Akhirnyaaa… Setelah sebelumnya sempat tertunda perkara bentrok dengan jadwal badminton, Minggu pagi yang syahdu ini rencana ke Blok M itu akhirnya bisa terealisasikan juga. Nganu, ini formasinya masih sama ya dengan perjalanan sebelumnya. Masih bersama Saya, Thina, Putri dan Fatimah (a.k.a Wawa).
Tadinya sih, saya kepikiran untuk berangkat kesana naik kereta aja. Soalnya kebetulan rumah kami emang agak jauh dari sarana transportasi umum apapun. Satu-satunya transportasi yang first mile transit-nya lumayan deket dari rumah, itu cuma Stasiun LRT aja.
Biasanya sih, kita bakal naik dari stasiun LRT Cikunir 1, lalu turun di stasiun Cawang untuk berpindah ke KRL Commuter Line.
Tapi sehari sebelum keberangkatan, Fatimah punya pendapat yang berbeda. Katanya, kalau mau ke Blok M itu mending naik TransJakarta aja. Naiknya dari Halte Pinang Ranti, dan hanya transit satu kali saja. Nggak ribet pindah sana-sini, dan tibanya pun langsung di area dekat Blok M Plaza.
Terus, perkara motor pun katanya gampang. Sebab, di sekitar halte Pinang Ranti sana ada banyak opsi untuk tempat penitipan kendaraan.
Pas dikasih tau opsi itu, saya langsung setuju banget sih. Bukan apa-apa, ini kan si Putri udah 90 senti ya tingginya, alias udah masuk itungan bayar tiket. Kalo naik LRT terus transit KRL, langsung kebayang lah yaa bisa abis duitnya berapa. Minimal mal 70 rebu kudu siap.
Sementara nikmatnya naik TransJakarta, mau mondar-mandir keliling Jakarta ampe paru-paru bengek juga bayarnya tetep sama. Tetep Rp. 3500 perak aja.
Ditambah lagi, saya udah lama banget nggak naik moda transportasi termurah se-Jakarta ini. Semenjak pindah ke Bekasi, seringnya naik angkot sama LRT mulu kesana-kemari. Kalo nggak, ya naik motor.
Jadi wis, anggep aja tulisan ini sebagai sebuah tulisan nostalgia yaaak…
Bus Pertama : Koridor 9C

Seperti biasa, kalo jalannya ramean begini, berangkat pagi hanyalah mitos belaka. Apalagi ditambah dengan cuaca bekasi yang masih saja sendu, mataharinya sembunyi di belakang awan melulu. Makin-makin lah ini duo Thina dan Putri tidurnya pulesss benerr.. susah dibanguninnya.
Jadi yaaa.. long story short, Kami akhirnya berangkat dari rumah sekitar pukul 11.00. Perjalanan dari rumah ke Pinang Ranti menghabiskan waktu sekitar 20 menit, dan sesampainya disana kami langsung melipir ke penitipan motor terbesar yang bisa kami temukan.
Biaya titip motor disini murah juga ternyata. Cuma lima ribu perak aja.

Kami semua lanjut berjalan kaki ke dalam, lalu menempelkan kartu masing-masing bergantian ke mesin pembayaran. Suasana di dalam halte ramai, tapi jauh dari kata padat. Mungkin karena akhir pekan ya, jadi tingkat okupansinya tak seramai biasanya.
Tak perlu menunggu lama, sebab tak lama berselang sebuah Bus TransJakarta Koridor 9C yang ditunggu pun tiba di hadapan kami semua.

Ini merupakan salah satu koridor Transjakarta yang cukup panjang, dengan total pemberhentian sebanyak 15 halte. Tujuan akhirnya adalah Halte Bundaran Senayan, dimana nantinya kami bakal transit ke koridor lainnya.


Sekilas mengintip, mata saya menangkap kode MYS di samping bodi mobil. Pertanda bahwa mobil ini dioperasikan oleh PT Mayasari Bakti. Adapun jenis sasis yang digunakan Bus ini adalah Scania, dan diproduksi oleh United Tractor.
Dilihat-lihat lagi, kayaknya sih ini bukan bus yang baru-baru amat ya. Keliatan lah beberapa sudut bodinya udah agak dekil, pertanda jam terbangnya sudah lumayan banyak. Dan penggeraknya pun masih pakai sistem mesin konvensional, belum full electric selayaknya beberapa bus baru yang beredar sekarang ini.
Tapi tak apa.. wis, mari kita melangkah masuk.
There’s Something Wrong with The Driver

Suasana di dalam kabin tak jauh berbeda dengan suasana di halte, sama-sama sepinya. Rasanya sangat lengang, karena banyak kursi kosong tanpa penumpang.
Tapi buat saya, situasi begini ya aji mumpung yaa.. bebas untuk memilih bangku yang mana saja. Kami langsung memilih kursi terdekat dari pintu, agar akses keluar masuk nantinya tak butuh waktu lama. Saya duduk di samping Thina, sementara Putri duduk disamping Wawa.
Bus baru jalan beberapa meter, Thina langsung beralih.. sibuk dengan project rajutannya. Sementara Putri pun tak kalah sibuk, menatapi jendela sembari bertanya ratusan pertanyaan pada Wawa. Saya yang agak santai, memilih untuk berdiri dan mengamati suasana dalam bus ini.


Well, entah sudah berapa lama rasanya saya tidak naik TransJakarta. Semenjak pindah ke Bekasi, saya lebih sering melihat Bus-bus baru berseliweran saja. Menaikinya mah, hampir gak pernah sama sekali.
Sayangnya, seperti yang sudah saya ceritakan di paragraf sebelumnya, bus yang saya tumpangi satu ini sepertinya bukanlah bus baru. Dan entah karena jam terbangnya tinggi atau perawatannya yang mungkin kurang, kabinnya pun berisik sekali.
Bunyi decit terdengar di seluruh sudut, dan lubang AC nya banyak mengeluarkan tetesan air. Sudah gitu, di beberapa sudut kabin terlihat agak kusam dan kotor. Bahkan, peralatan APAR pun tergeletak begitu saja. Seakan tak terurus.


Say sih gak masalah yaa sama itu semua. Toh, bagi saya yang pernah naik Transjakarta yang zaman dulu, pastinya tahu persis bahwa kondisi bus di masa lalu malah jauh lebih parah lagi. Masalahnya, ada yang lebih mengkhawatirkan diluar dari kondisi bus ini sendiri.
Nganu, cara supirnya nyetir bus itu lho.. agak kacau. Pembawaannya kasar, sembrono, dan sering ngerem ngegas ngerem ngegas. Alhasil, kita yang di dalem kan jadinya mual yak. Berasa banget kayak lagi dikocok-kocok nih perut.
Saya yang tadinya berdiri, akhirnya memutuskan untuk duduk lagi. Karena beberapa kali hampir nyungsep, kaget dengan kecepatan yang berkurang drastis seara mendadak. Dan sepanjang jalan, bener-bener nahan mual banget.
Sampe saya bilang ke Thina, “Ini sopirnya lagi ada masalah apa ya di rumah?”. Mbok ya, jangan masalah rumah tuh dibawa ke kerjaan lho ya, hahaha
Hal inilah jua yang akhirnya membuat kami memutuskan untuk turun lebih awal.

Meski posisi bus baru sampai di Halte Senayan Bank Jakarta, kami memilih untuk segera menghambur keluar dari dalam Bus. Dari sini, kami akan transit ke koridor 6M dengan tujuan akhir terminal Blok M.

Bus Kedua : Koridor 6M

Syukurlah, kala melihat sayup-sayup bus transit yang datang.. ternyata bus listrik! Saya pun langsung sumringah, sembari berdoa dalam hati semoga supirnya gak ada masalah rumah tangga kayak bus sebelumnya, hahaha.
Bus berwarna biru sempurna itu terlihat lebih modern, dengan papan informasi LED yang lebih besar dan bodi yang lebih kinclong. Kode DMR yang tertera menandakan bahwa bus ini dikelola oleh DAMRI. Addapun emblem di tengahnya bertuliskan Skywell, yang merupakan buah produksi dari Nanjing Golden Dragon Bus asal negeri tirai bambu.


Ketika kami semua melangkah masuk, suasananya terasa jauh berbeda dengan bus sebelumnya. Kali ini lebih bersih, lebih luas, juga lebih hening. Tak ada lagi suara decit yang mengganggu, dan supirnya pun membawa bus dengan lebih santai. Perlahan, akhirnya rasa mual itu pun sirna.
Nah, sekarang saya malah jadi ngakak mulu.. perkara kelakuan si Putri.

Jadi kan sekarang tuh tiap pemberhentian halte, itu selalu ada backsound tambahannya ya. Musiknya pake lagu kicir-kicir, yang merupakan lagu daerah khas DKI Jakarta.
Dasar bocil gamau diem ya.. tiap halte berhenti, saat itu pulalah dia ikut bersenandung sesuai nada di musik kicir-kicir itu. Kenceng banget pulak.
Satu bus akhirnya pada ngeliatin kita semua.. Ampuuuun dah, hahaha
Tiba di Terminal Akhir Blok M

Perjalanan hari ini memang singkat saja, memakan waktu kurang dari satu jam. Wajar, karena ini hari minggu, jadi pekerja tak seramai hari biasanya. Kalo hari-hari kerja sih.. duh, ampun dije. Saya gak berani sekedar bayanginnya aja, hahaha.
Tepat jam 12 siang, bus yang kami tumpangi tiba di Terminal Blok M. Saya kira tadinya penumpang akan keluar lewat pintu samping, ternyata nggak ya. Kami semua berbaris keluar melalui pintu depan, di samping sang supir. Alat untuk tap pembayaran pun sudah tersaji disana, jadi sekalian keluar.. sekalian nge-tap.

Pas sampe di barisan terdepan, supirnya lagi duduk santai. Tadinya saya kepikiran, pengen bilang begini ke pak supir : “Makasih ya pak, bawa mobilnya halus dan santai. Semoga bapak dan istri damai terus yaa.. gak ada masalah di rumah”. Tapi pas liat ke belakang, kok Thina udah ngeliatin saya dengan mata melotot, hahaha.
Wes, gajadi.


Okelah.. segitu aja cerita perjalanan kali ini. Kalau kalian gimana? Sering juga gak naik moda transportasi TransJakarta? Punya pengalaman atau cerita unik gak?
Yuk, ceritain di kolom komentar yaaa!
Bekasi, 28 Januari 2026
Ditulis sembari melihat info saldo rekening yang panjangnya kurang dari 2 senti.




Pengen banget saya nyoba keliling Jakarta naik TJ ini….murah banget yaaa ongkosnya only 3500 rupiah kemana mana….murah meriah tapi kenyang berkeliling Jakarta. Apalagi kalau sambil dengerin konser Putri menyanyikan lagu kicir² hehehe..makin seruu deh. Seneng yaa Putri keliling Jakarta ..
Iyaa, makasih mbak heni
Terakhir liburan kemarin pulangnya saya juga coba transjakarta dari Blok M ke Bogor. Asli murah banget, ya. Cuma Rp. 3.500. Ibarat makan mah kenyang banget.
Dari Blok M setengah 6 sore, sampai ke Bogor setengah sembilan malam, bener dah puas plus desak-desakan dan macetnya dinikmati efek pulang di jam kerja.. hehe
Ahahaha, kalo hari kerja mah saya gak brani mas. Udah kebayang si jadi pepes, ditambah macet pulak
Aku tuh sebenarnya suka2 aja naik TJ asalkan nggak pas buru2 dan nggak sendirian, soalnya suka keder. Baru sekali doank aku naik TJ sendiri, setelah bolak balik nanya kalau bus itu nggak transit2 ke mana2 haha.
Iya ih keknya beberapa driver busway ada yang membawa masalah rumah tangganya ke tempat kerja yaa, sehingga nyopirnya ada yang ugal2an gitu.
Tapi jujur jarang nbaik busway melompong gitu seringnya yang full, jadi karena itu kyknya selama ini jarang dapat TJ yang ugal2an.
Dari Pinang Ranti panjang sekali yaaa rutenya, nggak kebayang yang dari Bogor berapa haltenya hehe.
.
Aku mah ga pernah naik TJ pas rame mbak. Ngebayangin macetnya aja udah mual duluan wkwkwk
Haha iyaa apalagi bawa bocah, jangaaann 😀
Weleh aku nggak pernah merhatiin kode2 busnya, ternyata DMR tu DAMRUI, tapi lha kok bikinan negara sebelah hihihi 😀 Emang ada lagi selain DMR? Yaa kapan2 deh aku liatin juga TJ yg aku naiki hehe.
Aku pernah dua kali pas rame2 mas. Pertama sama temen, kedua mencoba berani sendirian, tapi keduanya sama2 pas jam pulang kerja hahaha. Yawda bismillah aja. Kegencet sih tapi masih selamat 😀
BTW ngobrolin naik TJ sendiri aku barusan khatam nih akhirnya naik TJ dari Halte Kebayoran ke arah Pondok Pinang, horeeee tepuk tangan wkwkw. Biar rute pendek aku bangga pada diriku #uhuks =))
Nah kapan2 mau coba juga ah ke arah blok M supaya bisa dapat experience lagi. Cuma belum nemu nih nanti dari koridor 8 ke 9 itu titiknya di mana. Apa bisa dari Lebak Bulus yaaa haha.
Jujur ya, aku kalau lihat rute TJ di atas pintunya, mendadak mataku kek berputar2, bingung wkwkwk. Kalau pertama kalinya nggak ditemenin temen aku keder juga sih 😀 .
wah sekarang sudah ada bus listrik ya untuk trans jakarta. aku tahun 2023 sempat ke jakarta dan ke mana-mana juga naik trans jakarta ini dan pernah salah pilih rute juga harusnya ke pasar senen malah ke lebak bulus untung bisa langsung turun dan pilih bus yang benar. heu
Kalo naik bis ini mah santai aja mbak. Salah rute juga tinggal naik bus trayek sebaliknya.
Tapi yaa gitu, paling agak capek aja hahaha
Yang paling di syukuri saat tinggal di Jakarta ya transportasi nya. Naik Tije alias Transjakarta Murmer, bisa sambung menyambung kemana aja. Koridor 9C kalau jam kerja beuh rame banget. Bisa-bisa jadi pepes, lain hal kalau weekend ya, sepi dan bisa leluasa pilih tempat duduk etapi, kondisi Tije nya memprihatikan apalagi pak supir yang membawa secara sembrono, kebayang perut bakalan kagak enak deh.
Syukurlah, Tije kedua aman damai yak. Jadi nya enjoy sampe blok M. Andai Kota Bogor dan Kota lainnya senyaman Jakarta dari sisi transportasi, pemerataan ekonomi pasti terwujud lebih cepat hehehe.
Nah ini mbak, Apalagi sekarang ada yang trayeknya jauh ya. Ampe ke Bogor sana langsung.
Aku emang nandain kalo bus TJ kayaknya enakan yang listrik ya. Nganu, lebih zen aja gitu
Perjalanan dengan TJ tuh emang menyenangkan. Kadang aku lebih menikmati perjalanannya dari pada tujuannya hihi. Lengkap dengan segala ketidaknyamanan aku selalu senang. Apalagi kalau sopirnya suka bikin ehem banget.
Wkwkwkwk aku ngakak dengan keisenganmu, pengen banget loh tahu reaksi sopirnya kalau kalimat sarkas terima kasih dengan embel2 itu tersampaikan. Langsung kalimatmu masalah rumah tuh jangan dibawah keluar langsung nancep. Ha ha ha kau emang lawak.
Anw, aku tuh gagal fokus sama jaketnya Putri, kenapa kali ini aku lihat dia pakai jaket itu cakep banget, Aaah kangen. Semoga kita segera ketemu ya Putri. Salam ya Jar.
Ahahaha untung gak disampein ya mbak. Kalo nggak bisa pecah lah perang dunia.
nanti kalo ada kopdar yang deket2 aku ajak ya mbaak
Aku belom pernah sama sekali naik Trans Jakarta mas walo termasuk sering main ke Jakarta, soalnya kalo aku liat selalu padat gitu, apalagi pas wayahnya balik kerja, udah pasti yg nunggu di halte nya aja rame , wah main ke blok m ya? Aku tiga minggu yg lalu sempet main ke blok m, mau nyobain tempat makan yg viral “itu, hehe akhirnya kesampaian juga, jaman dulu banget mah pernah naik bus sebelum ada bus transjakarta, janjian mo nonton ke mall blok m atau mall apa gitu deh, seumur ” Itu pun nekat nyoba naik bus di jakarta, wkwkk
Coba kapan2 naiknya pas weekend mbak. Insya Allah aman kok, biasanya lebih sepi kalo pas akhir pekan gitu.
Nanti cerita di Blok M nya menyusul yaaa
Semasa SA di Jakarta, hanya menggunakan perkhidmatan Grab sahaja..atau panggil taksi biru tu..x ingat pulak namanya…sygnya bus nampak masih elok tapi banyak yang rosak ye..AC nyer keluar air, berbunyi..dan sikap pemandu..patut service kena bagus kan…
Nah, memang untuk perawatan acapkali agak kurang mbak. Apalagi kalau unitnya udah agak tua, biasanya memang keliatan banget jomplangnya dibandingkan unit yang masih baru.
Sopir oh sopirrr.. bapak eee mbok ya yang kalem kalau bawa bisss..
Itu juga jadi alasan kenapa saya pilih-pilih kalau pakai transum Mas. Meskipun baru, kalau denger selenting saja bapak sorpirnya was wes wos kalau bawa, mending pake ojek online saja. Daripada malu uwek uwek di bus..
Kayaknya kita tuh perlu banget pelatihan khusus kali ya buat si bapak supir² ini. Biar agak kalem gitu bawa transportnya. Mana di dalem tuh isinya nyawa.
Nah kalo ini agak susah ya mbak. Even sekelas bluebird aja aku pernah lho dapet driver yang gak ngenakin. Ngebut banget macem pembalap F1 wkwkwk
Buat masa ini pengalaman naik bas di sini masih ok.
Sabar ya dapat pemandu kasar.
Iyaaa, mencoba sabar sebenarnya. Tp akhirnya tak kuasa juga. Turun lebih awal jadinya
Petualangan yang seru sekali naik Transjakarta karena enaknya naik moda transportasi ini adalah murah dan juga kita bisa menempuh perjalanannya cukup jauh tanpa harus menambah biaya lagi jadi tapi disayangkan karena supirnya ugal-ugalan jadi kenangannya kurang baik ya . ada baiknya kita sampaikan keluhan soal kelakuan pengemudian seperti ini supaya ada teguran dan tidak dilakukan lagi
Terima kasih mas arief
6M itu jalan ninjaku ketika menuju sekitaran Kuningan, Bunsen hingga Blok M dari stasiun Manggarai. Jalan ninja yang sat set bikin happy, terlebih buat freelancer macam ni yang kantornya di mana aja ada, alhamdulillah hehe.
Btw ada Transjakarta yang koridor bekasi kampung Melayu juga Mas Fajar. Boleh tuh di review, Bekasinya lewat mana aja.
Soalnya daku penasaran suka ketemu bus nya di halte Kampung Melayu.
Duh kalo nyobain trayek lain, aku blm yakin si hahahaha. Abisan emang sejarang itu naik TJ mbak,
Maybe nanti yaa, kapan2 kalau ada kesempatan.
Kalau ditawarin jadi warga Jakarta, saya ogah sih.. Males dengan ritmenya hahaha. Tapi moda transportasinya emang bikin iri. Beda sama Bandung Macet ga jelas dan rute plus jalan yang semrawut, bikin kesel. Cobain deh main ke Bandung dan jajalin transumnya . Mungkin Mas Fajar bakal sering dipelototin Mbak Thina, karena di sini tuh banyak driver yang pada ajaib hahaha
Wah, harus punya otot kawat tulang besi mbak, hahaha. Makanya bersyukur skrg sudah pindah ke daerah pinggirannya, alias bekasi.
Aku ke bandung cuma traveling doang si. Tp emang sering denger banyak yang bilang, kalo transum disana masih kacau banget wkwkwk
Someday kalau ke Jakarta ingin cobain Tranjakarta juga, selama ini hanya baca dan dengar cerita dari teman nyamannya naik TJ secara jurusannya juga banyak sih ya
Di Surabaya juga semakin banyak moda transportasi umum yang nyaman. Senang deh kalau seperti ini semakin memudahkan mobilisasi warga
Terima kasih mbak diaah..
Aaaah kangen banget sama koridor 9..
Dulu pas sekitar tahun 2012 an saya pernah kerja di daerah Tebet. Lalu sesekali nebeng kakak ipar yang kerja di PI.. Jadi saya akan naik TJ (dulu kayanya masih pada nyebutnya busway), dari halte depan bendera HI, terus turun di semanggi.. yang lalu harus melalui jembatan yang panjang bangett.. lalu sambung ke arah Cawang dan turun di Halte Cikoko/Cawang.
Dulu belum ada ojol juga sih. Perlu ngeluarin ongkos 40rb sekali jalan kalau naik ojek.. pilihan TJ ini dirasa ekonomis dan jelas atletis
Saya juga dulu lumayan sering mbak Naik TJ. Malah, pernah beberapa kali ngerasain tarif 2 ribu perak, saking berangkatnya pagi hehehe.
Sekarang mah, kemana-mana bawa motor mulu, jadi agak jarang.
Mungkin kan pemandu itu ada masalah yang tidak kita tahu. Di Jakarta 2 tahun lepas, saya guna Grab sebab masa yang suntuk. Tapi naik bas juga seronok sebab dapat tengok sekeliling cuma ketika itu masa tidak mengizinkan.
Lain waktu coba naik bus mbaak. Apalagi bus wisata yang ada di Jakarta, hehehe. Seronok sangat
Aku kalau nemu supir bus yang demikian, auto kirim DM ke pemkot
Soalnya keselamatan kita semua lho itu
Kan ga tahu dalam bus ada yang jantungan apa gak
Kan ga mau juga berurusan sama polisi karena membahayakan orang lain
Terima kasih mbak Rahmah
jikalau pergi ke Kuala Lumpur, saya pasti akan gunakan pengangkutan awam seperti LRT, Komuter dan MRT kerana tidak suka memandu dalam kesesakan jalanraya.
Saya pun samaaa mas. Lebih seronok naik LRT. Tapi sayangnya harganya mahal lah sangat
Wow! Banyak negara sudah beralih pada bus listrik… Ianya lebih mesra alam…. Semoga Jakarta terus makmur!
Belum semuanya, tapi perlahan menuju kesana uncle.
Hayoo, cobain naik TJ uncle
Harapnya satu hari nanti kalau KSarie ke Jakarta bila merasai pengalaman naik bas begini. Tapi kena dibeli kartu nya dulu kan untuk diimbas pada mesin pembayar itu. Beberapa kali KSarie ke Jakarta, KSarie naik GrabRide
Grab memang agak familiar juga, ada di Malaysia. Cuma kalau untuk jarak jauh, memang agak mahal kak. Boleh ‘boncos’ kita kalau terlalu kerap guna, hahaha.
kalau di llihat dari beberapa tulisan temen2 bisa pakai transum di jabodetabek, ah bandung ga ada uy krl, ada nya wohosss jdi iri aku teh.
Terima kasih mbak Nuy
Hahaha endingnya dipelototin istri itu ngeri ya. Nyali langsung menciut
Saya belum pernah naik transjakarta tapi pernah ke Blok M. Dulu naik taxol, itu pun anakku juga mual. Nggak biasanya. Entah karena cuaca Jakarta yang panas, mobil yang bau atau cara mengemudi drivernya yang kurang oke. Kasian banget sampe keringat dingin si bocah.
Btw saya baru tahu transjakarta sudah ada yang bus listrik. Terus waktu tempuhnya juga nggak begitu lama ya. Hanya sejam saja. Mungkin karena di Jakarta TJ punya jalur sendiri.
Cobain naik mobil listrik mbaak. Asyik lho, lebih sunyi dan nyaman naiknya, hehehe
jakarta ni memang my travel wishlist utk tahun ni sbb dh plan nak ke sana dgn my 2 blogger frens, cuma belum pilih date lagi…hrp2 dpt lah direalisasi tahun ni 😉
Ayooo, kalau kesini berkabar ya mas
Asyiknya Putri jalan-jalan ke Blok M, aku cobain naik TJ dari Bogor ke Blok M lumayan seru dan murmer hanya anakku bongsor ya baru duduk disuruh berdiri sama nenek-nenek haha encok kan antar kota berdiri..
Terima kasih mbak dedew
Transjakarta jadi andalan dan favorit saya mas. Nganu.. tarifnya pas di hati dan kantong hahaha. Saya kalau suntuk, modal 3500 saja bisa muter Jakarta hahhaa. Dan 9C ini sering saya naik dari halte sentral Cawang mas kalau mau ke Senayan terus ke Blok M. Pulangnya juga kalau mau naik KRL, saya naik dari halte Bundaran Senayan, lalu turun di halte Cikoko, lalu lanjut ke stasiun Cawang. Lebih cepat sampai ke stasiun Pondok Cina. Saya juga suka Transjakarta yang listrik. Kalau hepe lowbat, bisa numpang ngechas hehehe.
kita boleh buat report kan kalau kita dapati driver memandu dalam keadaan yang boleh membahayakan penumpang?
untung Jakarta ada laluan bas sendiri. jadi secara tidak langsung boleh elak traffic jammed…