Akhirnya setelah sekian lama, saya bisa merasakan kembali udara pagi di Kota Depok. Yaps, hari minggu kemarin untuk pertama kalinya saya mengajak Thina untuk menginap di rumah orang tua saya di daerah Tapos, Depok. Ini adalah pertama kalinya kami menginap disini dari sejak hari pertama menikah. Kebetulan sejak beberapa waktu terakhir kasus Covid-19 di Indonesia sedang turun cukup drastis (dan sudah sudah pada divaksin juga), jadi hati saya pun merasa lebih tenang dan aman untuk berkumpul dan bercengkrama sama keluarga.

Berkurangnya kasus Covid-19 juga menjadi gerbang awal kebangkitan berbagai aspek kehidupan dan roda perekonomian yang telah terkena badai pandemi selama hampir 2 tahun lamanya. Kini, semuanya mulai kembali normal seperti biasa. Jalanan yang sepi sudah mulai kembali ramai lagi. Mal-mal yang tutup mulai sudah dibuka kembali. Dan yang paling saya tunggu-tunggu : Pasar rakyat yang telah lama lenyap, kini akhirnya timbul kembali.



Sejak diceritakan oleh Ibu saya, sejujurnya pasar tumpah inilah yang saya tunggu-tunggu sejak dari jauh-jauh hari kemarin. Disebut pasar tumpah, karena para penjualnya senantiasa ber-tumpah-ruah di sebelah sisi kiri dan kanan jalan. Menimbulkan keramaian dan kemacetan di sepanjang Jl. Akses Tol Cimanggis, mulai dari perempatan Leuwinanggung dan hingga ke batas akhir di Masjid As-Shiddiq Cikeas. Hampir 2 km lebih itu deretannya lho!

 

Gausah Berangkat Kepagian. Santuy Aja

Ekspresi ketika keluar dari rumah jam 8 pagi

Meski identik dengan keramaian di minggu pagi, tapi sejatinya tak perlu jalan terlalu pagi menuju kesini. Sepengalaman Ayah saya, pedagang-pedagang disini belum sepenuhnya buka jika kita tiba disana jam 7 pagi. Oleh karena itulah, kami semua baru berangkat dari rumah di kisaran 8.20 waktu setempat. Tak apa, jam segini udara pagi masih cukup segar kok!

Kami berangkat beriringan dengan menggunakan dua sepeda motor. Saya membonceng Thina, sementara Ayah membonceng Ibu. Perjalanan yang kami tempuh pun tak memakan waktu lama, cuma sekitar 5 menitan saja. Soalnya memang jarak dari rumah ke perempatan leuwinanggung cuma sekitar 3 km aja. Ibarat kata, jalan mundur aja nyampe, hehehe

 


Jalanan Padat dan Ramai. Protokol? Hmm.. Pake Ga Ya.

Macet pisan euy

Maju sekitar satu kilometer dari perempatan Leuwinanggung, kami langsung disambut oleh deretan lapak pedagang yang berbaris di sisi kanan dan kiri jalan. Mata saya dengan sigap menangkap pemandangan di sekeliling, menikmati keramaian dan kemacetan yang tercipta, buah dari para pengendara lain yang mengendarai lambat demi melihat pedagang di sisi jalan.

Mau cari jajanan apa? Disini sih lumayan lengkap. Mulai dari yang ringan semacam cilok, sosis bakar, telor gulung, tahu bulat, atau sempol. Hingga yang berat seperti ketoprak, bakmie, ayam goreng dan lain-lain. Minuman yang seger pun tak kalah lengkap semisal es dawet, es kelapa, susu murni dan ragam minuman instan segar lainnya.

Untuk kaum hawa, disini pun ada banyak racun belanjaan seperti tas, baju, jaket serta produk fashion lainnya. Kaum ibu-ibu pun bakalan happy disini karena banyak juga yang jual segala macem perabotan dan perkakas rumah.

Uhuy, mau belanja apa yaaa

 

Ayo semangat jualannya buuu!

 

Makanan favorit Bapake : Edamame

Saya dan Thina adalah tipikal customer Run or Go, alias ga jago nawar. Dan kebetulan sedang tak berhasrat membeli apapun untuk saat ini. Sementara itu, Ayah saya sepertinya sudah menemukan jajanan pilihannya, yaitu kacang edamame.

Perasaan senang dan berbunga timbul di lubuk hati ini tanpa saya dapat kompromi. Senang, karena setelah penantian begitu lama dan berbagai disaster yang telah kita lalui, akhirnya kehidupan perekonomian kita mulai bangkit kembali. Melihat para pedagang yang kembali semangat berjualan, disambut oleh para pembali yang semangat untuk berbelanja; membuat saya optimis Indonesia bisa segera pulih.



Meskipun begitu, masih ada sedikit rasa khawatir dari saya, karena sejujurnya masih banyak juga yang sudah tak peduli dengan aturan 5M; ngeloyor kesana kemari tanpa masker dan tak menjaga jarak. Tak ada petugas kesehatan yang berjaga, dan tak perlu aplikasi pedulilindungi untuk bisa berkunjung. Semuanya bebas datang dan pergi sekehendak hatinya. Sementara saya hanya bisa tersenyum tipis sambil tetap menjaga masker menempel di wajah.

Sebenarnya, setelah menyusuri jalanan yang padat oleh pedagang ini, rencana awal kami adalah untuk mampir ke pelataran masjid Ash-Shiddiq Cikeas yang cukup indah dan Instagrammable. Tapi sayang, semesta kali ini sedang tak mendukung, karena entah mengapa akses menuju masjid tersebut ditutup sementara waktu. Apa daya, kami pun memutuskan untuk memutar kembali ke arah perempatan leuwinanggung.

 

 

Pengalaman Kurang Menyenangkan

Meskipun cukup ramai dan ada banyak ragam pedagang dari berbagai kalangan, tapi itu tak membuat saya bisa segera merekomendasikan tempat ini kepada kalian semua. Penyebabnya, adalah karena kejadian tidak menyenangkan yang saya alami di hari itu.

Jadi, waktu itu Thina meminta saya untuk mencari es dawet ireng. Tentu saya pun menyambut dengan positif, karena suasana yang mulai terik memang memaksa kami untuk mencari sekuncup kesegaran. Bayang-bayang es dawet ireng segera menghantui kami, memaksa kami untuk terus memicingkan mata dan mencari diantara barisan pedagang yang ada.

Akhirnya, kami pun menemukan yang kami cari. Seorang penjual es alpukat kocok dalam motor, yang sepertinya menawarkan juga berbagai opsi menu lain dan salah satunya adalah es dawet ireng. Kami memesan 2 cup dengan harga 6000 rupiah per satuannya. Tak terlalu mahal sebetulnya, namun entah kenapa kami merasa gak worth it karena ternyata porsi cupnya dikit banget, heuheu

Tak berselang lama sejak meninggalkan pedagang tersebut, Thina mulai menampakkan keresahannya. “Yang, itu kok kayaknya dawetnya aneh ya. Kayak kurang seger gitu”.

“Iya, kayaknya kurang seger gitu ya warnanya”, saya pun merespon.

Mendengar premisnya yang disambut positif, Thina pun lanjut bercerita, “Mana tadi tuh ya, ada yang beli alpuket kocok ya. Itu isinya cuma sekitar setengah cup gitu, kukira bakalan ditambah. Ternyata engga! Trus pas dia bayar 10 ribu, kukira dibalikin kan ya. Ternyata engga! Mahal banget kan ya.”.

“Yah, kayaknya sih emang penjualnya penjual dadakan gitu ga sih. Bukan yang biasa jualan alias spesialnya. Mangkanya dia jualannya macem-macem, ga satu menu kayak pedagang biasanya. Tapi yaudahlah, intinya sih gausah berharap banyak”, saya akhirnya menutup obrolan singkat tersebut.

Kalimat ‘gausah berharap banyak’ tadi ternyata lebih pahit dari yang kami duga. Karena saat di perempatan Leuwinanggung, kami putuskan untuk meminum es dawet ireng tersebut dan rasanya….. ASEMMMM 🙁

Kami berdua langsung mencak-mencak dan memuntahkan isi minuman yang sempat tertelan. Gila, emang sih kita ga berharap banyak. Tapi ya at least drinkable atuh lah ya. Masa minuman asem gini dijual, hiks.

Ayah dan Ibu yang melihat derita kami berdua, akhirnya mengajak kami untuk pindah ke Taman Sukatani yang berada tak jauh dari rumah. Disana, memang penjualnya tak sepadat di pasar tumpah ini, tapi rata-rata ada penjual asli dan bukan dadakan. Dan yap, itulah yang menjadi asumsi kami atas kejadian tak mengenakkan barusan. Sepertinya, banyak pedagang-pedagang dadakan yang coba cari peruntungan di pasar tumpah sana. Itulah yang akhirnya membuat (terkadang), kita menemukan dagangan berharga mahal tapi kualitasnya kurang oke.

 


Akhirnya pindah ke taman Sukatani di samping rumah

FYI : Es cendol disini cuma 5 rebu tapi banyak banget 🙁

 

 

 


 

 

Kesimpulan akhir : Menyenangkan untuk kembali melihat keramaian di pasar tumpah ini. Banyak juga barang dijual bikin kamu seru untuk melihat-lihat sambil jalan perlahan. Tapi kalau mau jajan, harap berhati-hati selalu ya. Tanyakan harga sebelum memesan dan berbelanja dari penjual yang benar-benar meyakinkan.

 

 

Demikianlah tulisan saya di hari ini, semoga bermanfaat untuk kalian semua ya. Kalau merasa bermanfaat setelah membaca konten yang saya buat, silahkan klik tombol di bawah untuk traktir saya jajan kopi ya!

Nih buat jajan

 

 

Bekasi, 05 Oktober 2021
Ditulis sambil menungu perangkap tikus berbunyi gemeletak.