Cerita ini berawal dari mention yang saya terima dari seorang blogger malaysia di salah satu postingannya. Namanya Mbak Bidasari, dan Beliau membaca salah satu tulisan lawas saya berjudul 7 Masjid Sekitar Jakarta Seru Untuk Dikunjungi di Bulan Ramadan. Udah lama banget padahal tulisannya, di-publish sekitar tahun 2018. Alias udah 8 tahun yang lalu!
Nah, gara-gara membaca tulisan lawas saya itu, beliau jadi teringat kembali momen kala berkunjung ke Jakarta tahun 2024. Akhirnya, beliau pun menuliskan kembali momen-momen ketika ikut tarawih di Masjid Istiqlal.
Lengkap banget deh ceritanya, mulai dari selepas Ashar, Berbuka sampai adzan Isya berkumandang.
Daaan efeknya pun jadi berbalik. Gara-gara baca tulisan mbak Bidasari itu, saya jadi langsung terbawa suasana nostalgia. Bukan apa-apa, soalnya Masjid Istiqlal itu memang jadi salah satu saksi bisu perjuangan awal saya menaklukkan Jakarta, *tsahhh.
Iya, dulu di masa-masa awal merantau ke Jakarta, saya kan tinggalnya ngekost sendirian bae ya. Jauh dari keluarga dan sanak saudara, membuat saya acapkali menjalani Ramadhan dalam suasana hening dan sunyi. Udah gitu, takjilnya pun sepi. Karena keuangan pas-pasan, tentunya.
Lama-lama, saya kan berasa nelangsa ya. Masa iya, tiap Ramadhan menyendiri terus?
Alhasil, saya pun mencoba suasana baru, dengan ikut berbuka di salah satu Masjid terbesar di Asia Tenggara : Masjid istiqlal. Dan diluar dugaan, ternyata saya sangat menyukai vibes-nya. Suasananya ramai, ada banyak kajian positif, plus makanannya pun enak bin gratis, hehehe.
Semenjak itu, saya jadi rutin berbuka di Istiqlal. Lumayan, mengurangi pengeluaran untuk makan, hehehe.
Dan akhirnya, kesenangan kala berbuka bersama itu pun membuat saya tergerak untuk mencoba berkeliling dari satu masjid ke masjid lainnya yang ada Jakarta. Menikmati suasana yang berbeda, serta arsitektur dan sejarah yang penuh makna.

Saya bahkan pernah menuliskan semua kisah perjalanan saya dengan tajuk #30HariMencariTakjil di blog lama saya, fajarwalker.id. Sayangnya, gara-gara waktu itu lupa untuk perpanjang hosting, alhasil tulisan lama saya jadi raib semua. hiks.
Balik lagi ke cerita awal. Setelah membaca tuntas tulisan dari mbak Bidasari, akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Istiqlal lagi. Mencoba bernostalgia, sembari menenangkan hati.
Kebetulan, beberapa waktu lalu stress dan mumet di kepala saya sempat kumat lagi. Mungkin saja dengan menyendiri sejenak, bisa membantu menghilangkan awan kusut yang bersemayam di kepala.
Jadilah, saya pun berangkat di hari Jumat, 27 Februari lalu.
Perjalanan Menuju Masjid Istiqlal

Berhubung Masjid Istiqlal ini lokasinya ada di pusat Kota Jakarta, maka mengunjunginya pun mudah saja. Ada banyak opsi transportasi umum yang bisa digunakan. Entah itu LRT, KRL, maupun Transjakarta.
Tapi berhubung saya lagi pengen ngirit, akhirnya opsi yang terakhir disebutkan jadi pilihan. Rutenya juga gampang banget kok. Tinggal pergi ke Pinang Ranti dan naik Bus Koridor 9C (Pinang Ranti – Bundaran Senayan). Kemudian turun di Halte Cawang Central, lalu transit ke Bus 5C (Cililitan – Juanda).

Sebenarnya kalau sudah transit ke 5C tuh enak ya, tinggal nunggu aja sampe Busnya tiba di Halte paling terakhir, Juanda. Cuma yang gak saya prediksi adalah, ternyata di daerah Kwitang sampai Gambir itu macetnya luar biasa.
Nganu, sampe setengah jam sendiri lho macetnya. Kan berasa yak!
Udah gitu, ketika busnya tiba di area Gambir, saya pun sempet bingung perkara busnya mendadak belok ke arah kota. Padahal kan, dari situ ke Istiqlal tuh deket, tingal bablas lurus aja.
Ealah, ternyata emang rutenya begitu ya ges. Dari Gambir itu bus akan dibawa belok dulu ke arah Perpusnas, Monas, Harmoni, baru kemudian mengarah di halte Juanda. Yah muter-muter dah ya.
Jadi saran saya, kalau sekiranya nggak lagi pengen ngirit-ngirit amat mah, mending naik KRL aja deh, hahaha. Lebih hemat waktu.
Istiqlal, Akhirnya Saya Kembali!

Dari Juanda, saya berjalan kaki sekitar 200 meter menuju parkiran Istiqlal. Dan sesampainya di fasad masjid, aroma nostalgia langsung menyeruak ke udara. Sekilas saya mengintip waktu di layar smartwatch, muncul angka 16.10.
Saya berdiri di depan Masjid nan megah ini, sembari mencoba memanggil kembali memori-memori lama sekitar 12 tahun lalu.

Sekilas, tak banyak yang berubah dari Masjid Istiqlal ini. Masih sama sejak terakhir kali saya kesini. Paling bedanya ada di suasana yang lebih meriah, karena kini ada sentuhan lampu-lampu bintang dan bulan sabit serta beberapa tenant yang menjajakan jajanan di area depan Masjid.

Langsung Meluncur Ke Tempat Wudhu

Berhubung waktu Maghrib masih lama, maka saya pun memutuskan untuk segera pergi ke tempat wudhu. Mampir ke toilet untuk buang air kecil sebentar, lalu langsung menuju keran untuk mensucikan diri.
Kenapa buru-buru ngambil wudhu? Ya tentunya mumpung masih sepi. Kalau kita baru kesini setelah momen berbuka, dijamin deh bakal penuh dan antri banget. Bakal banyak waktu yang terbuang percuma.
Jadi mending langsung aja deh ambil wudhu, lalu pertahankan sampai kelak adzan maghrib berkumandang.

Untuk tempat wudhu-nya sendiri cukup unik ya. Bentuknya melingkar gitu, dimana satu pipa air dibagi-bagi menjadi beberapa keran. Bagus si ini, jadinya lebih efisien dan gak banyak space yang terbuang.
Udah gitu, bahannya dari besi stainless semua euy. Mulai dari kerannya, pipanya, sampai ke sekat dan penahan kakinya. Mantap betul lah.
Sayangnya, area toiletnya agak kurang terawat. Ada beberapa sudut yang kurang bersih, kerannya rusak, bahkan pintunya jebol. Agak ironi, karena sebagai Masjid Termegah se-Asia Tenggara, kok bisa perawatannya agak nelangsa.
Duduk Berbaris Rapi, Mengikuti Kajian

Selesai mengambil wudhu, saya lanjut ke area lantai atas. Nampaklah deretan pria yang sudah duduk rapi. Saya pun langsung mencari celah, mengisi salah satu area duduk yang masih kosong.
Suara ceramah ustadz beraksen betawi terdengar nyaring dari pengeras suara. Sepertinya, sedang ada kajian agama untuk mengisi waktu sembari menanti adzan tiba. Sayangnya saya lupa, siapakah gerangan nama Ustadznya.

Yang saya inget, sponsornya tuh Rocyo. Udah, itu aja. hahahaha
Kajian ini berlangsung cukup lama. Mulai dari pukul 16.00 sampai menjelang waktu berbuka. Dan di momen 20 menit menjelang berbuka, akan ada petugas yang berkeliling membagikan nasi box kepada Jamaah satu per satu.




Untuk nasi boxnya sendiri yang sekarang sih lebih besar dan lengkap ya. Mungkin karena hasil kerjasama dengan sponsor, sehingga isinya lengkap dan proper. Ada air mineral, nasi, ayam, telur, kurma, sampai pisang sekalipun!
Yah, better than MBG lah ya. hahahaha
Dibandingkan dulu, nasi box yang sekarang jauh lebih mewah si. Soalnya kalo dulu mah, nasinya pake wadah styrofoam. Bukan box begini.

Meski begitu, tetap ada satu hal unik yang menghilang, yaitu teh manis.
Iya, kalo tahun 2015 dulu tuh ya, dikasih minumnya bukan air mineral. Melainkan, teh manis di dalam wadah gelas. Nantinya ada petugas yang keliling nyimpen gelas, lalu menuangkan teh ke dalamnya satu per satu. Lebih repot ga sih?

Berbuka Puasa With a View

Perbedaan lainnya antara dulu dan sekarang, adalah lokasi berbukanya. Dulu, orang-orang dikumpulkan di lantai bawah. Kajian disana, makannya pun di lokasi yang sama.
Tapi kalo sekarang, agak unik nih. Sebab, lokasi karpet merah dimana kita mengikuti kajian, itu justru dilarang untuk dijadikan tempat berbuka. Jadi ketika makin mepet ke waktu berbuka, kita diminta untuk bergeser ke lokasi lain. Ngemper, di area terbuka yang lebih luas.
Jujur saya sempet kaget si. Bingung aja ngeliat orang-orang ujug-ujug pada kabur dari lokasi tempat duduk awalnya. Padahal kajian masih berlangsung.
Dan karena satu per satu jemaah mulai membubarkan diri, maka saya pun mau tak mau ikut berpindah lokasi. Segera saya berjalan, sembari melihat spot mana ya yang sekiranya paling strategis.
Akhirnya saya pun menemukan spot yang paling mantep.. Tebak dimana hayo?

Yak, deket tempat sampah, hahahaha. Sedari zaman sekolah dulu, saya emang paling seneng kalo makan tuh ga jauh-jauh dari tong sampah. Biar praktis gitu lho, kelar makan langsung buang. Ga ribet nyari-nyari tempat sampah lagi.
Saya pun duduk ngemper, sembari melihat suasana di sekitar. Nampak pemandangan sore yang indah, momen kala mentari semakin tergelincir. Dan seakan menggenapi keindahannya, lokasi ini pun menyajikan 2 tempat legendaris yang bisa dilihat dengan mata telanjang.
Ada Gereja Katedral di sebelah kiri, dan Monumen nasional di sebelah kanan. Aiiiiish, syahdu sekali ya ges.


Mengejar Maghrib di Shaf Terdepan

“Allahu Akbar.. Allaaaaahu Akbar..”
Suara bedug dan adzan maghrib menjadi penanda bagi kami untuk segera membatalkan puasa. Semua orang pun sibuk dengan makanan di hadapannya masing-masing. Segera menyantapnya dengan penuh sukacita.
Saya pun tak mau ketinggalan. Tapi selain berbuka puasa, sesungguhnya ada agenda lain yang ingin saya kejar di momen kali ini. Yakni, ikut shalat Maghrib di shaf paling depan. Mau tak mau, saya pun harus makan dengan lebih cepat.
Nganu, ini saya makannya pun pake strategi ya. Cara sederhana, tapi gak semua orang bisa. Yakni makan tanpa perlu mencampur lauknya. Jadi, pertama-taman makan nasinya aja dulu.. Abis itu baru makan ayamnya aja. Makan satu per satu, gausah dicampur. Campurnya entar aja, kalo udah masuk perut, hehehe.
Nah, sisa telur dan sayur, saya simpan di tas untuk dimakan sepulang nanti. Wis, dengan cara ini saya berhasil makan dengan lebih sat set dan segera berpindah ke lokasi shalat berjamaah.



Hamdalah, berhasil dapat barisan terdepan. Dekat dengan Imam.
Bertemu Dengan Teman-Teman Blogger

Selepas shalat maghrib, Mbak Lala dan Mbak Ire menanyakan posisi saya. Tak lama, kami semua berkumpul dan bertegur sapa di area awal, Plang Masjid Istiqlal.
Jadi ternyata di hari yang sama, Mbak Lala (lalakitc.com), Mbak Ire (irerosana.com) dan Mbak Muthia (kompasiana.com/empuratu) itu sama-sama sedang bersafari masjid ria juga.
Cumaaa, berhubung kalau di area dalam sana jemaah pria dan wanita itu dipisah, alhasil kami baru bisa berkumpul setelah selesai shalat fardhu.

Kami semua bertukar sapa dan ambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan, sebelum akhirnya berjalan bersama-sama menuju stasiun kereta. Nganu, saya pun jadinya naik kereta aja. Kapok, takut kena macet lagi. hahaha
Demikianlah cerita hari ini. Adakah dari kalian yang pernah datang ke Masjid Istiqlal dan ikut buka bersama juga? Kalau iya, coba ceritain di kolom komentar ya!
Bekasi, 3 Maret 2025
Ditulis sembari melihat kumpulan footage dari acara kemarin.



Akhirnya rencana bukber di Istiqlal terwujud juga ya mas…pokoknya yang sat set itu biasanya langsung kejadian daripada saling tunggu hehehe…
HHmmmm brarti ini bukanya di luar masjid yaa bukan di area yang tempat kajian tadi..mungkin maksudnya biar gak kotor kali yaa jadi pas dipake buat sholat tetap nyaman gak bau2 ayam goreng hehe…
Senangnya akhirnya bisa kembali bernostalgia berbuka puasa di istiqlal setelah 12 th yaaa 🙂
Aku belum pernah masuk istiqlal cuma lewat doank dari luar aja guedenya segitu apalagi klo masuk,,tersesat didalam gak yaaa 🙂
Alhamdulillah, walaupun sebenernya gak bukber2 amat ya mbak soalnya pas buka puasanya mah masing-masing hahaha.
Iyess, soalnya sekarang mah dipasangin karpet mbak. Biar gampang kali ya bersihinnya, jadinya bukanya disuruh di tempat lain.
Mampir mbak Erykaa. Tenang aja, gabakal nyasar kok. Soalnya banyak plang penunjuk jalannya juga di dalaam.
Perlu perjuangan nih kalau saya dari Cianjur Selatan mau bersafari buka di Istiqlal, hehe…
Harus sekaligus dengan sahur dan berbuka kembali keesokannya. Hahaha…
Alhamdulillah sekarang sudah lebih baik ya pelayanan dan prosedur berbuka bersama gratis di Istiqlal
Kalau soal beberapa bagian yang tidak terawat, sepertinya bukan hanya di Istiqlal, di masjid agung atau masjid kabupaten kota juga banyak yang begitu. Kembali ke masyarakat nya. Karena belum ada kesadaran kalau kebersihan di masjid itu bukan hanya tugas marbot
Tapi tugas kita semua
Kalo bisa transit ke KRL mah gampang mbak. Tinggal naik kereta arah Jakarta Kota aja, turun di Juanda, hehehe. Kemaren mbak lala juga berangkat naik kereta dia.
Nah, betul. Di satu sisi mungkin masalah dana perawatan ya. Tp di sisi lain, jamaah yang pakenya juga harusnya bisa sadar diri.
Ya ampun sempat ikut momen 30HariMencariTakjil loh. Kereeen. Eh itu kenangan manis 11 tahun lalu loh. Sayang kita blm ktmuan ya mas Fajar. Padahal bs ngabuburit bareng wkwkw.
Jadi kangen dgn suasana Ramadhan di Jakarta. Masjid rame, yg cari takjilan jg rame. Semarak bgt kalo di kota mah ya. Beda dgn di desaku kok skrg momennya agak redup. Apa efek pelemahan ekonomi. Jd degupnya kyk kurang bergema, kyk Istiqlal.
Dan yg nyesel lagi, aku blm prnh nih ikut cari takjil di Istiqlal. Ramenya itu loh ga ketulungan. Ditambah kerjaan yg masih hectic bgt jam segitu. Paling mentok di Masjid Sunda Kelapa. Itu pun kalo libur kerja. Alias hari Sabtu doank. Atau mampir ke masjid MNC (kantorku dulu), itung2 nostalgia.
Baru tahu jg rutenya mas Fajar lewat Kwitang yak. Itu emg rute nyebelin sih. Macetnya ga ketulungan kalo buat berangkat dan pulang krj. Lampu lalin depan bioskop Garuda situ nyebelin. Bs tiga menit tuh lampu merahnya.
Smg Ramadhan tahun ini membawa berkah bagi semua yak. Tapi ya makannya ga perlu diurutin nasi dulu, baru ayam wkwk. Baru tahu ada cara makan kyk gitu. Aku sih mending buka pake air, buah/roti dulu yg satset. Abis itu baru sholat. Tenang deh mknnya abis sholat.
Wah kalo sekarang2 mau bukber bareng ke mesjid, saya juga hayu2 aja mas. Biar ada kongsiannya, hahaha.
Masjid Sunda Kelapa aku pun pernah, tapi yaa gitu. Memang tetep paling ramai mah Istiqlal. Terus disana takjilnya rebutan euy, gak begitu rapi pembagiannya. Gatau kalo sekarang ya.
Bagus juga design tempat wudhu nya… Nampak tersusun rapi. Berbanding kalau susunan yang panjang berderet seperti yg kita selalu lihat di mana2 masjid… Materialnya juga metal. Nampak lebih modern…
Wah tp ada yang lebih keren lagi Uncle. Masjid di PIK, itu kerannya katanya bagus dan mahal punya. Nanti kapan2 saya kesana deh, hehehe
aku sekitar tahun 2023 ke Istiqlal ama anak ponakan dan bojoku.
kok seingatku enggak seapik ini ya.
atau mungkin karena waktu itu aku bukan pas momen bukber sih
tapi Istiqlal memang memorable and must visit destination di JKT
Kalo ngincer seru dan ramainya, datangnya wajib pas bukber mbak. Wah, gak ada lawan dah itu. Ramai tapi seru!
Saya baru pertama kali berkunjung ke mesjid Istiqlal pas lagi masih sma dulu, ada study tour sekolah, pas baliknya mampir ke sana, itu sekali seumur hidup, enggk pernah lagi dan gimana suasana di dalamnya sperti apa cuman tau lewat beberapa vlogger yg datang kesana hehe
Ayo cobain lagi kapan2 mbak Hen. Seru banget lho suasananya, apalagi kalo bisa dapet shaf terdepan. Syahdu banget ibadahnya kalo disini.
Seru banget mengulang kenangan di Masjid Istiqlal sambil berbuka dengan banyak saudara-saudara semuslim di sana. Yang paling gong bisa ketemuan dengan teman-teman blogger sehabis acara. Ini memang direncanakan atau pertemuan tak terduga? Senengnya nular sampai sini lho lihat silaturahmian di Istiqlal para blogger cetar ini
Kalau mbak lala, mbak ire dan mbak muthia si udah punya rencana mas. Cuma kalau saya, pas kesini agak dadakan. Sempet maju mundur, akhirnya jadi juga. Makanya baru ketemuan pas kelar maghrib kan, hehehe
cantik dan besar masjidnya. food box pun menarik tu isinya. rezeki.alhamdulillah. salam 14 ramadan dari kuala lumpur
Alhamdulillah, salam balik ya mbaak.
Moga ramadhan ini membawa keberkahan.
meriah berbuka puasa di masjid..unik tmpt ambil wuduk
Betul mbak Tisya. Terima kasih sudah mampir yaa 🙂
Wah asek sekali bisa bertemu dengan sesama Blogger
Saya baru dua kali, itu pun cukup lama.
Kran wudhu ada yang rusak, seperti sudah menjadi pemandangan umum. Yang pakai tangan banyak.
Saat saya masih bujang, suka keliling Jakarta utara berburu takjil, ya ingin menikmati keseruannya.
Tapi sekarang, mudah kena masuk angin jika jalan jauh 🙂
Saya kebetulan sudah beberapa kali ketemu sama sesama blogger mas. Alhamdulillah, masih diberi kesempatan untuk kopdar, hehehe.
Naik kereta aja masss, jangan naik motor. Saya pun tak sanggup rasanya kalau harus keliling naik motor.
meriahnyaaaaa
saya suka tengok bungkusan makanan sebegitu. tampak kemas dan mudah untuk diuruskan berbanding kalau hidangan buffet…
masa pergi ke jakarta dulu tak tak berkesempatan untuk ke sini…ada rezeki kelak sy nak singgah laa
Wah, kalau makanannya dibuat buffet disini, bisa-bisa chaos mbak anies. orangnya ada ratusan ini, hehehehe.
Ayoo mampir kesini mbak. Apalagi pas Ramadan, wah.. suasananya juara betul
Bicara Istiqlal, aku jadi ingat almarhum bapak cerita dengan bahagia kalau sudah pernah salat di sini. Cita-citanya memang salat di sana. Beruntung ada dinas luar kota di Jakarta dan tercapailah keinginannya.
Masih ingat bapak cerita dengan wajah penuh makna. Aku sampai sekarang berpikir, betapa Tuhan memudahkan hambanya untuk kebaikan…
Alhamdulillah, bisa terkabul yaa impiannya mbak. Titip salam dan doa untuk Almarhum Bapak.
Saya pun jadi tertarik mahu ke masjid ini setelah membaca postingan dari blog kak bidasari. Kalau mahu ke situ menaiki KRL harus turun di juanda dan berjalan kaki 200 meter je kan?
Semoga saya sampai sini one day. Nak pergi jakarta sebab mahu foodhunt dan shopping2. Sambil2 tu, boleh ke masjid ini juga
Betul mbak, dekat sekali kok ini.. jalan kaki dari Juanda rasanya tak akan habis 5 menit perjalanan.
Yuk mampir mbak. Mampir juga ke Masjid-masjid lain yang tak kalah uniknya, hehehe
Saya baca postingan ini jadi kembali Kenostalgia zaman Stm.. Alumni Boedoeet 145 Nih Gue ciieeeiilllee..Haahaa.
Aku Terakhir main ke masjid Istiqlal tahun 2001 sudah lama banget.
Dulu sebelum masuk Stm sudah ada niat Pengen main Ke Monas Dan Masjid Istiqlal..Pas Sudah sekolah Stm dulu sering bukber Di Istiqlal, bahkan setiap Hari Jum,at selalu Sholat disana karena selesai sholat Jum,at sering ada pasar kaget depan Masjid Istiqlal harganyapun murah2. Gatau deh kalau sekarang.
Tapi kalau sekarang mah gue paling males atau Ogah kalau diajak Main ke Monas atau Ke Masjid Istiqlal, Bosen sama macetnya dan Semua2nya.
Wah, mantepppp betoooool ada anak Boedoet. Saya sungkem ah kalo gitu, hahahaha.
Sekarang gak begitu macet kok mas. Lancarrr jaya malah, paling kalo macetnya ya di weekend aja karena di Katerdralnya kan ada kebaktian.
Wuaah senang sekali terakhirnya bisa ketemu Lala, Rere dan mba Muthia.
Walau nonis aku pernah ke sini dan sempat duduk lama di dalamnya, memandang megahnya interior sambil nunggu kawan sholat. Sorenya menikmati suasana indah ditempatmu buka puasa Jar. Suka banget enjoy time di sana.
Aku tuh sih yess kalau teh manis di ganti air mineral aja, jadinya kan makin sehat ya ha ha ha.
Dan pastinya ada perubahan dong, walau sama-sama sampah yang tidak mudah diurai, kotak lebih baik, selain rapi dan lebih sehat.
Ya Alloh Fajar, dia lebih ingat royco dari pada nama ustadnya wkwkwk, aseli ngakak.
Eh jangan salah mbak, ini Masjid kan desainnya juga bikinan orang nonis. Kalau gasalah namanya Freddy Nababan atau siapa gitu ya. Jadi indahnya bentuk keharmonisan, uhuy.
Tapi aku jujur lebih seneng teh manis dulu mbak. Nggak begitu nyampah soalnya. Sekarang, isiannya jadi banyak sampah banget. Botol plastik, wadah nasi, dll.
(Eh dulu malah styrofoam ya wkwkwk)
Tadinya daku mau ikut, cuma karena di tempatku hujan belum reda, jadinya urung buat jalan.
Terbilang apik ya kalau di hari kerja, ketimbang pas weekend, yang sepertinya kalau weekend bukan orang Jakarta aja yang ada di sana tapi dari berbagai wilayah juga hehe.
Siip, dah nostalgia nya Mas Fajar berkesan ya. Apalagi kelihatan beda memang dari 2015 itu, dengan yang 2026 ini makin bugar
Maaf lebih ke Overweight ya mbak. Nggak bugar ini, hiks
Saya ada baca di blog Bidasari dulu, dan kemudian ke sini. Mengimbas memori lama ya, Mas. Kalau berbuka diberi teh panas, memang nikmat. Sayang sudah berubah ya, Mas. Semoga lebih terjaga masjid yang cantik ini, especially di bahagian tandasnya.
Betul mbak, kadang rindu bagian teh hangatnya. Tapi tak apa, waktu berlalu, zaman pun berubah. Sekedar bisa menikmati suasana Istiqlal saja sudah menyenangkan sekali.
jadi kangen Jakarta baca postingan ini.
Ku belum pernah buka puasa di Masjid Istiqlal, tapi kalau salat Idulfitrinya, sudah berkali-kali.
Karena rumah di Grogol, dan lumayan jaraknya kalau ke Istiqlal, kita berangkat dari rumah setelah subuh, biar dapat di dalam masjid.
Ya pasti ramai kan kalau salat Idulfitri.
Wah aku malah kebalikannya mbak, belum pernah sekalipun Shalat Idul Fitri disini. Gak sanggup si ngebayangin betapa ramai dan chaosnya, karena orang-orang luar Jakarta pun banyak yang mau shalat disini. Kayaknya sampai lantai teratas pun penuh ya.
Kalau lihat di photo memang ramai anak muda ya, apakah mayoritas anak rantau yang lagi save budget untuk mudik wkwk? wallahualam, tapi faktanya memang anak rantau rata rata familiar dengan masjid apalagi kalau puasa begini. Hmm mana ada #30harimencaritakjil lagi, benar benar berkesan masa mudanya ya ckck
Yang kefoto sih anak muda mbaak, tapi aslinya banyak orang-orang sepuh yang ikutan kok. Malah, ada satu bapak2 yang bawa dua anaknya juga. Alhamdulillah si, jadinya berkah ya.
Kok aku terharu baca ini, Mas. Kangen banget ngabuburit di masjid lanjut salat berjamaah. Kayanya sejak pandemi terus lanjut punya anak kedua, aku udah jaraaaang banget masuk masjid. Rindu gitu dengar kajian. Kumpul sama orang banyak.
Kirain di masjid sebelum salat dibagi takjil dulu, habis salat magrib baru ambil makanan berat. Dulu sih saya begitu di beberapa masjid yang pernah saya kunjungi. Takjilnya macam-macam dari buah, kue, aneka es, kolak dll.
Mungkin tiap masjid beda-beda ya. Berhubung Istiqlal ini besar sekali, yang datang banyak, jadi yang lebih praktis saja.
Ayooo meluncur lagi mbak, hehehe. Mumpung masih Ramadhan, sesekali kita cobain lagi suasana masjid dikala Ramadhan.
Apalagi kalo di JKT, biasanya masjidnya royal-royal lho. Makanannya enak2
Wow.. cerita yang seru. Pantas Mas Fajar semangat sekali ajak saya ke Istiqlal karena ada basic storynya di sana. Jadi sekalian nostalgia. Tahun 2015, Mase kasih langsung hehehe.
Saya juga pengin Mas. Dan kalau ke Istiqlal saya justru lebih mudah. Tnggal sekali naik KRL jurusan Kota. Turun di stasiun Juanda. Semoga sebelum Ramadan usai. Saya juga bisa ke Istiqlal. Aamin.
Abis ngubek-ngubek galeri, eeeh kebetulan ketemu foto lama Pak.
Ayooo pak, meluncur lagi. Hehehe
Wahhhhh….tahniah mas Fajar kerana penerangan tentang Masjid Istiqlal begitu jelas dan menarik. Semua maklumatnya terperinci. Sesuai dirujuk untuk mereka yang pertama kali mahu menjejakkan kaki ke masjid ini. Semoga maintenance masjid terutamanya bagi toilet dapat ditingkatkan yar. Rezeki dapat bertemu bloggers selepas solat ya. Membaca post ini buat saya rasa mahu kembali ke Jakarta segera
Terima kasiiiih, waaah gak nyangka lho dibaca semuanya dari awal sampai Akhir.
Makasih mbaaak sudah membuatku jadi tergerak untuk mampir ke Istiqlal lagi, hehehe
Pangling lho lihat foto mas Fajar di tahun 2015
Memang saat lagi mumet itu paling enak ngadu dan mendekatkan diri pada-Nya, pikiran yang kusut bisa terurai dan lega rasanya.
Saya jadi teringat pengalaman tersesat di Masjid Istoqlal beberapa tahun silam saat berkunjung ke sana secara masjidnya kan memang besar banget ya, untung petunjuknya jelas jafi bisa langsung balik deh
Ahahaha, dulu kurus kerontang ya mbak.
Betul mbak. Kadang kesana aja numpang shalat Fardu, abis itu bengong2
Aku pernah ke istiqlal tapi lama banget sekitar tahun 2011apa ya. Masjidnya memang gede banget yaa dan dulu itu pas aku ke luar Masjidnya ada rombongan orang juga yang kayaknya dari Banjarmasin juga datang ke istiqlal
Wah udah lamaaa banget itu mah mbak. Aku 2011 masih sekolah di kampung, hehehe
Aku Selasa lalu juga berkesempatan bukber di Masjid Istiqlal Mas, pas kebetulan ada event. Seringnya ke sana dari Stasiun Tanah Abang ternyata baru tahu kalau ke Stasiun Juanda tinggal jalan kaki aja, mana lewat skybridge jadi enak nggak perlu nyeberang2 jalan lagi yaa.
Banyak sekali ya kyknya event dengan kajian yang diadakan di masjid ini, keknya hampir tiap hari ada kali yaa.
Suasana malamnya juga seru, nggak perlu khawatir soal makanan karena makanan dari masjid berlimpah dan ada juga penjual makanan ya.
Pengen deh kembali ke sana lagi ngajakin keluarga, aku pengen kasi experience ke anak2ku gimana rasanya buka puasa di sana kalau bisa lanjut iktikaf hehe 😀
Waaahh seneng banget nh bisa nggak sengaja gitu ya ketemu teman2 bloger lainnya haha, klop banget 😀
Acara energen ya mbak? Kemaren sy liat storynya mbak Ria sama mbak Adnu, hehehe.
Bukan nggak sengaja si mbak. Emang udah diplanning, cuma sayanya weh yang datangnya dadakan hahahaha
satu hari nanti sy harus solat di Masjid Istiqlal ini sbb masjidnya gede banget gitu!
Siap, terima kasih ya uncle…