Perdana Menjajal LRT Velodrome – Pegangsaan Dua

Ngapunten ya gaes, untuk sementara tulisan seri Yogyakartanya saya jeda dulu. Soalnya jujur aja nih ya, beberapa hari terakhir ini kesibukan saya lagi padat bukan main. Deadline demi deadline menanti, membuat energi saya terkuras cepat sekali.

Dan masalahnya, untuk bisa mengeluarkan draft tulisan lama, sesungguhnya butuh hampir energi 2 kali lipat. Karena mau gak mau, saya harus riset ulang lagi. Memanggil kembali memori lama, serta menjemput detil-detil cerita. Itu capek ya.

Maka izinkan saya untuk sejenak beralih ke draft tulisan terbaru, yang baru saja saya jalani beberapa waktu lalu. Momen ketika akhirnya, untuk pertama kalinya saya menjajal moda transportasi LRT cabang Velodrome. Sebuah jalur baru, yang cukup terisolasi dan belum terintegrasi dengan jalur kereta manapun.

Seperti apa ceritanya? Yuk, lanjut baca sampai selesai ya, jangan di-skip. Yang ketauan nge-skip, tetangganya motong kayu tiap minggu.

————————–

Perjalanan kali ini terjadi kala Saya dan teman-teman Blogger lainnya menghadiri undangan ke Kantor ASUS di The Kenshington Tower, Jakarta Utara.

Berhubung daerah Utara sana merupakan daerah yang jarang terjamah oleh saya, maka saya pun mengajak rekan Blogger lain untuk berangkat bersama-sama. Kami sepakat untuk berkumpul dulu di Stasiun Manggarai, sebelum berpindah ke moda transportasi lainnya.

Kala itu waktu sudah menunjukkan pukul 13.00, sementara acara dimulai pukul 14.00. Di Manggarai, saya baru bertemu dengan Mbak Mei (meimoodaema.com) dan Mas Achi (achihartoyo.id). Sisanya ada Mbak Lala (lalakitc.com) dan mbak Uthie (utieadnu.com).

Sesungguhnya saya pribadi sih santai saja ya. Nggak yang buru-buru juga.

Namun diluar dugaan, ternyata Mas Achi justru meminta kami untuk berangkat secepatnya. Takut telat katanya, mengingat Mbak Katerina ini cukup disiplin perkara waktu.

Dan berhubung saya ini memang buta arah, jadi yowes lah.. saya pun ngikut aja.

Dari Manggarai, kami berpindah ke Transjakarta 4D. Dimana bus ini akan membawa kami menuju Halte Velodrome, untuk kemudian berpindah transportasi lagi ke Kereta LRT jurusan Velodrome – Pegangsaan Dua.

Ribet banget yak pindah-pindah jalur begitu? YA MEMANG!

Sekilas Tentang LRT Velodrome

Secara definisi, LRT merupakan Light Rail Transit, alias kereta perkotaan dengan ukuran dan kapasitas yang lebih kecil dibandingkan dengan kereta pada umumnya. Dan berbeda dengan KRL, Jalur LRT itu biasanya merupakan jalur elevated, alias layang. Membelah jalan raya atau jalur-jalur di samping Jalan Tol.

Saat ini untuk LRT di Jakarta sendiri terbagi menjadi 2 pengembangan jalur ya. Ada LRT Jabodebek, dan satunya lagi LRT Velodrome. Kalau LRT Jabodebek, kebetulan saya udah lumayan sering pake. Soalnya jalurnya panjang, dan sudah terintegrasi juga dengan jalur KRL.

Sementara untuk LRT Velodrome, saat ini masih terbatas hanya sampai ke Stasiun Pegangsaan Dua aja. Aksesnya pun terisolasi, sebab tidak terintegrasi dengan jalur kereta apapun di dalam kota. Sehingga wajar saja, kalau penggunanya pun kalah jauh kalau dibandingkan dengan LRT Jabodebek.

Menariknya, pada awalnya proyek ini tuh ternyata dibangun untuk mendukung mobilitas Asian Games 2018 lho ya. Alias, dipakenya cuma demi keperluan internal aja. Pas lagi acara.

Barulah setahun kemudian, tepatnya Desember 2019, LRT Velodrome ini akhirnya resmi beroperasi dan dibuka untuk masyarakat umum.

Adapun untuk jalur LRT Velodrome ini, panjang lintasannya hanya 5.8 Km saja. Jumlah total stasiunnya cuma ada 6, dengan total estimasi waktu tempuh sekitar 13 menit.

Sementara tarif perjalanannya saat ini masih flat, hanya Rp. 5.000,- saja per sekali perjalanan.

Berlari-Lari Mengejar Kereta

Berhubung Mas Achi dan Mbak Mei ini adalah content creator senior, berjalan beriringan bersama mereka berdua tentu tak akan lengkap kalau tak sekalian nyuri-nyuri ambil footage di sana sini.

Dan benar saja. Sejak turun dari Transjakarta sampai berpindah dan tiba di gate menuju LRT Velodrome, rasanya entah sudah berapa kali kami terhenti sejenak untuk demi bergantian mengambil stock video.

Namun sayangnya, semesta tidak mendukung kami. Karena tepat kala langkah kaki kami memasuki area stasiun, saat itulah sebuah penguman terdengar jelas dari pengeras suasa.

“LRT Jurusan Pegangsaan Dua, akan diberangkatkan dalam 2 menit lagi..”

Waah, mendengar itu tentu kami semua pun langsung panik. Segera saja kami bertiga membatalkan semua proses pengambilan gambar, lalu menghambur berlarian menuju ke pintu kereta.

Saat itulah, sebuah pemandangan yang agak aneh tersaji depan mata. Sebuah pemandangan yang membuat saya kebingungan, dan bertanya-tanya..

Keretanya Kok Bantet Amat?

Sumpah deh, untuk saya yang sehari-harinya sering menggunakan LRT Jabodebek, begitu naik kereta di Velodrome ini langsung berasa culture shock-nya.

Bukan apa-apa, ini kok diliat-liat keretanya pendek betul ya? Cuma terdiri dari 2 rangkaian aja lho. Ini diadu sama Bus Transjakarta yang merek Zhong Thong aja kayaknya panjangnya gak begitu beda jauh ya.

Nganu, kereta LRT Jabodebek yang terdiri dari 6 rangkaian aja sering saya anggep pendek, apalagi ini cuma 2 doang? Definisi harfiah dari kereta ‘bantet’ yakkkk… hahaha

Meski begitu, saya lumayan takjub. Sebab, suasana di dalam kabin terasa sedikit lebih luas dan modern. Papan penunjuk informasinya cukup jelas, dengan lebig banyak layar LCD yang terpasang di beberapa sudut.

Sejenak mata saya terdiam, mencari-cari logo INKA. Namun sayangnya, tentu tak ada.

Wajar saja, karena memang khusus untuk jalur Velodrome ini, kereta yang digunakan bukan buatan INKA. Melainkan, buah produksi dari pabrikan Hyundai Rotem asal Korea Selatan.

Sementara Mbak Mei dan Mas Achi duduk, saya memutuskan untuk tetap berdiri saja. Menikmati suasana perjalanan di dalam kabin, sembari mencoba menangkap detil-detil kecil di dalam kereta mungil ini.

Secara desain, jujur saya lebih suka kereta buatan korea ini ketimbang INKA. Desainnya terasa lebih modern, dan terasa lebih baik dari sisi build quality-nya.

Not to mention. Kalau kita perhatikan, LCD informasi di kereta buatan INKA, itu sekarang udah banyak yang mulai berubah warna, atau bahkan ada yang sudah rusak. Sementara di kereta ini, semuanya nampak masih utuh dan mulus, tanpa ada kerusakan apapun.

Lalu perbedaan lainnya, untuk area masinis di kereta ini dibuat tertutup sepenuhnya. Berbeda dengan kereta buatan INKA yang terbuka lebar, dan hanya dihalangi oleh pintu plastik tipis saja.

Sementara kalau untuk teknologi, keduanya sudah sama-sama berjalan tanpa Masinis alias Autopilot ya.

Meski begitu, ada satu hal yang membuat saya merasa kurang nyaman. Yakni, kursi yang tersaji. Alih-alih menggunakan bahan kain seperti yang terpasang di kereta buatan INKA, kursi di kereta ini malah menggunakan bahan plastik sepenuhnya.

Untung ni perjalanannya bentar doang ya. Soalnya kalo buat perjalanan jauh, punggung saya bakal terasa nggak nyaman banget si, asli.

Tiba di Stasiun Boulevard Selatan

Perjalanan menuju stasiun tujuan kami tak berlangsung lama, hanya butuh hitungan menit saja. Wajar, karena memang selisihnya hanya 3 stasiun. Itupun, jarak antar stasiunnya kan dekat-dekat.

Dari stasiun Boulevard 2 ini, rencananya kami hanya perlu turun sebentar, lalu berjalan kaki menuju Kenshingtown Tower.

Oya, selama perjalanan, saya bisa bilang kabinnya lebih kedap. Tak banyak suara yang bisa menembus ke dalam kabin, sehingga suasana di dalam terasa lebih tenang. Namun anehnya, dari dalam kereta justru mengeluarkan suara berdengung selama perjalanan.

Entahlah fungsinya untuk apa, mungkin supaya gak hening-hening amat kali ya. Takut penumpangnya pada keenakan dan ketiduran berjamaah, hahaha.

Padahal mah, kalau pengen suasana kabinnnya gak hening-hening amat, mending setelin aja ya lagu qosidahan. Menfaatnya jelas : suasana jadi lebih meriah, relung qolbu pun tersentuh dengan mudah. hahahahaha.

Ada Apa Lagi Berikutnya?

Meskipun jalur velodrome ini masihlah sangat sepi, dan bahkan terasa agak useless. Tapi sebenarnya, jalur ini punya potensi yang lebih baik lagi di masa mendatang.

Apalagi kalau melihat roadmap pembangunannya, dimana untuk tahap berikutnya, jalur ini direncanakan akan terhubung ke stasiun Manggarai. Meliputi stasiun Rawamangun, Pramuka BPKP, Pasar Pramuka, Matraman dan bermuara di Manggarai.

Nah, kalau nantinya bisa sampai bisa terintegrasi dengan jalur KRL begini, saya yakin sih penggunanya akan naik secara drastis. Soalnya yaaa.. memang itu yang selama ini dicari.

Dijamin deh, nantinya gak bakalan lagi deh ya kereta bantet, yang cuma terdiri dari 2 rangkaian, hahahaha.

Wis pokoknya, doakan saja ya. Semoga pembangunan LRT fase berikutnya ini bisa cepat selesai!

Bekasi, 13 Maret 2026
Ditulis setelah menyelesaikan semua deadline tulisan di hari yang sama.


Yuk, bantu penulis agar makin semangat membuat tulisan baru.
Kamu bisa melakukan transfer secara langsung ke rekening BCA : 6871338300.

Untuk info ratecard dan ajakan kerjasama, silahkan klik tombol berikut :

Fajar Fathurrahman

A Man with frugal style living. Sering dikira pelit, padahal cuma males keluar duit.

More Reading

Post navigation

48 Comments

  • LRT yang ke Velodrome – Kelapa Gading aku belum pernah coba… Tapi kalau yang Bekasi – Harjamukti saya dah sering banget.

    Iyaa yang arah kelapa gading memang lebih pendek yaa mas alias bantet Haahaaa…

    Kalau untuk kursinya baik LRT atau MRT memang dari bahan plastik, malah aneh saya juga? Atau mungkin ngirit biaya kali yee, bagusan kursi Comuterline lebih membal Haahaaa!!

    • Nah, kurang lebih MRT pun sama mas. Kayaknya satu pabrikan ya? Kalo yang LRT jabodebek, kayaknya sih masih mending yaa kursinya ada bahan2 empuknya. Jadi kalo lagi capek, bisa sedikit meredakan pegal, hehehe

  • Lebih kurang sama bahagian dalamnya dengan LRT di Malaysia. Dulu semasa tinggal di kota Kuala Lumpur dan masih bekerja, itulah transport utama. 🙂

  • Kerusi yg diperbuat dari plastik tu mungkin tujuannya bagi mudah dicuci jika ada kekotoran 😀 utk short distance okay lagi tu. Kalau long distance guna kerusi keras camtu sakit punggung

    • Bisa jadiiii mbak Mazni. Memang kalau kursi plastik begini, jadinya lebih gampang dibersihkan ketimbang kursi dari bahan kain. Tapi duh… kalau perjalanannya 1 jam ke atas, rasanya remuk ini punggungku mbak, hahahaha

  • Wkwkwk banteett itu uga yang aku pikirkan kok LRT-nya cuma dua gerbong pas papasan sama LRT itu di jalan. Aku belum pernah naik siiih, kemarin situasi gak meungkinkan mana hujan kan.
    Moga kapan2 bisa menaikinya juga.
    Wah kursinya sama kek MRT yaa plastik semua.
    Aku berharap pembangunannya segera nyambung hingga ke Manggarai, pasti udah surga transum banget tu buat warga Jabodetabek 😀
    .

    • Berasa mirip kayak kereta wisata yang dulu di Taman Mini mbak, hihihi. Pendek betul abisan.
      Betulllll, kalo udah sampe manggarai, kayaknya aku pun gak bakal ragu si buat sering nyobaik transum yang satu ini, hehehe

  • Terima kasih atas panduannya. Bagian yang menjelaskan tentang akses integrasi dan fasilitas di Stasiun Pegangsaan Dua sangat membantu buat saya yang jarang ke daerah sana. Ternyata sekarang makin mudah ya bepergian di Jakarta kalau kita paham rute-rute LRT seperti ini. Tulisan ini sangat berguna buat jadi panduan perjalanan praktis tanpa harus bawa kendaraan pribadi.

  • Lengkap dan terperinci maklumat yang Fajar kongsikan. Sepanjang saya naik pengangkutan awam di Malaysia samada ETS, LRT, MRT dan komuter saya tidak pernah terfikit hendak siasat buatan negara mana setiap train tersebut. Selepas ini saya akan cuba tengok bila naik train. Tempat duduk di LRT dan MRT memang besi atau plastik sahaja. Mungkin sebab difikirkan untuk perjalanan jarak pendek barangkali ya jadinya tidak perlu kerusi yang begitu selesa dan memudahkan kerja pembersihan kalau ada tumpahan, dsb (ini spekulasi KSarie sahaja).

  • beneran berasa ngikut lari-lari ngejar LRTnya wkwkwkkw. salut siiihh sama perjuangan pindah moda berkali-kali demi konten dan undangan. ditunggu lanjutannya, semoga next trip ga perlu ada acara sprint dadakan wkwkwkwk

  • Velodrome tuh yang buat balap sepeda itu kan yaah??
    Kayanyaaa…dulu pernah ada yang mau konser dimarii niih.. NCT.
    Tapi lupa deeh.. jadi atau engga.. karena kalo NCT Dream baru di GBK sama JIS.

    Kereennzz nya Jekarda iniih gini deeh…
    MashaAllaah.. city never sleep yang menawarkan banyak transum modern yang memudahkan.

    Aku yakin banget… Kalo tinggal di Jakarta, kebiasaan naik ojek online ku bisa berubah total. Lebih happy bisa naik transum beginiih..
    Harga terjangkau, nyaman, aman dan in syaa Allah…anti macet.

  • Wah saya justru baru tau ini, ya iyalah pan saya bukan warga jabodetabek wkwkkk, tapi emang keliatannya bantet depannya ya, mirip roti tawar tapi yah gitu-gitu geh dari korsel pan, koq tapi ngapa bantet ya masih terus bertanya hihi…

  • Bener pisan. Menulis cerita perjalanan yang sudah lama berlalu effortnya luar biasa lho ya. Haduh, aku merasakan banget ini hahahaha. Semangat yak semangat.

    Btw, ngomongin LRT Velodrom. Pas peresmian kebetulan ku masih tinggal di Matraman Jaktim. Jadi awal-awal ada, aku tuh sudah merasakan enaknya naik LRT buntet ini hahhaha. Pas pandemi, habis pandemi pernah juga naik cuma emang tipe yang selama ada temennya, ikut aja nggak terlalu memperhatikan rute.

    Seneng deh, kalian berangkatnya duluan. Jadi tidak kejebak hujan. Aku sama mbak Utie, kejebak hujan di halte LRT. Kami pesan gocar dengan jarak 3 menit doang ke kantor ASUS wkwkwk. Kocak sekali emang, tiba-tiba deres.

    Tapi ku setuju banget kalau rute LRT Velodrom ini potensial, banyak perkantoran. Maybe kedepannya akan lebih ramai lagi. Di jam berangkat kerja sempat aku rasakan sih lumayan ramai. Jakarta enak ya, lengkap banget transportasi nya. Terintegrasi, dari Manggarai lanjut Tije, dari tije lanjut LRT. Ajib sekali lah. Enaknya LRT tuh punya jalur sendiri, bebas macet, cuma tarifnya emang rada lumayan. Selebihnya okelah, nyaman, apalagi kalau dapat duduk yekan.

    • Ahaha, emang capek banget mbak. Tapi kalo gak dikeluarin, rasanya macem ada beban moril gitu. Macem ada yang ganjel di kepala, hiks.

      Aku baru tau lho mbak lala dulu pernah tinggal di Jakarta. Lebih deket dan enak juga dong ya mau kemana-mana jadinya.
      Sebenernya daku mau bareng2 aja mbak. Cuma ya nganu, mas achie ngacir betulll. Sementara daku ini kan buta arah, jadi mohon maaf yaaaa…

      Nah iya, kalo perkara potensi, sebenernya LRT Velodrome ini oke banget. Tinggal nunggu tembusan sampe manggarai kelar si.

  • Sayang banget yaa LRT Velodrome ini jadi kurang termanfaatkan. Sedikiit penumpangnya sepii.saya tuh asli gak tau jalur² transum di Jakarta baik itu MRT, LRT, KRL hehehe..makanya suka pusing kalau ke Jakarta mesti ada yang anterin…tapi seruu yaa naik KRL di Jakarta itu berpacu dgn waktu..kek Mas Fajar yang tadinya mau ambil² foto video jadi gak jadi karena 2 menit lagi kereta berangkat. Kebayang hecticnya

    • Iya banget mbak. Tp mungkin orang-orang pun pada wait and see ga sih ya. Nunggu trayeknya ‘sempurna’ dulu sampai manggarai.
      Ahahaha, iya lagi mbak. Emang berasa kejar-kejar waktu banget kalo disini.

  • Senengnya temen-temen di sekitaran Jabodetabek yang transportasi umum nya sudah sangat lengkap dan banyak yang sudah terintegrasi. Next, mudah-mudahan LRT Velodrome ini segera juga terintegrasi ke stasiun tersibuk di jekardah, which is Manggarai dan pastinya nanti ga buntet lagi kali, ya kalau sudah terintegrasi karena perkiraan penumpangnya akan lebih banyak

  • Membaca ulasan Mas Fajar soal pengalaman naik LRT rute Velodrome – Pegangsaan Dua ini rasanya seperti melihat sisi lain Jakarta yang lebih modern, rapi, dan manusiawi di tahun 2026.

    Benar kata Mas, naik transportasi publik itu bukan cuma soal pindah tempat, tapi soal “kualitas perjalanan” yang nggak bikin kita stres karena macet atau polusi.

    Aku juga sangat sepakat dengan poin Mas Fajar soal kenyamanan stasiunnya yang terasa futuristic tapi tetap ramah buat pejalan kaki. Meskipun rutenya mungkin belum sepanjang moda transportasi lain, tapi integrasi dan ketepatan waktunya itu lho yang bikin kita merasa waktu kita benar-benar dihargai.

    Mksh bgt sudah merangkum pengalamannya dengan visual yang jernih dan informasi yang praktis. Ini beneran jadi penyemangat buat warga sekitar atau siapa pun yang ingin mencoba gaya hidup lebih “hijau” di ibu kota. Sukses terus untuk eksplorasi transportasi publiknya, Mas!

  • Alhamdulillah saya sudah sering naik LRT Velodrome ini, Mas. Jadi seringnya saya salah kira hahaha. Jadi kan sering itu berlaku naik LRT dn Transjakarta 1 rupiah. Nah, dengan semangat 45 saya jalan. Eh.. Tenyata 1 rupiah itu yang LRT Jakarta. ya LRT Velodrome ini. Sedang yang LRT Jabodetabek tarif normal hahaha. Saya biasa dari stasiun akhir nai transjakarta lagi. Jadi lanjut jalan-jalan lagi hehehe

    • Nah itu saya pernah denger juga pak. Waktu itu udah semangat 45 banget mau cobain jugaaaa..
      Eh ternyata LRT yang dimaksud itu LRT daerah jakarta doang, alias velodrome ini, heuheu.

      padahal mah, LRT Jabodebek kan part of jakarta juga yaaaa

  • Oh LRT ternyata kursinya plastik ya, kukira tuh kayak busa yang dilapisi kulit gitu.

    Nggak kebayang tuh panasnya kalau perjalanan jauh. Mana lemot ya..

    Saya ke JKT dulu hanya sekali naik transportasi umum dari jakarta ke Bogor, lupa juga apa LRT apa MRT ya. Hehehe… Cuma karena lenggang jadi nggak kerasa bantet juga pinggang..

  • Kamu tuh kalau nulis emang selalu berhasil membawa rasa hadir dalam ruang yang suasananya. Saat baca aku membayangkan kamu celingak celinguk memperhatikan hal-hal detailnya.

    Sampai bahan kursinya pun dikau mention. Membayangkan kalau jauh itu punggung kayak apa gitu ya hihi. Beneran baru tahu banget loh ini ada LRT hanya dua gerbong. Langsung kepikir, gesit banget tuh jalannnya ha ha ha.

    Anw wajahnya Mei ceria banget, aku langsung mikir pasti itu saat kalian ketawa ngakak saat buru-buru mengejar kereta. Aaah seru banget.

    • Aduh, makasih lho mbaaak. Daku sampe terbang ini, ihihihi.
      Lebih ke aneh aja sih mbak. Kok isooo kereta sependek ini, hahaha. Tapi mungkin ya balik lagi ke pengunjungnya gimana, kalo dikit mah itungannya rugi juga.

  • Daku naik LRT Velodrome ini pertama kali barengan komunitas Kompasiana, sebelum pandemi menyerang negara Api hahah.

    Unik perjalanannya karena nggak terasa dari Velodrome eh udah nyampe aja di ujung, tapi kami balik lagi sampe ke Velodrome lagi wkwkwk.

    Memang beda sama yang LRT Jabodetabek, di bagian kursinya lebih membiru, tssaahh, dan terasa agak lamaan jalannya karena rutenya yang panjangan

  • Ngakak banget disebut kereta bantet… wkwkwk 😀 Ya, gimana nggak bantet ya kalo rangkaiannya cuma dua. Mana bentuk kereta LRT juga imut kalo dibandingin sama MRT atau CommuterLine..

    Nggak sabar semoga cepet nyambungnya ya dari Veledrome sampai Manggarai. Jadi makin bermanfaat itu jalur LRT… Jujurly aku pun belum pernah sama sekali naik LRT loh ahahaha… Penasaran tapi belum ada keperluan buat ke mana gitu naik LRT… 😀

    • Ahahaha, bisa dibilang ini tuh Zhong Tong versi kereta mbak. Bantetttt benerrrrr
      Nanti kalo udah sampe Manggarai, aku pun bakal cobain sih mbak. Nganu, ini sebenernya ryutenya asyik betulll

  • sekrng update transportasi LRT , duh bener mas faj aku teh suka ngiri. Lengkap bener TU nya KRL , LRT , MRT ygn aku pernah naik cuma MRT hiks , da dibg gak ada . Apa aku mesti pelesir gitu ya ke kota sebelah hehe

  • Saya senang sekali dengan lrt Jakarta ini akan tetapi sayangnya jalurnya tidak lewat ke rumah ataupun area-area tempat saya biasa berkegiatan tapi kalau misalnya ada kesempatan saya selalu naik mudah transportasi ini dan saya sudah tidak sabar menunggu perpanjangan jalurnya sampai ke Manggarai supaya nanti bisa saya gunakan sehari-hari

  • Walau kadang merasa ribet karena harus pindah pindah jalur, transportasi umum di Jakarta ini uda juara banget lhoo
    Ada banyak moda tranportasi umum
    Pas banget buat masyarakat urban
    Aku belum cobain MRT dan LRT sih
    Semoga someday pas ke Jakarta bisa cobain

  • Kudu banget dibookmark nih tulisannya. Kadang pengen jalan jalan naik LRT tapi kalau belum dipelajari betul-betul jalurnya suka khawatir nyasar. Karena bawa 3 bocil kadang ada aja serunya di jalan.. kalau masih blank bisa panik berjamaah..

  • Aamiin… Semoga pembangunan LRT jalur ini segera ada titik terang dan bisa rampung dalam waktu dekaatt. Beneran bakal ngaruh banget dan bakal bermanfaat sih kalau bisa sampai Manggarai dan nyambung sama kereta. Masalahnya, nanti Manggarai juga tambah puenuh, wkwkwk. Tapi yang pasti beneran bakal ngebantu pengguna kendaraan umum supaya gak ribet naik turun terlalu banyak sih yaa.

    • Nah, aku kebetulan ga pernah masuk manggarai pas lagi rush hour. Jadi gak tau chaosnya seperti apa. Tapi overall udah cukup luasss si. Moga aja nantinya dengan kehadiran LRT ini, bisa mempermudah yaa.. dan kayaknya sih lokasi transitnya gak di stasiun manggarai persis, hihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *