Another Lunch With a View at Puncak Segoro, Yogyakarta

Tak terasa, terakhir kali saya menulis seri Yogyakarta itu pas tanggal 10 Maret 2026 lalu. Yang berarti, sudah hampir 2 bulan terlewati. Padahal niat awalnya hanya ingin rehat sejenak, membiarkan draft lawas ini ‘diselak’ untuk memberi jalan pada draft-draft perjalanan yang lebih baru.

Iya, niatnya sejenak doang. Tapi kenyataannya malah bablas 2 bulan, hahahaha

Sayangnya, selama bulan April kemarin bisa dibilang semangat ngonten saya lagi agak redup euy. Udah mah perjalanan traveling saya nggak banyak, eeeeh.. sekalinya ada momen, saya malah males ambil foto-foto.

Untungnya, masih ada sisa draft tulisan dari momen Lebaran dan sejumlah perjalanan singkat. Makanya blog ini masih bisa lancar jaya, rutin update minimal seminggu 2 kali.

Nah, sekarang saya melanjutkan seri Yogyakarta lagi. Pertanda apa?

Yak, bahannya udah abisss… hahahaha.

Makanya doain aja yak, moga aja seri Yogyakarta ini bisa saya teruskan sampai selesai. Tanpa ada banyak distraksi, dan selak sana-sini seperti biasanya.

Seri lengkap Yogyakarta, bisa cek disini :

Setelah menikmati indahnya view dari Pantai Nguluran, kami memutuskan untuk bergeser ke lokasi yang berbeda. Rekomendasi dari Mbak Yanti, tentu saja. Beliau berkali-kali bilang bahwa kita akan mencoba makan siang with a view gitu di tempat lain. “Lebih adem, lebih nyaman, dan viewnya lebih mantep”, begitulah kurang lebih deskripsinya.

Saya sih ngangguk-ngangguk aja yak. Ngikut aja lah pokoknya.

Nama tempat yang kami tuju adalah Puncak Segoro, dan jaraknya hanya 900 meter dari Teras Kaca. Kami semua segera melangkahkan kaki kembali ke mobil dan segera bergeser menuju lokasi yang dituju.

Sekilas kalau dipantau dari Google Maps, jarak antar dua tempat wisata ini cukup dekat ya. Tapi sayang, akses jalan yang menjadi penghubung keduanya belum tertutupi aspal sepenuhnya. Sebagian besar merupakan jalan biasa dengan bebatuan dan kerikil, sehingga membuat perjalanan agak sedikit memakan waktu.

Saat mobil yang kami tumpangi tiba di parkiran Puncak Segoro, arloji saya telah menunjukkan pukul 12.00 waktu setempat. Sudah masuk jamnya makan siang nih, jadi kami memutuskan untuk tak membuang banyak waktu.

Selepas keluar dari pintu mobil, kami langsung bergegas menghampiri petugas ticketing yang sedang berjaga di posisinya.

Petugas itupun langsung sigap menjelaskan dua paket yang tersedia di Puncak Segoro ini. Jadi untuk area disini tuh terbagi menjadi dua. Ada area Segorohinggil yang menyajikan view yang tinggi dan luas, serta Cliffbar yang posisinya lebih dekat dengan pantai.

Tak mau repot, kami putuskan untuk menyambangi keduanya. Nganu, ini kan liburan dibayarin kantor yak. Jadi gaskeun ajalah. Beda urusannya kalo saya yang keluar duit, hahaha.

Adapun biaya yang perlu dibayarkan untuk ke Segorohinggil adalah 75 ribu, sementara untuk Cliffbar di angka 50 ribu. Masing-masing mendapatkan voucher untuk pembelian makan senilai 25 ribu.

Kenapa ke Segorohinggil lebih mahal?

Itu karena….

Naik ke Atas dengan Gondola

Yakkk.. untuk naik ke Segorohinggil, kita bakal naik gondola.

Bentuknya agak unik juga si nih ya. Macem kayak kerangka besi gitu yang diikat dengan tali baja dan ditarik menggunakan mesin hidrolik. Saya lupa tanya berapa kapasitas maksimalnya, tapi yang pasti kami berempat bisa naik bareng-bareng,

Gausah tanya kecepatannya segimana ya. Pokoknya mah, lambat benerrrr, wkwkwk.

Salut sih sama pengembang tempatnya. Kepikiran lhoo buat bikin fasilitas macem gini. Mengingat posisinya yang berada di perbukitan dan matahari siang bolong yang cukup menyengat, kehadiran gondola ini membuat kali bisa menghemat banyak kalori ketimbang berjalan kaki.

Udah gitu bikinnya pun langsung 2 jalur pulak. Jadi kalau lagi pas peak season, gondola ini dijamin siap buat jadi wahana angkut naik turun.

Thina mah santuy-santuy aja
Mbak Yanti Gemeteran

Cumaaa jujur ya, saya pribadi tetap merasakan kekhawatiran saat menaiki gondola ini. Bukan karena ketinggiannya, tapi karena bahan pembuatannya yang mayoritas terbuat dari besi.

Kalo pas lagi hujan atau petir, pastinya bakal ngeri banget si buat naik ke Gondola ini. Takut banget nantinya kena samber petir.

Jarak dari atas ke bawah. Lumayan juga.

Lunch with a View di Segorohinggil

Hanya beberapa langkah dari gondola barusan, kami semua langsung disambut oleh suara deburan ombak yang menentramkan hati. Tak lama berselang, panas mentari pun bersembunyi dibalik awan, digantikan oleh sepoi angin yang menyengarkan jiwa.

Berbeda dengan Teras Kaca yang memacu adrenalin, Puncak Segoro ini justru menawarkan kenyamanan dan keamanan. Meski posisinya berada di lokasi tinggi dengan pemandangan Samudera Hindia yang luas, namun jarak menuju pembatasnya sudah diatur sedemikian rupa. Pun begitu juga instalasi kaca tebal yang menghadirkan rasa aman.

Tak jauh dari tempat saya berfoto tadi, ada sebuah tempat makan yang didesain dengan bentuk bertingkat. Membuatnya jadi spot yang nyaman untuk menikmati makan siang sembari memandangi air laut yang sedang meliuk-liuk dibelai angin.

Asliii.. pemandangannya juara banget si ini.

Tak henti-hentinya saya menarik nafas panjang, seraya mengucap hamdalah di dalam hati. Menikmati setiap bunyi deburan ombak dan hembusan angin yang berlalu lalang. Ingin rasanya berdiam diri dan berlama-lama disini, saking tenangnya.

Tapi perut saya berkata lain. Sebab bunyi keroncong yang terdengar samar, jadi penanda bahwa sudah waktunya saya berhenti bengong dan segera memesan makanan.

Saya pun segera menghampiri area pemesanan, yang berada tak jauh dari sana.

Menu disini cukup sederhana, sesederhana desain menu yang disajikan di hadapan saya ini. Udah gitu, harganya pun agak overprice dikit ya.

Voucher potongan yang didapat itu cuma sebesar 25 ribu saja, sementara makanan yang tersedia di menu itu paling murahnya 35 ribu. Jadi udah dipastikan, bahwa kalian teteup bakal nombokin kalo beli makan disini.

Berhubung waktu itu yang kami butuhkan adalah Pemadam Kelaparan secepatnya, maka kami semua pun memutuskan untuk membeli menu yang sama, yakni paket ayam bakar saja.

Agak standar.. tapi okelah ya. Yang terpenting, rasa lapar sirna.

Untuk rasa makanannya, fine-fine saja ya (Maaf ini alesan aja, aslinya udah lupa. saking udah lamanya, hahaha). Tapi berhubung pemandangan yang tersaji di hadapan mata ini sebegitu indahnya, maka rasanya pun jadi terasa istimewa.

Apalagi kala itu mentari masih tertutup awan, dan sejuk angin tak henti-hentinya menerpa kami. Semesta sepertinya sedang memanjakan kami dengan istimewa.

Mampir Sejenak ke Cliffbar

Tadi saya bilang kalo kami semua pesan paket Cliffbar juga ya?

Naah, ternyata untuk ke area Cliffbar, itu kami harus menuruni Gondola lalu melewati beberapa anak tangga yang cukup tinggi dan curam. Jujur, di titik ini dengkul saya mulai gemetar. Kaki perlahan mulai terasa dingin, saking deg-degannya saya tatkala turun sembari menggendong Putri.

Mau tak mau, akhirnya saya putuskan untuk ‘mengoper’ Putri ke Thina.

Kebayang ga, seremnya macem apa

Udah gitu, ada hal lain yang membuat saya jadi kian gemetar. Yakni desain tangga yang kami pijak ini, ternyata tak dibuat tertutup sempurna. Melainkan, dibuat berongga.

Seperti di Gambar ini :

Demi apapun, ini saya kan makin deg-degan yaaaa. Kebayang-bayang takut hape atau barang penting lainnya jatoh dan ngelos ke tempat ini. Amsyong lah sudah.

Untungnyaaaa.. perjalanan singkat nan mendebarkan ini akhirnya selesai juga. Kami tiba di area cliffbar dengan selamat tanpa ada kendala apapun.

Daaan lagi-lagi, sajian pemandangan laut yang indah memanjakan mata kami. Namun kali ini, terasa lebih mesra. Mungkin karena jaraknya yang lebih dekat ya, sehingga lebih terasa intimate.

Menu makanan yang tersaji di Cliffbar ini, ternyata lumayan berbeda jika dibandingkan dengan Segorohinggil. Disini, menu yang tersedia lebih banyak cemilan dan makanan ringan saja.

Meski begitu, dari sisi harga kurang lebih masih sama saja. Masih agak pricy, meskipun kenyataannya tidak ada makanan berat sama sekali.

Berhubung perut kami sudah penuh terisi saat di Segorohinggil tadi, maka kami pun memutuskan untuk memesan Moilo, Roti bakar dan Bola-bola ubi saja.

Tak perlulah beli makanan yang berat-berat lagi. Cukup yang bisa mengganjal perut sementara, sembari menikmati indahnya pemandangan laut yang kini terasa lebih dekat ini.

Untuk rasanya, surprisingly enak si. Bola-bola ubinya, disajikan dengan lelehan cokelat di bagian tengah. Membuatnya jadi segar dan gurih saat dinikmati.

Itu aja sih yang bisa saya puji. Sementara untuk sisanya mah.. B ajah, hahaha

Penutup

Langsung saja ya, saya memberikan nilai 9/10 untuk tempat ini.

Puncak Segoro ini menyajikan view yang indah dengan pelayanan dan fasilitas yang istimewa. Baik area Segorohinggil maupun Cliffbar, bagi saya keduanya menawarkan pengalaman yang unik dan berbeda.

Kalau kamu lebih suka view yang lebih lebar dan menghampar luas, maka Segorohinggil bisa jadi pilihan kamu. Sementara kalau kamu lebih suka intimate sama laut, maka Cliffbar bisa jadi pilihan terbaik buat kamu.

Yaa pokoknya saya rekomendasi banget deh ya. Moga satu hari bisa melipir kesana lagi, Aaamiiin.

Bekasi, 03 Mei 2026
Ditulis sembari menanti tanggal di smartphone berganti.


Yuk, bantu penulis agar makin semangat membuat tulisan baru.
Kamu bisa melakukan transfer secara langsung ke rekening BCA : 6871338300.

Untuk info ratecard dan ajakan kerjasama, silahkan klik tombol berikut :

Fajar Fathurrahman

A Man with frugal style living. Sering dikira pelit, padahal cuma males keluar duit.

More Reading

Post navigation

41 Comments

  • Dua-duanya sama indah dan keren yaa.. Cuman yg di Cliffbar lebih serem jalannya, udahlah sebelahnya jurang ke laut, plus tangga yang curam, kalo gondola jalannya lambat supaya kita bisa lebih menikmati suasana alam sekitar mungkin mas, kalo kita sih pinginnya cepet nyampe atas wkwkkk, sepertinya kalau bawa anak-anak agak kurang nyaman ya mas, tapi sampe atas lelah dan ngeri terbayar dengan pemandangan yang cuanteekk pool, Yogya ni salah satu kota favorit aku, tak bisa kelain hati… hehe..

  • Sukaaaa banget tempat makan dengan view laut kaya gini. Rasanya nafsu makan makin meningkat. Nggak cocok ya buat yang lagi diet hahaha…

    Baik Segorohinggil maupun Cliffbar duanya viewnya cantik. Walaupun medannya cukup menantang. Mengingatkan aku pada Rockbar di Bali. Cuma Rockbar versi lebih premium lagi.

    Awalnya pas lihat harga “Eh kok murah.” Ternyata porsinya minimalis hehehe…

    Ya gpp lha. Terbayar dengan view yang menakjubkan. Btw gondolanya aku pikir model tertutup. Ternyata terbuka ya. Bikin deg-degan.

    • Eeeh sebenernya mah porsinya lumayan kok mbaak.
      Itu karena piringnya segede gaban ajaaa.. makanya berasa kayak kecil, hihihi.

      Iya jujur agak deg-deg serrr pas naeknya mbak. Untung aja aman yaa, ga kenapa-kenapa.
      Lebih ngeri lagi kalo pas hujan si.

  • Wooowww salut akutuh ama Mas Fajar and Fams naek itu gondola. emang ngga ada pengaman lain kah? atau ada yang jagain atau ikut nganterim gitu? Klo ada fobia langsung auto panik ada angin dikit yes, tapi untungnya terbayar karena Puncak Segoro memang juaranya kalau soal lunch with a view.
    Tapi ini untungnyaa dapat momen angin sepoi-sepoi karena matahari lagi sembunyi. Meskipun menu makanannya standar dan agak pricy, pengalaman makan menghadap Samudera Hindia itu yang mahal dan susah dicari tandingannya.
    Ditunggu kelanjutan seri Yogyakarta lainnya ya mas Fajar, gaspol terus!

  • Pas di gondola, jangan lupa lihat kanan kiri biar gak kalah angin.
    Begitupun pas di tangga, Lagi-lagi jangan sampe kalah angin
    Kalah angin dikit bisa buyar itu yang dipegang, termasuk pegangan hidup, eh maksudnya pijakan kaki buat megang diri agar gak jatuh hehe.
    Soalnya tinggi juga ya jaraknya ke atas gitu. Meski pas di atas ternyata indah banget pemandangannya. Sepoi-sepoi angin mantap sih ini

  • Keduanya sama apiknya mas, seru dekat dengan laut, sejuk, berasa slow living ya. dannn aku juga belum pernah ke sana. Meski[un perjuangan menuju ke sana apalagi naik gondolanya yang aduhai menegangkan tapi terbayarkan dengan pemandangan yang indah kan ya
    btw kalau hujan sepertinya gondola tidak dioperasikan deh mas secara apa iya pada mau ujan-ujanan

    • Betul mbak Dyah, andai bisa tinggal disana dengan kondisi financial freedom, kayaknya bakal bisa banget deh merasakan yang namanya slow living, hihihi.
      Ngeri si mbak kalo pas hujan. Soalnya ini besi semua bahannya.

  • Viewnya jadi ingat nusa penida ya.. agak mirip kalau dipaksa tapi sayangnya moment waktu disini agak kurang pas ya saya gk tahun ini berkabut atau bukan jatuhnya..
    dan untuk harga emang tempat yang gini biasanya udah menu makanan di translate inggris tapi yang ini masih nama menu indo lho wkwk cuma tetap lumayan jjuga ya harganya..

  • wah asli aku baru tahu nih tempat wisata ini di yogyakarta. kayaknya buat yang ada takut ketinggian ini agak menakutkan ya apalagi bagian naik tangga itu walau di ujungnya kita bisa mendapat pemandangan yang indah. makasih buat reviewnya mas Fajar
    Jalan-jalan ke Yogyakarta
    Jangan lupa membeli batik
    Senangnya bisa jalan-jalan sekeluarga
    Bersama istri dan anak yang cantik

  • saya rasa kalau saya ke sini, saya boleh duduk lama-lama dan layan view non stop. habis makan, sambung lagi dan makan makan makan sampai puas. sejenis healing yg pasti memuaskan hati sy…
    cantik kawasan puncak ni. kalau cakap pergi nusa panida pun orang boleh percaya

    • Saya pun rasa ingin bertahan lebih lama disini mbak Anies. Sayang waktu itu langit sudah mulai gelap, khawatir terkena hujan.
      hahahaha, boleh lah ini disebut nusa penida paket hemat.

  • Asik sekali ya liburan dibayarin kantor. Gasskeun hahhaa. Enak juga ke Hinggil sekalian makan berat, makan snack di cliff Barr viewnya juara jadi dimanaa pun seru. Bener sih gasskeun aja dua-duanya emang seowrthed ituh

  • Tidak dinafikan semangat dan mood blogging boleh turun dan naik.

    cara bagus untuk atasinya…buat blogwalking sehingga mendatangkan kembali mood dan motivasi

  • haha tergelak saya baca part gondola tu. semua diperbuat dari besi, kalau petir takut disambar pulaaa. anyway, viewnya memang cantik sangat subhanallah! duduk di cliff tu, macam view di Bali lah

  • View yang mahal dan cantik sangat, Mas. Unik, gondolanya sedemikian rupa. Tinggi juga bila tengok bawah. Kalau saya, mungkin ada rasa gayat sikit.

  • Duh kah, bukan aku yang naik aku juga gemeteran
    Naik gondola modelan begitu auto shock aku
    Roller Coaster di Dufan saja aku wes wegah
    Turun langsung mual, hahaha
    Sementara ini langsung lihat laut, adudu bener bener nguji kekuatan jantung

  • Kalo dibayarin kantor, gaskeuuun laahh. Haha. Ga mahal2 amat sih sebenarnya. Dan worthed bgt buat melepas penat setelah deadline atau pgn rehat saat wiken.

    Asli, gondolanya ngeri jg yak. Kalo hujan ya wajib pake payung dong ya. Ini seharusnya dikasih penutup gt ga sih biar ga kepanasan. Ya walau ga panjang amat rutenya.

    Dan yg gw takjub, view-nya beneran indah mas Fajar. Menikmati pantai dari ketinggian, sambil merasakan debur ombak dan bau asin air laut tuh ngangenin tau.

    Syg menunya emg kurang nampol buat ganjal perut. Harganya jg pricy. Mgkn krn lokasinya di puncak gt yak. Rempong kalo harus bawa bahan utk menu berat. Wkwk.

    • Betul mas, untung aja ni gratis ya. Kalo bayar, saya pun tak mau lah naik tangga seseram ini, hahaha.

      Yha, namanya juga tempat jual view mas. Sudah pasti makanannya mah B aja. Tapi untungnya secara porsi agak lumayan mas, nggak yang liliput amat.

  • Kebayang waktu bangun tempat makan dan wisata di Puncak Segoro ini yaa..
    Semuanya serba “tepi” jurang ginii..
    Dan kabarnya kan yaa.. Pantai Laut Selatan ituu.. mashaAllah… aga mistis gituu…

    ALhamdulillah semua aman dan pastinya kengerian naik tangga itu bisa teratasi karena kekompakan mas Fajar dan Thina yang bisa saling melengkapi.
    Hehhee.. kalo salah satunya dredeg, bisa saling back-up.

    Tapi Putri gapake jaket, ga kedinginan kah?
    Etapi bajunya uda lengan panjang juga yaa.. Alhamdulillah… angin laut itu gembrobooss…

    • Resiko mau view bagus mbak, kudu siap nangkring di tepi jurang! Hahahaha

      Alhamdulillah disini dari segi struktur dan desain, sudah lumayan safety mbak. Jadi nggak yang ngeri-ngeri amat sebenernya.

      Boro-boro dingin mbak. PWANASSS itu gak ada angin samsek -_-

  • Ini mah lunch with beautifull view
    Cakep banget. Segorohinggil ini cantik banget ya mas
    Pasti pengen datang lagi ke sini ya

  • Yaah mas, baru juga 2 bulan, aku nih perjalanan sejak 2015 aja masih ada yang belum aku tulis buahahahaha (ini menunjukkan rasa malas kok bangga sekali ya, mon maaf sodarah-sodarah).

    Aku kalau dikasih lihat foto-foto ini tok tanpa ada judul dan tulisan, kukiranya ini di Bali loh. Malah spesifiknya kukira ini di Nusa Penida. Eh ternyata di Yogyakarta “aja”. Dengan view yang sama tapi harga lebih murah (ketimbang Bali) worthy sekaliii. Cuma emang aku agak neg-think dengan gondolanya. Mana bener kl seterbuka itu dan cuaca jelek, takut banget disamber petir.

    Pernah juga ada kejadian gondola serupa terjun bebas ke Jurang kan ya di Bali kalau gak salah. Nah tadi aku mikirnya kayak gitu >.< tapi alhamdulillah liburan "gratisannya" berakhir menyenangkan dan selamat ya.

    Ke pantai main istana pasir
    Setelahnya makan indomie cup 2 biji
    Berdandanlah agar ada yang naksir
    Biar melepas status jomlo gak lagi jadi mimpi

    Cakep! *langsung goyang Inul*

    • Ya Allah, itu aku kayaknya udah bukan feeling lagi. Tapi mengarang bebas mas, hahahahahaha. Ini aja aku udah setengah mati ngeluarinnya. gamau lagi deh nahan2 draft kelamaan wkwkwk

      Nah, kekhawatiranku juga itu si. Bangunannya emang agak minim. Jadi rawan tampias, dan rawan petir juga.

      Kalo gondolanya memang agak serem, tp safety kok. Dan bisa dibilang aman karena jaraknya pun gak jauh-jauh amat, hihihi

  • Awalnya kaget kok pakai ticket masuk segala? Ternyata emang jual pemandangan dan bisa naik gondola juga. Sesuai dengan namanya, puncak segoro, di atas dan deket segoro (laut).
    Jadi kalau mau makan nasi dll milihnya ke puncak segoro. Sementara kalau ngwemil aja ke cliff bar, gitu ya?
    Jadi penasaran dengan bola ubinya, keliatan enak. Benar2 ngemil with a view kalau ke cliff bar.

    Ke Jogjakarta bersama keluarga
    Pulangnya beli gudeg dan bakpia
    Adek Putri terlihat bahagia
    Karena papanya makin sering memang lomba

    Beli baju bekas di Pasaraya
    Di kantong nemu uang Lima ribu
    Sungguh cerah senyum Mbak Thina
    Karena mau diajak liburan ke Canggu

    Menjemur baju biru dan putih
    Cukup sekian dan terima kasih

  • Yogyakarta ga akan habis untuk di ceritakan, belum Yogyakarta lantai 2 nya…

    Membawa baja di atas jalan
    Hancurkan pagar memakai molen
    Jika saja mas Fajar berkenan
    Gantikan Voucher menjadi token

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *