Menjajal MRT Sampai ke Stasiun Lebak Bulus

Hai teman-teman semuaaaa! Ngapunten sekali ya, selama liburan lebaran kemarin saya sempat absen lumayan lama karena pulang ke kampung halaman. Padahal mah udah bawa laptop ya, tapi tatkala raga tiba di tanah penuh kenangan, maka rencana menulis tulisan pun hanya jadi angan-angan, hahaha.

Sebelumnya saya ucapkan Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Semoga semua yang kita jalani selama sebulan kemarin, bisa menjadi bekal untuk 11 bulan kita ke depan nanti. Amiiiiiin.

Sekaligus saya juga mau minta maaf nih. Karena sepertinya, rencana untuk menulis seri Yogyakarta lagi-lagi harus ditunda dulu. Alasannya, sepertinya kalian pun sudah bisa nebak yaaa..

Karena setelah pulang ke Kuningan kemarin, saya jadi banyak bahaaaaan… Hehehe

Setelah kemarin malam saya coba susun ulang semua draft tulisan, sepertinya draft tulisan terbaru akan tetap jadi prioritas. Nganu, biar nggak kelamaan disimpen dan nantinya jadi buluk. Tau sendiri lah, kalo udah kelewat jauh dari tanggal kunjungan.. menelurkan tulisan bakal butuh kalori sampai dua kali lipat!

Jadi kali ini, izinkan saya untuk bercerita satu momen di pertengahan Ramadhan kemarin. Dimana akhirnya saya mencoba moda transportasi MRT (Mass Rapid Transit) sampai ke stasiun paling ujung, yakni Stasiun Lebak Bulus.

Dibaca pelan-pelan yaaa, jangan di-skip. Yang ketahuan nge-skip dan komen pake AI, saya laporin nih ke Kang Dedi Mulyadi, biar dimasukin ke barak. hihihi

– – – – – – – – –

Langit kelabu dan rintik hujan yang terus menghujam jalanan Bekasi, menjadi sebuah panggilan alami bagi kami untuk kembali memasukkan motor ke dalam garasi.

Padahal, niat awalnya kami semua akan ber-‘touring’ ria menuju ke Jakarta Selatan, untuk menemani Thina mengikuti acara bukber bersama sobat-sobat rajutnya. Persiapan sudah cukup matang, dan motor pun sudah dikeluarkan.

Sampai kemudian, kami menyadari dua masalah krusial, yang terlewatkan.

Pertama, cuaca dua hari terakhir ini memang tak menentu. Kadang cerahnya keterlaluan, lalu tiba-tiba hujan turun tanpa pemberitahuan. Mengendarai motor sembari membawa Putri, tentu bukan ide yang bagus.

Daaaaan ditambah lagi, kala saya mengecek lokasi bukber yang ditentukan. Ternyata Jakarta Selatan yang dimaksud adalah Bintaro. Sebuah daerah yang sering di-jaksel-jakselin, padahal udah mepet ke Tangsel. Alias, jauh beneeeerr..

Alhasil, kami pun sepakat untuk bergeser moda transportasi ke pilihan yang lebih family friendly, yakni Kereta.

Kebetulan, pas saya cek lokasi bukbernya tuh lumayan deket dari stasiun MRT lebak bulus. Jadi kalau di-breakdown secara sederhana, kami hanya perlu naik LRT sampai ke Dukuh Atas, lalu transit ke MRT dan lanjut ke stasiun paling akhir.

Kedengarannya sih sederhana, tapi kenyataannya gak segampang itu hey.

Transit dari LRT, Lumayan Bakar Kalori

Setelah melalui perjalanan sejauh 11 stasiun dari Cikunir 1, akhirnya kereta LRT yang kami lalui tiba juga di stasiun akhir Dukuh Atas. Dari sini, sebenarnya kami tinggal transit saja ke MRT, untuk kemudian lanjut ke Lebak Bulus.

Frasa yang terdengar simpel. Namun sayangnya, kenyataan di lapangan tidaklah sesederhana itu. Karena meskipun namanya sama-sama Dukuh Atas, tapi jarak antara LRT Dukuh Atas dengan MRT Dukuh Atas itu jauuuuuuuh ges.

Kami harus menyebrangi Jembatan Penyebrangan yang membentang panjang, melewati Waduk Setiabudi dan membelah Kali Ciliwung. Total jaraknya kurang lebih sekitar 900 meter, dengan waktu tempuh kisaran 10 sampai 15 menit.

Pokoknya jalan kaki aja sejauh itu, sampai akhirnya nanti kita akan tiba di….. Stasiun KRL Sudirman.

Nah loh, kok ujug-ujug malah ke KRL?

Jujur, awalnya saya pun bingung. Bingung banget malahan. Tapi setelah bertanya-tanya ke petugas yang berjaga, akhirnya saya paham kalau… yaaa emang beginilah prosedurnya.

Jadi setelah menyusuri JPO Dukuh Atas, kita memang akan ‘dipaksa’ masuk ke Stasiun KRL Sudirman terlebih dahulu. Tap in kartu dulu dah tuh yaa.. Abis itu kita langsung jalan menuju ke pintu keluar, dan segera tap out lagi.

Yah, bisa dibilang cuma numpang lewat doang lah ya.

Meski begitu, karena ini kita melewati gate KRL, mau tidak mau ya dikenakan tarif. Meskipun yaaa biayanya kecil banget, cuma Rp. 1,-. Alias satu perak doang.

Saat kami bertiga sudah keluar dari Stasiun Sudirman, Saya langsung memegang Thina dan Putri erat-erat.

Bukan, bukan karena disini ramai banyak orang dan takut mereka berdua hilang.

Melainkan, karena di sekitaran Jalan Kendal dan kolong Jembatan Dukuh atas ini, memang lumayan banyak booth dan tenant yang menawarkan berbagai produk serta promo menarik. Apalagi area kolongnya tuh, beuh.. mantep betul penampakannya. Disulap total jadi semacam galeri mini untuk display produk.

Makanya saya kudu kenceng banget ni pegangin mereka berdua. Ngeri banget, ujug-ujug belok dan kena genjutsu. Alamak, dompet saya langsung bunyi kring kring kring lagi ini mah, hahahaha

Masuk ke Stasiun Bawah Tanah

Setelah menyebrangi kolong jembatan, kita akan menemukan sebuah pintu besar di sisi kanan. Nah, ini dia nih pintu masuk menuju MRT-nya. Tembus ke bawah, menuju ke ruang bawah tanah.

Dan kala langkah kaki kami tiba di depan gerbang tersebut, saya langsung terdiam sejenak. Bukan karena terpana, tapi karena jalannya ternyata gak kalah jauhnyaaaa…

Nganu, dalem banget lho ini. Dan gak ada opsi eskalator, karena eskalatorya cuma diperuntukkan buat arah naik aja.

Kalo cuma jalan berdua sih, sebenarnya fine-fine aja. Cuma berhubung bawa bocil, jadinya kudu ekstra hati-hati. Mesti dipegangin, jangan sampe kepeleset dan terjadi hal yang tidak diinginkan.

Untungnya ini cuma tangga turun ya, jadi perjalanannya tak terasa begitu melelahkan. Lain halnya kalo sampe eskalator naiknya macet. Saya keplak dah itu pala pejabat MRT-nya, hahaha

Sesampainya di ruang bawah tanah ini, saya agak kaget karena ternyata suasananya jauh dari kata panas dan pengap. Malahan, terasa sekali sejuk dan nyamannya. Mungkin efek dari pendingin ruangan yang bekerja dengan sempurna.

Dan sepertinya tingkat okupansi MRT pun lumayan oke ya. Bisa dilihat dari banyaknya tenant yang ada serta berbagai product placement yang tersaji di berbagai sudut. Nggak mungkin lah ada beginian kalo penumpangnya sepi.

Satu hal yang membedakan antara MRT dengan LRT dan KRL, adalah adanya pemeriksaan X ray sebelum memasuki ruang tunggu. Sepertinya ini cukup esensial ya, mengingat jalur kereta berada di ruang bawah tanah, sehingga akan sulit untuk melakukan evakuasi kalau sampai ada hal-hal yang tak diinginkan.

Selain itu, gate untuk tape in-nya pun cukup panjang dan lebih kokoh penampilannya. Meski sejujurnya saya pribadi lebih senang dengan gate di LRT yang lebih pendek, karena rasanya lebih practical.

Nganu, panjang begini agak ruwet juga ya buat yang bawa bocil. Agak ngeri dikit.

Setelah melewati gate ini, kami hanya perlu turun satu lantai lagi untuk kemudian tiba di ruang tungguk kereta. Tak terlalu jauh, meski lagi-lagi tak ada eskalator turun. Demi menghemat wkatu, bocil pun kami gendong aja lah, biar cepet.

Nah, pas lagi nunggu kereta inilah, ada sesuatu yang mengejutkan kami semua.

Kejutan Saat Menanti Kereta

“Mas Fajar….”, suara seorang perempuan memanggil saya dari belakang.

Refleks, saya pun memalingkan wajah. Mencoba menerka siapakah gerangan yang barusan memanggil. Saat itulah, saya menemukan satu wajah yang sangat familiar. Satu sosok yang baru saja bertemu dengan saya dalam sebuah acara.

“Lah, Mbak Mei?”, ucap saya sedikit tak percaya. “Sempit amat yak duniaaa, baru kemaren kita ketemu, hahaha”

Mbak Mei menjawab ramah, “Dari tadi aku udah liat kalian bertigaa. Kok kayak kenal yaa.. Eh, ternyata bener”

Rupanya Mbak Mei (meimoodaema.com) ini sedang dalam perjalanan menuju ke sebuah event di daerah Cipete Raya. Cuma selisih 2 stasiun aja dari tujuan kami di daerah Lebak Bulus nanti.

Wah, memang yaaa… namanya dunia ini lebarnya cuma sebesar daun kelor!

Sayangnya, kala kami tiba di ruang tunggu ini, kereta yang hendak kami naiki sudah berangkat. Jadi mau tak mau, harus menunggu kereta berikutnya yang akan tiba sekitar 10-15 menit lagi.

Wis, ndak papa lah. Mumpung ada Mbak Mei, jadilah sekalian kita ngobrol-ngobrol santai dulu.

Suasana di Dalam Kereta

Terlalu asyik bertukar cerita, membuat detik waktu tak lagi terasa. Tau-tau sudah ada kereta yang tiba di hadapan mata. Yowis, kami pun langsung bergegas untuk masuk ke dalam kereta.

Berhubung waktu itu kami berangkat di akhir pekan, bayangan saya isi keretanya bakal sepi dong ya. Kayak LRT dan KRL aja lah ya, hari biasa macem pepes, tapi akhir pekannya mah lowong.

Eh, tapi ternyata dugaan saya salah. Karena tepat ketika langkah kaki kami masuk, sebuah pemandangan riuh langsung menyambut kami.

Lhaaaa buseeeet… ini kok rame amat yaaa?

Saking ramainya, kami semua pun terpaksa berdiri karena tidak kebagian kursi. Sebuah pemandangan yang terasa cukup anomali, mengingat fakta bahwa ini terjadi di momen akhir pekan.

Kalo menurut Mbak Mei, orang-orang ini kemungkinan besar akan turun di stasiun Blok M. Kebetulan memang di Blok M sana kan lokasinya cukup strategis, banyak jajanan dan tempat untuk nongkrong-nongkrong. Jadi yaaa.. pantes aja, penumpangnya jadi se-membludak ini.

Dan ucapan Mbak Mei barusan bukanlah spekulasi belaka. Karena tepat kala kereta ini tiba di stasiun Blok M, mayoritas penumpang segera berbondong-bondong turun dari kereta.

Membuat riuh ramai dan padat tadi sirna seketika, dan gerbong langsung terasa lega dan lapang. Kami bertiga pun segera ambil posisi, duduk di salah satu sudut kursi yang kini kosong melompong.

Namun ada satu hal, yang membuat saya agak melongo. Yakni….

Gak Semua Jalur Ada di Bawah Tanah!

Tatkala orang-orang ramai turun serentak, saya baru sadar kalau ada sesuatu yang aneh di sekeliling kereta ini. Tiba-tiba saja suasana gelap yang menyelimutinya lenyap, dan bertransisi jadi terang benderang.

“Lho, ini kita ada di atas tanah Mbak? Saya kirain semua jalurnya di bawah tanah semua…”, ucap saya agak sedikit keheranan.

Ternyata oh ternyata, memang demikian lah adanya. Jalur MRT itu sebagian merupakan jalur layang, sebagiannya lagi jalur bawah tanah. Dimana untuk area pusat kota yang padat dan areanya terbatas, jalur MRT dibuat di bawah tanah. Sementara untuk area selatan yang relatif lebih luas dan lengang, jalurnya dibuat melayang agar biaya konstruksinya lebih rendah.

Siapa yang baru tau? Cunggg sini.. acungkan tangan, hehehehe

Mumpung suasana sudah lebih lengang, saya pun segera memanfaatkan momen ini untuk berdiri sejenak dan memperhatikan sekeliling.

Berbeda dari LRT, gerbong MRT ini bisa dibilang lebih luas dan lebar ya. Walau jika dibandingan dengan KRL, yaaa tentu masih kalah lebar. Adapun untuk satu rangkaian kereta terdiri dari 6 gerbong, sehingga secara keseluruhan bisa menampung hingga 1200 penumpang.

Nganu, ini lhoo baru kereta yang bener. Nggak bantet kayak LRT Velodrome, kemaren. hahahahaha

Melihat kursinya yang terbuat dari plastik, saya sempat mengira bahwa kerta ini buatan Korea juga selayaknya di LRT Velodrome. Tapi ternyata saya salah, karena sebenarnya kereta ini merupakan buatan Nippon Sharyo dari Jepang.

Jadi unik juga nih ya, tiga moda transportasi kereta. Tiga produsen yang berbeda.

LRT Jabodebek, buatan Indonesia. LRT Velodrome, buatan Korea. MRT, buatan Jepang. Oya, sama satu lagi.. Kereta Cepat Whoosh, buatan China. Tinggal abis ini mungkin Malaysia kali ya yang mau join. Nyumbang kereta juga, hahahaha

Oya, kereta ini punya nickname juga lho. Namanya panggilannya adalah Ratangga. Berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti “kereta kuda”.

Penutup Cerita

Setelah menaiki kereta selama kurang lebih 25 menit, akhirnya kami tiba juga di stasiun akhir, Lebak Bulus. Dari sini kami rencananya akan naik Taksi Vietnam, sampai nantinya tiba di lokasi buka bersama.

Mbak Mei? Kebetulan beliau sudah turun 2 stasiun lebih awal, tepatnya di stasiun Cipete.

Adapun total biaya yang harus kami bayarkan sampai ke stasiun akhir ini, adalah sebesar Rp. 14.000,-. Yah, kurang lebih sekitar 3.3 ringgit atau sekitar 0.8 dollar.

Harga segitu, dibilang mahal banget sih ngga. Cuma kalo mau disebut murah pun, kayaknya nggak bisa juga ya. Mengingat jarak yang ditempuh pun sebenarnya nggak jauh-jauh amat. Cuma sekitar 15 kilometer aja.

Kalau kalian, pernah naik MRT di Jakarta juga ga nih? Apa malah jadiin MRT sebagai transportasi rutin harian?

Coba ceritain di kolom komentar yaaa…

Bonus : Dokumentasi bukbernya Thina.

Bekasi, 27 Maret 2026
Ditulis sepulang dari mudik dengan ribuan ceritanya.


Yuk, bantu penulis agar makin semangat membuat tulisan baru.
Kamu bisa melakukan transfer secara langsung ke rekening BCA : 6871338300.

Untuk info ratecard dan ajakan kerjasama, silahkan klik tombol berikut :

Fajar Fathurrahman

A Man with frugal style living. Sering dikira pelit, padahal cuma males keluar duit.

More Reading

Post navigation

55 Comments

  • Tadi pas baca bagian ada yang manggil. Aku udah ngarepnya fans gitu lho yang minta foto >.< wkwkwk.. ternyata Mba Mei sesama blogger kondang bertemu di MRT..
    Seru banget banget emang main MRT tuh.. biasanya kalau kami lanjut naik TJ dan cari jajanan menarik setempat..

  • Taqobbalallahu minna waminkum. Maaf Zahir Batin.
    Di sini panas hampir satu Malaysia mula dari awal Syawal lagi.
    2024 pernah naik LRT/MRT dari airport Soekarno Hatta ke stesen mana ya di Jakarta, sudah lupa. Ketika ziarah sahabat yang akan menunaikan Haji. First time juga dapat berjumpa Fanny. Bagus servis nya.

    • Mohon maaf lahir batin juga yaa mbak Mulaaan.
      Disini pun panas, tapi seringnya sampai siang saja. Senja hari langsung mendadak gelap, lalu hujan besar tiada henti.
      Wah iya, sama seperti komentar mbak Fanny ya. Waktu itu masih gratis kah? Mantap betulll.. sekarang sudah 14 ribu, terasa sekali biayanya, hihihi

  • Aku sebagai warga daerah dari Lampung, pernah sekali seumur hidup ngerasain naik MRT , dari stasiun awal ke akhir dah tu balik lagi wkwkkk, saking kepingin taunya, yg aku liat pertama kali udah pasti modern, bersih dan ga berjubel samasekali saat itu, jadi ke bagian tempat duduk, iyak.. Aku taunya pan kita turun gitu ya, pas liat keluar laah koq tinggi sejajar ama gedung-gedung di luar wkwkkk.

    • Eh tapi seru lhoo mbak nyobain begitu. Kadang aku kalo lagi gabut pun, pengen nyobain naik kereta tanpa tujuan, alias mondar mandir ajaaaa.. hihihi.
      Memang bikin kaget ini jalur MRT. Kukira dibawah semua, ternyata campuran ya.

  • Selamat berlebaran Kang Fajar
    Mohon dimaafkan pabila ada joke bapak-bapak ala saya yang lucu banget.. hehe

    Wah senengnya bisa bertemu Mbak Mei, sesama blogger kueren. Sesempit itu, ya dunia kita.

    Saya belum pernah nyoba naik MRT Kang.. hiks, di Sukabumi ga ada..
    Sepertinya harus maen ke Jakarta lagi nih buat ngejajal transportasi buatan Jepang ini.

    • Minal aidzin walfaidzin. Maaf lahir batin, Mas Fajar. Menyenangkan ya kalau dalam perjalanan malah bertemu sama teman.

      Menurutku tarif 14rebu berdua kok ya masih murah. Soalnya, di Madura, khususnya di daerahku moda transportasi umumnya masih sangat terbatas sekali.

      Kalau pun ada tuh, mahal. Bisa sampai puluhan rebu.

      Makanya, aku lebih suka naik motor kemana-mana kalau di sini.

  • Aku seumur2 naik MRT baru 1x, pas opening duluuuuu, dan msh gratis . Setelah itu ga pernah lagi sampe skr hahahahahha.

    Naaah, teman2 Malaysia, yg mau DTG akhir may, (kak retna, Carneyz Ama kak Lin) pernah bilang mau cobain MRT Jakarta. Tp tuhlaah, aku aja ga hapal rutenya, masa mau bawa orang . Hrs ajak Raka yg udh terbiasa naik MRT, buat urusan kerja.

    Tp bisa dimasukin sih nanti. Apalagi mau eksplor JKT 2 hari, jadi mungkin mobil bisa ditinggalin di blok, trus lanjut naik MRT ke Bintaro. Banyak cafe cakep di sana .

    • Enak betuuul mbakkk.. Gratis gitu mah mantap lah ya. Ini aku 14rb dikali 3, udah berasa bangetttt, hahaha.
      Wah siapa tau nanti ada kesempatan, ikooot mbak jajal kereta lain lagi, hihihi. MRT yang ke arah sebaliknya, aku malah belom cobain mbak. Terakhir malah ke ujungnya di selatan.

      Cafe di daerah bintaro mah enak2 mbak. Kemaren aku iseng mampir ke satu cafe (karena ada miskom pas bukber), itu pun langsung ketemu yang okeee kok tempatnya.

  • Ga nyangka banget ya bakal ketemu di MRT, tapi bukan dunianya yang sempit tapi katanya dunia kita sudah sangat luas dan main kita sudah sangat jauh Mas, makanya ketemunya yang itu lagi kan sudah kekelilingi semua hehe, seru banget liat keluarga Mas Fajar bisa hunting Jakarta bertiga bareng si kecil, sehat-sehat family traveler, tak doakan semoga setelah ini hunting MRT-nya di Eropa, kita ketemu di sana ya nanti aamiin allahuma aamiin

    • Nah, Alhamdulillaaah.. Udah banyak temen satu frekuensi, jadinya kadang suka ketemu yaa even cuma sesekali, hihihi.
      Amiiiin ya Rabbal Alamiiin mbak. Insya Allah, nanti bakal dikasih jalan buat eksplor daerah luar negeri. Biar ga micro travel lagi, hihihi

    • Kalo macetnya sih tetep ya uncle.. gak ada perubahan, hahahaha
      Nganu tuh artinyaa… nganu, hihihi. Semacam kata sambung gitu uncle, tapi memang fleksibel, dan gak ada arti khususnya. Sama seperti ‘ano’ kalo di bahasa jepang.

  • aku tuh korban penipuan teman ku ahah, dengan dalih biar aku tau jakarta dulu thun 2019. Iyh aku emng jrng k jakarta da mau apa selain ke dufan. Setelah nya aku disuruh naek MRT dong beli emoney mandiri gambar ironn man ah dia mah suka begitu tapi seru sih dan seslalu takjub ssama transportasi modern yg ada di jakarta

  • Sebenarnya biar jalannya ga jauh saat transit daei LRT ke MRT, Mas Fajar turun saja di stasiun Cawang. Dari situ naik Tije 9C tujuan Bundaran Senayan. Nah baru lanjut naik MRT dari Stasiun MRT Senayan. Tapi ya apa juga ya. Sekalian jalan-jalan dan bertemu Mbak Mei juga hehehe.
    Kalau saya sudah sering naik MRT. Bahkan saat masih gratisan juga hahaha. Tapi karena harganya kurang pas di kantong saya. Maka kali ga terpaksa, saya Tidak naik MRT, bahkan LRT. Jadi sesuai kebutuhan saja hehehe.

  • Bagus malah Mas Fajar, jadi panjang perjalanannya dari LRT ke MRT hehe.

    Daku mencoba naik MRT pas yang dia buka “gratis coba” sebelum pandemi, tapi nge-war tiketnya. Jalan sama rekan tutor saat itu, eh omongan yang pertama kali dibahas bukan soal jalur bawah tanah atau soal jalur lajangnya, tapiiii soal sinyal yang nggak ada wkwkwk.

    Lah kan niatnya mau ala² nge-live gitu ya atau mau langsung upload story, eh lola banget dong hihi. Videonya ada daku share di channel yutub daku, boleh mampir yak

    • Banyak juga kalori yang terbakar jadinya mbak, hihihihi.

      Eh masa iya mbak gada sinyal? Seingatku pas disana masih aman2 aja deh. Apa beda operator, atau mungkin efek keasyikan ngobrol sama mbak mei kali ya.. hihihi
      Okeee nanti aku liat yaaa mbak Fen

  • Daku kalau ke Jakarta, mesti cobain semua transportasi kekinian ini, karena enggak ada di Jogja 🙂
    Naik MRT sampai stasiun akhir di Lebak Bulus.
    Naik LRT ke Bekasi.
    Naik KRL, ke Pasar Minggu atau Depok.
    Malah pernah seharian, nyobain MRT, dari stasiun ke stasiun. Iseng banget, tapi senang.

    • Wah luar biasa bu Indah. Saya malah belom pernaaaaah, hehehe.
      Tapi sejujurnya, kadang memang kita perlu begini sih. Menikmati perjalanan, tanpa perlu ada tujuan. Sambil melihat2 transportasinya sajalah, hihihi

  • Asiknya Jakarta itu udah komplit berbagai jenis moda transportasinya. Tinggal pilih atau pindah mau yang mana. Dan emang dari LRT Jabodebek ke mRT itu jalannya lumayan banget. Tapi kehibur dengan banyak yang dilihat di jalan jadi ga kerasa.

  • Nah, aku belum pernah nyoba jalan dari jalur LRT Dukuh Atas ke MRT Dukuh Atas. ternyata emang sepanjang itu ya wkwkwk Capek jugaaa.. 900 meter udah kayak dari rumahku ke jalan raya, bener jalannya sekitar 10-15 menitan juga… 😀

    Yang aku seneng dari MRT juga jalurnya yang di bawah tanah sama di atas. Pas bawa anak-anak naik MRT pertama kali juga excited bener mereka. Haha… Tapi ya itu, kursinya plastik sama ongkosnya lumayan ya buat jarak yang cuma segitu doang… Masih jauh lebih terjangkau naik Commuterline..

    • Lumayan mbak, jauh betuuuul… wkwkwk. Apalagi sambil gendong bocah, beuh.. .benar-benar menguras kalori bangettt.
      nah, memang agak berasa sih mbak kalo kursi plastik gitu. Beuh, gak enak banget rasanya ke punggung wkwkwk. masih enakan KRL yang baru, kursinya empuk mbak.

  • aha aku jadi ingat pengalamanku naik mrt ini juga tapi dari bundaran HI ke lebak bulus tahun 2024 soalnya mau ke rumah mertua. Waktu itu masih sepi mas Fajar kayaknya karena masih baru beroperasi nggak nyangka sekarang malah rame banget yaa. Aku sendiri penasaran nih gimana ya itu kok bisa asalnya di bawah tanah trus tahu-tahu bisa di atas jembatan gitu? Apa memang kontur tanahnya yang beda ya?

  • Kalur MRTnya agak belibet nggak sih mas. Jujur saya baca tuh udah merasa tersesat aja, meski cuma di kepala ya. Nggak kebayang gimana saya kalau dilepas di sana, bisa muter² nggak ketemu itu.. heheh..

    Yang bikin syok tuh pas masuk stasiun KRL cuma buat tap in dan tap out aja. Pegimane itu yakk..

    Makanya saya belum siap kalau naik Transum kalau ke JKT mas. Orang udik cem saya, takut nyasar ndak karuan.

    • Kalau transit dari LRT ke MRT nya sih sebenarnya ruwet si nggak ya mbak. Cuma memang agak jauh ajaaa. Plang, instruksi dllnya sih udah jelas banget mbak. Petugasnya pun helpful kok.
      Nah, itu juga kalo nanya ke petugas mah amaaan mbak. Gak bakal bingung kok, hehehe

  • Seru sekali perjalanannya naik MRT bareng keluarga. Aku belum pernah naik yang di Jakarta. Baru nyobain MRT di Singapura doang.

    Dulu waktu MRT baru operasi mau nyobain, eh ditunda-tunda sampai akhirnya pindah dari Jakarta. Cuma pernah foto-fotoin pintu masuk MRT yang di dekat GBK Mau masuk udah kesorean.

    14.000 itu buat satu orang ya, Mas? Putri sudah bayar belum?

    • HEH malah ketuker kitaaaa. Aku malah sampe sekarang belom pernah nyobain MRT Singapur.
      Atau nganu, lebih tepatnya belom pernah ke singapuraaaa :((
      Putri udah bayar mbak. Scr kan patokannya bukan umur, tapi tinggi badan 90cm. Ni anak emang cepet banget tingginyaaaa, hiks

  • Mohon maaf lahir dan batin mas Fajar dan Mbak Thina

    Kebetulan, mbak Mei yang ketemu di MRT itu beliau datang ke event yang sama dengan aku dan Efa. Di Cipete dan aku pun dari St Sudirman lanjut MRT menuju Cipete.

    Bisa dibilang, lumayan sering pake MRT kalau emang ada acara atau kegiatan di sekitaran Senayan, Cipete dan sekitarnya. Tentu, kalau dari Bogor awalnya naik KRL dulu.

    Nah, vibes ketiga kendaraan umum ini emang beda banget hahahaa. KRL super super padet yaampun. LRT, kalau di jam-jam biasa lumayan enakeun adem dan nggak padet serta orangnya lebih tertib. LRT paling mahal sih ya tarifnya? Hehehe. Nah, kalau MRT, memang sekarang ini sering padat, tetapi tidak sepadat KRL dan AC MRT itu lebih adem, enakeun. Kalau bawa anak kecil emang masuk ke kawasan MRT rada peer. Mestinya turun atau naik pake lift aja mas, lift MRT berfungsi maksimal, walau rawan antrian sih.

    Nah, ternyata kalau LRT turun nyambung dari St Sudirman itu ada tap in ya? Baru tau, soalnya belum pernah ngerasain turun LRT di dukun atas. Panjang banget itu jalan kaki menuju MRT dan ya bener, di terowongan Kendal banyak booth hahhaa. Manalah pas kalian lewat ada booth OMG yang gede bener yak.

    But, happy sih Jakarta transportasi lengkap sekali. Memudahkan buat bepergian, terintegrasi. Ketimbang harus ambil resiko naik kendaraan umum kejebak macet dan lelah ngendarain kendaraan sendiri, lebih worth it naik MRT atau kendaraan umum yang emang ngelewatin tempat tujuan.

    Jadi, habis MRT lanjut naik taksi? Wow lumayan jugaaa ya perjalanan kalian. Keren banget lho kalian ini.

    • Mohon maaf lahir batin juga ya mbak lalaa.
      Nah iyaaa, acaranya barengan ama mbak lala yaaa, aku sempet intip juga dari IGs kalian semua.

      So far diantaranya ketiganya yang paling nyaman menurutku LRT Jabodebek si. Walaupun yaaa ada kurangnya juga, semisal waktu tunggu yang lama dan perjalanannya yang lelet. Tp yaa at least ga se desek-desekan KRL wkwkwk

      OMG pun kayaknya itu cuma sementara doang mbak. Wong tiap bulan atau per periode tertentu, kayaknya ganti terus si itu tenantnya wkwkwk

      Iyess mbak, naik green sm murah kok cuma 15 ribuan ke tujuan. Daripada naik grab, aku skrg lebih cocok naik taksi. So far aman-aman dan nyaman aja, hihihi

  • Jangankan MRT, LRT dan KRL pun kubelum pernah coba, ke Jakarta cuma bentar aja jadi hanya menggunakan taksi online aja kalau kesana secara ga paham jalurnya juga, semoga suatu hari bisa eksplorasi moda transportasi massal ini, penasaran euy

  • Emang malesin tuh pas masuk lewat tangga ke bawah. Berasa pegel banget kalo nggak biasa jalan kaki. Efek udh masuk lansia wkwkw. Mana eskalator buat naik aja lagi. Haha

    Jadi kangen liburan dan naik transum lagi deh di Jakarta. Naik MRT ini emg cocok buat jalan2 satu jalur dan ga mau repot macet serta kena panas, debu, polusi Jkt pas siang malam. Dan berasa bgt aura kerennya, bersama mbak2 dan mas2 pekerja jalur Sudirman-Thamrin wkwkwk

    Dan naik ini jg kyk di luar negeri deh. Kita jg bs bangga punya MRT meski buatan Jepang, LRT dr Korea, dan Whoosh dr China. Komplit deh ya.

    • Kalo gasalah ada liftnya juga mas. Cuma kalo hectic, kayaknya bakal berasa banget si antrinya wkwkwk.
      hahaha, asalkan outfitnya kece, berasa golongan kerah putih mas. Tapi kalo pake celana pendek, tetep aja auranya berasa mau COD musang wkwkwk

  • Maaf lahir batin juga Kak Fajar. Saya jujur aja belum pernah naik MRT. Belum ke luar kota lagi, kecuali mudik kemarin ke kampunhg halaman paksu. Ternyata eh ternyata bisa ketemu sama Mba Mei ya, kebetulan ketemu pas naik kereta. Kayanya Putri anteng ya, seneng diajak naik MRT.

  • Aku se-jatuh cinta ituuu sama transum Jekarda siih..
    Kalo lagi sendirian di Jakarta, aku memang sengaja naik LRT, MRT dan Tije. Tinggal Jaklingko aja yang belum pernah.. karena gatau mau kemana iniih??
    Hehehe.. dan puaass sekali sama pelayanannya.
    Selain rame tapi tetep kondusif.. juga bersih.

    Aku juga amaze sama Dukuh Atas.
    Sumpah keren. Hahaha…. baru Dukuh Atas niih.. belum ke stasiun lain yang cakep cakep dan unik dengan tenant-nya.

    Dengan footnote yaah.. kalau sesekali, mungkin aku exciting niih..
    Kalo tiap harii.. mungkin jatuhnya bakalan jadi stres juga yaa…

    • Eh samaan, sekarang dari semua moda transum, tinggal Jaklingko doang yang aku belom pernah cobain. Karena yaaa… mau ngapain? wkwkwkwk. Trus imagenya kelas bawah banget si, belum kerasa banget inklusifnya.
      Coba ke stasiun cikarang mbak. Iseng aja melipir kesana wkwkwk

  • aku yang akan kaget dan degdegan kalau ketemu sama kenalan wkwkw
    apalagi kalau aku bareng suami
    sering kikuk kalau ketemu teman cowok yang sebenarnya akrab
    bukan karena takut atau apa, cuma sungkan sama suami aja
    jadi, kalau misal ketemu aku besok besok tetap panggil ya haha
    biar suamiku juga kenal semua teman cowok saya

    naik MRT sepertinya dimana mana menyenangkan ya
    belum pernah jadi belum bisa komen apa apa selain bergumam dalam hati “kudu coba soon”

  • Yasshh, Kendal jadi makin rameee bakul, ya? Ada store OMG jugaa, ampun dah

    tiga tahun lalu, aku naik Whoosh dari BDG…lalu dari st Halim lanjut naik LRT.. turun dukuh atas, dan yaaa jalan mayan jauuuhhhh.

    lanjut naik MRT, mampir bentar ke Blok M karena mau meet up ama emak2 blogger (April Hamsa, mba Isti, dkk)

    trus lanjut naik MRT lagi: tujuan st.LebakBulus….abis gt ganti Grab ke rumah adek iparku di Pamulang Tangsel.

    asyik klo di JKT tuh, transumnya efektif, efisien, muraahhh.

    bandingin transum di Sby atau BDG deh

    • Sebentar doang mbak itu, palingan bentar lagi geh udah ganti brand lagi wkwkwk.
      Nah enaknya memang disini tuh transumnya udah mending banget si. Tp yaa minusnya jalanannya macet, bikin stresss wkwkwk
      yah begitulah hidup mbak. Kadang ga semuanya sesuai ekspektasi.

  • Menarik betul aktivitas naik MRT bersama keluarga. Nampaknya kalau saya itu ke Jakarta harus minta tunjuk ajar Mas Fajar untuk naik pengangkutan awam. Selalunya saya itu memang naik Grab Ride aja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *