Matahari Jogja sedang terik-teriknya kala kami mobil yang kami tumpangi menembus jalan raya. Hari ini adalah hari kedua kami di Yogyakarta, dan kami memutuskan untuk pergi jauh dari penginapan. Menyusuri Jalan Raya Magelang – Yogyakarta dengan jarak kurang lebih 20 kilometer.
Tujuan kami kali ini adalah… Ibarbo Park. Sebuah tempat wisata unik dengan konsep ‘kota kartun’ yang tak sengaja lewat di timeline tiktok saya sehari sebelumnya.
Dan sejujurnya, saya pun hanya iseng saja mengusulkan tempat itu kala berbicara dengan mbak Yanti. Gak berharap di-oke-in juga, sehingga andaikan ditolak pun, saya akan menerima dengan santai saja.
Namun siapa sangka, beliau langsung menyetujuinya tanpa banyak bertanya apa-apa.
Catatan : Tulisan ini tergabung dalam series cerita edisi Yogyakarta. Untuk kalian yang membaca keseluruhan cerita dari awal, silahkan klik menu berikut ini :
- Perdana Naik Kereta Ekonomi New Generation ke Yogyakarta
- Menikmati View Indah Menghadap Laut di Teras Kaca, Pantai Nguluran
- Another Lunch With a View at Puncak Segoro, Yogyakarta
- Menyusuri Ibarbo Park yang ‘Katanya’ Kota Kartun di Jogja
Yha maklum lah, sejak awal kan konsep trip ke Jogja kali ini tuh emang rada-rada unik. Dibayarin sama kantor, tapi planning dan eksekusi semua destinasinya diatur masing-masing. Makanya menyambut hari kedua kami di Kota Pelajar ini, baik saya maupun Mbak Yanti sejatinya tak memiliki rencana apa-apa.
Mungkin itu jualah, yang membuat beliau langsung acc tanpa ba bi bu lagi.
Impresi Awal : Tak Sesuai Ekspektasi

Tatkala mobil Daihatsu Sigra yang kami tumpangi tiba di area Ibarbo Park, sejumlah tanya dan rasa penuh kebingungan mendera kepala saya. Apalagi saat mendapati area parkiran mobil yang nampak sangat luas. Terlalu luas malah, dengan mayoritas space yang ada masih kosong melompong. Tak terisi mobil.
Sampai sini, perasaan saya langsung merasa agak kurang enak.
Apalagi kala ketika perlahan langkah kaki kami menjauh dari mobil, sayup-sayup saya melihat deretan anak kecil yang sedang berbaris dari kejauhan. Semakin mendekat, semakin jelas pula di hadapan mata saya ini.



Daaaaan, yak.. benar saja. Yang antri di pintu masuk ini adalah rombongan anak sekolah. Maka semakin menjadi-jadi sajalah perasaan tak enak saya ini.
“Mbak, ini beneran buat orang dewasa apa nggak ya? Kok yang dateng rombongan bocil semua?”, bisik saya ke Mbak Yanti, dengan nada gamang.
Mbak Yanti hanya tersenyum tipis, lalu membalas, “Lhaa mana gue tau.”
Ada perasaan nggak enak juga sih ya, kalo ternyata Ibarbo Park ini gak sesuai ekspektasi. Karena kalau saya dan Thina sih, mungkin bisa fine-fine aja. Tempat yang cocok buat bocil, yaa berarti pas untuk kami yang datang sembari membawa Putri.
Lain urusannya dengan Mbak Yanti. Dia yang datangnya sendirian doang, mau ngapain cobak dateng ke tempat wisata anak macem gini?

Itulah mengapa, pada awalnya saya sempat usul ke Mbak Yanti, “Mbak, apa mau pindah aja? Takutnya tempatnya ga sesuai sama ekspektasi selera mbak”
Namun jawabannya tentu sesuai dengan yang diprediksikan. Dimana Mbak Yanti menolak dan menjawab dengan nada datar, “Tanggung lah, udah sampe disini..”
Yowis lah, akhirnya kami pun memutuskan untuk segera ambil posisi di salah satu antrean tiket yang tersedia. Tapi tiba-tiba, terdengar suara ‘jegrekkkk’ yang cukup keras, tak jauh dari tempat kami berada.
“Apa itu?”, ujar saya bertanya-tanya. Sepersekian detik saya kebingungan. Sampai akhirnya saya sadar bahwaa LCD di hadapan saya kini telah mati sempurna.
Lhaaaa… Mati lampu???
Masuk dan Disambut oleh Mini Zoo

Beneran doong ternyata mati lampu, hahaha.
Saya tau itu karena selain dari layar yang mati, pembayaran non-tunai pun mendadak nggak bisa semua. Alias, ujug-ujug disuruh bayar cash deh coba.
Untungnya waktu itu Mbak Yanti udah prepare. Maka dibayarkanlah semua biaya dengan uang tunai. Meski jujur, feeling saya udah makin ga enak lagi si. Soalnya nganu, mosok tempat kayak gini ga ada backup plan in case of emergency?
Sekitar 10 menitan saya menunggu di depan kasir, belum juga ada tanda-tanda listrik akan menyala. Jadiii.. yowis lah, kami putuskan untuk lanjut masuk ke dalam saja.




Rupanya area pertama ini, berisi koleksi hewan-hewan seperti domba, beruk, kelinci, kura-kura dan masih banyak lagi. Dibilang koleksinya unik dan istimewa, nggak juga ya. Kebetulan saya sering ngajak Putri ke berbagai Mini Zoo, jadi sejujurnya lokasi ini masih terhitung biasa saja.
Malah, saya mempertanyakan kenapa titik pertama harus diarahkan ke mini zoo ini? Impresinya justru jadi kurang baik lho, soalnya nganu… bau banget!


Iya, meskipun secara kondisi kandang terhitung bersih. Tapi hidung mah nggak bisa bohong. Beneran emang baunya lumayan nusuk ke hidung, sehingga membuat saya tak kuat berlama-lama disini.
(Masih) Terkendala Listrik Mati

Saya kira, setelah berjalan mengelilingi mini zoo, seluruh kendala listrik yang terjadi di awal tadi sudah bisa teratasi sepenuhnya.
Ternyata nggak, ya.
Karena meskipun di Ibarbo Park ini ada mesin genset, tapi daya-nya nggak cukup untuk menyalakan semua wahana yang ada disini. Dan jujur, sampe di titik saya perasaan saya udah makin campur aduk.
Agak bete ajaaa gitu, sebab harusnya hal-hal seperti ini kan bisa masuk dalam pertimbangan sejak awal pembangunan. Kalo mati listriknya lama, mosok iya kudu nunggu listrik nyala dulu baru bisa beroperasi normal?



Untungnya gak semua wahana mogok beroperasi karena kendala listrik ini ya. Masih ada satu dua wahana bertenaga baterai, yang masih bisa beroperasi dengan normal. Salah satunya adalah Sepeda dino ini, hihihi.
Putri seneng betul, mendapati dirinya bisa naik dinosaurus betulan. Macem kayak yang di tipi-tipi.
Sayangnya gak bisa lama-lama. Karena durasi sepeda dino ini pun singkat saja, hanya kisaran 10 menit maksimal. hiyaaah
Aviary Terbesar Se-Yogyakarta!

Kendala listrik yang masih belum menemukan titik terang, memaksa kami untuk segera berpindah ke titik lain saja. Daripada hanya celingak-celinguk memeriksa wahana apa saja yang bisa beroperasi diantara sekian banyak wahana yang mati, sepertinya lebih baik jika kami mampir ke wahana yang tak butuh listrik sepenuhnya.
Yak.. kami putuskan tuk segera pindah menuju area Aviary. Yang konon katanyaaaa… ini tuh Aviary terbesar lhoo di Yogyakarta.
Benarkah demikian?


Well, bisa jadi. Karena sejak langkah kaki kami memasuki area aviary ini, koleksi burung yang ada di dalamnya memang cukup bervariasi. Mulai dari yang tidak bersayap seperti burung unta dan burung emu, hingga yang gagah perkasa seperti elang dan burung macau.
Tapi sejujurnya, kalau mau dibandingkan dengan aviary yang ada di Taman Mini, sebenarnya tempat ini masih kalah besar euy. Karena ya balik lagi, klaim mereka kan cuma terbesar ‘Se-Yogyakarta’, bukan Se-Indonesia.


Banyak Wahana Kecil nan Minimalis

Seiring langkah kami berjalan keluar dari area Aviary, nampaknya kendala listrik berangsur mulai teratasi. Beberapa wahana kini mulai beroperasi kembali, khususnya yang mengandalkan listrik untuk bisa menyala.
Saat itulah, saya menyadari bahwa ada banyak sekali wahana-wahana kecil yang tersaji di Ibarbo park ini. Cumaa ini tuh konsepnya macem tiket terusan gitu. jadi either kita beli paketan di awal, atau kita beli tiketnya ‘ala carte’ di masing-masing wahana.

Cumaaa yang saya perhatiin, wahana yang ada disini tuh rata-rata nanggung. Entah ukurannya kecil, atau memang fasilitasnya ya biasa aja. Seadanya aja.
Ada rumah hantu, tapi isinya full mekanik semua dengan path jalan kaki yang pendek. Ada wahana VR games gitu, tapi headsetnya cuma ada 5; padahal yang ngantri banyakkkkk…
Yaa gitu lah, semakin saya mengitari Ibarbo Park, semakin saya merasa bahwa tempat ini tuh terlalu dipaksakan. Seperti diminta untuk memuat semua hal, padahal kenyataannya yang dimasukkannya pun ‘sekadarnya saja’.
Paragraf Penutup

Jujur, kalo ditanya apakah saya akan mampir kembali ke Ibarbo Park. Jawaban saya nampaknya adalah… Nggak.
Meskipun mungkin, bad experience yang saya alami ini sedikit banyaknya disebabkan oleh kendala teknis. Tapi baik secara konsep maupun eksekusi desain Ibarbo Park ini, saya nggak bisa memahami keseluruhannya.
Rasa-rasanya kayak semuanya serba nanggung aja gitu. Ingin memasukkan wahana sebanyak-banyaknya, tapi akhirnya terjadi.. semuanya justru terasa hambar.
Yha, semoga aja saat tulisan ini dirilis, sudah ada banyak improvement yang terjadi di Ibarbo Park ya. Yang mungkin saja, bisa membuat saya tergerak untuk visit yang kedua kalinya.
Bekasi, 05 Mei 2026
Ditulis setelah anak dan istri tertidur pulas di kamar dan saya bisa fokusssss..




Saya tuh gak terlalu suka ke tempat yang ada park-park nya kayak gini, mungkin karena dah gak muda lagi wkwkk, tapi kalo buat anak”mah sebetulnya bagus aja sih ngenalin berbagai hewan, sayangnya ya serba nanggung gitu yaa, udahlah listrik mati, syukur si Mput gak protes, … Ni naek dinosaurus jalannya belok kiri belok kanan aja… Sampe liat si Mput kek betek gitu, kurang lama itu si dinonya …hihihi