Liburan Murah Meriah ke Museum Mandiri, Kota Tua

Sudah tujuh tahun lamanya saya merantau di Ibukota, tapi belum pernah sekalipun kesampaian untuk mengunjungi Museum Mandiri yang super megah ini. Padahal, dahulu kala Kawasan Kota Tua adalah salah satu destinasi favorit saya dalam setiap momen weekend. Sayang sekali, kala itu Museum Mandiri sedang dalam proses renovasi sehingga masih belum dibuka untuk khalayak umum.

Nah, beberapa waktu kemarin kebetulan saya dan Thina baru saja selesai berbelanja di kawasan pasar pagi, yang letaknya hanya beberapa puluh meter saja dari Museum ini. Sebelum melanjutkan perjalanan pulang, saya pun mengajak Thina untuk singgah sejenak ke Museum Mandiri demi menghilangkan rasa penasaran saya dalam beberapa tahun terakhir.

Arloji saya menunjukkan pukul 1 siang, sementara jam operasional Museum Mandiri ini sampai dengan pukul 2 sore. Itu artinya masih ada sedikit waktu bagi kami berdua untuk meng-eksplorasi tempat ini. Jadi langsung saja kami bergegas menghampiri petugas loket.

 

Nuansa belanda di dekat loket masuk.

 

Biaya tiket masuk ke museum ini ternyata sangat murah. Jika bukan nasabah Bank Mandiri, tarif masuk yang perlu dibayarkan adalah 10 ribu rupiah. Tapi jika kita bisa menunjukkan kartu ATM Mandiri, maka petugas akan memberikan tarif khusus sebesar 2 ribu rupiah saja. Bentuk karcisnya kecil, dan dicetak di kertas sticker.

Setelah mendapatkan tiket, selanjutnya kita lanjut ke loket pengecekan yang posisinya berada di sebelah kanan dari pintu masuk. Tunjukkan saja tiket yang diberikan sebelumnya, dan kita pun segera diperbolehkan masuk.

Langkah pertama kami langsung disambut oleh sekumpulan diorama, salah satunya seperti sosok lelaki yang sedang berdiri di depan tujung saji. Ternyata ini adalah Chineesche Kast, atau Ruang Kasir Cina. Etnis Tionghoa memang sejak dahulu sudah terkenal dengan kepiawaiannya dalam hal penghitungan uang. Jadi wajar saja sejak jaman belanda, orang-orang Tionghoa lah yang ditugaskan untung menghitung uang di NHM.

 

 

Eh iya, ada yang tau apa itu NHM?

NHM adalah singkatan dari Nederlandsche Handel-Maatschappij, sebuah perusahaan dagang milik Belanda yang kemudian berkembang menjadi perusahaan di bidang perbankan. Gedung peninggalan NHM inilah yang menjadi saksi sejarah berkembangnya Bank Mandiri di Indonesia, hingga akhirnya dialihfungsikan menjadi Museum Bersejarah.

Baca Juga :  Eksplorasi Kubah Aviari di Taman Burung TMII

Jadi jangan kaget ya, kalau hampir seluruh sudut ruangan di Museum ini nampak aura-aura khas Belanda. Dan ini diperkuat juga dengan sejumlah koleksi barang antik seperti piano, biola dan sejumlah mesin cetak oeang tempoe doeloe. Buat yang demen eksis wajib banget banget nih berfoto bersama koleksi-koleksi disini.

 

 

Di zona pertama, Museum ini akan membawa kita kembali ke masa-masa kependudukan bangsa Belanda di Indonesia. Mulai dari sejarah kedatangan VOC, ilustrasi sistem tanam paksa, hingga kerja rodi, semuanya bisa kita lihat dalam berbagai poster infografis di museum ini. Kalau malas membaca, kita bisa juga menonton filmnya lewat sebuah komputer khusus yang dilengkapi dengan Headphone.

Tak hanya infografis, setiap ruangan juga senantiasa dilengkapi dengan diorama dan koleksi barang-barang antik sesuai dengan masa yang diceritakan dalam ruangan tersebut.

 

 

Berjalan ke ruangan selanjutnya, kita akan menemukan sebuah ‘miniatur’ gedung-gedung bank, lengkap dengan kursi yang sangat ‘narsisable’ bagi muda-mudi. Tak jauh dari situ, ada sejumlah poster yang menceritakan sejarah perkembangan Bank Mandiri yang ternyata cukup panjang dan berliku.

Dari sini saya baru tau, bahwa ternyata Bank Mandiri adalah hasil penggabungan / merger dari Empat Bank besar di Indonesia, yakni Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD), Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim) dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo). Pada 2 Oktober 1998, keempat bank tersebut resmi berlabur menjadi brand Bank Mandiri dan efektif mulai beroperasi sebagai bank gabungan pada pertengahan tahun 1999.

 

Selain menyimpan sejarah perkembangan Bank di Indonesia, museum ini juga menyimpan berbagai macam koleksi yang terkait dengan aktivitas perbankan “tempo doeloe. Sejumlah barang antik yang bisa kita temukan disini diantaranya adalah perlengkapan operasional bank, surat berharga, mata uang kuno (numismatik), brandkast, dan lain-lain.

Baca Juga :  Surga Buku Itu Bernama Pasar Kenari

Koleksi alat operasional bank juga cukup banyak, semisal peti uang, mesin hitung uang mekanik, kalkulator, mesin pembukuan, mesin cetak, alat pres bendel, seal press, safe deposit box maupun aneka surat berharga seperti bilyet deposito, sertikat deposito, cek, obligasi, dan saham.

Berbagai koleksi barang antik disini membuat saya dan Thina antusias, karena bentuknya yang benar-benar unik. Jauh berbeda sekali jika dibandingkan dengan barang serupa di zaman sekarang. Misalnya stempel yang bentuknya besar sekali sehingga menyerupai dongkrak. Ada juga Buku Besar, yang merupakan sistem pembukuan / akuntansi di zaman lampau. Semuanya ditulis tangan lho! Kebayang banget kan kerjaan orang dulu kayak gimana 😀

 

Di sudut terakhir Museum Mandiri ini, kita bisa menemukan sejumlah mesin ATM tempoe doele, lengkap dengan logo Mandiri versi lama yang membuatnya terlihat sangat vintage. Segera saja saya meminta Thina untuk berpose di depan ATM tersebut seakan-akan sedang mengambil uang, hehehe. Sayangnya mesin-mesin ini sudah tidak beroperasi, jadi ngga bisa dipake buat ngambil duit beneran ya.

Tepat di samping koleksi ATM tersebut, ada satu ruangan yang didekorasi sedemikian rupa, dimana sejumlah mesin tik dan mesin penghitung uang diatur susunannya di atas dinding. Koleksi mesin yang tersusun rapi membuat sudut ruangan tersebut sangat Instagrammable.

Tentu saja, saya langsung semangat mengajak Thina berfoto 😀

 

Tak terasa, waktu berjalan semakin dekat menuju pukul empat sore. Tak berapa lama lagi museum ini akan tutup, dan kami pun harus segera melanjutkan perjalanan pulang menuju bekasi. Alhamdulillah walaupun sebentar, tapi akhirnya rasa penasaran saya selama bertahun-tahun akhirnya bisa terobati juga.

For the last word, see you on the next trip 😀

 

Bekasi, 22 November 2018
Ditulis sembari menahan kaki kiri yang kesemutan.

 

 

Museum Bank Mandiri
Jl. Lapangan Stasiun No.1, RT.3/RW.6, Kota Tua
Jadwal Buka : Selasa – Minggu, 09.00 – 15.30 WIB
(Senin dan Hari Libur Nasional Tutup)

Fajarwalker

A Man with frugal style living. Sering dikira pelit, padahal cuma males keluar duit.

More Reading

Post navigation

12 Comments

  • Sama seperti dirimu, mas …
    Bertahun-tahun dulu aku kerja di Jakarta, belum pernah sekalipun berlibur di Museum Mandiri ini.
    Cuma lewat depannya saja.
    Sekarang nyesel setelah lihat post ini ternyata apik banget sejarah dan koleksinya.

  • Museumnya cukup menarik juga! Saya kadang ke Jakarta tapi belum pernah ke Kota Tua nanti kalau ke Jkt lagi saya sempatkan kesini. Makasih infonya.

  • Tadinya aku mau komen, “ternyata Museum Mandiri gak banyak berubah ya.” Soalnya aku ke sana 2017. Eh ternyata ini tulisannya tayang 2018 hwhw. Penasaran juga sekarang kayak gimana ya, Februari lalu cuma bisa lewat, gak ada waktu buat mampir, padahal museum Mandiri ini salah satu favoritku (walau museum BI jauh lebih keren sih) ^^

  • Mas, lucuuuuu amat museumnya. Penuh barang2 lama dari bank gitu yaaa . Aku aja sampe skr ga pernah kesini tp anakku pernah, pas study tour anak TK hahahahahah. Ga ngerti kenapa dipilih tempat ini

    Sebagai mantan orang bank, aku tertarik sih Ama barang2nya. Melihat peralatan zaman dulu. Aku sempeeeet ngerasai 1 THN pertama pake buku besar, tp utk catatan SDB (safe deposit box). Cuma setelah itu pelan2 langsung digital semua.

    ATM jadulnya aku ingettt pernah liat pas msh di Aceh, nemenin papa tarik duit hahahahah.

    Ntr ah mau juga kesini

  • kota tua salah satu destinasi impian banget ini…kalo liat fotonya kan cantik2 tampak vintage gaya eropa nyaa..bener2 pengen ekplore kota tua kalo bisa nanti..
    hhmm ini jadinya gedung mandiri buka sampai jam 2 atau 4 kak?haha diatas soalnya tertulis jam 2 tapi dibawah kok jam 4 hehe
    btw brarti bank mandiri ini baru ada sehabis krisis moneter di tahun 1998 ya kak..baru tau loo..selalu seneng klo mengunjungi museum apalagi yg terawat rapi spt ini

  • Museum Mabdiri memang rekomen buat dikunjungi kalau lagi pelesiran ke Kota Tua. Lumayan lengkap dan kaya bercerita kondisi bank dari waktu ke waktu ya. Peralatan sama perlengkapannya sangat lengkap.
    Banyak spot bagus buat foto juga, terpenting jadi lebih paham cerita bank dari waktu ke waktu. Minggu ini kayanya seru nih main ke museum.

  • Tempatnya bagus untuk foto, Emang museum kayak ini perlu banget selain untuk mengedukasi juga bisa mengukur tingkat perkembangan teknologi zaman dulu ke sekarang, soalnya satu-satunya yang saya kenalin disini kayaknya cuma mesin ketiknya deh

  • Senang sekali kalau berkunjung kesini. Terutama kalau bawa teman yang mencintai dunia perbankan. Atau bisa mengenalkan dunia perbankan pada anak, karena museumnya informatif sekali

  • Aku pernah kesini tapi gak masuk, hanya berfoto di depannya wkwkwk, apa-apaan gw kek gak suka bgt sm museum ya. Ternyata dalamnya seru ya, apalagi yg dibagian mesin tik, awuwuwu, estetik bgt

  • Menjelajahi kota tua itu memang menarik, apalagi museumnya.
    Murah meriah memang tapi pengetahuannya tidak murahan, aku sendiri tak pernah bosan kalau kesana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *