Belajar Berdamai Dengan Gutenberg

Memang sudah fitrah manusia untuk menyukai dan membenci sesuatu. Namun, sebagai seorang muslim, kita diajarkan untuk mencintai dan membenci sesuatu sewajarnya saja. Seketika saya pun teringat potongan Surat Al-Baqarah ayat 216, yang artinya :

… Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Kenapa jadi mendadak agamis gini yak? Ah, entahlah…

Pokoknya saya mau curhat nih yaa. Beberapa waktu lalu, saya baru aja menghadiri acara ulang tahun WordPress yang ke-20 yang diadakan di Jakarta Pusat. Acaranya sih seru banget, karena disana saya banyak bertemu dan berkenalan dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Mulai dari sesama pengguna wordpress, content creator, SEO specialist, digital security, dan masih banyak lagi.

Saya tentu memanfaatkan kesempatan ini untuk sharing, berdiskusi, serta mendapatkan insight baru yang mungkin selama ini terkurung oleh padatnya rutinitas harian.

Dalam satu kesempatan, saya bertemu dengan Mas Leonardus Nugraha. Beliau adalah salah satu (dan mungkin satu-satunya) orang Indonesia yang menjadi kontributor di WordPress Global. Dalam satu waktu yang singkat itu, kami bertukar cerita tentang berbagai hal. Mulai dari pekerjaan mas Leon, sejarah awal ketemu dengan WordPress, hingga mulai mengerucut ke berbagai hal, salah satunya adalah membahas tentang Gutenberg.

“Gatau kenapa mas, dari dulu saya memang nggak suka sama Gutenberg…”


Gutenberg yang Dibenci

Biar ga salah paham, Gutenberg yang kita bahas disini bukan Johannes Gutenberg sang penemu mesin percetakan ya. Melainkan nama dari Editor WordPress baru yang diluncurkan untuk menggantikan Classic Editor.

Editor ini sebenarnya ngga baru-baru amat, karena ia sudah dirilis sejak tahun 2018. Sudah 5 tahun lamanya. Berbeda dengan editor lama yang nampak sederhana selayaknya Aplikasi Office, Gutenberg punya antarmuka yang responsif dan intuitif, dengan tampilan yang lebih bersih dan lengang.

Selain itu, Gutenberg juga menggunakan sistem baru yang dinamakan Block, dimana kita bisa menambahkan dan mengotak atik layout dari berbagai elemen seperti paragraf, heading, daftar, tombol, widget, konten video & foto, dan masih banyak lagi.

Secara fungsional, sebenarnya Block Editor atau Gutenberg ini punya banyak keunggulan dibandingkan Classic Editor. Namun entah kenapa, sambutan untuk Gutenberg dari sejak awal memang kurang baik. Hingga kini, Gutenberg masih mendapatkan banyak sekali review negatif dari para penggunanya. Angkanya mentok di bintang 2, dengan bintang 1 masih cukup mendominasi.

Hal ini berbanding terbalik dengan Classic Editor (yang dapat kita install sendiri), dimana hingga kini reviewnya tetap bertahan di angka 4.95. Almost perfect!

Reviewnya menyedihkan sekali

Saya juga merupakan salah satu orang yang sangat membenci Gutenberg. Dari sejak kemunculannya di tahun 2018, hingga kini saya masih saja mengandalkan Classic Editor sebagai pilihan utama. Pokoknya tiap kali fresh install WordPress, langsung deh install plugin Classic Editor. Wajib banget hukumnya.

Baca Juga :  10 Tahun Berlalu. Ternyata Oh Ternyata, Kita Semua Sudah Tua.

Namun, percakapan singkat dengan Mas Leon sepertinya telah menyadarkan saya, serta memberikan saya sedikit point of view baru yang cukup baik. Ia bercerita bahwa selama beberapa tahun terakhir tim WordPress sudah bekerja keras untuk memperbaiki berbagai kekurangan dari Gutenberg. Namun, Ia juga tetap memaklumi jika masih ada orang-orang seperti saya, yang menolak kehadirannya dan tidak menyukainya sama sekali.

Ia sendiri bercerita bahwa transisi dari Classic Editor ke Gutenberg sudah dilakukannya beberapa tahun lalu, hingga sekarang ia pun sudah menggunakan Gutenberg sepenuhnya untuk berbagai pekerjaannya. Dan hasilnya cukup baik kok, ga seburuk itu. Bahkan, website komunitas WordPress yang baru pun, dibuat sepenuhnya dengan Gutenberg. (Buka disini : wp-id.org)

Obrolan singkat ini nampaknya membuat batin saya sedikit luluh. Melihat tim WordPress yang terus bersemangat memperbaharui Gutenberg meskipun cacian masih menderu dera, membuat saya bertanya-tanya. Apakah Gutenberg memang seburuk itu, ataukah ini hanya perkara saya terlalu malas untuk ber-adaptasi saja?

Aneh memang, dari sejak mencobanya sekitar 5 tahun lalu, saya ini seperti alergi dengan Gutenberg. Dalam tiap kesempatan, sehabis fresh install WordPress. Selalu saja saya langsung menyingkirkannya tanpa mau mencobanya sedikit pun. Lantas darimana saya bisa berpendapat Gutenberg seburuk itu kalau mencobanya saja ogah ogahan?

Oleh karena itu, saya pun bertekad untuk mencoba dan mempelajari fitur wordpress yang satu ini dengan lebih serieus…



Akhirnya, CLBK Sama Gutenberg

Kebetulan, beberapa waktu lalu saya juga sedang melakukan proses rombak tampilan blog secara besar-besaran. Template lama saya hapus, saya gantikan template baru yang lebih modern dan juga minimalis.

Setelah semua setting layout telah di-update dan diperbaiki, kini tiba waktunya bagi saya untuk melakukan yang tidak pernah saya lakukan dalam beberapa tahun terakhir : Menonaktifkan Plugin Classic Editor!

Daaaan, impresi pertama saya adalah… Kagum, tapi bingung.

Kagum, karena antarmuka gutenberg itu berbeda 180 derajat dengan editor lama. Lebih bersih, lebih luas, dan ukuran tiap karakter dibuat lumayan besar. Apalagi bagian Title sama heading, alamak kok berasa gede banget ya.

Namun, seketika saya juga merasakan kebingungan, karena layout yang berbeda total dengan classic editor ini, membuat saya harus meraba-raba kembali posisi tombol dan setting yang selama ini sudah kadung familiar. Panel yang tadinya berada saklek di sebelah kanan, kini disembunyikan. Kita perlu menekan tombol Settings dulu untuk memunculkan option menu.

Butuh waktu 1 hingga 2 hari bagi saya untuk menemukan dan mem-familiarkan berbagai setting yang ada di Gutenberg. Bahkan untuk settingan sederhana seperti Post Category saja, saya sampai harus nonton tutorial di YouTube dulu.

Tapi itu hanya sementara saja. Tak lama setelahnya, saya mulai familiar dengan layout di Gutenberg ini. Dan sebenarnya tidak se-rumit itu sih, cuma agak tersembunyi aja, mungkin sengaja dibikin begitu biar feels distraction free-nya dapet.

Untuk sistem block-nya juga mungkin cukup membingungkan di awal, karena tiap kali enter paragraf, mendadak muncul tanda plus (+). Tapi dalam beberapa kali percobaan, sepertinya kebingungan tersebut akan perlahan menghilang.

Baca Juga :  Balada Nyari Temen Main Badminton

Justru, dengan Gutenberg ini beberapa hal yang dulu rumit dengan Classic Editor, kini bisa diselesaikan dengan mudah. Seperti membuat tabel, mengatur column, menambahkan widget, dan embed konten dari pihak ketiga. Semuanya bisa dilakukan dengan mudah dan sat set dalam beberapa klik.

Salah satu fitur favorit saya adalah Reusable Block. Dimana kita bisa menyimpan setting dan isi konten dari sebuah block, kemudian menambahkannya kembali di area atau bahkan postingan yang lain.

Dengan Reusable Block, saya bisa menghemat banyak waktu karena bisa menambahkan konten sama yang seringkali saya masukkan berulang ke dalam postingan. Semisal : Script Google Adsense, Link untuk minta saweran, Galeri Foto, Quotes, dan lain sebagainya.

Hanya saja, untuk eksekusi Reusable Block ini juga cukup membingungkan bagi saya. Dimana ketika Reusable Block ini saya tambahkan, lalu saya ubah isinya, lantas settingan yang tersimpan pun jadi ikut berubah. Usut punya usut, saat menambahkan dan ingin mengubahnya, kita perlu menekan pilihan Convert to Regular Block terlebih dahulu. Itupun optionnya lumayan tersembunyi, hadeeh.

Maksud Saya, kenapa sih pake dibikin sistem begitu segala? Bukankah lebih baik kalau setiap Reusable Block yang ditambahkan bisa diubah sesuka hati? Selayaknya yang biasa saya lakukan kalau pakai editor lain seperti Elementor.

Sebenarnya masih banyak lagi sih berbagai cerita dan curhatan saya bersama Gutenberg ini. Tapi berhubung saya juga masih belajar, mungkin kapan-kapan aja lah ya dibikin part 2 nya. Kalo sempet itu juga yak, hehehe

Overall, saya sih cukup puas dan mulai nyaman menggunakan Gutenberg dalam rutinitas membuat konten. Justru sekarang, kalo disuruh balik lagi ke Classic Editor, kayaknya saya bakalan kebingungan deh!



What We Like & Don’t From Gutenberg

Yang saya suka : Antarmukanya fresh, clean dan minimalis. Banyak fitur baru, serta nyaman banget dipake untuk menulis konten karena minim distraksi.

Yang saya ngga suka : Harus banyak adaptasi dengan layout baru. Tutorial yang interaktif kurang, jadi musti banyak cari di YouTube.


Kesimpulan Akhir

Selayaknya potongan ayat suci yang muncul di awal paragraf, sejatinya kita tidak sebegitunya membenci Gutenberg. Selama WordPress terus berbenah, berarti itu pertanda bahwa WordPress sangat yakin bahwa Gutenberg adalah masa depan. Jika memang masalahnya ada di adaptasi, maka cobalah untuk sejenak menarik nafas dan menceburkan diri ke dalam editor baru ini. Bukannya malah resisten dengan dalih a b c d e.

Manatau kalian akan berakhir seperti saya, yang mulai menyukai kehadirannya dan justru sekarang bingung kalau mendadak disuruh balik ke Classic Editor lagi.

Oya, sedikit update. Beberapa waktu lalu WordPress juga baru saja mengumumkan pembaruan terkini untuk Gutenberg. Dimana sudah ada 315 peningkatan, 366 perbaikan bug, 157 total kontributor dengan tambahan 49 kontributor baru. Uhuy, makin keren yaaa..

Depok, 12 Juni 2023
Ditulis sambil menghabiskan bekal makan siang di kantor.



Semangat penulis kadang naik turun, jadi boleh lah support biar update terus.

Silahkan klik link dibawah
Atau bisa juga dengan cara transfer ke :

BCA : 6871338300 | DANA : 081311510225 | ShopeePay : 082110325124

Fajarwalker

A Man with frugal style living. Sering dikira pelit, padahal cuma males keluar duit.

More Reading

Post navigation

25 Comments

  • Saya juga awalnya kesal dengan tampilan si Gutenberg ini, maklum terbiasa sama yang clasic, tapi lama-lama jadi suka sih, bahkan beberapa artikel lama, saya edit pakai gutenberg, hahaha.
    Lebih nyaman aja, mungkin karena udah terbiasa kali ya

    • Emang aslinya lebih bersih, lebih gede tulisannya, dan lebih nyaman yaa buat nulis.
      Cuma perkara layoutnya banyak yang ngumpet ini bikin agak sebel di awal, hehehe

  • Soal gutenberg dan classic editor memang permasalahannya nggak lebih karena kebiasaan saja ya. Blogger lebih nyaman sama classic editor. Karena sudah terbiasa.

    Saya punya beberapa website juga. Dan benar. Setiap kali fresh install wordpress memang lebih suka pasang plugin classic editor.

    Tapi kemudian saya menyewa satu domain baru. Dan ternyata domain yang baru ini, saya belajar soal element.

    Nah, ketika belajar soal element, ternyata plugin Classic editor kayak nggak support. Jadi kudu pake Gutenberg.

    Dan sepertinya saya mulai terbiasa dengannya. Meski saya belum bisa menggunakannya di website yang lain. Karena soal kenyamanan ini. Hehehe

  • Sebagai newbie pengguna wordpress, jujur saya juga bingung pas pake gutenberg ini. apalagi saya orangnya males ngulik. jadi blog saya yang khusus wp belom saya utak-atik lagi sampai sekarang. btw kalo mas Fajar bikin tutorial tulisan seputar wordpress khusus newbie, saya bakal sering mampir nih ke blog ini

    • Waduh, kalo tutorial gitu aku ga begitu suka bikin mba. Bukan apa-apa, capek aja gitu bikin konten yang harus sistematis dan formal. Aku kan masih sukanya curhat-curhat aja sambil sesekali diselingin komedi, hehehe

  • Aku pun merasakan hal yg sama pas pertama x pake Gutenberg ni sempet jd males ngeblog krn aku paling males nguplek2 kek beginian (gaptek soalnya hehehe). Tapi mau ga mau ya harus belajar dan akhirnya slow but sure terbiaza juga masih ada beberapa bagian yg bikin bingung tapi ya seperti dirimu aja sabar dan coba2 tra ya. Ala bisa karena biasa

    • Betul, mau gamau ya tetap dibiasakan ya mba. Karena kalau terus menolak, jadinya malah takut sama perubahan semata.

    • Owalah, semoga dilancarkan ibadah Hajinya ya kaaak. RIbet diawalnya doang kok, kalo udah sering pake mah nanti juga terbiasa..

  • Tim Blogspot nyimak hahahaha.

    aku ada blog WP sih Kak tapi belum TLD terus perasaan kok lbh gede si wepe daripada BS kalo dibuka.

    Trus blog wepe jarang kubuka jadi lupa udh pake Gutenberg atau belum. Ini bisa dipake ya walau blognya belum TLD?

    • Tentu bisa dong. Kalo wordpress yang belum self hosted kayaknya otomatis bakal pake gutenberg deh

  • saya masih pakai yang classic sih Mas, yang blog WP itu juga masih jarang diupdate hiihihih.
    harus belajar nih kalau emang nantinya semua harus hijrah ke Gutenberg

  • Wah, pantas saja buka website nya sangat enteng sekali loading nya mas
    Ternyata abis diperbarui ya
    Mupeng euy bisa sampai lolos setting wordpress
    Aku belum berhasil,,, eh tidak dilanjut untuk mempelajari sih
    Tapi jujur kejadian yang berkaitan dengan salahsatu ayat suci Al quran di atas sangat tidak asing dengan kejadian di real life

    • Eh emang iya ya? Kalo gasalah ini masih berasa beratt, hehehe. Masih belum banyak dioptimasi lebih lanjut

  • Wah, jadi pengen intip dashboard WP. Tapi kayaknya ada satu web komunitas yang sudah oakai si Gutenberg ini.
    Cuma karena setiap post keseringan sat set sat set, kayaknya nggak nyadar, itu sudah Gutenberg atau Classic Editor

    • Masih banyaknya pake classsic, soalnya emang udah familiar sih. Tapi yaaa pelan2 musti belajar juga

  • Sepengalaman dengan saya semuanya. Awal-awal hadir Gutenberg yang saya sebut Block Editor, secara fungsional memang membantu. Karena didesain dengan blok-blok, kalau dalam bahasa pemrograman mengadopsi bahasa Visual Basic, konsepnya drag and drop.

    Tapi kebiasaan orang memang beda-beda. Saya sendiri lebih prefer pemrograman berbasis teks, yang pengadopsiannya mirip Classic Editor. Pas hadir Block Editor, saya masih nyaman dengan Classic. Tapi karena waktu itu saya pakai Elementor, yang mana hanya support di Block Editor, terpaksa belajar dan melakukan penyesuaian.

    • Elementor sebenernya emang paling asik sih yaa. Cuma kurang nyaman buat dipake nulis.
      Gutenberg ini ibarat gabungan keduanya

  • Kayaknya cuma masalah selera, sih, Mas. Ada yang suka klasik, ada yang suka versi terbaru. Menurut saya logika pemakaian yang klasik sama yang Gutenberg sama saja. Cuma, lebih banyak proses yang bisa dipangkas kalau pakai Gutenberg dan proses pengunggahan tulisan jadi lebih cepat.

  • Punya blog wordpress aduh awal-awal juga agak zonk sama gutenberg. Setelah terbiasa ya lumayan. Cuma yang sampai sekarang masih belum sreg loading halaman jadi lama mungkin karena banyak fitur kali ya…

    • Sampe sekarang juga masih kagok sih. Tapi seiring waktu, jadi ngerasa aja kalo pake Gutenberg tuh ternyata lebih cepet nulisnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *