Gramedia Jalma, Kala Toko Buku Menjelma Jadi Tempat Ketiga

Ini adalah tulisan pamungkas dari trip singkat kami ke Blok M di pertengahan Januari 2026. Cerita sebelumnya bisa dicek disini ya :
Naik Transjakarta dari Pinang Ranti ke Blok M
Berburu Buku Murah di Bursa Buku, Blok M Square

Setelah puas mencuci mata dengan deretan buku murah (dan bajakan) yang tersaji di lantai basement Blok M Square, kami berpindah ke sebuah toko buku baru yang cukup happening beberapa waktu terakhir. Sebuah cabang baru dari Gramedia, yang punya konsep berbeda dari cabang-cabang lainnya.

Jika biasanya Gramedia yang kita kenal itu terasa generik dan membosankan, khusus cabang ini, tampilannya diubah secara drastis. Jadi lebih estetik. Konsepnya seakan mencoba menggabungkan antara Toko Buku, Perpustakaan, Communal Space dan Coffee Shop.

Penasaran apa nama tempatnya? Yak… ini dia : Gramedia Jalma.

Sekilas Tentang Gramedia Jalma

Seperti yang sudah saya jelaskan dalam paragraf sebelumnya, Gramedia Jalma ini mengusung konsep yang lebih fresh dan estetik. Sepertinya ini adalah buah eksperimen dari Gramedia untuk mencoba menggaet hati kawula muda yang kini mulai naik kembali minat bacanya.

Jika rata-rata toko Gramedia mengusung pendekatan konvensional : datang, beli buku, pulang. Gramedia Jalma punya sentuhan yang lebih progresif.

Core bisnis utamanya sih jelas gak berubah ya, tetep toko buku. Tapi disini, pengunjungnya juga dipersilahkan untuk membaca buku dengan santai, selayaknya di Perpustakaan. Bisa duduk tenang dan membuka laptop, selayaknya di Coffee Shop. Dan bisa berkumpul dan diskusi bersama, selayaknya Communal Space.

Mungkin itulah alasannya cabang Gramedia ini diberi nama Gramedia Jalma. Karena diksi ‘Jalma‘ berasal dari bahasa Sunda, yang berarti ‘Manusia’. Seakan menjelaskan bahwa fokus tempat ini bukan sekedar tempat jual beli buku saja, melainkan juga tempat berkumpul dan berinteraksi para manusia di dalamnya.

Jujur saya seneng sih pas Gramedia akhirnya meluncurkan konsep seperti ini. Nganu, in this economy, orang tuh udah gak relate sama yang namanya toko buku. Mereka lebih senang nongkrong, berinteraksi, dan berdiskusi. Barulah mungkin nantinya diantara sela-sela itu semua, mereka akan membeli buku yang mereka ingin baca.

Mirip kayak konsep Starbucks lah ya. As you know, Starbucks itu bukan jualan kopi. Mereka menjual tempat ketiga antara rumah dan kantor.

Impresi Pertama : Luar Biasa Nyaman

Langkah kaki kami kala melewati pintu, langsung disambut oleh suasana nyaman dan tenang. Cukup aneh, karena sejatinya kala itu pengunjung di Gramedia Jalma cukup ramai. Mungkin ini hanya ilusi yang tercipta, buah dari kombinasi arsitektur yang serba minimalis, berteman aksen serba kayu dan pencahayaan nan estetik. bikin vibes-nya zen maksimal!

Ruang pertama ini hampir seluruhnya berisi ATK dan merchandise khas Gramedia. Jujur saya cukup gelisah, tak ingin berlama-lama di ruangan ini. Karena sudah bisa ditebak, Putri pasti bakal heboh dan langsung terdistraksi.

“Papih, papih… aku mau boneka ini boleh ga?”, ucapnya dengan menggebu.

Langsung aja bocah itu saya tarik, sambil keluarin jurus andalan, “Ngga Put, itu bonekanya gak dijual..”

Ngapunten, jurus ini harap jangan ditiru ya, hahahaha

Berjalan sedikit ke dalam, barulah kemudian kita akan disambut dengan beberapa koleksi buku yang tersaji di meja dan rak-rak kayu. Sekilas memandang, area depan ini masih banyak didominasi oleh buku-buku pelajaran dan pengembangan diri.

Nah, tak jauh dari deretan buku itu, saya menemukan sign bertuliskan Oki’s Reading Pod. Dan ternyata… Memang disini tuh sudah disediakan beberapa space / pod khusus agar pengunjung bisa duduk bersantai, sembari membaca buku yang sudah dibeli.

Kurang zen apa lagi coba?

Menariknya, nggak beli buku pun gapapa kok. Karena di area reading pod tadi juga disediakan beberapa koleksi buku non segel khusus yang bisa kita baca sepuasnya. Boleh duduk dan numpang membaca. Asal jangan sembarang buka segel buku semaunya ya!

Nggak boleh itu… Hukumnya al-haramu.

Kalau kalian mau baca buku, silahkan cek aja koleksi buku yang tersedia, dan pastikan bahwa ada sticker ini di cover bukunya :

Novel Ganjil Genap, tapi Genapnya Ketutupan. Malah jadi Kayak Novel Horor ya Judulnya.

Langkah kaki kami terhenti di depan Kirana’s Reading Pod. Disini Thina, Fatimah dan Putri memutuskan untuk masuk dan duduk di dalam. Karena kebetulan sekali, reading pod yang satu ini memang berisi sederet bacaan anak-anak.

Pastinya udah bisa ditebak lah yaa.. Putri langsung heboh kegirangan.

“Mamiiiih.. Mamiiih, aku mau baca dibacain cerita!”, teriaknya.

Saya hanya berkedip pelan ke Thina, mencoba memberi kode bahwa,“Gih, sono.. giliran kamu nemenin anaknya baca buku”.

Selagi mereka bertiga duduk santai dan membaca buku cerita, saya memutuskan untuk berjalan keluar dan mengeksplorasi area lain di dalam Gramedia Jalma.

Tapi baru beberapa langkah berjalan, saya langsung terpaku. Ada sebuah pemandangan menarik yang mencuri perhatian saya. Seorang pemuda yang menggunakan mesin tik, duduk menghadap seorang perempuan berpenampilan kasual. Mungkin nggak ada yang aneh ya, tapi tulisan “Puisi On The Spot” di hadapannya membuat saya langsung salfok.

Sepertinya ini tuh salah satu layanan khusus untuk menciptakan puisi langsung di hadapan objek bicaranya yaaa..

Nganu, saya langsung ngebayangin. Gimana jadinya ya kalo saya yang jadi objek puisinya? Mungkin nanti abangnya bikin puisi macem begini :

Oh.. Duhai Fajar.
Namamu bagaikan matahari subuh
Wajahmu seperti permukaan rembulan
Kasar dan geradakan di setiap sisi
Kulitmu bagaikan steak well done
Gelap dan matang sempurna

Dan mulutmu, bagaikan pisau dapur
Lancip benerrrrrrr…..

Hahahahaha.. Puisinya malah bikin emosi.

Harusnya Semua Gramedia Seperti Ini!

Semakin saya berjalan ke dalam, semakin saya menemukan detail menarik yang bikin jatuh hati dengan Gramedia Jalma. Bahkan, saya berani bilang bahwa seharusnya di masa mendatang seluruh cabang Gramedia dibuat seperti ini.

Dimulai dari penyajian bukunya deh ya. Gramedia tuh biasanya selalu menyajikan buku dalam kategori yang generik dan membosankan. Ya Novel lah, Pengembangan Diri lah, Kesehatan lah. Something that will be boooed by Gen Z.

Tapi disini, Gramedia seakan sedang berpesta sastra. Karena seluruh pengkategorian buku yang kaku itu, diubah menjadi lebih luwes dan fleksibel. Label yang dipasang jadi lebih eyecatching, seperti ‘Untuk Para Pejuang Korporat’, ‘Perkebunan Kata-Kata’ , ‘Tenggelam dalam Imaji’, dan lain-lain.

They even put quotes on soo many details

Dan karena konsepnya adalah tempat ketiga, maka Gramedia Jalma pun menyediakan berbagai spot dan space untuk kita bisa duduk dan bersantai. Mau numpang WFH? Monggo.. karena tersedia meja dan colokan listrik.

Mau ngerumpi dan bergibah ria bareng temen sejawat? Boleh bangettt… Karena memang ada area komunal yang luas, lengkap dengan kursi-kursi santai di sampingnya. Bahkan kalau cek Instagramnya, disini memang sering diadakan acara bincang literasi dan diskusi juga.

Dan menariknya lagi, disini pun ada cafe-nya yaa. Jadi kalau tiba-tiba mulut kalian asem karena kurang asupan kopi, jangan sedih.. Langsung aja melipir ke salah satu coffee shop yang ada di area belakang.

Namanya Kopi Aloo, buka sesuai jam operasional Gramedia Jalma.

Tapi khusus yang satu ini, saya ga ada dokumentasinya. Karena di kunjungan kemarin, emang lagi ga kepengen ngopi. Atau lebih tepatnya, ga kepengen keluar duit sama sekali, hahahaha. Coba deh kalian yang pernah mampir Kopi Aloo, ceritain gimana suasana dan rasa kopinya dong.

Ketik di kolom komentar yaa!

Meninggalkan Jejak di Gramedia Jalma

Saat bersiap meninggalkan lokasi, saya tiba-tiba terdistraksi oleh sebuah pemandangan yang unik. Di salah satu sudut ruangan, ada satu area wall besar yang berisi full sticky notes dengan aneka rupa dan warna.

Sepertinya, spot ini ditujukan untuk pengunjung yang ingin meninggalkan jejak di Gramedia Jalma. Entah itu ucapan, harapan, atau apapun yang ingin diabadikan.

Saya pun mencoba mendekat dan membacanya satu per satu. Seketika perasaan langsung campur aduk, melihat betapa random dan serunya doa orang-orang. Ada yang berharap segera dipertemukan dengan jodoh. Ada yang pengen cepet lulus kuliah. Ada yang berdoa motornya tahun ini lunas lah.

Tapi ada yang bikin terharu sih. Satu pesan yang bertuliskan : ‘Semoga tahun ini sembuh dari cancer dan penyakit lain’. Duh, siapa yang naro bawang disini? Hiks.

Tentunya saya pun gak mau ketinggalan. Setelah puas membaca-baca, saya pun mengambil pulpen dan satu lembar sticky notes. Apakah kalian bisa nebak apa yang akan saya tulis?

Harapan untuk tahun ini? Ucapan untuk anak dan istri? Salah ya…

Yang saya tulis adalah, promosi untuk baca blog saya ini. Fajarwalker.com. Hahahahaha, teteup gak mau rugi.

Penutup & Kesimpulan Akhir

Kami semua tak berlama-lama di Gramedia Jalma. Karena perjalanan ke Bekasi masih cukup jauh, jadi kami harus pulang secepatnya sebelum matahari tergelincir. Dan jujur ya, pendapat singkat saya tentang Gramedia Jalma : Harusnya semua cabang Gramedia dibikin begini!

Ini lho, yang dibutuhkan oleh orang-orang zaman sekarang. Bukan sekedar toko buku, tapi sebuah tempat yang jadi jembatan antara rumah dan kantor.

Coba deh perhatiin, rata-rata cabang Gramedia itu kan area nya cukup luas. Tapi diantara luasnya area itu, rak koleksi buku-bukunya malah makin menyusut dari waktu ke waktu. Ketimbang terus-terusan memperluas area ATK demi mengurangi turunnya koleksi buku, kenapa lantas gak dibikin seperti di Gramedia Jalma saja?

Generasi muda kita itu bukannya males membaca dan beli buku. Mereka mau kok membeli buku, tapi mereka maunya buku yang bener-bener worth untuk dibaca. Bukan yang cuma bagus di sampul, tapi isinya gak sesuai harapan.

Sementara di Gramedia, kita gak bisa melihat apapun selain cover bukunya saja. Mau berdiskusi pun syulit, karena memang gak ada tempatnya. Ini kan ironi ya.

Itulah kenapa saya sangat memuji konsep Gramedia Jalma, seraya berharap kelak nantinya semua cabang Gramedia dibuat seperti ini.

Oke, langsung saja. Saya memberi nilai 9/10.

Bekasi, 06 Februari 2026
Ditulis sambil menghitung hari tersisa menuju bulan suci Ramadhan


Yuk, bantu penulis agar makin semangat membuat tulisan baru.
Kamu bisa melakukan transfer secara langsung ke rekening BCA : 6871338300.

Untuk info ratecard dan ajakan kerjasama, silahkan klik tombol berikut :


Fajar Fathurrahman

A Man with frugal style living. Sering dikira pelit, padahal cuma males keluar duit.

More Reading

Post navigation

44 Comments

  • Rasanya semenjak sekolah anak-anak bekerja sama dengan Gramedia grup, dan hub nya rata rata gabung di gedung yang sama, daku jadi lebih sering ke Gramedia. Icip Gramedia di beberapa kota dan sangat tambah suka sama konsep terkininya toko buku lejen ini. Seru rasanya berlama-lama di sini

  • Beberapa waktu lalu aku juga ke sana mas, tapi kesanku pas masuk: kok sempit ya haha. Begitu masuk ke dalam akhirnya nemu area yang legaan. Tapi sayangnya waktu itu rame dan hujan pula, sehingga dalamnya Gramedia kek cendol dawet haha 😀
    Mau masuk kafenya juga ruameeee. Kursi2 dan meja2nya full saat itu.
    Tapi setuju banget suka sama konsepnya. Sebenarnya walau nggak seestetik gitu asalkan disediakan banyak bangku, colokan, sama buku2 yang bisa dibaca tuh hepi banget lhooo 😀
    Sayang belum banyak cabang Gramedia yang gitu.
    Waktu itu yang nulis di wall itu cuma anak aku aja. Emaknya tadinya mau nulis “semoga rezim sekarang segera tumbang” atut diciduk kang bakso jadi wurung deh haha 😀

  • Kalau melihat ramainya Gramedia Jalma dan banyak anak muda membaca disana saya gak percaya deh dengan kalimat yang mengatakan minat baca anak muda menurun karena ada internet. Sebenarnya masih ada koq minat baca tuh buktinya rame. Toko buku yang melakukan inovasi dan berkreasi dengan layanannya bisa memunculkan ide baru konsep tokonya jadilaah seperti Gramedia Jalma. jadi hidup jadi ramai jadi viral jadi terkenal.
    Betewe puisinya keren juga mas Fajar hehehe

  • Aku juga sukaa Gramedia Jalma. Emang tempatnya asik buat nyantai baca buku dan berkumpul, atau WFC an.

    Tapi untuk koleksinya, kami malah gak mau ke sini karena incaran kami buku buku anak. Walaupun terhitung banyak, buku anaknya kurang lengkap. Understandable sih, karena target market nya memang untuk anak muda, jadi hampir pasti lebih diperbanyak koleksi novel, atau pengembangan diri lainnya (yang pengkategoriannya dibuat lebih modern tadi, hehe).

    Jadi kalau mau membeli buku, terutama buku2 anak, aku masih lebih prefer ke Gramedia yang di Depok. Kalau dibandingkan Depok, Matraman, dan Jalma, bisa aku bilang buku2 anaknya paling lengkap di Depok sih.

    • Bisa jadiii mbak, karena disana target marketnya buat anak2 muda, jadinya stock buku anak malah dikurangi. Tapi kalau di cabang lain, mungkin harusnya bisa dikondisikan ya. karena setauku, buku anak masih jadi salah satu kategori terlarisnya di Gramedia.

  • Terima kasih buat ulasan, Mas. Ini ulasan paling lengkap yang pernah aku baca tentang Gramedia Jalma. Foto-fotonya bikin aku makin kebayang gimana suasananya. Keren banget sih emang. Dulu kalau mau baca buku di Gramedia (kadang beberapa sampulnya terbuka, entah siapa yang buka), ya sambil berdiri atau jongkok di lantai. Kalau anak-anak nggak segan duduk gelesotan. Hehehehe… Kalau ada tempat duduknya kaya gini kan enak. Apalagi ada spot untuk buka laptop dan area untuk diskusi. Makin mantap. Aku setuju semua Gramedia seharusnya upgrade jadi begini. Pasti rame lagi.

    • Terima kasih mbak Asriiiii.. Duh saya jadi seneng deh bacanya, hahahah.
      Memang itu si, salah satu perubahan drastisnya. Saya pun sampe sekarang suka ngajak anak ngglosor di lantai kalo di gramed biasa. Memang baiknya, diperbanyaklah jalma ini. Sebanyak-banyaknya kalo bisa.

  • Ternyata gak percuma mampir ke sini, karena saya dapat cara jitu tentang sesuatu yang bisa saya praktikkan ke keponakan yaitu: kala si bocil melihat sesuatu, langsung aja tarik dan bilang itu barang gak dijual… wkwkwk.

    Dah lah ketawanya hehe.
    Saya belum kesampaian buat ke Gramedia Jalma ini. Padahal terbilang banyak acara literasi disana. Baru bisa mupeng lihat di medsos doang tentang tempatnya.

    Dan saya pun berharap ada yang macam ini juga. Kalo dibilang Gramedia ada macam kafenya, yah mungkin pada macam itu ya, kayak di Matraman. Cuma ya bentukannya cozy seperti di Jalma Blok M ini sepertinya belum banyak

  • Keren Tampilan Gramedia Blok-M sekarang nggak seperti Jaman gue sekolah dulu. Kalau lagi bolos sekolah paling seneng Nongkrong Di Blok-M termasuk Gramedia.

    Cuma sayangnya peminat buku sekarang nggak kaya dulu. Termasuk novel-novel terbitan Gramedia sudah jarang tidak semenarik dulu lagi.

  • Aku pernah beli novel di Gramedia kalo ngk salah 2 thn lepas karya Boy Candra yg bikin mewek gak berkesudahan hehe, tapi lupa Gramed yang mana, pokoknya di mal gitu, ya standar lah ya, tapi Gramedia di tempatku di lampung gitu cukup gede, bagian lantai atas khusus buku”, ya campur aduk berbagai macam buku, mulai dari yg ringan sampe yg berat, teesusun rapi, cukup banyak juga pengunjung nya, tapi enggk ada ruang untuk baca di tempat, paling baca sambil berdiri, bagian bawah jualan pelbagai pernak pernik sekolah lengkap,sekarang kayaknya minat baca mulai berkurang ya, udah pada liat internet semua, kayaknya enggk mau repot”cari buku fisik, padahal baca buku fisik itu sesuatu banget sih

    • Saya malah belom pernah baca boy Chandraa… heuheu. Taun ini kalo ada kesempatan, mau coba beli bukunya sih ya.
      Ini memang lebih asyik mbak tempatnya. Stock bukunya gak yang lebih banyak, tapi lebih enak buat nongkrong2

  • Hwaaa Gramed Jalma ini berkali² di pamerin ama kawan²ku di JKT. Lucunya mereka ngadain reuni SD dadakan di jalma sambil baca² buku. Jadi mupeng mas mau kesana..

    Yg paling penting tuh, di sana ada tempat ngopi.. Aduhai banget euy tempatnya.
    Jarang² ada konsep toko buku di kotaku yang bisa baca di tempat. Bahkan sekelas gramednya di sini.

    Kalau toko buku indie atau library cafe ada beberapa.

    Ahhh, wish bisa ke sana..

  • Kasihan si putri dibohongin Mulu sama papih Fajar wkwkwkw.
    Dan saya suka sekali Senayan Gramedia Jalma ini mas. Jadi tidak salting kalau cuma mau lihat-lihat buku saja. Apalagi banyak buku buat baca di tempat juga.
    Eh.. dulu pas saya ke sana ya ada area mesin tik bikin puisi. Jadi ingat zaman saya nulis pakai masin tik hahaha. Kalau ke Blok M lagi, saya mau mampir ke sana lagi. Apalagi kalau ada penulisan

  • Kang Fajar yuk main ke Gramedia Sukabumi… sepi pake banget.. hiks
    Sepertinya mereka harus belajar banget dari Gramedia Jalma ini supaya bisa menjadi toko buku kekinian yang nyaman untuk semua kalangan.
    Next kalau main ke Jakarta ini jadi list banget yang kudu dikunjungi. Kebayang nyamannya liat dari gambar-gambar nya aja, apalagi kalau ke sana langsung, ya

  • Nah, Gramedia Jalma, salah satu toko buku favorit ku. Semenjak bertransformasi, emang bikin betah dan nyaman. Mau nugas? Kerja? Atau full baca bahkan nyimak acara launching buku pun rasanya seru aja gitu. Beneran tempat buku yang hangat, banyak buku yang boleh dibaca ditempat. Misal lagi gabut pun bisa kesana, apalagi dari Bogor ada P11 makin gampil pisan kesana nya.

    Nah, coffee shop nya cozy banget dan enakeun buat zoom atau kerja. Cuma emang harga kopi, teh dan camilannya ala Jaksel banget, agak mehong lah. Sesekali mah boleh buat cobain, kopi dan teh nya enak, pun camilannya okelah.

    • Itu si paling mantepnya mbak. Beneran cuma sekali naik yaa.. (walaupun trayeknya aduhai jauh pisan)
      Mbak udah nyobain kopinya? Saya waktu itu lagi mager (keluar duit). Nanti kapan2 kalo lagi nongkrong, boleh lah disana ya.

  • Aku hampir aja nulis komen tanya: Jadi Jalma itu artinya apa? Tapi ga jadi, udah nemu jawabannya di paragraf berikutnya hihi. Jadi nambah kosakata baru, bahwa Jalma adalah manusia. Mungkin selaras dengan konsep tobuknya yang bisa dibilang ibarat “memanusiakan pembaca”, supaya ia lebih dari sekadar toko buku, tapi tempat penggemar buku merasakan hal lain yang membuat kita datang gak cuma beli buku dan pulang. Menarik banget memang buat ditiru Gramedia lain, atau tobuk pada umumnya.

  • Amin terdalam untuk doamu semoga semua toko buku gramedia seperti yang ada di blok M, Gramedia Jalma. Aku tambahin doanya, dengan konsep yang sangat baik ini, kiranya profit gramedia makin besar dan semakin banyak menyediakan lapangan pekerjaan. Amin lagi.

    Aku suka banget dengan sentuhan starbuck itu, ya benar banget. Usaha itu sampai saat ini tetep ada karena hal yang paling diperhatikannya adalah kenyamanan. Semoga saja Gramedia juga memperhatikan kenyamanan pengunjung.

    Fix lah sesegera mungkin aku kesana ini, udah berulang mau kesana ada ajaaa halangannya. Kali ini bener-bener di niatin. Biar beda tulisannya, aku bakal lama di coffee shop dah wkwkwk

  • Toko Gramedia cabang ini memang istimewa ya sampai membikin perasaanmu menjadi lebih betah dan juga berkesan. Semoga tokoh-tokoh Gramedia yang lain bisa ikutan seperti yang di sini karena konsepnya keren banget dan juga membuat orang-orang jadi lebih jatuh cinta lagi sama buku

  • kalau gramedianya punya ggedung sendiri mah kaya di merdeka kayaknya konsepnya bagus kaya gramed jalma, multi fungsi gitu ya jadinya ( pdhal jarng aku ke tokbuk gramed ). Kalau di emol mah tapi bisa juga sih

  • Aku apresiasi perubahan model bisnis Gramedia yang beradaptasi seperti ini. Terutama sejak mulai menjual beberapa printilan non-buku. Saya belum pernah ke Gramedia Jalma, tapi saya sempat lihat di Gramedia Purbalingga yang baru buka. Ada kedai kopi di dalamnya. Ini menarik karena di daerah kabupaten yang tidak seramai Purwokerto, tapi ternyata animo masyarakat cukup tinggi. Mudah-mudahan diperbanyak yang seperti ini hahaha. Tapi semoga kapan-kapan bisa main ke Gramedia Jalma juga.

  • Sejak meninggalkan Jakarta 5 tahun lalu, nggak terasa Jkt udh makin maju dan keren. Dulu ke Blok M ya cuman nongki sekalian makan gultik tengah malam abis kerja. Atau makan Jejepangan deket situ. Ternyata kini ada communal space yg oke banget nih. Gramedia Jalma.

    Jujur baru tahu makna Jalma barusan. Kirain kepanjangan apa gitu. Ternyata dari bahasa Sunda yak. Unik banget penamaannya. Memaknai kearifan lokal.

    Dan aku suka banget konsep kyk gini. Dulu berharap bgt ada toko buku dgn konsep kyk gitu. Krn sbnrnya Starbucks pun udh cocok bgt buat tempat baca, kerja hingga ngopi ganteng. Masalahnya, di sana kan ga jual buku. Wkwk

    Smg ntr bs ke Jakarta lagi dan mampir ke Gramedia Jalma ini deh.

  • Wah kalau aku pasti betah banget nih main ke gramedia sini soalnya bukunya bisa dibaca. Tapi ngomong-ngomong kalau kelamaan baca apa nggak diusir ya soalnya kan tetap aja itu toko buku heu

  • nampaknya masih ramai yang meminati buku fizikal walaupun sekarang dah ada e-book.

    saya pernah ke Gramedia @ Jakarta dulu tapi tak ingat branch mana. kat KL dulu ada branch Gramedia tapi sekarang dah tutup…

  • Menariknya Gramedia yang satu ini. Banyak pilihan buku. Pelbagai instagrammable spots. Rasanya kalau KSarie ke sini bisa lepak selama 3, 4 jamTerima kasih atas perkongsiannya. Masuk dalam bucketlist kalau tiba-tiba tersampai ke Jakarta nanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *