Sejujurnya, tulisan ini tuh sudah lamaaaa sekali terpendam di hard drive laptop saya. Bahkan, lebih lama dibandingkan tulisan lawas seri Yogyakarta yang sedang saya angkat baru-baru ini. Dan saking lamanya, bahkan saya pribadi sebenarnya gak kepikiran untuk memasukkannya dalam daftar publikasi.
Sampai kemudian, tatkala saya sedang mencoba merapihkan kembali draft-draft foto lama, ada satu foto yang membuat saya terdiam sejenak.
Termenung, dan kehilangan ritme kerja seketika.

Ya. Ini adalah foto Almarhumah Emak, di momen lebaran tahun lalu.
Saat itulah, kepingan kenangan lama pun mulai memenuhi isi kepala. Momen lebaran tahun 2025, tatkala kami semua melaksanakan tradisi kumpul keluarga di Woodland, Setianegara. Siapa sangka, momen itu akan jadi momen terakhir kami bersua bersama Emak.
Dan kini, sepeninggal Abah dan Emak, tentu suasana di sana tak lagi sama. Rumahnya masih ada, keluarganya juga. Tapi tanpa kehadiran para sepuh-sepuh ini, rasanya ada sesuatu yang hilang. Dan sayangnya, tak bisa kembali lagi.
Yowis lah, akhirnya saya putuskan untuk segera ambil keyboard dan berjibaku menelurkan tulisan ini. Tulisan yang akan jadi kenangan, momen terakhir sebelum emak berpulang.
Sekilas Tentang Woodland

Mitsubishi Kuda tua yang kami tumpangi menyusuri pepohonan rindang, melewati beberapa rumah yang jaraknya jarang-jarang. Jalanan desa Setianegara ini memang kecil, hanya terdiri dari 2 jalur saja. Namun teksturnya mulus, sehingga membuat perjalanan jadi nyaman dan lancar.
Farid yang memegang kemudi, membawa mobil ini dengan pergerakan halus, sehalus mungkin yang ia bisa. Sebab, Emak meminta ikut. Dan beliau ini memang cukup ‘mabokan’. Gampang mual jika sedikit saja terkena guncangan rem.
Untungnya jarak dari rumah saya di Desa Padamenak menuju ke Woodland ini tak terlalu jauh. Hanya sekitar 9 Km, atau sekitar 20 menit perjalanan.
Ketika kami semua tiba di area Parkir, sayup-sayup mata saya menangkap deretan pohon hijau nan segar yang berderet rapi dari arah seberang.
Walah, pohon pinus!


Teduh alami hutan yang serba hijau, membuat kami bersemangat ingin secepatnya meninjau. Maka kami pun mempercepat langkah kaki menyeberang, dan melewati gerbang tiket masuk.
Sesuai namanya, Wood dan Land. Tempat wisata ini memang memadukan antara lanskap yang indah dengan hutan pinus yang rindang. Konsepnya yang menarik, berpadu dengan eksekusi yang apik. Sebab fasilitas di dalamnya pun tergolong lengkap.
Mulai dari gazebo, kolam renang, outbond, permainan anak, camping ground, bahkan Roller Boaster pun ada!


Nganu, yang disebut terakhir, saya bahas di penghujung tulisan aja ya.
Adapun untuk tiket masuk kesini, itu kisaran 20 – 25 ribuan saja. Itu harga di tahun 2025 ya, gatau deh kalau di tahun 2026 ini gimana.
Soalnya kan kita semua tau yak, kurs dollar dan inflasi makin menjadi-jadi, heuheu.


Sesaat setelah melewati pos tiket, kami semua dimanjakan oleh jalan setapak yang telah tersusun rapi membelah area hutan pinus ini. Agak unik juga si bentuknya, dibuat jadi 2 jalur permanen gitu di sisi kanan dan kiri, sementara area tengahnya justru dibiarkan berisi batu kasar saja tanpa disemen.
Kalo tebakan saya sih, kayaknya ini buat jaga-jaga kalau misalkan hujan. Jadi kita gak perlu worry dengan jalanan yang licin, dan bisa langsung bergeser ambil jalur posisi tengah yang lebih aman.
Gazebo dengan View yang Menawan

Sekitar beberapa menit berjalan kaki, akhirnya kami semua tiba di gazebo yang dituju. Sebuah gazebo berukuran sedang, dengan lantai kayu dan atap segitiga.
Emak langsung ambil posisi, santai di salah satu sudutnya. Sementara wawa dan mamake langsung sibuk berbenah barang bawaan. Semua barang bawaan dan persediaan, langsung dikeluarkan dan digelar saat itu juga.
Maklum lah, tiap kumpul keluarga gini, biasanya kami pakai sistem potluck. Jadi tiap keluarga, wajib bawa makanan masing-masing satu. Supaya nantinya bisa dikumpulkan, lalu dinikmati bersama-sama.
Dan konon, demi mendapatkan spot di gazebo satu ini, A Heru yang memang tinggal di Setianegara, harus rela datang dan book tempat sejak pagi buat.
Memangnya apa yang istimewa sih?
Nganu, ini lhooo.. view-nya.


Gimana, mantep kaaaan? hihihi.
Jadi di Woodland ini memang tersedia banyak kolam, dan kolam-kolam ini tersaji dalam sebuah pemandangan lanskap yang jauh dan juga indah. Seakan menjadi sebuah oase, tapi dikelilingi oleh suasana segar nan hijau, hihihi.
Ngeliat pemandangan seindah ini, tentu rasa di hati pengen banget nyebur dong ya. Tapi sabaaaar… tahan dulu.
Sebab, satu per satu keluarga pun mulai berdatangan, sembari membawa dan membongkar bawaannya masing-masing. Asyiik betul lah, akhirnya tanpa banyak berbasa-basi, kami semua langsung tumpah ruah menyantap makanan yang tersedia.

Sayangnya, di momen ini saya malah ga dapet foto Emak, hiks. Sepertinya waktu itu saya pun udah kadung laper, dan posisi emak memang lagi ada persis di samping saya.
Padahal saya ingat betul, waktu itu Emak diminta untuk memberikan sepatah dua patah kata sebagai sambutan, dan Beliau justru diam seribu bahasa, lalu matanya mulai berlinang air mata.
Sepertinya, tangis bahagia melihat kumpulan keluarga serta cucu dan cicitnya yang kini mulai tumbuh besar.
Berenang dengan Suasana yang Segar

Lagi-lagi patut disayangkan, saya juga gagal mendapatkan dokumentasi apapun saat berenang bersama di kolam renang. Soalnya waktu itu, saya lagi agak kerepotan menjaga Putri. Alhasil, hape pun saya tinggalkan di dalam tas.
Padahal ya, kolam renang di Woodland tuh epic banget lho. Sebab, mereka punya semacam ‘kolam salju‘ gitu, yang posisinya persis ada di tengah-tengah.
Tapi jangan bayangkan salju disini tuh salju dingin yang terbentuk dari kristal-kristal es, ala-ala winter di eropa gitu ya. Bukan!
Kolam salju disini hanyalah salju akal-akalan saja, yang terbuat dari cairan sabun yang ditembakkan ke permukaan kolam dengan kipas kencang yang berukuran besar. Membuat buih-buih warna putih mirip saju berhambur di udara, yang kemudian disambut oleh riuh anak-anak penuh sukacita.
Seperti ini lah penampakannya.
Berhubung dokumentasinya nihi, jadi kita bergeser ke kolam-kolam lainnya aja yak. Dan tentunya posisi saya pun udah kelar berenang dan berganti baju, hihihi.
Saya mengajak Thina untuk meninggalkan gazebo sejenak, untuk berkeliling dan menikmati suasana yang tersaji. Apalagi sejauh mata memandang, ini kolamnya kok panjaaaaaanggg benerrrrr yak?



Saking jauhnya, deretan manusia yang berada di kolam terujung, terlihat seperti titik-titik hitam saja di mata saya. Sebegitu luas dan jauhnya area kolam di Woodland, yang membuat kami berdua terkesima.
Jujur, untuk menyambut momen libur hari raya, tempat ini udah siap banget si. Selain dari kolamnya yang besar dan luas, gazebo dan berbagai fasilitas basic-nya pun sudah tersedia dalam jumlah yang cukup, sehingga tak terasa chaos sama sekali.
Jauh pisan lah ya kalo dibandingin sama J&J Linggarjati yang sempat saya bahas kemaren.
Jangan salah, disini tetap ada lah ya 1 atau 2 anomali manusia yang santuy aja ngerokok. Tapi berhubung areanya luas dan dikelilingi pepohonan, maka asap rokok nya pun bisa tersebar dan diserap sempurna oleh para zat hijau ini.
Tau nggak yang ngeselinnya apa?
Yang ngerokoknya tuh malah Mamang saya sendiriiiii. Padahal ya, beliau ini tuh ustadz kondang di Padamenak, dan beliau pun tahu persis di gazebo itu tuh banyak anak-anak di bawah umur.
Jiah, meni santai weh ngelepus..
Langsung aja saya tegor, “Yeeee… si Mamang. Sono mang kalo mau ngerokok, jangan deket sini, banyak anak-anak!”
Keseruan Mini Roller Coaster

Semakin menjauh dari posisi awal, kami dibuat salfok dengan rel gantung warna-warni yang membentang di sepanjang sisi kolam renang. Rupanya ini adalah Mini Roller Coaster, yang banner-nya kita lihat di awal kedatangan tadi.
Daaaan sesuai namanya, roller coaster ini pun bentuknya mini sekali ya. Hanya bisa memuat 2 orang dalam sekali keberangkatan.

Uniknya gerbong mini roller coaster ini tuh gak pake mesin penggerak sama sekali lho. Jadi sistemnya hanya memanfaatkan gaya gravitasi saja, dimana lintasan besi ini sudah dibuat menurun sejak awal.
Di penghujung lintasan, gerbong akan dibawa memutar mendekat kembali ke titik awal. Barulah nantinya gerbong ini akan dipasangkan pengait, lalu ditarik kembali ke titik keberangkatan awal.

Jujur saya pribadi sih ga begitu tertarik ya. Rasanya kayak nanggung aja gitu. udah bayar 20 ribuan, ngantri lama banget, dan outputnya cuma muter sekelibet gitu doang, hihihi.
Hapunten pisan ya ges.
Paragraf Penutup
Sebenarnya masih banyak wahana yang belum kami coba selama berada di Woodland ini. Mulai dari sosorodotan, flying fox, outbond, daaan masih banyak lagi.
Namun sayang, kala itu langit Setianegara sedang tak bersahabat. Tiba-tiba saja awan kelabu muncul, lalu memuntahkan isinya persis di tempat kami berada. Hal itu membuat kami semua yang sempat terpikir untuk eksplor lebih jauh, akhirnya memutuskan untuk pulang saja secepatnya.
Segera kami semua berlarian kembali ke arah parkiran mobil, sebelum tertahan hujan yang lebih besar di area kantin.
Saya ingat betul di kala meneduh itu, Putri masih berada dalam gendongan saya, sementara Emak berada persis di sampingnya. Sesekali ia tersenyum, sembali mengajak Putri tuk bercanda.
Siapa sangka, momen berteduh itu akan jadi momen terakhir kami bersua Emak. Karena beberapa minggu setelah lebaran berlalu, Emak jatuh sakit, lalu berpulang.
Duh, Emak.. Doa terbaik dari cucumu ini ya. Semoga senantiasa mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Amiiin.
Al-fatihah.
Bekasi, 10 Mei 2026
Ditulis sepulang dari Rumah Sakit, menemani Thina yang Tumbang.




Siapa si yang narok bawang di siniiii hikss… Tenang dan damai emak di sana yaa.. Amiin YRA , cerita ttg emak tu ga bakalan habis, bawelnya bikin kangen, sama seprti almarhumah ibukku, meninggal th 2023 sehabis lebaran idul fitri, sekarang rumah ibu sunyi sepi, rame kalo pas ngumpul lebaran aja, sampe sy juga buat postingan judulnya emak, tapi nama saya samarkan hihi… Iih cakep pisan ini tempatnya, teduh, rimbun dan hijau, kolam gede , jadi walo rame ga berjubel yaa.. Mantab daah
Amiiiin Ya Rabbal Alamiiiin, mbak.
Wah, nanti saya mampir ah ke postingannyaaaa, heuhe. Sedih si sekarang kalo pulang kampung, kayak ada yang kosong ajaa gitu. ga seramai biasanya, hiks.
nah nanti kalo pas lagi ke Kuningan, cobain mampir ke Woodland mbak 😀
Semoga arwah ibu Mas Fajar ditempatkan di kalangan orang yang beriman, dilapangkan kuburnya seolah di taman syurga, dilindungi daripada api neraka dan dimasukkan ke dalam syurga tanpa hisab. Benar sekali rumah yang sudah tiada orang tua auranya tidak akan sama seperti dulu. Rumah tetap ada, kita bisa berkumpul beramai-ramai tetapi penyeri yang membuatkan setiap suasana istimewa itu telah tiada. KSarie kalau baca entry sebegini memang buat hatinya sebak dan air mata bergenang. Semoga kita semua ditemukan semula di syurga bersama orang yang kita sayangi
Momen begini, sampai bila-bila pun kita akan ingat, Mas Fajar. Sayu baca entri ini. Saya pun masih ingat saat manis piknik dengan arwah emak di pantai. Semoga emak Mas Fajar ditempatkan di kalangan orang² beriman. Aminnn..