Keringat berderai gombyos, membasahi tubuh saya yang terkena hujaman sinar mentari siang hari ini. Entah ada masalah apa di Kota Bekasi, sudah beberapa hari ini panasnya memang tanpa ampun, lebih nyentreng dari biasanya.
Di tengah panas terik bertubi-tubi itu, saya malah berjalan kaki dengan santainya. Sembari menggendol ransel dan tas selempang, menyusuri gang rumah hingga tembus ke jalanan utama.
Meski begitu saya tak mengeluh, sebab suasana hati saya lagi agak ‘adem’ dikit.
Nganu, kebetulan di hari Senin ini saya dapat panggilan interview di salah satu tempat kerja lama. Bukan untuk mengisi posisi full-time, memang. Lagi-lagi hanya sebagai tenaga freelance saja.
Tapi tak apalah. In this economy, apapun yang bisa jadi cuan, hajar!
Walau kalau dipikir-pikir lagi kok agak lucu ya. Zaman sekarang, orang udah punya kerjaan aja masih nyari kerjaan tambahan lagi. hihihi
Adapun perjalanan kali ini, tujuan saya adalah daerah Cakung, Jakarta Timur. Dan untuk kesana sebenarnya lebih efektif jika mengendarai motor saja. Namun apa daya, beberapa hari terakhir ini motor saya lagi agak ngadat. Radiatornya gombyos, jadi sementara ini gak bisa dipake buat jarak jauh.
Dan dilalahnya pas saya cari-cari info, ternyata untuk menuju ke Cakung tuh bisaaaa lho naik armada TransJakarta. Caranya tinggal naik koridor 4F di Plaza Pondok Gede, dan turun di Terminal Pulogadung. Abis itu disambung naik koridor 2B ke arah Cakung.
Daaan itulah mengapa di siang hari yang terik ini, saya berjalan kaki dan naik angkot K02 menuju ke arah Pondok Gede.
Kebodohan Konyol di Momen Pertama
Kalau kalian tinggal di sekitaran Pinang Ranti dan Jatiwaringin, harusnya bakal familiar sih sama Bus MetroTrans Koridor 4F ini. Soalnya bus satu ini memang senantiasa berlalu-lalang menyusuri jalanan tersebut. Armadanya pun bisa dibilang cukup banyak, sehingga jarak antar bus tidaklah terlalu lama.
Lebih detilnya lagi, MetroTrans 4F ini masuk ke dalam golongan Bus non-BRT yang melayani rute Pinang Ranti – Pulogadung.
Tapi sayangnya, selama ini saya hanya menatapnya dari kejauhan saja. belum pernah sekalipun saya tergerak untuk iseng menaikinya. Makanya di momen perdana ini, sejujurnya saya masih agak bingung. Gak tau naiknya dari mana.
Daaaan disinilah kekonyolan itu terjadi.

Harusnya dari angkot K02, saya agak memutari Plaza Pondok sedikit dan turun di Halte Simpang Raya Pondok Gede 2. Nah, berhubung saya masih agak ‘kikuk’, jadi saya pun bertanya ke Mamang-mamang Angkotnya.
“Mang, kalo halte yang Transjakarta tuh sebelah mana ya?”
Eeeeh si mamangnya langsung ngerem pas di pertigaan, lalu menjawab dengan yakin, “Halte TJ mah di belakang sana mas. Pas di depan Bank BRI.”
Denger penjelasan gitu, saya nurut dong. Langsung aja deh jalan balik ke arah berlawanan. Dan kebetulan, pas banget ada Bus 4F yang berhenti disana. “Alhamdulillaah..”, gumam saya dalam hati.

Pas masuk, perasaan saya rada ga enak. Karena dilihat-lihat kok ini Bus sepi banget ya?
Tapi saya mengabaikan perasaan itu, dan memilih untuk lanjut mengambil foto-foto untuk bahan tulisan blog ini. Sampai kemudian, bunyi announcer terdengar dari speaker. “Tujuan berikutnya, Lubang Buaya”
Saya langsung tersedak.
“Lhaaaaaa kok malah ke arah Pinang Ranti????”
Pelajaran Penting dari Sebuah Kekonyolan

Emang dasar sopir angkotnya ndablek ya. Harusnya udah bener saya tuh turunnya di halte Simpang Pondok Gede 2. Sementara titik yang saya tuju tadi tuh Simpang Pondok Gede 1, dimana Bus yang melewati titik ini bukan menuju ke arah Pulogadung, melainkan ke Pinang Ranti. Hiks.
Pelajaran hari ini : Jangan dengerin rekomendasi kang angkot sesat!
Singkat cerita, saya pun memutuskan untuk segera turun saja, lalu singgah sejenak di warteg terdekat. Kebetulan waktu pas jam 12 siang euy, sudah waktunya isi perut dulu biar emosi terjaga, hihihi.
Setelah perut terisi dan jiwa sudah cooldown, saya pun segera keluar dan menyeberang jalan. Kebetulan, persis di seberang warteg ini adalah halte TK Angkasa 8 yang masuk dalam rute 4F.


Sembari menanti, sesekali saya membuka aplikasi TransJakarta untuk memantau posisi Bus. Sekejap memicingkan mata, saya menemukan sebuah bus 4F sedang bergerak mendekat ke lokasi saya.
Dan benar saja, ketika pandangan saya beralih dari smartphone ke jalan raya, sebuah Bus besar berwarna oranye terang sudah hadir di hadapan saya.
Impresi Pertama : Nyaman & Tenang

Bus itu nampak besar dan gagah, dengan padanan warna hitam, putih dan oranye di sekelilingnya. Logo Scania di Grill depan dan Laksana di atas supir, menjadi sebuah pertanda bahwa Bus ini digerakkan dengan penggerak mesin Diesel, bukan bertenaga baterai.
Dan ketika bus itu berhenti tepat di hadapan saya, ada 2 hal unik yang tersaji di depan mata.

Pertama, Bus Scania K250UB yang digunakan ini adalah seri Bus Low Deck, alias lantai rendah. Sehingga ketika pintu terbuka dan saya melangkah masuk, tak ada satupun anak tangga yang harus saya lalui.
Sebab, memang posisi lantainya sudah serendah itu ges.

Dan kedua, tatkala saya menempelkan kartu e-money saya untuk tap in, saat itu pula saya menyadari bahwa tak ada satu pun petugas tambahan yang berjaga dalam bus ini.
Iya, semua operasional Bus ini hanya bergantung pada satu orang saja, yakni Bapak Supir.
Ini agak berbeda dengan koridor 6H yang saya naiki beberapa waktu lalu. Dimana kalau di koridor tersebut, tiap bus memiliki 1 orang petugas tambahan yang berjaga dan membantu kelancaran proses naik turun penumpang.

Well, saya pribadi sih mewajarkan saja ya. Karena memang Bus ini tuh masuk ke kategori non-BRT yang semua haltenya adalah halte ‘kecil’ di pinggir jalan. Ditambah dengan lantai bus yang pendek dan disable friendly, maka praktis tak ada urgensi untuk menghadirkan staff tambahan di dalam bus.
Sesaat kala Supir mulai tancap gas, mata saya pun mulai berkelana. Menatap setiap sudut dalam Bus ini, sembari menikmati suasananya.



Meskipun bukan Bus tipe Gandeng, namun ternyata ruang dalam Bus ini cukup luas juga. Saya sempat baca-baca, total Bus ini tuh bisa mengangkut sekitar 80 hingga 100 orang dalam sekali perjalanan.
Kursinya yang berwarna oranye terang, terasa nyaman dan empuk saat diduduki. Sementara beberapa pegangan gantung sudah tersaji di sejumlah sudut, untuk para penumpang yang tak kebagian duduk.
Adapun untuk area tengah yang dekat dengan pintu, merupakan area khusus untuk para penumpang disabilitas. Space-nya cukup luas, sehingga para pengguna kursi roda bisa leluasa masuk dan ‘parkir’ di area tengah bus ini.
Good job ah Transjakarta. Makin kesini, makin inklusif aja nih.

Uniknya, di Bus ini saya tidak melihat satu pun plang bertuliskan ‘area khusus perempuan’. Entahlah, mungkin sepertinya memang tidak ada kali ya?
Apalagi deretan kursi di belakang supir pun agak tak lazim juga bentukannya. Dimana kursi yang berada persis dibelakang supir, posisinya lebih tinggi. Iya, posisinya jauuuuh lebih tinggi dibandingkan kursi-kursi lainnya.
Sementara kursi yang ada persis di belakangnya, itu disusun saling berhadapan. Macem kayak di gerbong kereta ekonomi lawas, hihihi.
Saya sendiri sih kayaknya ga bisa ngebayangin ya gimana rasanya duduk di kursi yang ngadep belakang. Nganu, naik kereta yang kursinya mundur aja udah bikin pusing, apalagi ini naik Bus coba? Bisa-bisa saya jackpot sih, hihihi.



Oya, di area tengah Bus ini juga ada mesin tap ya. Jadi dalam satu Bus, total ada dua.
Ini berguna banget kalo penumpang lagi padet banget. Kita jadi bisa tap out di area tengah ini, jauh sebelum berjalan keluar. Gak mesti ribet antri tap rame-rame di samping supirnya.
Menyusuri Bekasi hingga ke Pulogadung
Kalau dilihat dari jaraknya, MetroTrans 4F ini tuh punya trayek yang lumayan jauh lho ternyata. Ya bayangin aja, Bus ini tuh bener-bener nyusurin Jalan raya Jatiwaringin sampe tembus ke Duren Sawit, Pondok Bambu, dan Pulogadung.
Total yang ditempuh dalam sekali jalan, kurang lebih sekitar 17 Km.
Dibilang jauh banget, nggak juga ya. Cuma satu hal yang perlu kita ingat, Bus ini adalah Bus Non-BRT, yang haltenya tuh cuma berbentuk plang kecil doang dan ada di bwaaaanyakkk banget titik.
Kalo dihitung dari Pinang Ranti ke Pulogadung, total halte yang ditempuh ada sekitar 56 Halte!

Jadi silahkan bayangin aja ya, seberapa sering dan intensnya ni Bus akan berhenti dari satu halte ke halte yang lainnya. Makanya wajar kalau saya lihat di aplikasi, prediksi kedatangan ke Pulogadung itu sekitar 1 jam perjalanan. Belom diitung macetnya, hihihi
Tapi untungnya, supir yang mengendarai kali ini cukup cekatan. Meski Bus ini harus berhenti di puluhan halte, tapi setiap pemberhentiannya dilakukan dengan mulus dan minim hentakan. Membuat saya jadi terhindar dari segala rasa pusing dan mabuk kepala.
Akhirnya Tiba di Tujuan Akhir Juga

Arloji saya menunjukkan pukul 13 lewat sekian belas menit. Sayup-sayup saya lihat dari luar jendela, ada deretan Truk Gandeng yang sedang melintasi jalan raya. Pertanda bahwa saya sudah kian dekat dengan tujuan akhir, Terminal Pulogadung.
Di salah satu sudut jalanan, Bus ini tiba-tiba ambil manuver. Sedikit berbelok tajam ke kiri, lalu masuk ke sebuah tempat yang berisi barisan Bus Transjakarta.

Waaah, Alhamdulillah. Akhirnya perjalanan panjang ini berakhir juga…
Eh, nggak deng.
Dari sini saya masih harus transit dulu ke Bus TransJakarta 2B, baru kemudian bisa tiba ke destinasi saya di daerah Cakung nanti.
Kemanakah gerangan? Adaaaa deeeh, hihihi.
Kalau kalian penasaran, silahkan buka Blog Selfie Project saya untuk Jawabannya.
Dan kalau kalau yang masih bertanya tarifnya, ini sama aja, Rp. 3.500,- ya. Cumaa….. di Terminal Pulogadung ini, kita gabisa langsung pindah. Teteup, kudu tap out dan tap in lagi, sehingga otomatis kita jadi kena 2 kali, dengan total Rp. 7.000,-
Siapa yang pernah naik MetroTrans 4F juga? Coba ceritain di komentar dong!
Bekasi, 12 Mei 2026
Ditulis sembari direcokin Putri sepulang kerja.


Banyak perhentian berhenti, ya, Mas. Kalau ada urusan penting, harus bajet keluar rumah awal la begitu, campur keadaan trafik yang sesak lagi.
Betul mbak tot, jadinya Bus ni tak pernah ngebut barang semenit pun. Belum ada akselerasi sekejap, langsung henti lagi.
Memang harus sabar, hihihi
Saya pernah melalui pengalaman yang sama di Kuala Lumpur. Gara-gara tak biasa naik bas awam, nak mencari tempat menunggu bas tu sesat sampai hampir sejam! Yang buat lagi keliru, tempat menunggu bas bukan di bus stop, tapi di tepi sebuah bangunan tanpa signage jelas. Sejak tu, saya lagi memilih naik LRT / tren saja kemana2
Wahwah, memang salah satu resikonya kalau belum familiar begitu mak.
Tapi kalau di Indo, sebenarnya bisa berpatokan dengan aplikasi Transjakarta yang reliable.
Kejadian kemarin tu murni kebodohan saya je, hihihi
Wah, sepertinya emang cuaca lagi hot banget ya. Bahkan Bekasi makin menjadi-jadi ini sih, sampe gobyos.
Maafin, jujurly baca cerita bagian salah arah naik itu ku ngakak banget dan berasa lha ini mah kebiasaan gw kalau naik kendaraan rute baru. Kadang emang suka nanya ke orang dan kampret banget di kasih arahan yang salah. Apalagi kang angkot mas, dia secara nggak langsung merasa bersaing nggak sih sama Tije? Hehehe jadilah di kerjain.
Congarts yaa buat interview nya. Semoga hasilnya terbaik dan bisa tambah cuan lagi. Doain juga ku segera dapat kerjaan lagi, aamiin.
MetroTrans 4F ini menarik, kursinya warna orange dan empuk, jadi penasaran banget sih. Secara belum pernah nyobain juga rute ini. Mungkin nanti misal ada agenda di Bekasi, bolehlah cobain sesekali. Cuma emang kalau naik kendaraan umum macem Tije mesti siapin waktu lebih, jaga-jaga menghadapi kemacetan duniawi. Secara harga Tije paling murce banget.
Btw salfok sama flash nya, cakep desainnya, anak Jakarta banget yaaaa.
Bukan maen mbaaak, parah banget panasnyaaa.
Aku mikirnya gitu juga sih mbak. Parah banget, padahal aku dah nunjuk arah depan, eeeh dia malah ke arah belakangnya. Malah kayak sengaja gitu, heuheu.
Alhamdulillah mbak, udah tembus. Tinggal sekarang ngejar waktu aja kelarin semua hihihi
Kartu Flazz nya beli di shopee waktu itu mbak. gatau dah sekarang masih ada apa nggak, hihihi
haihhh sabar je laa
orang yang bagi info tu agaknya tak pernah naik bas kot? tu yang dia main cakap je dengan confident nya
syukurlah masih dalam negara. kalau benda ni jadi masa kat luar negara haaa mahu berpeluh satu badan
tak apalah… janji sampai dengan selamat
Iyaaa, entah salah info atau memang sengaja tu mbak Anies. Saya pun kesal dibuatnya.
Hahaha, meskipun ada sedikit drama, tapi akhirnya berhasil tiba juga.
banyak juga ya halte yang harus dilewati bus ini. kayaknya dia tiap 5 menit berhenti deh. Hehe. Trus kalau ini bus non-BRT berarti dia nggak bisa ke halte yang BRT yang tinggi itu ya? Jadi ingat nih pengalamanku naik trans jakarta juga dan waktu itu juga hampir nyasar maksud hati mau ke pasar senen eh malah mau ke lebak bulus. Mana sudah malam lagi untung waktu itu sadar dan langsung turun trus naik bus arah sebaliknya. Btw semoga sukses wawancaranya, Mas Fajar
Gak sampe 5 menit kayaknya udah berhenti deh mbak. beneraaaan deh ini mobil kaga ada ngebut-ngebutnya acan, hahahaha.
Ngga mbak, ini mah sama sekali gak ketemu tuh sama Halte TJ yang gede. Ya gimana bisa, wong pintunya aja rendah, hihihi
Makin canggih aja bus angkutan sejuta umat ini ya, berhubung saya belom pernah naik bus selama main kejakarta jadi enggk tau apa rasanya, yang pasti bedalah ama bus jaman dulu yg pernah saya naiki, sampe gandolan deket pintu saking jubelnya, belum pake kartu segala masih ada kondekturnya juga wkwkkkk… Mudah&mudahan rejeki keterima di kerjaan yang baru ya mas, semakin sukses, amiin
Sekarang mah udah jauh beda mbaak. Lebih nyaman kalo naik Bus tuh (yang masuk grupnya TJ tapi ya), dan secara penumpang juga sedikit banyaknya lebih tertata kok.
Eeeh ini mah freelance doang mbak. Tetep, kalo ada info loker mah boleh berkabar hahahaha
jauh juga perjalanannya 17km! teringat saya masa kuliah dulu, sering juga naik bas untuk pulang ke rumah. bila naik bas ni biasalah selalu kena hadap macet, tu yang buat perjalanan jadi lama dan membosankan haha. saya lebih prefer naik train la dari bas