Menikmati View Indah Menghadap Laut di Teras Kaca, Pantai Nguluran

Setelah melalui sekitar 6 jam perjalanan, akhirnya kami tiba juga di Yogyakarta. Seketika, hembusan angin segar dan aroma nostalgia langsung mengepung kehadiran kami. Rasanya seperti Adhitia Sofyan tiba-tiba hadir di hadapan kami seraya menyanyikan lirik lagu termahsyurnya.

Terbawa lagi langkahku kesana.
Mantera apa entah yang istimewa?
Kupercaya selalu ada sesuatu di Jogja..

Ya, lagi dan lagi. Diantara sekian banyak destinasi luar kota yang tersedia, mengapa ujung-ujungnya kembali ke Jogjakarta ya?

Ah, memang sebegitu ngangeninnya ya tempat ini.

Dan untuk mengawali perlancongan hari pertama di Jogja, kami memutuskan untuk pergi jauh meninggalkan area Kota. Lalu berangkat sejauh 40 km ke arah Gunung Kidul, yang terkenal dengan ketenangan dan keindahan alamnya.

Tujuan perdana kami adalah, Teras Kaca. Sebuah tempat wisata yang menyajikan pemandangan laut dari ketinggian. Menghadirkan visual yang memanjakan mata. Dan sesuai namanya, di tempat ini juga ada sebuah teras besar dengan lantai kaca. Sebuah spot legendaris yang membuat kita bisa berfoto santai dengan latar laut nan biru.

Seperti apa cerita detilnya? Yuk.. lanjut scroll. Jangan di-skip ya. Yang ketahuan nge-skip, saya sentil lak-lakannya. Hahahaha

Selamat Datang di Teras Kaca

Perjalanan kami dari kota hingga tiba, memakan waktu sekitar 1 jam saja. Syukurlah, perjalanan lancar dan tak banyak drama. Putri anteng selama di mobil, dan saya pun terhindar dari mabok perjalanan.

Mungkin efek dari supir travel yang membawa mobil secara halus, sehingga jalanan menanjak nan berliku tak terasa mengguncang badan. Good job pak, saya doakan karir bapak semulus cara nyerit bapak, hehehe

Ketika akhirnya tiba di area parkir Teras Kaca, jujur kami semua langsung merasa kebingungan sejadi-jadinya. Sebab, sejauh mata memandang, tak terlihat ada tanda-tanda kehidupan. Kosong, dan sunyi yang tersaji di hadapan mata.

Bahkan, ketika menghampiri loket penjualan tiketnya pun, hening. Gak ada satupun orang yang berjaga disana.

Menolak menyerah, kami pun memutuskan untuk langsung saja berjalan masuk ke area dalam. Dan benar saja, akhirnya nampak sejumlah orang yang terlihat sedang bersiaga di posisinya masing-masing.

Rupanya mereka semua ada disini, di dalam area kantin yang terbuka ini. Kami pun langsung menghampirinya, melakukan pembayaran tiket masuk serta mendengarkan penawaran paket wisata dari mbak yang berjaga.

Adapun Mbak yang berjaga sepertinya bukan karyawan, melainkan pemilik langsung tempat ini. Soalnya nganu, agak bedaaa gitu lho cara dia dalam berbicara dan menyampaikan penawaran. Luwes betul, macem belut, hahaha

Kalau tidak salah, tiket masuk kesini adalah Rp. 15.000,- per orang. Terdengar murah memang, tapi itu belum termasuk biaya untuk berfoto-foto di berbagai spot yang ada di tempat ini. Dan tiap tempat, rate-nya beda-beda. Makanya dibuat lah itu kan yaa paket-paket di dalamnya.

Sayangnya waktu itu saya ga sempet foto sih, hiks. Tapi kalaupun ada, mungkin udah gak relate lagi kali ya. Soalnya kan udah setahun berlalu.

Ciaelah, nama plangnya gaya betul.

Sembari menantikan Mbak Yanti dan Thina mengurus pembayaran, saya mengajak Putri untuk berkeliling sejenak. Menikmati hamparan rumput hijau yang menyegarkan, yang kemudian bertemu dengan view pantai nan indah.

Teras kaca ini pertama kali dikenal pada tahun 2018, dan menjadi salah satu pelopor tempat wisata berfoto dengan latar pemandangan laut pertama di daerah Gunungkidul.

Sekarang eksistensinya memang sudah agak meredup, sudah tak seramai dulu lagi. Dan salah satu penyebabnya, karena ada pesaing yang terang-terangan muncul persis di sampingnya. Ada yang tau apa?

Yak, HEHA Ocean View, hahaha.

Ini tempatnya bener-bener samping-sampingan ya. Cuma kepisah sama pager doang. Untuk beberapa orang, mungkin akan memilih ke HEHA saja, yang kayaknya sih secara desain arsitekturnya lebih modern.

Tapi kalo saya sih.. wis, ngikut kemana Mbak Yanti membawa saja. Soalnya ini kan, traveling edisi terima beres, hehehe.

HEHA Ocean View juga, kayaknya lebih mahal sih.

Berfoto di Teras Kaca, Bikin Kaki Gemetar

“Puut, ayo kita siap-siap buat berfotooo..”, teriak Thina memanggil Putri. Pertanda bahwa mereka sudah menyelesaikan registrasi dan berjalan menyusul kami.

Sekonyong-konyong, kami langsung diajak untuk berfoto di spot foto utama, yakni area Teras Kaca.

Jurangnya kagak maen-maeeeen

Awalnya sih saya belaga santuy aja ya. Berjalan mendekat, lalu melangkahkan kaki di atas lantai kaca yang berada di pinggir jurang ini. Tapi baru setengah langkah, kaki saya langsung terasa dingin. Batin saya bergidik sampai ke ubun-ubun.

Saya merinding, sejadi-jadinya. Tubuh saya seakan memberi alarm untuk keselamatan diri, secepatnya menjauh dari area kaca itu. Apalagi, kaca bening itu menampilkan pemandangan yang sangat mencekam. Jurang setinggi puluhan meter, yang seakan siap untuk menerkam saya yang telah diselimuti rasa ngeri dalam sanubari.

Yaah, begitulah. Resiko punya trauma dan takut ketinggian. Nggak bisa deh yang namanya ketemu ketinggian ekstrim begini. Padahal mah begini doang ya, apalagi kalo ikut bungee jumpeng gila macem Mbak Fanny. Bisa-bisa langsung tremor sebadan-badan kali yak, hahaha.

Jadi otomatis, saya ambil jobdesk sebagai fotografer saja.

Jujur, kalo urusan berfoto di ketinggian begini, saya akui Thina dan Mbak Yanti lebih berani si. Mereka mah santai aja jalan dan berfoto di pinggir railing besi. Sementara saya hanya bisa menatap dari pinggir, ketakutan dan merinding sendiri, hahaha

Duh, punten pisan. Ini kalo akrofobia tuh bisa diobatin ga sih? *penasaran

Berpose Ala-Ala di Pintu Kemana Saja

Spot foto lain yang kami coba, adalah pintu kemana saja ala-ala doraemon ini. Sebenarnya ini lebih aman ya, ketimbang teras kaca yang tadi. Tapi dasar sayanya udah kadung males, wis ah saya biarkan saja mereka bertiga yang inframe.

Putri juga Alhamdulillah santuy banget. Nggak ada takut-takutnya bener dah ni anak. Kucing dipeluk, uler diangkat, sekarang foto ketinggian ekstrim pun dijabanin. Benih-benih cewek jeger ini, hahaha

Secara foto sebenarnya bagus bangett si ini. Cuma kok, saya ngerasa ada yang kurang ya. Kayak kurang seru ajaa gitu, latar belakangnya polos banget, cuma memunculkan langit biru nan polos saja.

Saya jadi kepikiran, gimana jadinya yaa kalo sekiranya pintu kemana saja ini bener-bener bisa membawa kita kemana-mana?

Nah, untungnya ada AI. Jadi langsung saja saya coba bikin dia kreasikan. hasil akhirnya seperti ini :

Gimana, lucu gak? hehehehe

Berayun di Pinggir Jurang Pantai

Seakan belum puas dengan wahana teras kaca yang bikin jantung saya hampir copot tadi, kini Thina malah mau mencoba wahana lain yang tak kalah seramnya.

Ya, kali ini dia mau coba ayunan. Tapi ayunannya nggak yang biasa-biasa bae, alias tentu saja berada di pinggir jurang. Udah gitu, ekspresinya keliatan bahagia banget pula. Macem gak ada takut-takutnya lah dia.

Kalo saya pribadi sih, cukup nge-jokes aja lah yang di pinggir jurang. Jiwa dan raga saya mah jangaaaaaan. Ora sanggup, hahaha

Kalau kalian bertanya, ini aman apa nggak? Jawabannya ya tentu aman ya. Karena sebelum naik, kita akan dipasangkan sebuah sabuk pengaman untuk menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Setelah sabuk itu terpasang, nantinya kita akan diayun-ayun dengan tidak manusiawi oleh mas-masnya. Dorongnya kenceng banget, sampe jauh ke belakang.

Saya sih, mau seaman apapun, tetep ogah ya. Mau dikasih duit sepuluh juta terus dijadiin tangan kanannya Bahlil pun, saya tetep gamaoooo!

Versi videonya bisa liat di postingan mereka berikut ini ya :

Ada Villa yang Besar dan Nyaman

Berhubung keberanian saya untuk berpose di pinggir laut ini hanya setipis tisu Paseo, akhirnya kami semua memutuskan untuk bergeser ke tempat lain.

Yah, sebenarnya selain tiga spot foto yang saya sebutkan barusan, masih ada beberapa spot foto lain yang bisa dicoba. Salah satunya adalah meja berputar seperti berikut ini :

Hasil akhirnya cakep banget sih yaa sebenernya. Tapi kalo saya yang disuruh duduk disitu, bukannya berpose santuy dan ceria, saya kayaknya bakal diam mematung kayak patung pancoran. gemeterrr wey!

Menariknya, ketika kami kesana, sedang ada proses pembangunan sebuah villa baru. Villa ini cukup besar dan nyaman, jadi pas untuk dijadikan tempat kumpul-kumpul keluarga besar. Udah gitu, ada kolam renang yang menghadap langsung ke laut pulaaak!

Sumpah, kalo yang ini saya sih mauu bangettttt.. Asyik lho, berenang sore-sore, sambil menatap sunset dari kejauhan.

Tapi sayang, karena proses pembangunannya kala belum selesai, maka villanya pun belum dibuka untuk umum. Cuma berhubung saya sempet agak SKSD sama mas-mas penjaganya aja, akhirnya kami pun diizinkan untuk masuk-masuk dan berfoto di area dalamnya.

Mas-mas penjaganya. udah belasan tahun beliau disini lho.

Tapi kalo sekarang sih, sepertinya villanya udah jadi yaaa. Bisa di-booking, dan siap menawarkan pengalaman menginap yang sempurna. Kalo ga percaya, coba aja deh liat postingan instagram berikut ini :

Cakep banget kaaan?

Nah, berhubung sebenarnya stock foto lama ini sudah terasa agak expired, maka saya pribadi sih menyarankan mending cek langsung kesana. Karena menurut saya sih, sudah ada cukup banyak perubahan dan penambahan spot baru yang bagus dan menawan.

Overall, saya memberi tempat ini nilai 7.5/10

Mungkin, kalau ada kesempatan, saya akan mampir lagi kesini. Eh apa mending ke HEHA Ocean View aja yang ada sebelahnya? hahaha.

Kalo menurut kalian gimana? Coba dong komentar.

Jakarta,10 Maret 2026
Ditulis di Zamra Coffee. Hanya beberapa meter dari rumah Mbak Fanny.


Yuk, bantu penulis agar makin semangat membuat tulisan baru.
Kamu bisa melakukan transfer secara langsung ke rekening BCA : 6871338300.

Untuk info ratecard dan ajakan kerjasama, silahkan klik tombol berikut :

Fajar Fathurrahman

A Man with frugal style living. Sering dikira pelit, padahal cuma males keluar duit.

More Reading

Post navigation

39 Comments

  • Jogja itu emang selalu ngangenin, sepertinya ia punya mantra sendiri. Konon kalau Bali itu, siapa yang datang kesana memang di panggil dan di pilih sendiri oleh tanah Balinya, nah bisa jadi Jogja juga sama kali ya hihi.

    Kalau menurutku sih mampir dua-duanya hihi, sekalian nginep di sana kan jadinya lebih banyak waktu. Daaaaaan soal fobia, menurutku bisa banget asalkan mau atau tidak dan sabar prosesnya, karena akan butuh kesabaran dan kemauan besar untuk terlepas dari sesuatu apalagi itu hal yang membuat takut.

    Tetapi ada untungnya sih dirimu ada fobia, jadi ada kang foto yang punya lebih banyak waktu untuk mengabadikan perjalanan kalian waktu itu itu hihi.

    • Betul mbaaak, gatau kenapa rasanya selalu ada alasan buat kembali ke Yogya.
      Tapi ini Alhamdulillah lho mbak, fobiaku udah agak mendingan. Dulu mah ya, sekedar nyebrang JPO aku aku udah merinding wkwkwk. Mungkin kalo sehari2 biasa disana, lama2 juga terbiasaa.

  • Cantik sungguh tempatnya. Tapi saya juga rasanya, kurang berani untuk bergambar di pelantar kaca dan buaian yang dipasang harness itu. Takut ketinggian, Mas Fajar.

  • Masss.. aku lihat ayunannya bikin merinding. Wkwkkw… Soalnya di rumah mertua ada ayunan dan di bawahnya sungai. bisa ditebak lah aku nyemplung. Untung airnya nggak deras.. Sejak itu takut lihat ayunan cem gitu..

    Tapi ya lihat view dan cuacanya, beneran cakepp. Aku nggak suka laut,tapi kalau cuacanya nggak terik pasti gass mantai.. Apalagi tempatnya secakep ini. Masukin dulu ke travelist buat ke Jogja..

    • hahahaha, pun begitu dengan saya mbak. Deg-degan terus rasanya, padahal yang naiknya Putri, bukan saya lho. Nah, mungkin mbak ada trauma masa lalu juga kali ya. Makanya efeknya bertahan sampai sekarang.
      Gasss mbak, meluncurrrr

  • Kaan.. Jogya memang istimewah… Banyak tempat wisata yg emang jaraknya cukup jauh dari pusat kotanya, tapi viewnya ituloh cakep “tapi kalo di suruh jalan di kaca.. hihi enti dululah, saya juga termasuk penakut ketinggian, apalagi jalan di kaca, takut retak ooii, tapi enggklah ya, udah pasti di sesuaikan, nah yg meja muter itu ge keren deh, cuman kalo saya muter” keq mau gumoh gitu mas wkwkkk

    • Kalo gunungkidul mah memang istimewa mbaaakk. Lengkap betulll pokoknya, banyak tempat wisata yang bagus dan murah meriah pula.
      Semenjak ada kasus jembatan kaca pecah, saya jadi makin gak berani mbak.

  • widiiihhhh diriku jadi berasa ikut diajak road trip ke Gunung Kidul. Memang Jogja itu punya “mantera” ya, sejauh mana pun pergi, ujung-ujungnya balik lagi ke sana.
    Jujur, diriku salut sama keberanian Thina dan Mbak Yanti. Daku yang baca bagian Teras Kaca saja sudah ikut bayangin kaki dingin, apalagi kalau beneran di pinggir jurang begitu! Tapi setidaknya foto-fotonya tetap estetik banget, apalagi editannya. Penasaran, kalau nanti balik lagi, bakal mampir ke tetangga sebelah (HEHA) atau justru penasaran sama villanya yang sudah jadi?

  • Kalau nggak relate dengan sekarang, pertanda Mas Fajar dan keluarga kudu sering-sering ke sana buat ngapdet hehe.

    Et dah itu beneran di pinggir pantai berayun? Huhu, keknya kaki daku bakalan tremor, tapi penasaran juga sebenarnya berayun walau udah kebayang bakalan kencang angin yang berembus di sana sekencang itu juga rasa takutnya hehe

  • Keren banget nih travelingnya yang gambarin keindahan Teras Kaca Pantai Nguluran dengan jelas bgt. Pemandangan laut selatan dari atas tebing ini memang selalu memikat ya mas Fajar. Apalagi dengan spot teras kaca yang unik dan menantang.

    Dari foto dan cerita yang dibagikan, rasanya pengunjung bisa menikmati panorama laut yang luas sekaligus merasakan sensasi berdiri di atas kaca transparan. Tempat seperti ini memang cocok bagi pecinta wisata alam maupun yang suka berburu spot foto estetik. Selain menikmati pemandangan, pengalaman berkunjung ke sana juga pasti memberikan kesan tersendiri.

  • Yogya memang selalu bikin rindu untuk kembali lagi. Dan jujur saja, walau saya susah sering bolak balik Yogya, tapi saya jalannya seputar kota saja. Jadi ga tau ada tempat ini hehehhe. Dan mungkin karena Kebumen itu lautnya terusan ke Yogya juga. Jadi view nya, agak-gak mirip pantai di kebumen juga, Mas. Hanya kok tiap spot foto bayar ya. Harusnya dibuat flat aja.
    Mungkin saat ini sudah ramai ya, Mas. Apalagi villa sudah jadi juga. Pasti menyenangkan menginap di sana. Jadi alternatif liburan saat ke Yogya. Jadi gak ke Malioboro aja.

    • Kalo ini emang agak jauh dari pusat kota paak. Gada kendaraan umum, jadi kudu bawa motor atau mobil sendiri saja.
      Nah, saya sebenernya agak males pas tau harga per spot beda-beda. Tapi yaa.. udah lah, trima beres doang ini, hihihi

  • kalau diberi pilihan, saya pun buntu sama ada nak pergi Teras Kaca atau HEHA Ocean View. dua-dua cantik! hehe

  • KSarie memang adalah orang yang bukan adventure. Jalannya mau yang nyaman-nyaman ada. Tidak mahu aktiviti yang bisa bikin jantungnya tercopot macam berjalan di atas jambatan kaca begitu. Mungkin bisa berjalan di situ apabila terpaksa tetapi sepanjang berjalan itu memang jantungnya akan terasa berada di anak tekak mahu terkeluar begitu. Teringat ada satu penulis buku bilang ‘Jakarta menulis dan menjual buku kerana butuh wang tetapi Jogja menulis dan menjual buku kerana cinta’ lebih kurang begitu ayatnya. Villa itu cantik sekali yar. KSarie penuh kesabaran menunggu entry seterusnya tentang Jogja

    • Ahahaha, saya pun senengnya yang santai-santai aja mbak Ksarie. Hanya saja, kebetulan dulu saya ikut ajakan, jadilah terdampar disini. Mau tidak mau.
      Nah, memang Yogya itu selalu membuat kita rindu, entah kenapa ya.. pasti ada sesuatu di Yogya

  • Teras kaca Jogja emang viral dulu ya. Berfoto diatas kaca-kaca itu lumayan oke jepretannya. Tapi, beneran bikin kaki gemetar. Kalau yang HEHA jujur belum pernah kesana kayaknya bener agak mahalan sih.

    Dan Jogja emang selalu ngangenin. Vibes nya tuh khas menarik para wisatawan buat balik lagi dan lagi. Setiap sudutnya menawan.

    Alhamdulillah ya, di kasih izin buat masuk area villa. Kalau sudah kelar, enak buat berenang sambil sunsetan sih.

    Total budget di teras kaca Jogja habis berapa nih? Kan setiap spot beda, alias ada bayar lagi? Ekh tapi yang melakukan pembayaran mbak Thina ya.

    • Nah, viralnya tuh udah lumayan lama mbak. Jadi sekarang-sekarang ini udah gak sepopuler dulu lagi. Banyak juga sih yang jualan view serupa, makanya lebih banyak pilihan.
      Kalo budget jujur aku gak save mbak. Dulu kan dibayarin yaaa.. hihihi. Kayaknya seri Yogya ini banyak catetan keuangan yang agak kurang oke.

  • jogja jogja … kata mang travel langganan ka nuy kalau mau ke gunung kidul satu itenary ya nah jgn menclak menclok , itu belum kesampaian sampai sekrng . Terakhir aku k pantai padang kalau gak salah ya yang searah dengan parang kusumo atau bbeda ya
    aku blum smpt berkunjung nih kesini

  • Konon katanya kalau kita takut ketinggian bisa diobati dengan cara melakukan apa yang kita takuti itu. Jadi mas Fajar harus sering-sering berdiri di teras kaca, wkwkwkw. Btw, mbak Thina berani banget nih main ayunan di pinggir pantai. Tapi kalau ga dicoba, kapan lagi kan ? Yogyakarta selalu menawarkan wisata yang tidak pernah membosankan menurutku, sayang waktu 2018 aku kurang eksplore dan kebetulan waktu terbatas jadi ga bisa kemana-mana

    • Nah, ini saya setuju sih mbak. Dulu saya tuh parah banget lho fobianya. Sekedar naik JPO aja udah gemeteran, tutup mata. Sekarang udah belasan tahun di Jakarta, naik JPO dan ke lantai tertinggi di mall pun udah lebih berani, gak separah dulu lagi.
      Emang kudu tiap hari kayaknya ya hahahahaha

  • Oiyayaa.. kayak pernah ada yang bahas juga HEHA Ocean View.
    Tapiii lupa syapaa..
    Ternyata sebelahan persis sama Teras Kaca.

    Akutuu.. duluu pas masih gadis maah… asa seneng dan selalu ngerasa secure sama ketinggian. Makin kesini ((mugkin karena makin banyak nonton berita yang aneh-aneh yaa..)) – jadi mendadak ciyuutt.. bagaikan langsung mleyoott lemeezz kalok liat wahana ketinggian.

    Mungkin juga selalu ngerasa “Apa aku dzolim sama diriku sendiri yaa??”
    Kan uda “alarm”nya niih.. masih diterabasss ajaa…

    Tapiii.. alhamdulillahnyaa.. genetik tydack takut ketinggian menurun ke kedua anakku.
    Jadiii.. gapapalaah yaa.. jirihan untuk usia saat ini. Hihihi.. ((pembelaan dii macam apaaaa iniii?!?!))

    Btw, Teras Kaca jadi iconik pada jamannya yaa..
    Aku pingin juga ke Gunung Kidul.. cari masjid tempat kajian Ustadz Abduh Tuasikal ((pembina website rumaysho)). MashaAllah… Semoga Allah mudahkaan…

    • Saya pun kaget pas pertama tau mbak. Bingung aja gitu, kok isoooo tempat wisata malah macem Indomaret Alfamart kwkwkwk
      Kayaknya kalo fobia ketinggian itu lebih ke ada trauma atau luka masa lalu mbak. Dan penyembuhannya pun harus bertahap, gak bisa diburu-buru. Setidaknya akupun ada progress positif lah, hehehehe

  • Estetik banget spotnya ya Mas.. Baru tau sekarang di Jogja banyak wisata instagramable di daerah pantai. Beberapa saat lalu juga lewat algoritmanya di aku pantai Jogja, menarik juga. Tapi itu Mas Fajar aku kek terkezut tiba-tiba ada foto bapak penjaga dengan pose foto model, hehe..

  • Aku belum pernah ke Gunung Kidul niiihh haha. Padahal area ini nggak asing buatku, karena nenekku dulu orang Pacitan. banyak tu orang Pacitan nikah ma orang Gunung Kidul. Dulu areanya terkenal gersang dan tandur, trus akhirnya dapat kepala daerah yang pinter jadi dibenahin deh tu areanya sehingga menjadi jujugan wisata yang nggak kalah cakep seperti sekarang ini.

    Haha aku kalau teras kaca keknya juga bakalan OVT yaa, secara dulu kan denger ada kecelakaan jembatan kaca di tempat wisata lain. Tapi kalau berani ya go ahead, asalkan mengikuti peraturan yang berlaku aja 😀

    Waahh ucul ada pintu ke mana saja. Naik ayunannya juga challenging yaa 😀

    Wih ada pembangunan vilaa. Punya siapa tuuuu haha. Kadang suka OVT juga kalau ada pembangunan vila tepi laut banget. Apalagi Yogya gitu kan potensi tsunami ya. Pasti orang kaya nih yang punya sampai berani mengambil risiko hehe.

    Jadi kurang sreg sama lokasi wisatanya ya mas. Kalau yang ke OCEAN view akhirnya nyoba juga?

    • Nah, kereen kalo pemuda sama pemerintahnya bisa bersinergi. Lahan yang tadinya nggak produktif, bisa diubah jadi sumber pemasukan yaaa mbak.
      Sejujurnya aku pun kepikiran itu mbaaaak.. makanya pas dibawa kesini, kataku “Duh, nyari penyakit benerrrr dah” wkwkwk

      Ini kalo tsunami, belum tentu kayaknya mbak. Soalnya tinggi bangetttttt.. Tapi kalo longsor, nah ini baru agak kepikiran si.

  • Banyak tempat wisata baru ya di Yogya termasuk yang di Gunung Kidul ini aku belum pernah deh ke sana terakhir ke Yogya mainnya ke studio film Glampong..aku juga nyerah deh kalau harus naik jembatan kaca itu..

  • Iatri Mas Fajar beranian hebaat. Saya mah gak beraniiii, apalagi main ayunan dari tempat tinggi begitu. Tapi beneraaan yaaa pemandangannya indah banget…Yogyakarta itu pantainya bagus bagus yaaa,, pantas saja siih kan pantai selatan gitu lho…manteep

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *