Naik Delman Malam-Malam di Taman Kota Kuningan

Kehadiran sang buah hati ternyata tak hanya bisa pribadi kita sebagai manusia. Ia juga bisa mengubah persepsi kita dalam melihat dunia yang kompleks dan menjemukan, menjadi jauh lebih sederhana. Hal-hal yang tadinya nampak membosankan dan luput dari pandangan, mendadak bisa jadi sesuatu yang menarik untuk dijajal. Semuanya demi putri kami, Putri Dyandra Pratiwi yang kini mendekati usia 7 Bulan.

Beberapa tahun ke belakang, hampir tak pernah sekalipun saya memasukkan Taman Kota (Tamkot) Kuningan dalam destinasi wajib tatkala mudik lebaran. Pokoknya batin saya selalu bergumam, “Ngga worth it. Isinya cuma begitu-gituan aja. Ya delman, ya kuda, ya mobil neon. mana rame banget sama pedagang asongan pula”. Saya selalu merasa bahwa taman kota bukanlah tempat ideal untuk menghabiskan quality time bersama Thina.

Tapi lebaran tahun ini berbeda. Kami yang biasa jalan berdua, kini jalan bertiga. Seketika hal-hal yang dulu kami anggap alay dan tidak menarik, kini menjadi hal yang sangat ingin kami coba. Naik delman, naik mobil gowes yang lampu neonnya heboh, serta menikmati suasana malam taman kota adalah beberapa wishlist sederhana kami demi membahagiakan si buah hati.

Jarak dari rumah ke Taman Kota lumayan jauh,  sekitar 8 kilometer. Jadi kami harus melapisi tubuh dengan jaket yang tebal agar terlindung dari angin malam di Kota Kuningan yang menusuk-nusuk ke dalam tulang. Perjalanan dengan sepeda motor cukup mudah dan singkat, cukup ambil jalan lurus dari Jl. Raya Jalaksana, menyusuri Jl. Siliwangi hingga kami bisa melihat Masjid Agung Syiarul Islam di sisi kanan. Taman Kota berada persis di seberangnya.

 



Maap ngeblur, yah namanya hape mid range..

 

Kendaraan roda dua dan roda empat mulai memenuhi jalan, menciptakan kemacetan yang jarang terjadi di hari-hari biasa. Maklum lah, Kuningan memang terkenal dengan para perantaunya (termasuk saya). Sebagian besar warga Kuningan adalah perantau yang mencari rezeki di kota lain dan kembali sesekali. Berdasarkan data Pemkab tahun 2015 saja, ada sekitar 270.000 perantau yang melanglang buana dari daerah ini. Apalagi sekarang, mungkin sudah jauh lebih banyak lagi. Itulah mengapa setiap libur hari raya, jalanan di Kuningan selalu saja macet dan padat. Perantaunya pada balik semua euy..

 

 

 

Sejarah Singkat Taman Kota Kuningan

Sebelum dialih fungsikan, Taman Kota tadinya merupakan sebuah gedung yang bernama Plaza Kuningan. Ia gedung yang menjadi satu-satunya sentra hiburan di Kota Kuningan. Isinya cukup lengkap, mulai toko-toko pusat perbelanjaan, tempat kulineran, tempat main billiard, ding-dong, sewa komik, jual beli poster-poster pemain bola, hingga bioskop pun ada di tempat ini.

Awalnya sempat tersiar kabar bahwa Plaza Kuningan akan direnovasi agar menjadi lebih modern. Sebuah angin segar untuk warga Kuningan yang haus akan hiburan. Memang kala itu, kondisi Plaza Kuningan sudah cukup kumuh dan tidak representatif lagi. Gedung Plaza Kuningan pun akhirnya dirobohkan.

Namun seiring beberapa tahun berlalu, proyek tersebut mandek dan terbengkalai. Hingga Pemda Kuningan pun memutuskan untuk mengubah tanah bekas Plaza Kuningan tersebut menjadi Taman Kota. Mungkin menurut Pemda kala itu, agak beresiko untuk membuat mall di jantung kota karena bisa menjadi biang kemacetan di masa mendatang. Jadi lebih baik diubah saja sekalian menjadi ruang terbuka hijau bagi masyarakat.

Meski begitu, hingga hari ini belum ada satupun proyek mall yang singgah di Kota Kuningan. Jangankan mall, bioskop saja sampai sekarang ga ada. Jadi kalau muda mudi Kuningan mau nonton ke film terbaru, mau gamau harus menempuh perjalanan cukup jauh ke Mall Grage atau CSB di Cirebon.

Baca Juga :  One Day Vacation to Jakarta Aquarium, Neo Soho



Ada Apa Saja di Taman Kota Kuningan?

Taman kota Kuningan dikelilingi oleh akses jalan aspal, dimana kita bisa berkeliling taman dengan menaiki kuda dan mobil gowes yang telah disediakan oleh pemuda setempat. Di sepanjang jalan juga berkumpul berbagai ruko dan pedagang asongan yang menjual jajanan serta kuliner yang memanjakan lidah.

Area dalam Taman Kota terbagi menjadi 3 bagian. Area depan berisi kolam dengan air mancur, yang sayangnya kurang disupport pencahayaan yang baik karena menurut saya agak terlalu gelap. Area tengah berisi patung kuda menjulang tinggi, yang merupakan simbol dari Kota Kuningan. sementara area belakangnya merupakan area terbuka ala-ala colosseum yang bisa digunakan untuk aktivitas kumpul kongkow muda-mudi.

Jembatan ke food court.
Jembatan ke Mesjid Syiarul Islam

 

Di bagian depan dan belakang, ada 2 buah jembatan yang berwarna merah dan warna-warni. Jembatan di area depan dapat digunakan untuk menyeberang ke Masjid Syiarul Islam. Sementara jembatan di area belakang digunakan untuk mengakses food court lainnya yang berada di atas lahan parkir. Saya agak heran sih, kenapa area tambahannya malah dijadikan foodcourt. Padahal kalau dijadikan lahan parkir, sepertinya bisa mengurangi kepadatan yang terjadi di area taman secara signifikan.



Naik Delman Edisi Shift Malam

Untuk menaiki delman, kami perlu berjalan menyebrang dulu ke Masjid Syiarul Islam. Sebenarnya di area Taman Kota juga ada kuda sih, cuma itu ga ada andongnya, jadi musti naik langsung ke kudanya gitu. Karena putri masih terlalu kecil, kami lebih memilih untuk naik delman saja yang ada di area sebelah.

Seiring lautan manusia yang sedang berkumpul, kami perlu sedikit berebut dan beradu dengan emak-emak sebelum bisa mendapatkan kursi. Pokoknya saya mau duduk di depan, persis di muka kusirnya, hahaha.

Delman yang kami naiki dihias sedemikian rupa dengan bunga artifisial serta lampu neon berwarna hijau terang. Membuat saya merasa antara sedang naik kereta kuda nyi roro kidul dan kapal flying dutchmann. Untungnya, abang kusirnya cukup ramah dan enak diajak ngobrol. Ia berperawakan sedang dengan umur yang saya perkirakan masih dibawah 25, dengan lihai menarik-narik tali untuk mengatur laju kuda supaya baik jalannya. Rute yang kami tempuh adalah mengitari Masjid Syiarul Islam, sebelum berbelok ke arah Toko Sembilan dan kembali lagi ke arah Taman Kota.

 

Jalanan Kuningan yang sedang macet di berbagai sisi membuat abang kusir agak kesulitan menyesuaikan laju kudanya. Sesekali ia turun dari tempat duduknya, dan berdiri seakan menuntun kudanya. Membuat saya agak sedikit keheranan.

“Kunaon mang, geuning hampe turun-turun kitu atuh” (kenapa mas, kok sampe turun-turun gitu sih?), tanya saya ke mas-masnya. Takutnya ini kuda lagi ada kendala di kopling, atau problem di gigi 2, hahaha.

Si masnya menjawab, “Turun wae a, supados henteu beurateun teuing kudana. Karunya” (Turun aja ka, supaya ga terlalu berat. Kasihan kudanya)

Wah, ngga nyangka ternyata si masnya sebegitu menghargai kudanya. Saya pun sampai terharu hingga menitikkan air keringat (lho). Sempat terpikir untuk ikutan turun dan bantu nuntun kuda tapi Thina segera menghalangi ide konyol saya itu.



 

Dari obrolan ringan bersama abang kusir, saya akhirnya tahu kalau delman-delman ini sejatinya masih digunakan sebagai alat transportasi hingga hari ini. Jadi bisa dibilang kuda-kuda ini terbagi ke dalam dua shift. Shift pagi untuk kebutuhan transportasi di sekitar area pasar, sementara shift malam untuk kebutuhan pariwisata dan menyenangkan hati para muda mudi serta emak-emak.

Alhamdulillah ya, diantara gempuran kemajuan teknologi serta ojek online yang kian menjamur, ternyata masih ada tempat untuk alat transportasi konvensional yang berbasis tarikan kuda satu ini. Salut euy!

Oya, untuk biaya yang saya bayarkan adalah 10 ribu per orang. Putri seharusnya ga masuk itungan, tapi karena abangnya baek dan full senyum, jadi saya kasih aja 30 ribu ketika melangkah turun kembali di parkiran Syiarul Islam.

Baca Juga :  Pengalaman Seru ke Taman Safari Naik Motor

 

 

Mobil Gowes Full Colour

Balik lagi ke area jalan Taman Kota, kami harus kembali berjibaku untuk mendapatkan kursi di mobil gowes yang jumlahnya terbatas. Biar cepet dapet, saya sampai rela mencegat abangnya di sisi lain. Agak sneaky, but it works!. Segera setelahnya kami pun berhasil mendapatkan mobil gowes berwarna hijau metalik dengan neon box bertuliskan “Taman Kota” di atasnya.

Kami sempat skeptis kalau abangnya akan menolak, soalnya kapasitas mesin gowesnya bisa berempat, sementara kami hanya berdua (plus 1 bayi). Mengutamakan penumpang yang lebih banyak, tentu akan membuatnya mendapatlkan penghasilan yang lebih banyak di momen tumpah ruah ini.

Tapi Alhamdulillah, Abangnya baik. Ia tetap mempersilahkan kami naik meski hanya dua bangku.

Begitu naik ke dalam mobil gowes, abangnya langsung menginstruksikan kami untuk agar tidak perlu gowes menggowes sama sekali. Ternyata, si abangnya lah yang akan mengoperasikan mobil gowes ini sepenuhnya di sisi sebelah kanan. Mulai dari dorong-dorong, setir kanan kiri, hingga memantau posisi pengendara lain di depan. Sementara kami cukup santuy saja dan menikmati suasana.

Sambil menikmati suasana sekitar yang macet tidak karuan, kami pun memanfaatkan situasi untuk ambil foto groufie. Sayangnya, lampu neon berwarna biru metalik di dalam kabin sepertinya terlalu kuat. Hasil jepretannya jadi lebih terlihat seperti kumpulan orang yang terkena radiasi gamma. hahaha

Sama seperti delman, biaya untuk satu kali putaran mengelilingi taman kota naik mobil gowes ini adalah sebesar 10 ribu saja per orang. Murah atau mahal segitu? Kalau menurut saya sih lumayan murah ya. Saya malah udah mengestimasikan bahwa abangnya bakal minta 15 hingga 20 ribuan. Wah ternyata saya terlalu suudzon.

 

 

 

Bus Kemuning, Next Time Ya!

Armada terakhir yang perlu kami coba adalah Bus Kemuning. Bus ini adalah bus wisata yang didapatkan dari bantuan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Bertujuan untuk mengenalkan berbagai tempat wisata di Kabupaten Kuningan. Bus ini berwarna kuning cerah, dengan logo Kabupaten Kuningan di sisi kanan kirinya.

Bus ini tersedia dalam beberapa rute, dan Taman Kota adalah salah satu diantara rutenya. Biaya untuk menaiki Bus ini adalah sebesar Rp. 20.000,- dan akan berkeliling Kota Kuningan hingga ke Taman Cirendang.

Namun sayang, mendengar kata Taman Cirendang, kami langsung sepakat untuk mundur perlahan. Rute itu terlalu jauh untuk jalanan semacet ini, sementara saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB. Sudah larut malam untuk berkeliling terlalu jauh, apalagi bersama bayi yang masih sekecil ini.

So, see you later, Kemuning! Insya Allah tahun depan kita bakalan kesini lagi.

 

 

🐎🐎🐎🐎

 

 

Sebagai paragraf penutup, saya pribadi sebagai (eks) warga Kuningan sangat menyukai kehadiran Taman Kota. Pilihan pemerintah Kuningan untuk mengutamakan lahan terbuka nan hijau adalah langkah baik yang perlu diapresisasi. Namun, di sisi lain saya juga mendambakan kehadiran mall atau sentra hiburan lain yang bisa menggantikan Plaza Kuningan. Ga seperti sekarang, yang mana di dalem kota cuma mentok ada Surya, Yogya sama Ria Busana aja. Terus kesian juga anak-anak muda disini, kalo mau nonton bioskop mesti jalan jauh sampe ke Cirebon.

Yah, semoga aja nanti ke depannya ada mall baru di lokasi yang strategis dan ga terlalu bikin macet ya…

Tak terasa malam kian larut, namun kemacetan tak kunjung jua mereda. Diantara dempetan manusia yang bergerak kesana kemari itu, kami menyempil perlaham, menghampiri motor kami yang terparkir lalu bergegas menarik kemudi untuk menuju kembali ke Desa Padamenak.

Sampai jumpa di lain waktu, abang kusir dan abang gowes!

 

Bonus : Tukang dagang perahu klotok yang makin langka

 

Merasa tulisan ini bermanfaat? yuk sawerin duit biar saya bisa beli kopi yang banyak & nyicil rumah KPR.

Nih buat jajan

 

Depok, 4 Mei 2023
Ditulis sembari mengganjal mata yang ngantuk dengan biskuit roma

Fajarwalker

A Man with frugal style living. Sering dikira pelit, padahal cuma males keluar duit.

More Reading

Post navigation

13 Comments

  • Seru sih main ke Taman Kota Kuningan dan saya pribadi punya momen indah di sekitaran situ. Tapi sejak kerjaan makin padat, boro-boro menyempatkan waktu buat motoran kesana. Perjalanan dari Cirebon sih lumayan ya, harus siap pegel, haha. Kapan-kapan main ke Mesjid Agung At-Taqwa atau Pantai Kejawanan. Sudah lebih baik untuk dikunjungi hehe

    • Iya nih, saya juga lumayan jarang main ke Cirebon. Tiap pulkam selalu stuck di Kuningan, hehehe
      Kemarin kata Ibu saya Pantai Kejawanan malah kurang wort it ya. Bener-bener berubah total dari yang dulu.

  • Dalam beberapa bulan terakhir, saya berkali-kali ke Kuningan untuk urusan pekerjaan. Tapi nggak pernah nyobain suasana malamnya seperti di Taman Kota Kuningan ini. Soalnya nyari penginapannya sulit. Ada hotel tapi bujet nggak masuk. Jadi memilih nginep di Cirebon. Pernah sih nginep di Vank**a, tapi berisik dan banyak nyamuk.

    But, next time bolehlah saya sempatkan menikmati Taman Kota dan coba jajanannya. Paling senang kalau Taman Kota, Masjid, dan para pedagang ngumpul jadi satu. Jadi hiburan tersendiri buat warganya.

    • Kalo selain di kota mah, suasananya hening wkwkwk Macem gada kehidupan.
      Yang hidup cuma di area taman kota dan sekitarnya saja.

  • Kalau ke malam gitu suasananya teduh banget ya jadi pengin ke pasar malam deh. Istimeea bersama keluarga ya Kak. Bolahlah kak info lain tentang kuningan kuoinernya bikin penasaran.

  • Seruu banget ya di sana. Meski malam2 pun rame. Banyak yg sengaja refreshing di Taman Kota Kuningan. Apalagi kalau naik delman. Biaya juga cukup terjangkau.

    Jadi pengen ke Kuningan euy. Ke Bandung juga saya belum pernah. Pengen ke Jabar wkwkw.

    Udah lamaa nih gak naik delman. Kalau di sini (Malang raya) delman hanya ada di daerah wksata.

    • Sebenarnya kalo cuma datang doang mah, malah ga ada biaya si. Tapi ya palingan mentok keliling2 taman aja. Kalo lagi pacaran mode irit mah, boleh lah hahaha

  • Kalau sama anak mah emang kadang yg terlihat alay dan malesin bgt malah jadi menarik ya. Saya jadi teringat, bertahun tahun kmrn tinggal d jogja blm pernah sama sekali naik delman kuda. Ke merapi pun karena jadi guide sodara yg lg liburan. Haha

    • Iya, kalo kita sendiri mah kayak… apaan dah, gitu wkwkwk. Tapi kalo sama anak mah, wisata kecil-kecilan juga happy ajah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *