Lunch with a View di Lembah Panyaweuyan, Majalengka

Tak terasa, momen liburan saya bersama keluarga di Kampung Halaman Kuningan telah berakhir. Di hari terakhir ini, kami tentu langsung bersiap sedari pagi. Membungkus segala barang bawaan serta oleh-oleh yang akan dibawa kembali menuju ke Bekasi.

Lho, udah liburannya? Kok dikit amat si tulisannya?

Nganu, memang demikian adanya ya teman-teman. Berhubung kami bertiga datang cukup terlambat (baru pulang H+1 lebaran), alhasil selama di Kuningan tak banyak tempat wisata yang bisa kami kunjungi.

Jika dirangkum, liburan ke Kuningan ini hanya menghasilkan 3 tulisan saja, yakni :

Sedikit banget si ini hitungannya, hiks. Sebagai perbandingan, saya cuma mampir sehari ke Blok M aja bisa dipecah jadi 3 tulisan lho biasanya. Ini ada 3 harian di Kuningan, malah ga begitu banyak bahan yang didapat, heuheu.

Tapi untunglaaah si adik bungsu saya, Farid, itu punya sebuah rencana yang brilian. Di perjalanan arus balik ke Bekasi ini, alih-alih mengambil jalan lurus dan masuk Gerbang Tol Ciperna, kami justru banting setir menuju kota lainnya terlebih dahulu : Kota Majalengka!

Yap! Alih-alih terburu-buru pulang, kami sekeluarga memilih untuk bersantai dl barang sejenak. Mampir makan siang di tempat dengan pemandangan yang cantik, udaranya sepoi nan menggelitik, serta hamparan hijaunya super estetik. Ciaelah gitu aje pake rima, wkwkwk

Nama tempat ini adalah, Lembah Panyaweuyan!

Sayangnya, perjalanan menuju ke tempat ini tidaklah mudah. Sebab….

Jalanan Naik Turun, Meliuk Kanan Kiri

Perjalanan dari Desa Padamenak menuju Lembah Panyaweuyan itu sebenarnya ga yang jauh-jauh amat. Cuma menempuh jarak sekitar 40 km aja lho. Menyusuri Jalan Utama sampai ke Cigugur, lalu lanjut terus sampai ke arah Kadugede, Haurkuning, Waduk Darma, Cikijing, daaaan… Majalengka.

Sekilas kalau dilihat sih, rutenya simpel-simpel aja lah ya. Tapi ngapunten, perjalanannya tak semudah yang dibayangkan.

Pertama, karena kami berangkat di momen arus balik Lebaran. Sehingga meskipun jalanan ini bukanlah jalanan utama, tetap saja ada beberapa titik kemacetan yang menahan perjalanan kami.

Dan yang kedua, beberapa jalanan yang kami lewati ini berada dalam area perbukitan, sehingga kontur jalannya benar-benar tak menentu. Apalagi pas udah deket-deket ke Panyaweuyan tuh deh ya.

Ntar tau-tau ada tanjakan ekstrim, trus disambut sama turun curam. Belok kanan, belok kiri.. pokoknya perut berasa kayak dikocok-kocok euy.

Semakin mendekat ke lokasi Lembah Panyaweuyan, mata saya langsung disajikan deretan sawah bertumpuk nan hijau yang menyegarkan mata.

Rasa syukur akhirnya menyelimuti diri saya, karena akhirnya saya datang di waktu yang tepat!

Ya, buat kalian yang belum tau. Sekitar tahun 2018 alias 8 tahun lalu, saya pernah kesini berdua saja bersama si Adik Bungsu. Namun sayang sekali, kami tidak beruntung. Kala itu kami berdua datang tepat ketika musim panen sudah selesai, sehingga bukit nampak sangat kering dan gersang.

Dokumentasi tahun 2018. Buluk banget keliatannya -_-

Syukurlah, kali ini nggak zonk lagi ya ges.

Harga dan Tiket Masuk

Sebuah gerbang portal kecil menjadi pertanda kami telah tiba di lokasi Lembah Panyaweuyan. Saat melewati portal ini, seorang petugas langsung menghampiri kami dan menghitung jumlah anggota keluarga dengan cara mengintip dari jendela.

Harga tiketnya adalah 12 ribu per orang. Putri belum masuk hitungan. Jadi untuk total 5 orang dewasa, kami perlu membayar sebesar Rp. 60.000,- saja. Keitung masih murah lah yaa.. Nggak yang berasa naik banget harganya.

Walaupun kalau saya inget-inget, di tahun 2018 lalu kayaknya tiket masuknya masih gratis deh. Cuma kena biaya parkir Rp. 5.000,- dan bayar lagi Rp. 5.000,- kalau mau ke Puncak Teraseringnya.

Tapi yang perlu jadi concern adalah, jalanan di Panyaweuyan ini cukup kecil euy. Tidak ada area parkir khusus, sehingga mobil akan parkir di pinggir jalan.

Jadi kalo kalian kesini bawa mobil yang rada bongsor macem Toyota Innova atau Mitsubishi Pajero, siap-siap aja lah ya. Parkirnya repot!

Untungnya adek saya waktu kecil suka saya kasih tontonan Fast Furious. Jadi skill markirin mobilnya udah setara sama Vin Diesel, hihihi

Dari sini pemandangannya udah ajib. Ijonya berasa!

Warung Sederhana, View istimewa

Mobil telah terparkir sempurna, kami pun lanjut berjalan menuju sebuah warung kecil tak jauh dari sana. Warung yang kalau dilihat sekilas, bentuknya sederhana saja. Tiang pasaknya terbuat dari batang bambu, sementara atapnya tersusun dari lapisan asbes.

Teteh penjualnya masih muda, saya tebak umurnya sekitar 25-an saja. Di hadapannya tersaji berbagai jenis snack dan jajanan mulai dari Pop Mie, kopi sachet, air mineral, dan masih banyak lagi.

Sebenarnya, di sepanjang jalan Panyaweuyan ini masih ada banyak pilihan warung yang tersedia. Beberapa bahkan sudah berbentuk bangunan permanen, yang juga menyajikan kursi lesehan untuk bersantai.

Tapi meski begitu, kami tetap memilih warung ini. Karena apa?

Nganu, ya karena pemandangannya itu lhooo.. Juara!!

See? Berbeda dengan warung-warung lainnya, warung ini tuh posisinya bener-bener menghadap langsung ke arah perbukitan. Gak terhalangi sekat atau jalanan apapun.

Udah gitu, lantai bagian ujungnya pun tersusun dari deretan kayu yang menjorok keluar. Sementara untuk mejanya, tipis memanjang. Sehingga membuat setiap sudut pemandangan bisa dinikmati secara sempurna.

Kalo udah begini, tinggal kurang apa coba?

Pesen makanan doooongs, hihihi

Saking cakepnya, berasa kayak hasil generate AI gak si? hihihi

Saya memesan semangkuk mie kuah, serta segelas es teh nan segar. Rasanya tentu tak ada yang istimewa, selayaknya mie dan teh pada umumnya saja. Namun dengan sajian pemandangan seindah ini, rasanya kerupuk melarat pun akan terasa seperti kerupuk bangsawan, hahahaha.

Sayangnya saya lupa mencatat, berapa persisnya harga jajanan disini. Tapi gak yang overprice kok. Mie instan kalo gasalah masih kisaran 15 ribuan. Masih keitung murah banget ges, apalagi jika pakai estimasi harga tempat wisata.

Naik ke Puncak Terasering

Kami terlalu bersemangat menyantap makanan berselimut pemandangan, sampai-sampai lupa kalau Mamake (Nek) sudah menghilang dari posisi terakhirnya. Rasa-rasanya kami tak akan sadar, jika saja Putri tidak berteriak-teriak mencarinya.

“Papih, Nek dimana? Nek dimana papiih…”,

Rupa-rupanya, Mamake sudah ngibrit duluan dari lokasi warung tadi. Menaiki deretan tangga yang berwarna-warni untuk mencapai puncak tertinggi di Lembah Panyaweuyan ini. Namanya Puncak Terasering.

Wawa dan Thina berjalan naik, namun langkah mereka banyak terhambat. Sepertinya pemandangan bagus membuat mereka berhenti berkali-kali untuk mengambil gambar. Wis ah, saya putuskan tuk tinggalkan mereka saja.

Tadinya si saya berniat untuk jalan kaki perlahan saja sembari menuntun Putri. Tapiii ni bocah kan langkahnya kecil banget ya, satu langkah saya kayaknya setara 5 langkahnya Putri, hihihi.

Pada akhirnya, saya memilih untuk menggendong Putri aja sampai ke puncak.

Capek?

Gausah ditanya. Lihat aja dah, tangganya macem gimana.

Yang selanjutnya terjadi adalah, perjuangan. Menaiki tangga ini satu per satu, langkah demi langkah, sembari menggendong bocil yang beratnya sudah mencapai 14 kilo ini.. rasanya bukan main.

Sesampainya di atas, saya langsung megap-megap tarik nafas.

Nganu, ini ga ada tempat fitness yang mau endorse di saya gitu? Saya kayaknya butuh fitness deh, ihihihi.

Untungnya, lagi-lagi pemandangan yang tersaji melebihi ekspektasi.

Abaikan perut gembul saya please.

Surprisingly, di Puncak Terasering ini juga ternyata ada warung lhooo. Mirip sama warung di bawah tadi, cuma kali ini jajanannya lebih banyak dan lengkap. Udah gitu, beliau pun menerima pembayaran via QRIS pulak.

Kami memesan segelas air mineral dingin untuk menghilangkan dahaga. Sempat terpikir untuk membeli jajanan lainnya, namun urung terlaksana.

Kami duduk disini hanya sebentar saja, tak betah berlama-lama.

Bisa tebak karena apa?

Yak, lagi-lagi karena ada yang ngerokok. Dengan santainya menghirup dan menghembuskan asap rokoknya ke segala arah, manalah duduknya pun persis di samping kami pulak.

Alhasil, saya pun langsung bicara ke Putri dengan suara tinggi. “Putri, kita pindah yuk.. Disini bau asap rokok. Bahaya buat kesehatan kamu!”

Seakan mengerti, bocah itu pun menjawab, “Oh bahaya ya pih? Oke pih..”

Tersinggung? Bodo amat! wkwkwkwkw

Shalat Dzuhur (Not) with a View

Beruntung, tak jauh dari warung tadi sayup-sayup kami melihat ada Gedung Mushola dari kejauhan. Agak menurun memang, tapi setelah kami perhatikan lagi, jalur yang dilalui ini nantinya akan membawa kami kembali ke parkiran mobil lagi.

Mumpung belum shalat Dzuhur, kami putuskan mampir kesana untuk melaksanakan Shalat Jamak Taqdim.

Dan melihat posisinya yang masih berada di atas area perbukitan, tentu saya langsung membayangkan vibes ibadah shalat with a view dooongs. Kebayang langsung dah gimana adem dan syahdunya.

Sayangnya rencana itu gagal ges, sebab ternyata arah kiblatnya membelakangi pemandangan, hihihi.

Paragraf Penutup

Overall, saya memberikan nilai 9/10 untuk Lembah Panyaweuyan.

Setiap sudut di tempat ini rasanya menyenangkan untuk dijamah. Warung makannya ada banyak, dan pemandangannya pun luar biasa indah. Harga tiketnya pun, menurut saya pribadi masih masuk golongan murah sih.

Jika ada kesempatan di lain waktu, saya pasti akan berkunjung ke tempat ini lagi!

Kalau kalian gimana ges? Pernah mampir ke Lembah Panyaweuyan juga ga? Atau malah punya rekomendasi tempat yang mirip kayak Panyaweuyan?

Coba ceritain di kolom komentar ya!

Bekasi, 26 April 2026
Ditulis sepulang dari kerjaan freelance yang mengharuskan berangkat jam 5 subuh.


Yuk, bantu penulis agar makin semangat membuat tulisan baru.
Kamu bisa melakukan transfer secara langsung ke rekening BCA : 6871338300.

Untuk info ratecard dan ajakan kerjasama, silahkan klik tombol berikut :

Fajar Fathurrahman

A Man with frugal style living. Sering dikira pelit, padahal cuma males keluar duit.

More Reading

Post navigation

40 Comments

  • Aku tu kalo ngeliat pemandangan sawah gunung hutan itu pasti bawaannya pengen ga mau balik aja, bikin betah banget, engk tau kenapa, hawa”nya seger tapi bikin ngantuk kena angin sepoi “wkwkk, jabar dan Jateng kayaknya masih banyak desa atau kampung yg cakep” sii, aku kepingin suatu hari maen ke desa yg banyak sawah gini, mau ngeliwet an bareng”pake alas daon pisang… Nikmat banget rasanya.

    Nah makan mie instan dengan view cakep gini sih gak bakalan nolak, jangan lupa minumnya teh botol sosor …hihi.. Siapa yg ga bakalan brenti moto kalo emng seindah ini, Wah sayang ya pas sholat justru ngebelakangin view nya, lah pan kalo solat ge gak bakalan liat mas, lagi khusyuk pan wlwkkkk.. canda mas Fajar , anak sama bapake kalo udah senyum kembaran ya, senyum sumringah

    • Wkwkwk samaaa mbak, aku pun kemaren tuh sampe kebablasan, saking santainya disana. Tau-tau ditegor sama kedua orang tua perkara udah kesorean. Padahal masih jauh itu jalan ke Bekasi.
      Aku tuh disana pesen 2 mangkok mbak wkwkwk, saking nikmatnya. Cuma ini aku fotoinnya 1 aja. Takut dibilang maruk wkwkwk

  • Berarti harus diinget2 yaaa , bulan2 berapa aja dia hijau begini, biar ga zonk dpt yg gersang ..

    Cakeeeeeep dah pastiiiii. Sebenarnya warung2 dan bisa lihat pemandangan begini depan mata, ingetin aku Ama danau Toba. Di sekelilingnya itu ya warung mirip begini, trus view menghadap danau. Bedanya di situ. Yg ini kan menghadap lembah hijau .

    Bisa betah sih aku mas kalau duduk2 sini sambil makan Indomie pedes . Harga juga ga mencekik , biasanya kan banyak yg digetok mentang2 turis , trus peak season lebaran pula

    • Betul mbak, kudu dicek ulang lagi udah lewat belum masa panennya. Soalnya kalo nggak, gersangnya parah wkwkwk.
      Untuk makanan dll, jujur menurutku masih oke banget mbak. Es tehnya seger, harganya gak mahal. Makanya pengen banget dah kapan-kapan kesini lagi.

  • Aku membayangkan jalan menuju Bukit Panyaweuyan Majalengka itu seperti naik mobil jeep di Bromo, penuh kelokan, hehehe. Dengan harga tiket 12ribu dan bisa menikmati pemandangan seindah itu sih aku iiyes banget ya kalau harus berangkat liburan ke Bukit Panyaweuyan Majalengka berkali-kali. Gak rugi malah dapat pengalaman serunya. Dan lokasi menuju masjidnya juga bagus banget sih mas. Nemu aja destinasi wisata sebagus dan seindah Bukit Panyaweuyan Majalengka

  • Fotonya gak berasa generate AI kok, soalnya agak ngeblur dikit khas jepretan tangan sendiri hehe. Dan tetep ya menu ya mie. Memang cocok dengan suasana yang sejuk seperti itu makanannya agak hangat.
    Viewnya bikin betah di Lembah Panyaweuyan, Majalengka ini. Healingnya bisa bikin tenang. Ya bisa lah sejenak gak mikirin soal dar der dornya global yang oiya dampak ke bbm naik, minyak goreng naik, bahkan sampe harga tahu pun naek huhu

    • Hahaha, bagian mie nya masih keliatan agak kurang rapi2 gitu ya, gak perfect kayak hasil generate AI.
      Betul mbak Fen, disini kalau bisa nikmati waktu sampai senja, kayaknya pemandangannya pun akan luar biasa istimewa. Sayang, waktu itu daku gak bisa berlama-lama. Soalnya kudu lanjut balik ke Bekasi lagi.

  • Majalengka! Aku jadi inget punya temen (yang satu-satunya) dari Majalengka Mas. Saat kenal temenku itu aku tu sudah penasaran sama kota yang namanya Majalengka. Sempat redup, terus inget lagi gara-gara tulisan ini.

    Kalau aksesnya aja udah mendaki gunung lewati lembah ala Ninja Hatori kaya gitu, biasanya pemandangannya bakal luar biasa cakep. Syukurlah bukan lagi musim panen jadi kebayar ya naik turunnya, hehe.

    Satu ciri khas lagi dari tempat-tempat seperti ini tuh, tempat nongkrong atau makannya emang sederhana tapi viewnya luar biasa memanjakan mata. Apalagi mata kita nih anak-anak Jabodetabek yang diisi penuh kemacetan jalanan, huhu..

    Dan yang selalu, selalu tidak ketinggalan, itu menu yang juga selalu aku pesan Mas, indomie sama teh anget, haha, ya kadang teh manis sih.

    Itu untungnya musholla, coba kalau masjid, bisa-bisa nanti ada berita, “salat ied with the view,” hehe

    • Cus, ayok meluncur ke Majalengka mbak. Banyak pilihan tempat wisata asyik, hihihi.
      Ahahaha, betul mbak. Tapi andaikan disini beneran dibangun masjid, agak susah juga si mbak. Soale sekelilingnya kan sawah, udah gitu melandai pulak.
      Mosok ntr sujudnya sambil miring-miring wkwkwkwk

  • Mau komen yg di linggar jati tapi liat thumblen nya sawah hehe ah udh mampir sini
    Suprisingly hehe kalau kata mas faj mah , alih2 pulang dibelokin dulu berkunjung ke lembah panyaweuyan aku juga kalau disuruhbnilai 9/10 emng ssbagus itu sih tapi pas makan kepanasan ga ade putri ?

  • Walau aku tiap hari terbiasa hidup di kampung dan ke sawah, lihat sawah di desa lain, apalagi provinsi lain tuh rasanya adem gt. Tenang aja lihatnya. Apalagi di lembah Panyaweuyan ini. Jadi pgn ke sana jg.

    Dan tetap, meski menunya cuman mie instan dan teh hangat, menyantapnya sambil ngelihat bukit permadani nan hijau gini tuh rasanya damai gt. Rasanya masih ada tumpuan utk bs makan krn bnyk petani msh menanam padi dan tanaman lainnya.

    Kita bs rehat sejenak sblm balik ke rutinitas di ibu kota. Yg terbiasa dgn jalanan macet, gedung tinggi serta polusi. Tentu, tempat seperti bakalan dikenang lagi.

    • Nggih mas Didik. Ini memang karena konturnya perbukitan, jadi terasa lebih nikmat dan syahdu ajaa gitu ya. Rasa-rasanya mau berlama-lama sampai sore sih, andai tidak terburu-buru harus kembali ke Bekasi.
      Ya, kembali ke Ibukota, rasanya langsung seperti bertransisi lagi, kembali ke deretan gedung dan besi-besi pancang tinggi, hihihi

  • Walopun harus latihan cardio dang engap tapi terbayarkanlah dengan keindahan paripurna ini ya kang. cuaca cerah dan pemagdangan bisa clear telihat. ada persawahan dan kebun teras siring yang indah seperti gambar dulu yes hehehe.
    Sayang udaranya sedikit tercemar karena ada asap rokok, sungguh menyebalkan. semoga sadar nih perokok kalau asapnya ngga cuman membahayakan diri tapi juga orang lain.
    Tapi destinasi wisata ini beneran ciamik yaaaa….

  • Keren pisan ini sih view nya. Meski pernah tinggal di Majalengka, ku belum pernah explore Lembah Panyaweuyan. Maybe karena dulu masih kicik apa gimana deh.

    Meskipun sepanjang jalan, lumayan menantang karena banyak tanjakan dan meliuk-liuk tetapi bersyukur ya pas sampai ke Lembah Panyaweuyan indah view-nya dan biaya HTM nya pun murce pisan.

    Nah, pemilihan warung nya ciamik. Beneran with a view sangat ini sih. Meski makan mie sekalipun, rasanya beda, pemandangannya premium banget.

    Wah, pas momen nanjak lumayan juga itu tangga. Moga-moga segera dapat endorse fitnes dah ya. Hmmmp lagi dan lagi di buat nggak nyaman sama perokok. View cakep, udara mantep ekh kudu terpapar asap rokok.

    Untungnya, ada fasilitas mushola juga ya. Jadi bisa salat dan ngadem di sana. Rekomen sih buat dikunjungi.

    • Mungkin dulu belum jadi tempat wisata mbak. Karena aslinya ini tuh ya area persawahan dengan konsep terasering. Sy makan aja di bawahnya tuh ada petani-petani lagi kerja, hihihi

      Amiiin mbak, moga abis ini daku dapet kontak dari brand fitness lah ya. manatau dikasih tantangan turun berat badan geh, aku siap wkwkwk

  • Seruuuu banget baca cerita ini karena kayak lagi ikut road trip bareng keluarga, ditambah drama jalanan berkelok, berhenti buat makan, sampai naik tangga sambil gendong anak segala. Aku mah malah paling suka bagian warung sederhananya, karena justru itu yang bikin Lembah Panyaweuyan jadi unik. Tempatnya simple, menu-nya juga simple, tapi pemandangannya best banget. Definisi makan indomie kuah with the view.

  • Sebelum ke sini sepertinya saya harus mengonsumsi jahe-sereh-kunyit selama 7 hari dulu
    Supaya lutut dan tumit tidak sakit, haha
    Sudah excited dengan pemandangan terasering akan sayang kalau terganggu dengan lutut yang kurang oke diajak bertualang
    Aaaah aroma sejuknya kebayang meski teriknya matahari gak bisa bohong

  • itu tangganya kayaknya panjang banget yaa. saya kayaknya nyerah aja kalau disuruh naik ke puncak terasering ini soalnya lututku bisa ngilu banget. tapi salut lho sama mamake yang semangat banget buat naik sampai ke atas teraseringnya

  • Wah ingat pernah baca tulisanmu yang jauh-jauh ke sana eh gersang alhamdulillah ya sekarang berhasil sebanding dengan rutenya yang menegangkan.. cantik banget pemandangannya..

  • Mau komenin foto bukitnya yang gersang, kirain hutan digundulin, ternyata habis panen yaaa. Semoga nanti penuh ijo2an lagi 😀
    Jujur aku baru sekali keknya libur lebaran tu ke tempat wisata, itu pun cuma satu tujuan haha, soalnya dah capek duluan 😀
    Owalah ternyata sebelumnya udah pernah ke lembah panyawuyan ini yaa. Buat lidahku susah nyebut namanya haha.
    8 tahun berlalu, akhirnya pengelolanya sadar kudu narikin tiket masuk ya haha, demi menjaga kelestariannya juga dan bayar orang buat bebersih kali yaa. Asal harganya masih wajar sih maklumin aja, udah jarang hal gratisam di dunia yang fana ini haha 😛
    Puncak terasering lumayan juga ya anak tangganya, untung habis ngos2an nemu warung, walaupun ketemu perokok nyebelin huhu.
    Itu musholanya meskipun sederhana tapi keknya terawat apik resik yaa. Nyaman banget sholat di ketinggian perbukitan. View-nya cakep sejauh mata memandang.

    • Nggih mbak, kalo yang oreng kering gitu, emang udah kelar masa panen, hihihi.
      Selama liburan memang enaknya rebahan ya. bersiap sebelum kembali ke realita, hihihi
      Harganya oke lah menurutku, gak kemahalan juga. Sebanding juga sama fasilitas tangga dengan pegangan permanen dan beberapa bangunan yang kini tersedia.

  • Aku selalu percaya kalo rute Jawa Borot ini memang mashaAllah..
    Tak terduga pissaan!!

    Tapi alhamdulillah yaa.. sesampainya di Lembah Panyaweuyan, suasanya adeemm dan bikin betaah.. Putri tersenyum lebarr.. semuanya senang.
    Dan mas Fajar bisa olahraga gratis tanpa perlu endorse endorse.. hihihi..

    Berasa lagi syuting keluarga Cemara yaa, mas Fajar?
    ((sambil nyemilin opak))

    Btw, indomie dan kopinyaa.. sangaatt estetikkk sekaliihh..
    MashaAllah..

    • Betull, banyak hidden gemsnya mbak. Andai kita mau eksplor lagi pelan-pelan, pasti ceritanya gak ada habis-habisnya.
      Duh, pengennya sih teteup ya ada yang endorse, minimal gratis fitness gitu hihihihi.

      Cuss mampir kesini ya mbak Len!

  • Lembah Panyaweuyan (kalo bukan orang Sunda mah susah nih pronounciationnya, wwkwkwk)

    Aku kagum bgt dengan keindahan terasering bawang yang ikonik itu, terutama perpaduan antara jalanan yang meliuk tajam dengan latar belakang Gunung Ciremai yang megah. Weeehh, best view dah!

    Informasi waktu terbaik untuk berkunjung agar tidak ‘zonk’ karena musim panen sangat membantu buat yg merencanakan liburan ke sana. Tapi jangan lupa juga, cuaca lagi panas-panasnya nih belakangan, konon Majalengka salah satunya yg suhunya tinggi. Take care yaak!

  • Wah sebagai yang dulunya kecil tinggal di Majalengka kok aku malah baru denger bukit Panyaweuyan daerah mana ya Mas? kepo..ke Majalengka paling hanya ke tempat Bapak sisanya napak tilas bertemu dengan teman sekolah :p

    Jadi penasaran nanti tanya ah Panyaweuyan dmn? bagus juga puncak Teraseing-nya ya meski menuju ke sini jalanannya sempit 😀 tiketnya masih murah jga hanya 12k saja

  • Pulang ke bekasi lewat Panyaweuyan memang pilihan yang Berani hahahaha…..
    apalagi musim lebaran, jadi pastinya menggunakan banyak stok keberuntungan.
    Untung ga macet di panyaweuyannya, untung ga musim panen, untung ga hujan…

  • Keliatan banget yaa perbedaan perbukitan yang habis panen sama yang masih hijau merekah semacam mengelus dada melihat bukit gundul tanpa pemandangan sama sekali 😉
    The reak ngemie with the view sie ini dan aku bayangain area perbukitan pasti udara sepoi2 dah paling cocok memang mie rebus tambah telor hehehe….
    Eeee aduhhh itu tangganya curam amat yaaa…mayan itu pastinya ya naik berapa puluh anak tangga sambil gendong 14kg tapi sepertinya semua terbayarkan saat melihat pemandangan di puncak naya yaa,,,

  • Masyaallah indah banget pemandangannya mas. Suka banget deh. Apalagi perginya bareng keluarga.

    Makan mie instan dengan pemandangan kaya begitu sih mantap tenan. Panas nggak tapi siang-siang gitu?

    Harga tiketnya juga masih terjangkau ya. Walaupun parkirnya agak susah, tetap worth it buat dikunjungi.

    Jadi kangen Batu kalau lihat pemandangan begini. Walaupun di Batu viewnya kebun sih bukan sawah, tapi sama-sama indah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *