Akhirnya Nyobain Bus Listrik Transjakarta Koridor 6H

Pantat saya sudah terangkat dari atas kursi, tubuh saya pun sudah bersiap tuk bergegas meninggalkan ruangan. Namun sepotong kecil pertanyaan dari Mbak Petty membuat langkah saya jadi tertahan lagi.

Padahal tadinya saya sudah mantap memesan Ojek Online untuk berpindah dari Gedung Grha Pertamina ke Taman Ismail Marzuki. Tapi suara sumbang Mbak Petty, bikin saya jadi mundur teratur lagi.

“Lah, lu naek Grab Jare? Kenapa gak naik TransJakarta aja? Kan nanti bisa, turun di depan Taman Ismail Marzuki langsung.”, ucap mbak Petty dengan nada sedikit keheranan.

“Eh.. emang bisa ya mbak?”, balas saya sedikit kebingungan. Maklum lah, selama ini saya hanya memegang 2 opsi transportasi tiap ke gedung ini. Kalo nggak mesen ojol, ya paling jalan kaki aja. Baru tau banget deh saya kalo ternyata depan gedung ini ada halte Transjakarta.

“Iya tinggal naik aja bus 6H. Nunggunya pas di pintu keluar langsung. Mayan dah itu cuma 3500 perak. Daripada naik Grab, minimal 10 ribu kan?”.

Saya mengangguk setuju.

Langkah kaki pun saya lanjutkan, namun kini dengan sedikit perubahan. Pesanan Grab saya batalkan, kemudian saya berdiri dan menanti di sebuah halte kecil yang berada persis di samping pintu keluar Gedung Grha Pertamina.

Sesekali mata saya memicing ke ujung jalan. Berharap ada semburat pantulan Bus berwarna biru cerah yang muncul dari arah sana.

Semenit.. Dua menit..

Lho, kok ga lewat-lewat ya?

Menanti Dengan Penuh Kepastian

Tak banyak yang menunggu di lokasi itu. Hanya ada saya dan seorang ibu-ibu paruh baya, yang sama-sama celingak-celinguk melihat ke arah yang sama.

Sudah 5 menit berlalu sejak saya berdiri disini, belum ada juga tanda-tanda Bus Transjakarta akan lewat. Manalah pinggir jalannya juga crowded banget euy. Penuh dengan deretan mobil taksi dan bajaj yang terparkir rapi, menanti penumpang.

Wajar sih, soalnya kan lokasi saya berada ini persis di depan Stasiun Gambir. Jadi sudah barang tentu, gerombolan taksi dan bajaj akan bersiaga disini.

Merasa semakin bingung dan penasaran, akhirnya saya memutuskan untuk mengunduh aplikasi Transjakarta dari Google Play Store. Berharap nantinya saya bisa mengakses informasi yang lebih banyak dan mendetil dari aplikasi tersebut, demi mengatasi kegundahan hati saya ini.

Daaaan ternyata aplikasi ini justru saya terkejut sejadi-jadinya. Karena melalui aplikasi ini, saya nggak sekedar bisa mengecek info trayek bus saja. Melainkan, bisa juga melacak posisi bus yang akan datang melalui maps, secara real time!

Sumpah, saya langsung speechless si pas liat fitur ini. Macem nggak nyangka aja gitu, kalo transportasi di Jakarta tuh ternyata udah secanggih ini.

Saya pun mulai mencari-cari, dimanakah kiranya posisi Bus 6H itu berada?

Dan ternyata ada! Posisinya taak jauh dari belokan tempat saya berada sekarang, dan sepertinya akan tiba sebentar lagi.

Baiklah, saya pun memutuskan untuk maju sebanyak dua langkah. Mendekatkan diri ke arah kedatangan bus, sembari berharap aplikasi ini benar-benar menyampaikan informasi yang faktual.

Sayup-sayup saya lihat.. Bus itu berwarna biru cerah itu akhirnya muncul juga!

Yuhuuu! Akhirnya saya naik!

Perdana Menjajal Bus Non-BRT

Berhubung Bus koridor 6H ini termasuk dalam kategori Non-BRT, maka saya pun masuk melalui pintu depan, persis di sampung supir. Dan begitu masuk, saya langsung mengeluarkan kartu Flazz BCA saya untuk melakukan proses tap in.

Alhamdulillah, prosesnya cepat. Dan di layar langsung muncul keterangan “Saldo Belum Terpotong”. Karena memang, saldonya baru dipotong nanti, saat proses tap out alias turun.

Oh iya, buat kalian yang belum mudeng, apa itu Bus Non-BRT, saya bantu jelasin dikit nih ya.

Bus Non-BRT adalah layanan bus biasa yang tidak menggunakan sistem Bus Rapid Transit atau BRT.

Sederhananya, Bus ini tuh mirip seperti Bus konvensional pada umumya, yang beroperasi di jalur umum tanpa jalur khusus yang steril, selayaknya Transjakarta pada umumnya.

Enaknya Bus Non-BRT gini, halte yang dilewatinya lebih banyak, dan jaraknya pun berdekatan. Itu karena rata-rata halte buat kendaraan Non-BRT gini emang sederhana banget ya. Malah ada beberapa yang ga ada tempat duduknya, alias cuma ada plang besi doang.

Namun hal itu jadi kekurangan Non-BRT juga ya, sebab kecepatannya jadi lebih lambat, dan jalur yang non steril ini bikin Bus bisa terjebak macet kalau lagi beroperasi di rush hour.

Percaya atau tidak, meskipun jarak dari lokasi saya ke tujuan ini gak sampai 2 kilometer. Tapi bus ini tuh akan berhenti di 6 halte yang berbeda.

Jadi kebayang lah ya, rapetnya macem apa, hehehehe.

Impresi Pertama Saya dalam Bus

Kala tubuh saya memasuki ruangan Bus itu, rasa lega dan nyaman langsung ada di dalam pemikiran kepala saya. Lega, karena meskipun tak sebesar dan sepanjang Bus Transjakarta kategori BRT, tapi area di dalamnya cukup luas dan bisa menampung banyak orang.

Juga nyaman, sebab Bus ini merupakan Bus bertenaga listrik, sehingga pergerakannya terasa cukup stabil. Tidak terasa ‘dikocok-kocok’ seperti Bus Lawas di Koridor 9C yang pernah saya coba beberapa waktu lalu.

Sempat merasa penasaran, akhirnya saya langsung menemukan Bus ini merek apa. Hanya dengan melihat sebuah logo yang terselip di sudut kursi, saya langsung tahu persis bahwa Bus ini adalah buatan China dengan merek Zhong Tong Bus.

Iya, merek Bus sama yang dulu pernah mengaspal dan bikin kontroversi sebab banyak unitnya yang rusak dan mogok di jalan. Siapa sangka, sekarang mereka balik lagi, tapi dengan teknologi Listrik, hihihi

Seperti biasa, area di belakang supir adalah mutlak milik perempuan. Sementara di salah satu sudutnya, ada area khusus yang kursinya dilipat secara default.

Area ini merupakan tempat khusus yang disediakan untuk para penyandang disabilitas. Dimana mereka bisa masuk dan memarkirkan kursi rodanya di tempat yang sudah disediakan.

Mantap lah, memang transportasi di Jakarta ini kian inklusif saja dari waktu ke waktu.

Tatkala saya naik waktu itu, tingkat okupansinya belum terlalu tinggi. Mungkin karena waktu itu saya berangkat jam 3 sore kali ya, jadi memang belum masuk ke jamnya rush hour. Coba aja dah tunggu 1-2 jam lagi, kayaknya jumlah penumpangnya bakal jauh membludak.

Sejujurnya area belakang Bus ini cukup luas. Luas banget malahan. Sebab konfigurasinya meliputi deretan kursi dengan formasi 2-2 dan tambahan empat kursi di area belakang.

Namun berhubung tujuan saya ini nggak terlalu jauh, jadi saya memutuskan untuk berdiri saja di area samping pintu. Berdiri sembari menikmati suasana di sekitar, dan sesekali mengambil foto ruangan dalam Bus.

Buat kalian yang belum pernah naik, gak perlu khawatir ya. Sebab, dalam bus ini akan ada petugas yang bisa ditanya-tanyai. Dan untuk setiap halte yang dilewati, masing-masing akan diumumkan melalui notifikasi otomatis di layar dan speaker secara realtime.

Oya, kalau kalian bertanya, “Lho Naik turunnya lewat pintu depan. Kok ini masih ada pintu sampingnya sih?”.

Well, jawaban sederhananya adalah, “Memang gak semuanya.”

Jadi meskipun mayoritas halte yang dilewati ini merupakan halte biasa (yang kecil dan nangkring di pinggir jalan), namun rute dari Bus ini juga beririsan dengan beberapa halte BRT Transjakarta.

Contoh sederhananya adalah Halte Setiabudi, yang merupakan Halte BRT Transjakarta. Khusus di halte itu, pintu yang akan dibuka adalah pintu samping Bus, bukan pintu depan. Dan nantinya proses tapout pun akan dilakukan di gate halte, bukan di dalam Bus.

Cumaaaa.. ya balik lagi. Karena ini tuh Bus Non-BRT, jadi begitu kelar nurunin penumpang, Bus ini bakal langsung balik ke jalur biasa lagi. Nggak lanjut bablas menyusuri Jalur Busway.

Ruwet betul yak liat trayeknya.

Intip Dashboard Supir Sebelum Turun

Nama Taman Ismail Marzuki disebut, pertanda saya harus segera bersiap maju ke depan dan bersiap turun. Agar mempercepat proses tap out, saya pun menyerahkan kartu Flazz saya ke petugas untuk dilakukan proses tap lebih awal.

Dan ternyata boleh banget lho buat nge-tap meskipun Bus masih berjalan. Gak kudu nunggu Busnya berhenti terlebih dahulu.

Momen menanti di area depan Bus inilah, yang saya lantas saya jadikan momen untuk curi-curi foto tambahan, view Pengemudi Transjakarta. Ternyata oh ternyata, kacanya lebar sekali ya.

Dashboard-nya luas, dengan banyak tombol di beberapa sisi. Yang jujuuuur.. kalosaya ditanya itu fungsinya buat apa, saya gak pahaaaam..hahaha

Tapi saya salut sih sama petugas yang berjaga, karena cukup helpful. Saat akan turun, mereka tuh langsung sigap menjaga pintu. menahan para penumpang yang akan masuk, dan meminta untuk mengutamakan penumpang yang akan turun terlebih dahulu.

Yah, you know lah yaa.. emak-emak di transportasi itu kan seringnya trengginas bener, wkwkwk

Yuhuuuu.. Akhirnya saya tiba juga di Taman Ismail Marzuki.

Singkat cerita aja nih ya, saya tuh disini niatnya cuma bantuin beberapa kerjaan desain doang. Estimasi awalnya bakal balik jam 8 atau 9 malem.

Eeeeh.. Dasar ya, ujung-ujungnya saya malah kerja ampe jam 1 malem! Untung aja dibukain kamar ya di Artotel. Kalo nggak mah, beuh… saya gak bisa berkata-kata lagi.

Bener-bener yeeee lu Bang Bandorooo!

Bekasi, 17 April 2026
Ditulis sembari menyelesaikan berbagai revisi yang belum beres.


Yuk, bantu penulis agar makin semangat membuat tulisan baru.
Kamu bisa melakukan transfer secara langsung ke rekening BCA : 6871338300.

Untuk info ratecard dan ajakan kerjasama, silahkan klik tombol berikut :

Fajar Fathurrahman

A Man with frugal style living. Sering dikira pelit, padahal cuma males keluar duit.

More Reading

Post navigation

1 Comment

  • Saya belom pernah nyobain bus trans jakarta mas, pingiin banget suatu saat pas main ke Jakarta nyobain transportasi yg satu ini, saya juga biasanya naik ojek online aja kemana-mana wkwkk, ada plus minusnya yaa, bisa dijalan raya bukan di jalur khususnya tapi jadi barengan ama kendaraan laennya ,liat jalur trayeknya aja udah puyeng hihi… Nah kita pan udah ada juga nih baru di resmikan mobil transportasi listrik kayak di jakarta ini yg di buat di pabrik mobil di Magelang kalo ga salah milik PT. VKTR, kalo ga salah nanti juga buat trayek di jakarta dan Magelang dan lainnya, wah tambah ok lagi kan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *