Perdana Menjajal LRT Velodrome – Pegangsaan Dua

Ngapunten ya gaes, untuk sementara tulisan seri Yogyakartanya saya jeda dulu. Soalnya jujur aja nih ya, beberapa hari terakhir ini kesibukan saya lagi padat bukan main. Deadline demi deadline menanti, membuat energi saya terkuras cepat sekali.

Dan masalahnya, untuk bisa mengeluarkan draft tulisan lama, sesungguhnya butuh hampir energi 2 kali lipat. Karena mau gak mau, saya harus riset ulang lagi. Memanggil kembali memori lama, serta menjemput detil-detil cerita. Itu capek ya.

Maka izinkan saya untuk sejenak beralih ke draft tulisan terbaru, yang baru saja saya jalani beberapa waktu lalu. Momen ketika akhirnya, untuk pertama kalinya saya menjajal moda transportasi LRT cabang Velodrome. Sebuah jalur baru, yang cukup terisolasi dan belum terintegrasi dengan jalur kereta manapun.

Seperti apa ceritanya? Yuk, lanjut baca sampai selesai ya, jangan di-skip. Yang ketauan nge-skip, tetangganya motong kayu tiap minggu.

————————–

Perjalanan kali ini terjadi kala Saya dan teman-teman Blogger lainnya menghadiri undangan ke Kantor ASUS di The Kenshington Tower, Jakarta Utara.

Berhubung daerah Utara sana merupakan daerah yang jarang terjamah oleh saya, maka saya pun mengajak rekan Blogger lain untuk berangkat bersama-sama. Kami sepakat untuk berkumpul dulu di Stasiun Manggarai, sebelum berpindah ke moda transportasi lainnya.

Kala itu waktu sudah menunjukkan pukul 13.00, sementara acara dimulai pukul 14.00. Di Manggarai, saya baru bertemu dengan Mbak Mei (meimoodaema.com) dan Mas Achi (achihartoyo.id). Sisanya ada Mbak Lala (lalakitc.com) dan mbak Uthie (utieadnu.com).

Sesungguhnya saya pribadi sih santai saja ya. Nggak yang buru-buru juga.

Namun diluar dugaan, ternyata Mas Achi justru meminta kami untuk berangkat secepatnya. Takut telat katanya, mengingat Mbak Katerina ini cukup disiplin perkara waktu.

Dan berhubung saya ini memang buta arah, jadi yowes lah.. saya pun ngikut aja.

Dari Manggarai, kami berpindah ke Transjakarta 4D. Dimana bus ini akan membawa kami menuju Halte Velodrome, untuk kemudian berpindah transportasi lagi ke Kereta LRT jurusan Velodrome – Pegangsaan Dua.

Ribet banget yak pindah-pindah jalur begitu? YA MEMANG!

Sekilas Tentang LRT Velodrome

Secara definisi, LRT merupakan Light Rail Transit, alias kereta perkotaan dengan ukuran dan kapasitas yang lebih kecil dibandingkan dengan kereta pada umumnya. Dan berbeda dengan KRL, Jalur LRT itu biasanya merupakan jalur elevated, alias layang. Membelah jalan raya atau jalur-jalur di samping Jalan Tol.

Saat ini untuk LRT di Jakarta sendiri terbagi menjadi 2 pengembangan jalur ya. Ada LRT Jabodebek, dan satunya lagi LRT Velodrome. Kalau LRT Jabodebek, kebetulan saya udah lumayan sering pake. Soalnya jalurnya panjang, dan sudah terintegrasi juga dengan jalur KRL.

Sementara untuk LRT Velodrome, saat ini masih terbatas hanya sampai ke Stasiun Pegangsaan Dua aja. Aksesnya pun terisolasi, sebab tidak terintegrasi dengan jalur kereta apapun di dalam kota. Sehingga wajar saja, kalau penggunanya pun kalah jauh kalau dibandingkan dengan LRT Jabodebek.

Menariknya, pada awalnya proyek ini tuh ternyata dibangun untuk mendukung mobilitas Asian Games 2018 lho ya. Alias, dipakenya cuma demi keperluan internal aja. Pas lagi acara.

Barulah setahun kemudian, tepatnya Desember 2019, LRT Velodrome ini akhirnya resmi beroperasi dan dibuka untuk masyarakat umum.

Adapun untuk jalur LRT Velodrome ini, panjang lintasannya hanya 5.8 Km saja. Jumlah total stasiunnya cuma ada 6, dengan total estimasi waktu tempuh sekitar 13 menit.

Sementara tarif perjalanannya saat ini masih flat, hanya Rp. 5.000,- saja per sekali perjalanan.

Berlari-Lari Mengejar Kereta

Berhubung Mas Achi dan Mbak Mei ini adalah content creator senior, berjalan beriringan bersama mereka berdua tentu tak akan lengkap kalau tak sekalian nyuri-nyuri ambil footage di sana sini.

Dan benar saja. Sejak turun dari Transjakarta sampai berpindah dan tiba di gate menuju LRT Velodrome, rasanya entah sudah berapa kali kami terhenti sejenak untuk demi bergantian mengambil stock video.

Namun sayangnya, semesta tidak mendukung kami. Karena tepat kala langkah kaki kami memasuki area stasiun, saat itulah sebuah penguman terdengar jelas dari pengeras suasa.

“LRT Jurusan Pegangsaan Dua, akan diberangkatkan dalam 2 menit lagi..”

Waah, mendengar itu tentu kami semua pun langsung panik. Segera saja kami bertiga membatalkan semua proses pengambilan gambar, lalu menghambur berlarian menuju ke pintu kereta.

Saat itulah, sebuah pemandangan yang agak aneh tersaji depan mata. Sebuah pemandangan yang membuat saya kebingungan, dan bertanya-tanya..

Keretanya Kok Bantet Amat?

Sumpah deh, untuk saya yang sehari-harinya sering menggunakan LRT Jabodebek, begitu naik kereta di Velodrome ini langsung berasa culture shock-nya.

Bukan apa-apa, ini kok diliat-liat keretanya pendek betul ya? Cuma terdiri dari 2 rangkaian aja lho. Ini diadu sama Bus Transjakarta yang merek Zhong Thong aja kayaknya panjangnya gak begitu beda jauh ya.

Nganu, kereta LRT Jabodebek yang terdiri dari 6 rangkaian aja sering saya anggep pendek, apalagi ini cuma 2 doang? Definisi harfiah dari kereta ‘bantet’ yakkkk… hahaha

Meski begitu, saya lumayan takjub. Sebab, suasana di dalam kabin terasa sedikit lebih luas dan modern. Papan penunjuk informasinya cukup jelas, dengan lebig banyak layar LCD yang terpasang di beberapa sudut.

Sejenak mata saya terdiam, mencari-cari logo INKA. Namun sayangnya, tentu tak ada.

Wajar saja, karena memang khusus untuk jalur Velodrome ini, kereta yang digunakan bukan buatan INKA. Melainkan, buah produksi dari pabrikan Hyundai Rotem asal Korea Selatan.

Sementara Mbak Mei dan Mas Achi duduk, saya memutuskan untuk tetap berdiri saja. Menikmati suasana perjalanan di dalam kabin, sembari mencoba menangkap detil-detil kecil di dalam kereta mungil ini.

Secara desain, jujur saya lebih suka kereta buatan korea ini ketimbang INKA. Desainnya terasa lebih modern, dan terasa lebih baik dari sisi build quality-nya.

Not to mention. Kalau kita perhatikan, LCD informasi di kereta buatan INKA, itu sekarang udah banyak yang mulai berubah warna, atau bahkan ada yang sudah rusak. Sementara di kereta ini, semuanya nampak masih utuh dan mulus, tanpa ada kerusakan apapun.

Lalu perbedaan lainnya, untuk area masinis di kereta ini dibuat tertutup sepenuhnya. Berbeda dengan kereta buatan INKA yang terbuka lebar, dan hanya dihalangi oleh pintu plastik tipis saja.

Sementara kalau untuk teknologi, keduanya sudah sama-sama berjalan tanpa Masinis alias Autopilot ya.

Meski begitu, ada satu hal yang membuat saya merasa kurang nyaman. Yakni, kursi yang tersaji. Alih-alih menggunakan bahan kain seperti yang terpasang di kereta buatan INKA, kursi di kereta ini malah menggunakan bahan plastik sepenuhnya.

Untung ni perjalanannya bentar doang ya. Soalnya kalo buat perjalanan jauh, punggung saya bakal terasa nggak nyaman banget si, asli.

Tiba di Stasiun Boulevard Selatan

Perjalanan menuju stasiun tujuan kami tak berlangsung lama, hanya butuh hitungan menit saja. Wajar, karena memang selisihnya hanya 3 stasiun. Itupun, jarak antar stasiunnya kan dekat-dekat.

Dari stasiun Boulevard 2 ini, rencananya kami hanya perlu turun sebentar, lalu berjalan kaki menuju Kenshingtown Tower.

Oya, selama perjalanan, saya bisa bilang kabinnya lebih kedap. Tak banyak suara yang bisa menembus ke dalam kabin, sehingga suasana di dalam terasa lebih tenang. Namun anehnya, dari dalam kereta justru mengeluarkan suara berdengung selama perjalanan.

Entahlah fungsinya untuk apa, mungkin supaya gak hening-hening amat kali ya. Takut penumpangnya pada keenakan dan ketiduran berjamaah, hahaha.

Padahal mah, kalau pengen suasana kabinnnya gak hening-hening amat, mending setelin aja ya lagu qosidahan. Menfaatnya jelas : suasana jadi lebih meriah, relung qolbu pun tersentuh dengan mudah. hahahahaha.

Ada Apa Lagi Berikutnya?

Meskipun jalur velodrome ini masihlah sangat sepi, dan bahkan terasa agak useless. Tapi sebenarnya, jalur ini punya potensi yang lebih baik lagi di masa mendatang.

Apalagi kalau melihat roadmap pembangunannya, dimana untuk tahap berikutnya, jalur ini direncanakan akan terhubung ke stasiun Manggarai. Meliputi stasiun Rawamangun, Pramuka BPKP, Pasar Pramuka, Matraman dan bermuara di Manggarai.

Nah, kalau nantinya bisa sampai bisa terintegrasi dengan jalur KRL begini, saya yakin sih penggunanya akan naik secara drastis. Soalnya yaaa.. memang itu yang selama ini dicari.

Dijamin deh, nantinya gak bakalan lagi deh ya kereta bantet, yang cuma terdiri dari 2 rangkaian, hahahaha.

Wis pokoknya, doakan saja ya. Semoga pembangunan LRT fase berikutnya ini bisa cepat selesai!

Bekasi, 13 Maret 2026
Ditulis setelah menyelesaikan semua deadline tulisan di hari yang sama.


Yuk, bantu penulis agar makin semangat membuat tulisan baru.
Kamu bisa melakukan transfer secara langsung ke rekening BCA : 6871338300.

Untuk info ratecard dan ajakan kerjasama, silahkan klik tombol berikut :

Fajar Fathurrahman

A Man with frugal style living. Sering dikira pelit, padahal cuma males keluar duit.

More Reading

Post navigation

Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *