Mencari yang Hijau-Hijau di Taman Mangrove PIK, Jakarta

Sejujurnya, akhir-akhir ini saya seringkali merasa malu tiap kali mengunjungi blog saya sendiri. Bagaimana tidak, di dalam judul blog ini dengan begitu percaya dirinya saya mencantumkan kata ‘Traveller’. Pada kenyataannya, hampir 1 bulan terakhir ini saya belum pernah bertualang kemana-mana. Even yang sekedar one day trip sekalipun.

Seperti biasa. Alasan-alasan klasik selalu saja muncul. Kesibukan kerja, freelance, serta beban sebagai ketua komunitas sepertinya telah banyak menghabiskan waktu serta konsentrasi saya. Sampai-sampai saya lupa, bahwa manusia pasti punya batas serta titik jenuhnya. Dan ketika saya tiba di titik itu, sepertinya hanya travelling lah satu-satunya solusi supaya bisa refresh kembali.

Tapi untunglah, bulan Agustus momen saya sedang bagus-bagusnya. Yap, tepat bulan ini, masa bakti saya sebagai Ketua TopCommunity Bekasi telah berakhir. Tak ada lagi tanggung jawab sebagai ketua, tak ada lagi beban untuk memajukan komunitas. Bahkan bukan cuma itu saja. Saya juga memutuskan untuk resign dari United Tractors, yang mana merupakan tempat kerja freelance saya dalam setahun terakhir. Sehingga selain tak ada beban komunitas, kini saya juga tak memiliki beban pekerjaan di hari weekend.

Freeedooom, i’m comiing πŸ˜€

 

———

 

Untuk merayakan momen kebebasan ini, maka saya pun berniat untuk berlibur dan mencari ‘vitamin hijau’ diluar Jakarta. Sebenarnya, teman-teman TopCommunity Bekasi saat itu sudah mengajak saya untuk berpiknik bersama ke Puncak Bogor. Akan tetapi, sebuah perselisihan kecil yang terjadi beberapa waktu sebelumnya membuat saya menjadi kesal, dan memutuskan untuk tidak ikut bergabung.

Ketimbang berkumpul tapi hati menggerutu, lebih baik saya menyendiri. Ehmm.. atau lebih tepatnya menyendua. Karena pada akhirnya, setelah berdiskusi singkat, akhirnya saya sepakat untuk pergi ke Mangrove berdua bersama pacar saya.

Dan yap.. di hari minggu pagi yang cerah itu, kami pun berangkat..

Jujur, sudah lama sekali saya tidak mengunjungi Taman Mangrove PIK ini. Terakhir kali saya berkunjung kesini adalah 3 tahun yang lalu. Saat itu badan saya masih kurus kerontang, belum ‘bengkak’ seperti sekarang ini. Untungnya akomodasi menuju ke Taman Mangrove tidak banyak berubah. Sehingga saya sama sekali tidak kebingungan, apalagi sampai nyasar.

Untuk berangkat ke sana, pertama-tama kami harus pergi ke Stasiun Bekasi terlebih dahulu. Jangan lupa siapkan saldo E-money sebesar 4.000 Rupiah untuk naik Kereta Commuter Line dengan tujuan akhir Stasiun Jakarta Kota. Setibanya di Stasiun Jakarta kota, kami beristirahat sejenak di salah satu restoran fastfood untuk membeli sarapan.

Perjalanan menuju mangrove ini cukup jauh dan menyita waktu. Jadi sebaiknya, kita perlu mengisi tenaga terlebih dahulu sebelum lanjut mengantri di Halte Transjakarta. Apalagi, di dalam Bus Transjakarta kita tidak diperkenankan untuk makan dan minumΒ  selama perjalanan. Daripada menahan lapar sepanjang jalan, mendingan sarapan dulu yak gaes πŸ˜€

Satu-satunya hal yang membuat kebingungan adalah hilangnya Bus Kota Terintegrasi Busway alias BKTB dari peredarannya. Tiga tahun yang lalu, untuk menuju ke PIK kita harus menumpang mobil khusus bernama BKTB tersebut, dengan biaya tambahan sebesar 2.500 rupiah. Namun sekarang, sepertinya sudah ada trayek Bus Transjakarta baru dengan rute PIK – Balai Kota, sehingga bis yang datang pun ukurannya lebih besar, dan tanpa biaya tambahan tentunya. Syukurlah πŸ˜€

Perjalanan dengan Bus Transjakarta menempuh waktu sekitar 45 menit. Itu dalam kondisi lancar ya, bukan ketika jalan raya sedang macet. Untungnya karena kami berangkat cukup pagi, tidak ada kendala yang berarti selama masa perjalanan. Satu per satu halte kami lewati dengan lancar, hingga akhirnya kami pun tiba di halte tujuan kami, Halte Buddha Tzu Chi.

Baca Juga :  Piknik Seru ke Seaworld & Gelanggang Samudera - Part 1

Setelah turun tepat di Komplek Gedung Buddha Tzu Chi, perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 15 menit menuju area pintu masuk Taman Mangrove. Jangan lupa untuk berhenti sejenak, dan berfoto ria dengan latarΒ  gedung Buddha Tzu Chi. Karena sungguh, komplek gedung ini sangat megah dan indah dipandang. Selain itu sepertinya gedung ini akan terus bertambah megah, karena masih banyak progress pembangunan yang sedang dilaksanakan.

Thina pun sepertinya tidak mau kalah eksis. Beberapa kali Ia berhenti dan minta tolong saya untuk memotretnya dengan latar Gedung Tzu Chi dari beberapa sudut. Wajar saja, sebagai seorang mahasiswi sastra mandarin, bagi Thina komplek gedung Buddha Tzu Chi bukanlah hal yang asing lagi. Ia sudah pernah beberapa kali berkunjung kesini, bahkan sudah pernah masuk ke salah satu acara di DAAI TV juga lho. πŸ˜€

Hmm.. perjalanan kesini sepertinya menjadi reuni kecil untuknya.

Sambil berjalan kaki, sambil kami berbagi obrolan ringan. Tanpa terasa, kami pun sudah tiba di depan pintu gerbang Taman Mangrove. Untuk bisa masuk ke dalam, kami hanya cukup merogoh kocek sebesar 30.000 Rupiah saja per orangnya. Tergolong cukup murah, untuk sebuah wisata ‘serba hijau’ yang semakin langka di daerah Jakarta.

Tapi harus diingat, kalau kalian mau mampir ke Taman Mangrove PIK ini, jangan sekali-sekali membawa Kamera Digital, Mirrorless, apalagi DSLR. Peraturan disini memang melarang keras kita semua untuk membawa segala jenis kamera digital, kecuali Kamera Smartphone atau Tablet. Agak unik memang, tapi sebaiknya kita ikuti saja. Jangan pernah mencoba untuk diam-diam mengantongi kamera. Karena jika ketahuan melanggar, maka denda sebesar 1,5 juta harus kita terima. Ih… Serem yak πŸ˜€

Oleh karena itulah, Kamera DSLR andalan saya pun harus saya relakan berdiam diri di rumah. Seluruh dokumentasi dalam perjalanan kali ini diambil dengan kamera smartphone saya, Lenovo Vibe P1.

Masuk ke dalam, kita akan disambut dengan berbagai jenis pepohonan yang rimbun. Setiap pohon yang ada disini hampir semuanya ditempeli dengan papan informasi, berisi nama, jenis dan deskripsi singkat dari pohon tersebut. Bagus banget untuk edukasi bocah bocah zaman now tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Fasilitas disini juga cukup lengkap. Mulai dari kantin, mushola, hingga toilet pun modelnya model duduk. Ada juga beberapa spot foto menarik seperti payung-payung mengapung, gazebo, jembatan hingga ayun-ayunan seperti foto di atas. Kalau pegal atau lelah berjalan kaki, bisa juga duduk di sejumlah tempat duduk minimalis yang tersedia. Pas banget untuk menikmati waktu sambil bersantai, dan membaca buku. (Introvert mode on)

Berjalan lebih jauh ke dalam, kita akan memasuki jalan setapak kecil yang dibentuk dari susunan pohon bambu. Jalan setapak ini dikelilingi oleh pohon mangrove di sisi kanan dan kirinya, sehingga meskipun pada hari itu cukup panas, tapi suasana disana masih terasa cukup rindang dan tidak terlalu panas.

Tempat ini sepertinya sangat cocok untuk romansa anak muda zaman now. Terbukti, ada cukup banyak pasangan yang berpapasan selama saya dan Thina berjalan kaki menyusuri jalan setapak ini. Dan ketika sedang beristirahat, sepasang kekasih menghampiri saya dan meminta tolong untuk mengambilkan foto mereka berdua.

Baca Juga :  Menyusuri Sawah Lope yang Ngga Ada Lope-lopeannya

Weleh weleeh.. ga di komunitas, ga di mangrove. Tetep aja saya saya jadi kang poto yak! πŸ˜€

Tapi tak apalah. Buat saya ini adalah panggilan jiwa, jadi dengan senang hati saya pun membantu. Dalam mengambil foto saya tidak pernah mau asal-asalan. Sampai-sampai, saya rela membungkuk cukup ke bawah demi mendapatkan foto yang bagus. Thina saja sampai geleng-geleng melihat kelakuan saya. Meski begitu tentu saja, hasil foto saya sangat memuaskan mereka berdua. Well, that’s kinda happiness for me.

Tentunya kami pun tidak mau kalah eksis. Mumpung backgroundnya lagi bagus, kami berdua pun tak mau melewatkan kesempatan untuk ambil foto bersama. Cuma bedanya, saya tidak mau menyusahkan orang lain. Jadi, kami mengambil gambar dengan menggunakan bantuan….. Tripod.

Dan inilah hasil jepretannya :

Prikitiw..

Sejujurnya, selain tumbuhan mangrove dan sejumlah spot instagrammable, tidak ada spot lain lagi yang bisa kita eksplorasi dari tempat ini. Semakin kita berjalan jauh ke dalam, pada akhirnya kita akan menemui sebuah pos kecil di jalanan yang buntu. Berhadapan langsung dengan proyek reklamasi yang saat ini sedang banyak dibicarakan orang. Sudah, hanya itu saja.

Jika kalian ingin mencari tempat wisata yang kaya akan spot-spot unik untuk dieksplorasi, maka Taman Mangrove tidak akan memberikan apa-apa. Beberapa orang yang saya temui di jalan pun terdengar sedikit menggerutu, ‘Apaan nih, begini doang?‘.

Tapi jika tujuan kalian adalah mencari tempat untuk refresh sejenak, membunuh waktu dengan menikmati angin di sela-sela pepohonan yang rindang, maka tempat ini hampir sempurna. Apalagi, akomodasi menuju Taman Mangrove sangat lengkap dan mudah diakses. Ketimbang menghabiskan waktu berpacu dengan jalur buka tutup di puncak, mungkin lebih baik kalian mampir kesini πŸ˜€

“Jadi jalan keluarnya gimana” Nganu, begini lho..

Oya, untuk pulang kembali menuju Bekasi, kita cukup menyebrang saja ke sebuah halte kecil di seberang Buddha Tzu Chi. Atau mungkin bukan halte ya, lebih tepatnya disebut Bus Stop. Karena ini bukanlah halte, melainkan sebuah plang kecil saja untuk menandai pemberhentian Bus Transjakarta.

Dan saat Bus Transjakarta tiba, kita akan masuk melalui pintu bus bagian depan, bukan melalui pintu samping. Beberapa saat kemudian, petugas akan berkeliling ke menghampiri penumpang sambil membawa mesin EDC. Jadi kalau kalian mau bayar cash, bisa.. bayar via e-money juga bisa. Unik juga yak, hehehe πŸ˜€

Petugas Transjakarta berkeliling membawa mesin EDC

Alhamdulillah, hari itu saya tiba di Rumah pukul 15.30. Hari masih cukup terang dan perjalanan benar-benar santai. Kereta Commuter Line pun tidak sepadat yang saya bayangkan. Cukup lengang dan saya masih bisa bersantai ria.

Well..Β  Selesailah sudah perjalanan saya hari ini. Semoga dengan cerita Saya ini bisa menambah list wisata one day trip bagi kalian pasangan muda-mudi yang kurang piknik.

 

Rincian biaya yang dihabiskan

Biaya penitipan motor : Rp. 5.000,-
Tiket PP Kereta : Rp. 8.000,-
Tiket PP Transjakarta : Rp. 7.000,-
Tiket Masuk PIK : Rp. 30.000,-
TOTAL : Rp. 50.000,- (Diluar jajan-jajanan) :p

 

Bekasi, 16 Agustus 2018.
Ditulis sambil mendengarkan iklan Youtube yang ga bisa di-skip

Fajarwalker

A Man with frugal style living. Sering dikira pelit, padahal cuma males keluar duit.

More Reading

Post navigation

42 Comments

  • Enaknya yang punya pacar, bisa berduaan. Kalau saya yang jomblo, aduh mendingan dikamar sajalah. Menyendiri.
    Lah itu larangan pakai kamera, seharusnya dijelaskan ya? Jadi penasaran amat, dendanya itu lo, seram amat.

    • Ehehehe yah namanya hidup ada plus minusnya om..
      Iya, ini memang larangan dari dulu om. Sepertinya yang bawa kamera itu dianggapnya sudah mau prewed.

  • Aduh Mas Fajar. Selalu saja saya merasa kurang setiap mengunjungi rumah ini. Keren-keren kisah and tempat2 yang dikunjungi… Saya kapan ya bisa asa waktu luang sekedar jalan-jalan menikmati alam? Hahahaa….

    • Weleh2 kenapa kok merasa kurang bang ancis.. Padahal saya yang seringnya merasa kurang lho, ehehehe.

      Hayuk atuh kapan2 kalo santai, kita berjalan2 ria πŸ˜€

    • Iya kak lumayan mudah diakses tempatnya, dan lumayan hijau juga..
      Sesekali perlu kesini, jangan ke mall terus hehehe

  • Kereeennn yak, di Surabaya juga ada kayak gini , tapi gak sekeren ini.

    Suka banget baca postingan kayak gini, jadi nambah referensi saat berkunjung ke suatu tempat πŸ™‚

    • Wah di surabaya namanya apa tuh kak Reyne. aku belum tau..
      Suatu saat nanti mungkin aku perlu coba juga yang di surabaya hehehe

  • Waktu saya main ke sini, saya ke spot pengamatan burung. Itu, bangunan kayu yang lumayan tinggi di tengah hutan. Kebetulan itu sekitar jam 10 pagi. Lumayan, sempat lihat burung-burung bangau nongkrong di atas pohon, seekor elang laut (tapi sayang bukan elang bondol khas Jakarta), dan burung-burung warna hitam seperti burung walet yang saya gak tahu namanya. Wah, saya betah berjam-jam di atas situ.

    • Wah iya enak banget tuh nongkrong di spot itu.. Sayangnya saya takut ketinggian, jadi naik ke atasnya aja sambil deg degan. Ehehehe

    • Entahlah kak.. ini aturan sudah lama sih. dari 3 tahun yang lalu juga begitu.
      Mungkin kalau bawa kamera dianggapnya mau prewed πŸ˜€

  • Dih, ngga usah malu-malu begitu belum sempat travelling .
    Yah, namanya juga masih terikat kerja ikut orang, mau ngga mau jadi kendala utama kalau mau travellingan.

    Sekarang banyak sih destinasi yang netapin beaya untuk membawa kamera DSLR, ada beberapa.
    Tapi kalo destinasi alam seperti ini juga dikenai beaya membawa kamera DSLar, aku baru sekarang.

    Sebenarnya sih menurutku, ngga perlulah memasang beaya setinggi itu.

    • Iya sih kak Himawan. Tapi namanya juga manusia, kadang sedih kalo liat temen-temen jalan kesana kemari, sementara saya ga kemana-mana.

      Aturan itu emang udah lama kak. 3 tahun yang lalu juga seperti itu. Harusnya denda 1,5 juta itu bukan untuk kamera ya, tapi untuk yang buang sampah sembarangan πŸ˜€

        • Iya kak. Aku tetap bersyukur saja walaupun liburanku kadang hanya ada di sela-sela waktu luang nan sempit. Yang penting bisa berliburrrr πŸ˜€

  • Wooww!! Jadi pengen ke Vik lagi…hampir 6 tahun tidak kesana padahal dari depok tempat tinggalku hanya beberapa menit…

    Wooww! Sudah banyak yang berubah yaa!! Sekarang malah semakin menarik ketimbang sebelumnya…

    • Ayo kapan kapan kesana lagi kak Satria πŸ˜€
      Senangnya sekarang akomodasinya sudah lumayan lengkap. Dan minggu biasanya jalanan tidak terlalu macet.
      Jadi ya so much better than puncak sih, hehehe

    • Iya, satu satunya yang menyebalkan adalah aturan kamera yang aneh itu kak.
      Untungnya ya gitu, hape jaman now sudah kinclong hasilnya, jadi ga sedih-sedih amat. Hehehe

    • Jangan sedih kak Risna. Semua pasti ada masa nya kok. Yang penting dibawa enjoy aja dan nikmati hidup.
      Yang penting adalah kitanya happy, bukan tentang tujuannya kemana πŸ™‚

  • Ulasan yang menarik. dilengkapi jepretan yang mendukung konten. Kreatif dan total. Itu kesan terhadap postingan ini, semoga hadirnya ulasan kreatif yang diberi judul Mencari yang Hijau-Hijau di Taman Mangrove PIK, Jakarta memberi solusi alternatif bagi warga DKI yang sepertinya merindukan taman hijau. Bisa juga rekomendasi bagi kami di utara Jakarta. Nice post mas

    • Alhamdulillah, semoga bisa cepat-cepat diindeks google juga yah Pak Karakabu. Hehehe
      Sebenarnya banyak destinasi wisata di Jakarta, cuma mungkin belum banyak ter ekspose saja mungkin ya.

  • Terkait tanggung jawab sebagai ketua komunitas saran dinikati saja peran itu, memang sulit tetapi jauh lebih sulit jika tidak dipercaya. Jadi saatnya diberi kepercayaan jawab itu dengan totalitas tanpa batas, maaf tidak mengurui, hanya sekedar memberi tanggapan. Lantas terkait payung yang dibawah “blog travel” buatlah skala prioritas dan sempatkan diri untuk refresing. Bukankah itu membangun produktifitas dalam karya? damai selalu

    • Alhamdulillah, saya juga senang dengan tanggung jawab sebagai ketua komunitas. Cuma ada kalanya kita pasti bosan dengan rutinitas yang gitu-gitu aja, pasti butuh travelling juga, hehehe.
      Benar sekali Pak, sekarang saya selalu mencoba menyisipkan travel dalam sela-sela kesibukan. Kalau kurang piknik, rasa-rasanya kita juga jadi ga produktif.

    • Iya benar, lumayan instagrammable tempatnya mas Didy.
      Cuma harus siapkan hape dengan kamera yang mumpuni ya, hehehe

  • TAPI KUALITAS KAMERANYA BAGUS YA?! Kirain hasil kamera digital lho itu! Weleh weleh. Ngiler nih Lenovo. Hahahahahaha

    Wah murah. Tapi karena itu Jakarta, kayaknya sesejuk-sejuknya ya tetep sejuk standar Jakarta ya?

    • Dibilang bagus banget sih ngga. Itu pas low light juga lumayan banyak noise nya kok, hehehe.
      TInggal pinter-pinternya kita ngedit aja di sotosop.

      Kalo masalah sejuk sih, ya benar sekali sejuk standarnya jakarta, ehehe. Kalau mau lebih sejuh lagi ya paling datang pagian.. πŸ˜€

    • Waduh, kenapa kak Farid kok bisa belum kesampean.
      Sekali-kali harus kesana.. aksesnya sangat mudah kok πŸ˜€

  • ditempat saya ada mangrove juga sih mas, tapi belum pernah saya sambangi..
    liburan depan deh mau kesana, hehehe..
    adem kayaknya nongkrong disana, apalagi di foto teman yang sudah kesana ada jembatan kayunya, cakep kayaknya. seperti jembatan bambu itu lho mas, yang ada di blog ini..
    spot foto banyak..
    untung saya belum punya kamera dlsr, jadi tidak takut kena denda kalau main kesini ya mas?? hehe..

    • Sebenarnya area-area di dekat mangrove itu harusnya panas, karena kan daerah pinggir pantai ya. Cuma karena banyak pepohonan, jadilah agak sedikit tertolong. Ga panas-panas amat πŸ˜€

      Soal DSLR, agak aneh si memang. Tapi aturan ini sudah diaplikasikan bertahun-tahun dan sepertinya ga akan ada perubahan dalam waktu dekat. Hiks.

  • Pada Mei 2017 saya pergi ke sini juga sama pacar–sekarang udah mantan. Ya, secara tidak langsung tulisan ini jadi membawa saya ke momen berduaan bareng mantan itu. Wqwq. Yang paling saya ingat: nyasar! Saya pergi menggunakan motor, sih. Enggak naik kereta terus menyambung kendaraan lain sepertimu. Udah mengikuti G. Maps, tapi entah kenapa bisa-bisanya salah jalan. Padahal tahun 2014 juga udah pernah ke Mangrove (untuk pertama kalinya). Ya, mungkin saya udah lupa jalannya. Atau terkadang payah dalam mengingat jalan. Sekarang pun rasanya kalau ke sana lagi bisa tersesat juga. XD

    Yang paling saya ingat, payung-payung itu dulu tahun 2014 enggak ada. Tahun 2017 mulai ada. Atau, pas 2015 udah ada? Beberapa tempat sekarang pasti ada payung-payung begitu, ya. Jadi semacam tren.

    Sekarang, gedung-gedung yang lagi dibangun di sekitarnya lumayan ganggu. Background fotonya jadi kurang enak dilihat. πŸ™ Hm, apalagi sekarang pengunjungnya rame banget. Mau ngambil satu spot foto aja kudu ngantre nunggu orang-orang selesai selfie. Haha. Sewaktu 2014 masih asyik karena sepi. Ya, saat itu banyak yang belum tahu tempat ini juga kayaknya, sih.

    Soal peraturan cuma boleh motret menggunakan kamera ponsel itu pun masih terkenang. Saya dan seorang teman udah bawa kamera digital dan DSLR, eh enggak kepake karena dikenakan tarif sejutaan. Terus ada seorang pengunjung yang nekat diem-diem nyimpen DSLR di tasnya. Pas lagi keadaan sepi, dia keluarin DSLR-nya dan mulai motret. Ternyata enggak lama setelah itu ada petugas yang nyamperin. Disuruh hapusin foto-foto yang udah dia ambil. Yang masih saya bingung, entah itu ada CCTV atau diem-diem ada petugas yang emang bertugas mengawasi dan nyamar jadi pengunjung.

    • Jadi mantan apa jadi manten nih? Ehehehe

      Aku kalo kesini ga pernah bawa motor. Karena menurutku udah nyaman banget sih transportasinya, jadi buat apa juga bawa motor sendiri, mahal capek πŸ˜€

      Nah yang DSLR itu kayaknya peraturan paling aneh deh emang. Esensinya apa coba? Malahan kan harusntya bisa jadi lahan promosi buat tempat wisatanya itu sendiri kalo hasilnya bagus-bagus… πŸ™

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *