Jam 12 siang. Mentari Jakarta sedang terik-teriknya, jadi kami tak ingin terlalu banyak membuang waktu. Makanya setelah turun dari Bus Transjakarta, kami segera bergegas meninggalkan Terminal Blok M untuk menuju ke tujuan utama kami, yakni Blok M Plaza.
Yap, niat awal dari kami sebenanya ingin mendatangi sebuah event bazaar buku terbaru, yang informasi awalnya kami dapatkan dari sebuah postingan di Instagram. Sekilas pas lihat postingannya sih, lumayan meyakinkan ya. Buku yang ditampilkan lumayan banyak.. dan penyelenggaranya pun berani pake embel-embel ‘pameran terbesar’ pulak.
Tapi dasar ya.. zaman sekarang tuh emang gak boleh terlalu percaya sama postingan sosial media.
Karena sesampainya disana, realita di hadapan mata ternyata tak seindah postingan sosial media. Bazaarnya nggak terlalu besar, pengunjungnya sepi, dan buku-bukunya pun kurang lengkap. Berkali-kali kali saya mondar mandir, namun nggak ada satupun judul buku yang berhasil menarik perhatian saya.
Yang ada malah buku Biografinya ‘Pirlo‘ macem begini nih..
Nganu, ampe diobral 15 rebu banget ni yak, hahahaha

Semakin lama muter, semakin kami kehilangan minat dan bermuara pada rasa kecewa. Apalagi posisi kala itu sudah kian mendekati jam makan siang. Perut udah keroncongan, badan juga semakin layu. Sementara di Blok M Plaza ini, pilihan makannya dikit banget. Tenant-nya banyak yang gak familiar, dan nampak cukup pricy.
Singkat cerita, akhirnya kami pun memutuskan ‘hijrah’ gedung tetangganya, yakni Blok M Square. Denger-denger sih, disana ada area food court-nya, jadi bisa makan lebih hemat.
Bergeser ke Bursa Buku, Blok M Square
Satu porsi express bowl Solaria dan segelas teh hangat membantu saya untuk memulihkan energi. Sementara Thina dan Fatimah masing-masing melahap nasi gorengnya masing-masing. Kami semua beristirahat, menarik nafas panjang dan mencoba menghapus rasa kecewa.
Putri? Ah.. bocah itu tidur dengan lelap di pangkuan saya. Sepertinya tenaganya habis setelah bersenandung musik kicir-kicir sepanjang jalan tadi.
Tiba-tiba saja, saya teringat bahwa di daerah blok M sini juga ada satu tempat yang menjual buku-buku bekas dengan harga yang murah. Dimanakah tempat itu gerangan?
Saya mencoba bertanya pada teman sesama Blogger, dan dari sanalah Pak Bambang memberi saya info bahwa ternyata oh ternyata… lokasinya ada di gedung Blok M Square ini. Hanya saja posisinya emang lumayan ngumpet, yakni di lantai basement paling bawah.
Jadi kalau dari foodcourt di lantai 5, kami mesti turun via lift ke lantai paling bawah.

Daaaan ternyata akses liftnya cuma sampai lantai dasar aja ya gaes. Dari lantai dasar ke lantai basement dimana Bursa Buku itu berada, itu mesti turun melewati tangga sebanyak dua kali.
Hidung saya pun langsung mencium sebuah aroma yang tak biasa. Bau-bau buku berharga murah, hihihihi. Dan benar saja, tepat ketika langkah kaki kami tiba di lantai ini, saat itu pulalah kami disambut oleh lautan buku yang beraneka rupa.



Ini beneran banyak banget yaa koleksinya. Dan harganya pun murah-murah banget, mulai dari 10 ribuan aja. Mostly buku-buku bekas, walaupun tak jarang ada beberapa buku yang segelnya masih utuh pun terpajang di sana.
Seakan terkena jegal, kami semua pun terhenti di semua toko mengobral buku. Mencoba melihat, mempelajari dan memilah-milah koleksi buku seharga sepuluh ribu itu. Hasilnya? Yaa tentu saja isinya buku-buku jadul semua, hahaha.
Well, kalo yang dicarinya buku cerita anak, kayaknya masih ada deh yaa beberapa yang cocok. Tapi berhubung niat hati saya kesini sebenarnya ingin cari novel, maka akhirnya pun saya hanya bisa gigit jari. Karena nggak ada satu pun novel yang terpajang di etalase sepuluh ribu itu. (Iyaaa.. iya.. maapkeun kalo saya agak gak tau diri ya, hahaha)
(Hampir) Terjebak Buku Bajakan

Merasa tumpukan buku seharga serba 10 ribu itu kurang menarik, maka kami pun bergeser ke lapak pedagang lain di sudut yang berbeda. Akhirnya, kami pun menemukan beberapa pedagang yang menjual buku-buku baru, masih mulus dan segel.
Saya pun mendekat, mencoba melihat-lihat. Tangan saya mengambil sebuah buku best-seller karya Leila S. Chudori yang terpajang di etalase.

Tiba-tiba saja, saya merasa ada sesuatu yang aneh. Badan saya terasa gemetar, kaki saya terasa dingin. Seperti ada sesuatu yang mengganjal batin saya, hingga memaksa intuisi untuk aktif dan menyeruak segera. Saya menatap dekat buku itu sedekat mungkin, mencoba mencari jawaban.
Buku itu nampak mulus, dengan segel plastik yang membungkus rapi. Namun, kenapa warnanya pucat seperti ini ya?
Nganu, ilustrasi ‘Laut Bercerita’ mendadak terasa seperti ‘Laut Kurang Cahaya’. Alias redup benerrrr..

Saya membalik buku itu, mencoba menangkap detil kecil seperti alamat penerbit serta barcode yang terpampang. Batin saya makin berderu kencang, “Duh, kok semuanya keliatan buram dan pecah-pecah ya?”. Terlihat seperti hasil cetak printer kantor yang sudah lama tidak di-service.

Di momen yang bersamaan, sang pemilik lapak pun datang menghampiri saya, Ia mencoba menyampaikan penawaran. Logikanya, jika mengacu pada harga tertera sebesar 100 ribu, harusnya sih dia menawarkan harga kisaran 80 hingga 90 ribuan yaa.
Tapi tau ga berapa harga yang ditawarkan penjualnya?
Cuma 40 ribu aja saudara-saudara!
Bahkan, tak lama setelah saya terdiam mematung pasca mendengar tawaran ekstrim itu, Ia pun kembali menurunkan tawarannya menjadi 30 ribu saja. Ini sih gausah dicek gimana-gimana lagi ya. Emang udah fix, BUKU BAJAKAN.
Saya pun semakin terdiam, melangkah pergi. Bibir saya tersenyum, namun hati saya getir. Sekilas mungkin tawaran tersebut terasa fantastis, tapi coba bayangkan lagi, berapa banyak manusia yang tersakiti.
Mereka yang sudah lelah menulis, memeriksa, mencetak, mendesain, mendistribusikan, dan semua yang terlibat dalam pembuatan buku. Lalu tiba-tiba ada yang seenaknya mencetak sendiri, tanpa izin dan permisi.
Duh, saya yang punya mimpi ingin jadi penulis, rasanya sakit sekali melihat kenyataan pahit di sudut Blok M ini.
Toko Buku Berintegritas Tetaplah Ada
Pasca kejadian tadi, Saya terduduk di sudut mushola, sembari membaca berita-berita berseliweran di internet tentang Blok M sebagai ‘sarangnya buku bajakan’.
Eh, tapi siapa sangka.. ternyata oase di padang gurun itu nyata ya saudara-saudara. Sebab, setelah mencoba mencari-cari lebih lanjut, ada juga toko buku yang benar-benar menjual buku asli dengan harga yang miring. Nganu, ini beneran asli ya. Yang ada badaknya, hahahaha
Dari post yang saya temukan, namanya adalah Jimmy Book Store. Posisinya ada di sekitar area Blok C. Langsung gapake lama, kami semua pergi meninggalkan penjual durjana barusan dan berpindah ke area Blok C.
Dan woooow, ternyata benar. Koleksi bukunya lumayan lengkap, dengan isinya mayoritas berupa buku-buku novel. Persis sesuai dengan yang saya inginkan. Alhasil, saya pun langsung tenggelam, dalam lautan buku yang memabukkan. *uhuk
Yang saya bikin saya salut sama penjualnya, dia tuh gak cuma sekedar jualan buku. Dia juga beneran membaca hampir setiap koleksi buku yang ia punya, sehingga bisa ‘nyambung’ dan menanggapi kala diajak membahas tentang buku apapun yang ditanyakan.
Ada satu momen dimana seorang pembeli menanyakan stock sebuah buku (sayangnya saya lupa judulnya apa), yang kebetuan posisinya lagi kosong.
Tau ga penjualnya bilang apa?
Dia bilang, “Ga ada novel XXX itu mbak. Udah ga relate soalnya. Masa karakter utamanya nembaknya lewat e-mail? Sekarang kan udah gak musim. Kalo mau mah kan bisa nembak lewat Whatsapp”.
Saya cuma bisa cekikikan pelan denger penjelasan kocak tersebut.
Dari segi harga, mayoritas buku disini dijual lebih murah dari harga yang tertera di buku. Tapi ya masih wajar, selisihnya di kisaran 20 hinga 30% aja tiap bukunya. Yaah, masih make sense lah ya ketimbang buku bajakan, yang hasil cetaknya burem dan bikin mata kita jadi panuan.
Meski begitu, saya tetep nggak jadi beli apa-apa. Soalnya inceran saya adalah buku mahakarya Andrea Hirata, yang sayangnya nggak barang ada satupun disini.
Akhirnya Malah Beli Buku Buat Anak

Emang rezekinya Putri kali ya. Ketika Saya dan Fatimah ga dapet satupun buku yang jadi incaran, Putri malah menemukan sebuah toko buku anak yang isinya luar biasa keren. Namanya Taka Book Store, dan lokasinya ga jauh dari Jimmy Book Store tadi.
Kenapa saya bilang keren? Karena selain koleksi buku anaknya cukup lengkap, toko ini juga menjual buku hasil produksi mereka sendiri!


Iya, beneran lho mereka nerbitin bukunya sendiri. Bahkan, mereka gak cuma menerbitkan buku anak berbahasa Indonesia aja. Mau yang bahasa Inggris pun, mereka siap sedia. Mantap jiwa sekali lah yaaa.
Alhasil, ketika saya harus pulang dengan tangan hampa. Putri pulang dengan sederet buku cerita dan sticker yang membuatnya penuh bahagia. Walah, mungkin ini kali ya yang disebut sebagai rezeki anak solehah, hahahaha.

Penutup
Demikianlah cerita singkat kami mengunjungi Bursa Buku di Blok M Square, yang berakhir dengan senyum maksimal dari Putri. Saya sendiri sih sangat senang mampir kesini, bisa ‘cuci mata’ dan hunting berbagai koleksi buku menarik, dengan harga yang lebih murah.
Tapii.. nggak boleh lengah yaa. Karena di Bursa Buku ini juga, ada banyaaaaakkk sekali buku bajakan yang beredar dengan bebas. Jangan sampai tergiur harga murah, namun malah dapat buku dengan kualitas yang rendah.
Setelah perjalanan ini, kami lanjut melipir ke toko buku lain tak jauh dari ini. Sebuah toko yang cukup happening, bernama Gramedia Jalma. Insya Allah, akan ditulis secepatnya.
Kalau kalian, pernah mampir ke Blok M Square juga ga buat hunting buku? Coba ceritain pengalaman kalian dong di kolom komentar!
Bekasi, 2 Februari 2026
Ditulis sambil melihat isi kasur yang diporak-porandakan Putri




Horeeee.. akhirnya setelah sebelumnya batal ke blok M, akhirnya jadi juga ya, Mas. Dan memang kalau di penjual buku itu, harus ngube-ngubek. Karena kadang ada bukubagus, harga murah yang nyelip. Terus jangan tergoda beli buku bajakan. Apalagi disegel. Pasti dalamnya juga burem. Dan memang rezeki si Putri si anak solehah hahaha. Pulang deh, bawa banyak buku. Tapi pasti Mas Fajar dapat buku incaran di Gramedia Jalma kan… hehehe. Terima kasih banyak nama saya sudah disebut di postingan ini, Mas, plus ngelink ke blog saya.
Alhamdulillah pak, hehehe.
Emang rezekinya si putri lah ini sii. Saya mah kesini malah gak dapet apa-apaan heuheu
Wah serunya berburu buku di Blok M Square. Saya pernah beberapa kali ke sana tapi memang bukan untuk beli buku tapi buat kulineran pas lewat area ini memang seru juga ya melihat aneka buku yang dijual dengan harga yang menurut saya cukup terjangkau. Dan cukup komplit sehingga buat pecinta buku bisa memuaskan kecintaannya pada buku di tempat ini
Jadi Putri yang jadi juaranya yaa hihi dapat banyak buku cerita.. aku keliling tuh di kios bukunya tapi bingung malah hehe pengen yang buku lawas jadinya mahal karena antik ya, buku baru takut bajakan.. nanti ah keliling lagi di sana..
Iya mbak, hehehe. Aku malah pulang dengan tangan hampa.
Gampang kok bedain asli sama palsu
Terima kasih mas Arief
saya dah lama tak singgah di mana2 toko buku, tapi saya ada juga beli buku online ajer, baru jer beli buku via shopee (masih otw tu)
Saya jarang beli buku online mas. Lebih sering offline saja, cari langsung yang lagi diskon hehehe
banyak juga ya toko buku di daerah Blok M ini. Dan karena murah makanya kita juga harus teliti ya sebelum membeli takutnya buku bajakan. Btw aku barusan baca tentang gramedia Jalma di blog April cakep banget itu gramedianya
Nah, tungguin yaak.. nanti saya bakal tulis juga nih hehehe
Wah, paling gak bisa nih skip tempat Bazar buku murah ya. Tapi iya banget, kudu hati2, ada kalanya di tempat kayak gitu dijual juga buku bajakan. Kudu teliti lihatnya. Aku dulu pernah kayak gitu, sama temen beli buku. Kesenengan banget beli buku murah, padahal buku best seller. Bisa dapat harga setengahnya. Dan pas dibuka di rumah, idih gak banget. Hasil printnya buram, potongannya gak rapi. Mending yang pasti2 aja deh ya.
Naaah, nyesel kan mbak kalo gitu, hehehe.
Tapi sebenernya kalo mau jeli, gak begitu susah kook bedainnya. Jelas banget malahan
Ah ternyata Blok M sekarang seseru itu ya. Cuma tau Blok M dari kontennya Mas Vino duta salim Blok M. Next ajak perbocilan ke sini pasti happy sih..
Terima kasih mbak
Cita-cita aku banget…
pingin dateng ke kajian di Masjid Nurul Iman Blok M Square.
Tapi kemarin qodarullah.. kudu ke Blok M Square-nya maleemm.. jadi ada Blok M Square hub, katanya yaah… ada banyak juga jajanan klasik sampe yang modern gituu.. tapi di bagian area parkirnya ya… ramee piissaan.. mashaAllah..
Dan itu sampek jam 12-an doonk..
Sukak banget sama buku.. tapi kalo dibajak, jadi sediih… dan aku pernah beli…
uhuhu..asa beda pissan memang.
Emang jauh banget mbak. Jangankan dipegang, sekedar dilihat pake mata telanjang aja udah kerasa kok..
Aku belum pernah ke blok M apalagi hunting buku jadi ga ada pengalaman hehehe
Btw ternyata masih keselip buku bajakan juga ya, gemes deh sama toko yang menyediakan buku bajakan, secara proses menulis buku itu oanjang banget dan melelahkan
Iya, emang kudu diberantas dengan serius ini si. Soalnya awet banget di pasaran.
Harga buku bajakan memang jomplang banget ya
Tapi saya sakit sama penjualnya itu. Di tengah gempurannya buku elektronik, dia masih bertahan dan betah melapak. Mungkin dia itu kutu buku juga? Sehingga menunggui lapak bukunya itu anggaplah sambil menjalankan hobi? Lalu syukur, gak laku ya dibaca sendiri aja. Hehehe
Kayaknya karena dia jual buku second juga bu. Jadi kalo lagi nyantai, dia bisa baca buku2 yang second itu.
Hahaha perkara si tokoh nembak pake email aja dikomentarin. Gimana kalau tuh orang nembak pake surat? lol. Walau rada spoiler, tapi si penjual mengenal produknya dengan baik. Keren sih! Di satu sisi penjual juga bisa memilah mana buku yang nilai ekonomisnya lebih tinggi/rendah. Temenku pernah dapet buku Pram dijual 30k aja, padahal di marketplace itu udah ratusan ribu. Sebab, penjual gak bisa menggali nilai ekonomis produknya, ya jadinya rugi sendiri haha.
Aku gabung di beberapa komunitas baca, kalau di Palembang ada yang (ngaku-ngaku) bazar buku, dari temen di komunitas akan ketahuan bazarnya worthy to visit atau nggak. Btw, aku akan tandain Blok M ini, mau banget main ke sana kapan-kapan. Oh ya, salut juga buat pedagang di sana yang komitmen gak mau jual buku bajakan.
Nah itu dia. Tapi kocak juga sih nempak via email, jadi penasaran bukunya apaan wkwkwk.
Ayoo kapan2 kalo kesini, berkabar mas. Mampir kita.
Soal buku bajakan ini aku juga punya cerita, mas. Mampirlah aku ke kawasan stadion buku di Semarang. Pas tanya harga judo bukunya agak shock karena cuma 30ribuan dari harga resminya yang menyentuh 88-150an.
Tetap nekat beli, karena tergiur murah. Ternyata pas sampai rumah dan buka plastik, dyar! “Looohhh, koookkk???” “Ini bajakan bukan,sih????”
Suami tertawa, lebih tepatnya menertawakan kebodohanku. Karena katanya, di situ memang tempatnya buku bajakan yang isinya fotokopian buku asli. Huhu sayang banget harus kena kocek
Naaah, emang harus lebih jeli mbak. Ngeri sekarang tuh, yang murah-murah seringnya malah jebakan betmen
Aku juga pernah kena zonk pameran buku mas…di promonya di IG terlihat buku yg banyak trus ada isi sepuasnya cm bayar 60rb otomatis tergiur donk yaa aku….tapi pas sampe sana ternyata buku tidak sebanyak yg dibayangkan trus yg isis sepuasnya cm 60 rb itu teenyata isinya buku2 pelajaran random gt..kayak ekonomi arsitek gt deh lahhh mana relate sama aku…padahal yg kubayangkan buku novel2 wkwkwkwk…
Beruntungnya si putri..bener2 rejeki anak sholekhah yaa
Btw nyari buki adrea hirata yg judul apa nie??? Sapa tau bs buat referensi juga
Nah kalo perkara pameran tipu menipu, memang lebih ke taktik marketing kali yaa. Biar kita merasa untung banyak, padahal aslinya bukunya gak relate sama sekali wkwkwk.
Aku nyari judul buku2nya yang terbaru mbak. Macem orang2 biasa, padang bulan, sirkus pohon dll.
Aku kemren enggk sempet beli mas, tapi cuman liat-liat aja, maklum datengnya ma rombongan, jadi enggk konsentrasi mo pilih-pilih, udah keburu-buru aja.
Iyah ati”aja kalo ada harga lebih murah dan print ga jelas, takutnya ya bajakan itu, dari pada kuciwa mending gak usah aja, wah mbak Laila SC itu salah satu penulis yang udah malang melintang yak.., kalo gk salah dari jaman ada majalah HAI pernah ada baca tulisannya, aku lebih demen ke gramedia aja kalo nyari”novel, emang kadang harga agak tinggi, tapi daripada zonk
Tapi emang disini enak buat cuci mata mbak, hehehe. Kalo beli mah, bisa nanti-nanti, hehehe.
Disini banyak yang murah kok. Asal bisa tau barang sama tau toko buku mana yang cocok aja.
Waktu ke Blok M Square saya nggak ke bagian basement nya, jadi belum tau kalau ada bursa buku di sana. Mudah-mudahan next kalau main ke Jakarta lagi bisa hunting buku-buku di sana, cuma kayanya jangan lepas kaca mata, ya, biar bisa nelisik lebih detail mana buku bajakan, mana yang ori, nganu, biar ga kena prank para penjual durjana yang menjajakan buku bajakan itu.. hehe
Yuk, kapan-kapan kesini lagi mas. Nanti tak temeni cari buku ori hehehe
Tidak sangka ada buku cetak rompak dijual. Aduh sedih.
Iyaaa, sedih sekali. hiks
Dulu waktu masih tinggal di Malang, aku juga sering berburu buku second dideretan kios dekat stasiun kereta. Namun sempat kebakarang jadi ilang deh beberapa kiosnya. sayang bangeeeet…
BTW Berburu buku di Blok M Square memang “tricky” tapi asyik. Saya ikut gregetan pas bagian buku bajakan—miris banget ya lihat kualitas cetakan seadanya gitu.
Tapi syukurlah masih ada toko seperti Jimmy Book Store yang berintegritas dan paham isi buku. Meski Mas belum jodoh sama buku Andrea Hirata, setidaknya Putri pulang dengan bahagia.
Terima kasih mas
Aku pernahnya ke blok M square buat hunting kuliner, ahaha. Lumayan banyak yang enak2 juga euy soalnya. Tapi datengnya emang harus dari sebelum jam makan siang, sebelum jam 12 lah. Soalnya begitu jam 12, bakal puenuh banget dan syulit buat pesan makan, wkwkwk.
Nah, kalau ke toko buku di Blok M, aku pernahnya ke Gramedia Jalma. Belum aku tulis juga di blog sih ahaha. Next nya aah 😀
Akuu ke lantai 5 nya, cuma makan solaria doang, hehehe.
Yang Jalma otw nulis mbaaak, tunggu yaa
Aku belum pernah ke Blok M Square. Pernahnya ke Blok Plaza, numpang makan pizza doang sama teman.
Buku bajakan memang meresahkan ya. Kayanya dulu jaman sekolah aku sering dapat buku bajakan karena beli di toko buku second gitu. Cuma dulu belum paham. Taunya cuma harganya murah, ya udah beli aja.
Memang rezeki Putri ya dapat buku. Yang lainnya belum berjodoh hehehe…
Di Blok M Plaza malah susaaah makanannya mbak. Tenantnya dikit euy, gak banyak pilihan.
Kena teliti memilih buku2 nya ya. Seronok ya Putri dapat buku.
Iya mbak, harus berhati-hati.
Wow! Ini umpama syurga bagi pencinta buku!
Oh… uncle baru tahu buku murah ada aromanya… hehehehe
hahaha, itu cuma perumpamaan saja uncle. Istilah kata saja
Aku tuh trakhir beli buku bekas offline, kayaknya zaman baru nikah . Itu juga yg di pasfes mas… Ada tuh toko buku bekas nya. Trus ketemu dengan orang jualan buku bekas, dijamin Ori, lewat IG. Jdnya aku langganan dia skr. Yg waktu itu aku pernah beli buku novel sampe 11 kg, ya dari dia .
Yg di blok m ini malah belum pernah padahal dulu waktu kerja msh di pondok indah, aku sering naik trans j dari situ .
Skr ini yaa, kalau mau beli ke penjual buku bekas begini, aku emoh kalau lihat buku ya baru, Krn dijamin bajakan. Mending bekas beneran deh. Yakali buku baru harga segitu . Udh paling bener kalo mau yg baru, ke gramed aja .
Aku ngakak pas baca sj penjual novel yg bilang itu buku udah ga relate gara2 nembak pake email . Untung bukan nembak pakai surat ya wkwkwkwk .
Kalo aku mah masih langganan di omku, yang samping hotel grand paragon itu. Cuma emang dia koleksinya agak kurang update si yaa. Jadul banget malahan.
Kalo bajakan, kebetulan aku apal banget si. Dulu suka beli buat keperluan kampus. Dan nganu, dulu aku beli bukan buat demi dapet harga murah yaa. melainkan, buat mengakali batas terbitan buku yang boleh jadi landasan skripsi. Jadi kubeli tuh buku bajakan, tapi tahunnya agak ‘mudaan’ hahahaha
Bolak balik ke Blok M tuh belum pernah sama sekali tergoda lihat-lihat buku, apalagi mau beli.
Kalau kesana selalu urusannya makan dan makan.
Tetapi belakangan ini mondar mandir tulisan tentang Gramedia yang di Blok M, jadi penasaran. Sepertinya kudu segera nih kesana, kau memang racun Jar.
Asyeekk Putri dapet buku. Aku ikut senang ha ha ha. Anw makasi yak udah tidak membeli bajakan, ini bukan soal kita sebagai penulis atau ingin menerbitkan buku, tapi apapun yang namanya bajakan itu kalau bisa jangan he he he
Nah, racun utamanya bakal aku posting nanti Jumat mbak. Tungguin pokoknya yaaa, hahaha.
Duh, aku paling anti mbak. Mikirnya gimana nanti aku jadi penulis? Sakit hati banget gak si.
Nah iya, semenjak ada P11 rute Botani Square ke Blok M, jujurly jadi lumayan sering mampirin ke blok M dan beberapa kali hunting buku bekas di area yang mas kunjungi. But, bener adanya banyak penjual buku bajakan walau nggak semua juga yah. Intinya emang kudu teliti dan dari selisih harga jual pun ketauan banget. Kalau kata teman, buat cari aman jangan beli buku keluaran baru. Buku-buku lawasan ajalah hehehe.
Kudu pinter-pinter dan jangan lengah. Pasti ada aja sih buku asli banget dan harganya bersahabat karena bekas biasanya. Salut emang beberapa pedagang buku yang ku sambangi pun kalau di tanya terkait satu buku, mereka update gitu lho. Katanya sih emang suka baca juga. Temen ku dapat buku super lawas dengan harga fantastis alias lumayan mahal, beberapa buku lawas terkait sejarah emang kayak naik level harganya karena biasa di koleksi sama para kolektor. Ajib banget yah.
Alhamdulillah, Putri jadi pulang bawa buku yeay. Rezeki anak Solehah sekali ini sih yah.
Cuss gramed Jalma, emang secandu itu. Sering datang buat ikutan event launching buku soalnya hehehe.
Aku sampe sekarang penasaran malah, pengen cobain rute P11 itu. Kapan2 deh yaaa…
Tulisan gramedia jalma udah aman mbak, besok saya luncurkan yaaa.. hehehe
Saya lihat Blok M ini mirip dengan salah satu mall (kayaknya kok kurang cocok dibilang mall di kotaku ya) mas. Di sana ada banyak penjual mulai sepatu sampe buku, tapi ya gitu meski murah tetep ati² karena 90 persen barangnya bajakan. Hiks..
Saya belum pernah ke Blok M mas. Kalau harganya bahkan dibawah setengah buku baru dan masih segel, pasti bajakan. Kalau gini emang kasihan penulisnya. Gitu pembajak apa ndak mikir sampe sana yak… #maafkeun kesel..
Daripada beli bajakan mending baca di ipusnas ya nggak.. Meski ya app-nya sering error muluk..
Aku kok liat instagramnya ipusnas juga komplenan mulu mbak, hahaha. Jarang banget ada positifnya, isinya komplen aplikasi ipusnas mulu hahahaha
Untungnya mas kerana ada kesempatan waktu untuk pergi kedai buku..
antara hobi yang semakin hilang ….membaca buku
Betul mas, akhir-akhir ini agak sulit untuk membaca buku ya. Rasanya berat sekali euy
Padahal lagi senengnya membaca ada surga buku murah. Namun, terhenyak tatkala ada 2 kata yaitu Buku Bajakan.
Rasanya gimana gitu ya. Di sekeliling ada buku asli yang sesuai dan pas porsinya buat dibaca, dimiliki, dan layak sebagai apresiasi kepada penulisnya, tapi yah di sebelahnya ada yang…
semoga sih permasalahan klasik buku bajakan bisa diselesaikan yaitu sepertinya memang dengan cara harga buku asli janganlah lebih mahal daripada harga narsi goreng di resto huhu
Nah itu dia. Sebenernya masalahnya itu juga si. Pemerintah kita itu kurang perhatiannya sama dunia perbukuan. Alhasil, harga buku terlalu mahal harganya, terlalu gak masuk akal. Efek dominonya, perbajakan ini pun jadi marak.
Sayang nya jauh uy , kalai deket aku mau da jalan2 ksana bawa bocil beli beli buki kaya c kk.
Kalau urusan novel emng ada yah yang bajakan ?ih atuh ngeuri ya, aku pikir buku paket yg bisa bajakan wkwkwk
Terima kasih mbak Nuy.
Hati2 yaa sama buku bajakan
Laut Bercerita ini memang bikin penasaran
Makanya beruntung kalau masih dapat harga murah dan bukan bajakan
Lihat si adek milih buku itu, saya setuju, haha
Bagus buat perkembangan sesusianya
Betul mbak, Terima kasih yaaa
KSarie pernah mencari buku di Blok M ini tetapi KSarie jadi confuse kerana begitu banyak buku bajakan. Kepalanya langsung pusingKSarie tidak pasti di mana mahu beli buku yang bukan bajakan tetapi harganya menarik di sini.
Dulu pertama kali ke Blok M, tujuannya ya nyari buku bekas hehe. Anak2ku kebetulan suka Goosebumps, tapi keknya sekarang udah nggak dijual di toko buku baru.
Berbekal lihat konten orang di Tiktok, kami ke sana deh. Sayangnya buku yang dicari juga langka, akhirnya beli di orang2 yang jualan onlen, tapi mayan deh jadi tahu toko2 buku di pasaraya Blok M.
Soal buku bajakan, anak2ku juga suka komik Why, nah di sana harganya tu lebih miring dari Gramedia, cuma waktu itu ragu itu asli atau bajakan.Jadi merasa bersalah kalau bajakan.
BTW buku2 bajakan sekarang nggak melulu burem lho, ada yang kertasnya cakep juga hehe 😀
Tapi ada temen yang paham penerbitan bilang, kadang yang dijual kek gitu nggak melulu bajakan, emang beda aja harga yang dikasi penerbit ke toko buku besar ma pedagang buku kiosan. Tapi yaaa nggak tau sih 😀
Akhirnya yawda kalau ke sana kami beli buku2 bekas aja. Bisa ditawar juga kalau beli banyak 😀
Saya malah baru kemaren ke Blok M. Seumur-umur ke Jakarta, belom pernah, huehuehe.
Nah, sesuai logikanya harusnya gitu sih ya. Pelan2 para pembajak itu juga naikin kualitas, sehingga kita sbg pembeli harus kian berhati-hati. Jangan sampai kecele
murah sangat tu! tapi nak cari buku yang best agak mencabar tu… lebih-lebih lagi kalau penulisnya famous… berita baik untuk ‘ulat buku’