan raya Bandorasa atau lewat jalan alternatif dari desa Maniskidul dan Maniskaler. Posisinya sendiri tak jauh dari Hotel Ayong dan Objek Wisata Linggarjati Indah yang juga tak kalah mempesona untuk dikunjungi.

Tak perlu takut masalah per-kocekan kalau mau berkunjung kesini. Biaya masuknya cuma terdiri dari biaya parkir sebesar dua ribu perak dan tiket masuk senilai dua ribu perak juga. Awal pertama diminta, saya dan Thina lumayan bingung dan menatap satu sama lain. Gila gak sih, masih ada ya di tahun 2021 ini objek wisata bayarnya cuman dua rebu perak?



Miniatur gedung linggarjati, luas lho ternyata

Meski begitu, area gedung perundingan linggarjati ini cukup luas dan nyaman lho. Gedung utamanya mungkin berukuran tak terlalu besar, namun area taman di sekelilingnya itu luar biasa luas hingga mencapai 24.500 meter. Terdiri dari area rerumputan yang terawat dengan baik, area lapangan yang bisa digunakan untuk bocil-bocil main bola, serta ada juga beberapa kolam kecil untuk merelaksasikan diri. Kalo mau gelar tiker juga boleh kok, jadi emak-emak yang doyan ghibah pasti seneng kalo diajak kemari.

 

 

 

Refleksi Perjuangan Jalur Diplomatik

Tak lama sejak membayar karcis masuk, saya dan thina langsung tenggelam dalam timbunan sejarah yang tersaji di gedung tua ini. Dari pigura-pigura yang berisikan foto serta informasi singkat di hampir seluruh sudut, kami mulai larut dalam wisata nostalgia. Buat kalian yang belum tau, perundingan linggarjati ini adalah peristiwa bertemunya tokoh-tokoh dari Indonesia dan Belanda untuk merundingkan status kemerdekaan Indonesia. Karena perjuangan mempertahankan kemerdekaan ga cuma lewat jalur peperangan, tapi juga jalur diplomatik.

Perundingan linggarjati ini melibatkan 3 pihak, yakni pihak Indonesia, Belanda dengan Inggris sebagai mediator. Pihak Indonesia diwakili Sutan Syahrir, AK Gani, Susanto Tirtoprojo, dan Mohammad Roem. Sementara pihak Belanda diwakili oleh Wim Schermerhorn, Max van Poll, HJ van Mook serta F de Boer. Inggris yang jadi pihak mediator diwakili oleh Lord Killearn.

Baca Juga :  Menikmati Objek Wisata Cibulan Dikala Sepi Pengunjung
Susunannya sama, cuma sebagian besar hanya replika.

Perundingan tersebut berakhir dengan perjanjian yang tertuang dalam 17 pasal, diantaranya :

  1. Belanda mengakui wilayah Indonesia terdiri dari Jawa, Sumatera dan Madura.
  2. Belanda harus ninggalin Indonesia selambat-lambatnya 1 Januari 1949.
  3. Belanda dan Indonesia sepakat membentuk negara Republik Indonesia Serikat (RIS).
  4. Indonesia harus tergabung dalam Persemakmuran Indonesia-Belanda dengan mahkota negeri Belanda sebagai kepala uni.

Kalau dibaca-baca, hasil perundingan ini memang banyak ngerugiin Indonesia banget ya. Secara, wilayah Indonesia jadi cuma dikit dan Indonesia juga dipaksa ngebentuk negara sesuai kemauannya Belanda. Hasil perundingan ini pun jadi ditanggapi negatif sama banyak banget pihak di masa itu. Semisal Partai Masyumi, PNI, Partai Rakyat Indonesia, dan Partai Rakyat Jelata yang nganggep perundingan itu adalah kegagalan pemerintahan Indonesia untuk mempertahankan kedaulatan negara,



Tapi, tentu tokoh-tokoh Indonesia memutuskan hal ini juga bukan tanpa pertimbangan ya. Yang diutamakan kala itu adalah menghindari gencatan senjata dengan Belanda yang tentu saja kalo terjadi bakal banyak merugikan Indonesia. Apalagi waktu itu kekuatan militer belanda emang luar biasa, sementara militer kita ya segitunya. Alias apa adanya.

Sukarno pun tau banget ini bakal ditanggapi negatif sama banyak pihak, jadi beliau menyampaikan poster seperti ini.

Ga dulu ga sekarang, memang warga +62 itu suka ribut sama sesama ya.
Foto Sutan Syahrir yang dulu jadi Perdana Menteri

Lanjut mengitari satu persatu ruangan di gedung perundingan Linggarjati akan membawa kita memproyeksikan kembali bagaimana proses terjadinya perundingan hingga dampak pasca perundingan itu sendiri. Meski hampir seluruh properti yang ada disini yang adalah replika, namun kondisinya bersih dan terawat. Banyak frame foto dengan deskripsi bilingual yang terpampang memudahkan kita untuk ber-imajinasi akan suasana lampau.

Ada banyak hal yang membuat saya dan Thina terpana. Seperti saat melihat dokumentasi para wartawan luar negeri yang duduk njelebrak diantara tangga dengan membawa mesin tik. “Itu ga ada meja apa yak? malah ndeprok disitu?”. Ada juga cerita tentang Maria Ultah Santoso yang mengusulkan dipilihnya Kuningan sebagai lokasi perundingan. Ternyata alasan dipilihnya Kuningan, salah satunya karena relasi serta status keamanan yang terjamin kala itu.

Wartawannya pada ndeprok di tangga gitu ya

Tapi kami agak mempercepat langkah kaki saat memasuki ruang tidur delegasi Indonesia dan Belanda. Entah kenapa, suasananya terasa sunyi dan agak creepy gitu. Aneh ya, padahal diluar matahari sedang terik-teriknya. Kalo denger cerita temen-temen sih, disini banyak cerita mistis gitu. Tapi…. ah, sudahlah.

 

 

Wisata Masa Lalu, Kau Hanya Merindu

Waktu masih kurus, dulu pernah syuting-syutingan disini.

Selain nostalgia dengan kisah perjuangan Republik Indonesia, disini juga saya bernostalgia dengan kisah-kisah masa lalu selama berseragam putih abu. Selama bertahun-tahun tumbuh dan besar di Kota Kuningan, entah sudah berapa kali saya bolak balik ke gedung linggarjati untuk berbagai keperluan. Lokasi ini sendiri pernah saya jadikan tempat syuting untuk beberapa tugas film di sekolah. Pernah jadi tempat menyendiri dikala suntuk. Bahkan pernah jadi tempat memadu kasih juga, ahahaha.

Dari sekian banyak historis, saya paling inget sewaktu syuting film berjudul “Pandawa Lima in Action” di pelataran Linggarjati. Di film itu saya berperan sebagai bapak tua yang mendidik para pendekar pewayangan agar jadi kuat dan melawan para tokoh jahat. Waktu itu saya benar-benar kesal sama teman sekelompok. Gara-garanya saya ditunjuk jadi peran bapak-bapak tua yang jadi guru pendekar. Ngga sepenuhnya salah sih, karena emang ya muka saya boros. Tapii.. tapi… umur saya kan paling muda sekelas. Hiks 🙁

Uruh, cantik pican…

Tapi kini, semuanya banyak berubah. Setelah sekian tahun berlalu, rasa kesal itu telah tergerus dan terkonversi menjadi rasa rindu. Melihat kembali banyaknya sudut linggarjati yang telah terisi memori, membuat saya ingin kembali ke masa-masa kala itu. Sayangnya, sejauh ini mesin waktu hanyalah mitos belaka. Pada akhirnya kita hanya bisa bergerak maju, sembari sesekali melihat ke belakang untuk meratapi sang garis waktu.

Baca Juga :  Wisata Ilmiah ke PP-IPTEK, Taman Mini

 

 



 

Wisata dua rebu, nikmatnya beribu-ribu

Untuk seukuran wisata dua rebu perak, gedung linggarjati adalah tempat wisata yang sangat menyenangkan dan sangat-sangat-sangat value for money. Karena selain menawarkan wisata sejarah dan nostalgia, ia juga memiliki area luas yang nyaman untuk kumpul-kumpul bareng keluarga, atau untuk melepas sang buah hati gulang-guling di area taman hijau yang nyaman.

Di samping gedung tak jauh dari pintu keluar, ada sebuah kolam ikan yang dilengkapi dengan ikan-ikan untuk terapi. Itu lho, ikan yang bisa gigitin kulit mati di kaki kamu supaya ga bau, sekaligus bisa lancarin peredaran darah juga. Saya gatau sih jenisnya ikan apa. Yang pasti bukan ikan bawal, hahaha

Oya, kalau berjalan lebih jauh lagi ke arah belakang gedung, kita akan menemukan sebuah kandang raksasa yang diisi oleh rusa. Ini kayaknya sih fasilitas baru yah, soalnya beberapa tahun yang lalu sejak saya mampir ke linggarjati sih, kandang ini belum ada.

Sayangnya, tak ada seorangpun yang berjaga disekitar kandang ini. Kami pun bingung akan memberikan makanan apa ke rusa yang imut lucu di depan mata ini. Jadi, saya pun inisiatif nyabutin rumput liar di sekitar kandang untuk diberikan ke rusa betina dan jantan yang mendekat. Seru banget ternyata ngeliatin rusa jantan, soalnya tanduknya itu lho! Mirip sama batang kayu gitu, jadi satisfying banget buat diliat… pantes aja doi diburu mulu ya.

Anyways, saya berharap disini ada yang jagain dan ngasih jualan makanan gitu sih, semacem wortel dan sebagainya. Selain lebih aman dari pihak yang sembarang ngasih makan, jadinya juga jadi lebih eksklusif gitu ala-ala Ranca Upas Bandung.

 



 


 

Well, demikianlah sekilas cerita saya dan Thina bernostalgia di Linggarjati. Kalau kamu merasa terhibur dengan tulisan saya, jangan lupa klik tombol kuning dibawah biar saya semangat terus menulis ya!

Nih buat jajan

 

 

Bekasi, 01 November 2021
Ditulis sambil melihat langit yang makin rajin menurunkan hujan.

Fajarwalker

A Man with frugal style living. Sering dikira pelit, padahal cuma males keluar duit.

More Reading

Post navigation

3 Comments

  • Waaaah samaaaa mas, akupun sukaaa banget Ama wisata museum. Sebenernya yaaa, museum itu cara terasyik untuk belajar sejarah. Beda belajar dari buku yg cendrung bosenin kan.

    Tapiiiii aku jujurnya lebih suka datang ke museum yg berbau bloody history. Contohnya kayak museum Jend Nasution, museum Ahmad Yani, lubang buaya, museum killing field dan S21 di Kamboja, museum bomb atom di Nagasaki dan Hiroshima Jepang, trus museum pilot kamikaze di Chiran Jepang.

    Ntah kenapa kalo berbau sejarah berdarah, itu auranya juga udah beda . Spookynya jauh lebih terasa. Tapi so far yg bikin aku merinding itu museum killing field dan S21 tempat pembantaian masyarakat Kamboja di zaman pol pot. Kalo museum bom atom aku malah nangis pas masuk dan melihat foto juga barang2 dan manusia yg terbakar .

    Bagus juga museum Linggarjati nya. Aku suka dengan tamannya yg luas bangettt. Kapan2 aku ajak anakku kesana deh. Kebetulan yg sulung juga sukaa Ama sejarah. Makanya tiap traveling ke berbagai negara aku selalu nyempetin untuk mencari museum2 nya.

    • Aku malah takut kalo temanya bloody gitu. Gatau kenapa, suasananya angker dan serem gitu. Hiiii.
      Itu lubang buaya juga deket banget sama tempat ku di pondok gede bekasi. Cuma sampe sekarang masih ragu mau mampir kesana, ngeriii ehehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *