Bergantian merayakan hari Idul Fitri menjadi sebuah tradisi kecil yang beberapa tahun terakhir ini telah rutin kami laksanakan. Setelah tahun kemarin kami berlebaran di Kuningan, tahun ini giliran kami untuk merayakan lebaran bersama keluarga Thina di Bekasi.
Jadi rencananya, kami akan berlebaran terlebih dahulu bersama keluarga disini, baru kemudian di sore harinya kami langsung bersiap untuk mudik ke Kuningan.
Rencananya sih gitu ya… Tapi kemudian, akhirnya saya menemukan dua kendala.
Pertama, untuk mendapatkan tiket kereta itu gak gampang euy. Harus hunting sedari jauh hari, dan nge-war tepat di pukul 00.00 bisa untuk mendapatkannya. Dan kedua, kami juga belum tahu pasti kapan kiranya idul fitri akan dilaksanakan. Jadi sempet bingung juga, mau pulangnya tanggal berapa.
Kalo mengacu ke Kalender Hijriah Global Tunggal dari Muhammadiyah, keputusannya sih di tanggal 20 Maret ya. Cuma berhubung awal puasanya Muhammadiyah dan Pemerintah aja udah beda, maka saya ada feeling kalo nanti lebarannya pun bakal beda.
Dan ternyata emang bener aja kan ya.
Wis. Singkat cerita, saya pun nge-war tiket untuk keberangkatan di tanggal 21 Maret 2026.
Hasilnya apa? Yakkk… dapet… kereta ekonomi.
Tapi jam setengah 11 Malem, hahahaha

Lebih detilnya, saya dapet tiket di aplikasi KAI Access untuk KA Gunungjati, keberangkatan Stasiun Bekasi (BKS) menuju Stasiun Cirebon (CN).
Harganya sih lumayan murah lah ya, per orang cuma Rp. 170.000,- aja. Namun berhubung sekarang Putri udah masuk dalam hitungan, mau ndak mau ya total tiketnya pun dikali tiga.
Rp. 170.000,- x 3 = Rp. 510.000,–
Okelah, tiket sudah ada di genggaman. Sekarang pertanyaannya, bagaimanakah nasib kami setelah tiba di Stasiun Cirebon nanti? Apalagi ini nyampenya pun malam betul lho ya, sekitar jam 1.00 dini hari. Emang ada yang mau jemput?
Jawabannya ya jelas ada lha yaa, apalagi ini saya kan bawa jaminan.
Jaminan dalam bentuk cucu pertama kesayangan Abah Nek, hahahaha. Dan benar saja, tak lama setelah memberitahukan jadwal keberangkatan kami di Grup Keluarga, Abah langsung mengutus Farid a.k.a Anak Bungsu untuk menjemput kami semua dengan mobil.
Yah begitulah.. Privilege-nya cucu pertama, hahahaha.
Stasiun Bekasi yang Kian Nyaman untuk Kereta Api Jarak Jauh
“Aa dimana? Udah berangkat belum?”, ingat Abah di grup keluarga.
Saya hanya tersenyum kala membacanya. Karena kala melihat arloji, sekarang saja masih pukul 8 malam. Alias masih tersisa 2.5 jam lagi sampai waktu keberangkatan kereta. Yaaa dasar Abah kepikiran mulu sama cucunya kali ya, sampe-sampe bawaannya nanyain mulu, hahaha.
Meski begitu, kami tetap mengatur waktu agar keberangkatan kami bisa pas. Tidak terlalu mepet, tapi juga tidak terlalu lama menunggu di Stasiun. Toh, sekarang mah keberangkatan keretanya juga sudah terdesentralisasi. Naiknya bisa dari Stasiun Bekasi, sehingga nggak kudu jauh-jauh ke Stasiun Pasar Senen kayak di zaman dulu.

Daaan beruntungnya kami. Ketika tiba di lokasi dan mencetak tiket keberangkatan, sayup-sayup saya melihat angka 22.00 di jam dinding stasiun. Yang berarti bahwa masih ada sekitar 30 menit tersisa sebelum kereta berangkat. Yhaa pas lah ini, gak kecepetan. Gak kelamaan juga.
Kami pun langsung menggeret koper menuju area tunggu. Disini, kepadatan manusia langsung tersaji di depan mata. Penuh riuh dengam orang-orang yang bersiap untuk pulang kampung, baik itu dengan membawa koper maupun sekedar backpack saja.



Syukurlah, kursi tunggu yang tersedia disini sudah cukup banyak. Sehingga kami tak perlu repot-repot mencari kursi mana yang sekiranya bisa diduduki. Meski ramai, jumlah kursi yang tersedia bisa dibilang masihlah sangat banyak.
Untuk informasi keberangkatan kereta, itu semuanya disajikan dengan lengkap dan sempurna ya. Selain pengumuman yang terus disampaikan via speaker stasiun, disini juga tersedia beberapa layar LCD yang mengumumkan update jadwal keberangkatan secara realtime!

Sudah begitu, petugasnya pun nggak mau diem banget. Setiap beberapa menit sekali, mereka akan berkeliling mengitari kursi tunggu sembari meneriakkan nama kereta api yang sekiranya sudah bisa untuk dinantikan kehadirannya di area peron.
Yah, pokoknya perkara notifikasi mah, lengkap betul lah ini. Kalau sampe masih ada yang ketinggalan info, bakal saya jitak kepalanya sambil saya bisikin, “Lo dari tadi kemane ajeeee..”

Semakin saya berkeliling, semakin saya mendapati bahwa… Fasilitas di Stasiun Bekasi ini ternyata lumayan lengkap lho ya. Jadi nggak sekedar stasiunnya digedein biar bisa nampung kereta jauh aja. Melainkan, seisi stasiunnya pun sudah didesain sedemikian rupa agar mampu mengakomodir penumpang dengan baik.
Beberapa fasilitas yang saya temukan saat menanti disini, diantaranya adalah :
Playground Anak

Ini fasilitas yang ngebantu banget buat para orang tua yang memiliki bocil toddler. Karena alih-alih memaksa anak untuk menanti di dereta deretan kursi, kini para orang tua bisa memaksimalkan playground ini agar anak-anak bisa menanti dengan lebih santai dan tenang. Manalah gratis pula, ya kan.
Cumaaaaa… berhubung waktu tunggu kami nggak begitu lama, saya nggak berniat untuk membawa Putri kesini sama sekali. Repot banget dah bocah kalo udah nemuin playground begini. Yang ada, nanti dia malah nyangkut deh, kagak mau diajak ke peron pas keretanya udah datang.
Jadilah, saya sengaja cari tempat duduk yang jauh dari playground, hahaha
Coworking Space

Ini kayaknya sih cocok buat para pekerja agency yang kerjanya selalu lembur bagai kuda. Yang saking sibuknya, even di momen mudik sekalipun masih ajaaa kepikiran urusan kerjaan.
Untuk coworking space disini nggak yang istimewa banget ya. Cuma terdiri dari beberapa meja kerja yang tersusun rapi, yang tidak dipisah dengan sekat atau ruangan tertentu. Jadi kalaupun kita mau fokus dan membuka laptop disini, suasana di sekelilingnya ya teteup chaos. Riuh ramai.
Tapi pas saya perhatiin lagi, kok ga ada yang buka laptop malahan ya. Justru malah keluarga gitu yang sengaja nunggu disana. Nggak masalah juga si kalo mau nunggu disana. Cuma kesian aja kalo ada orang yang beneran butuh buat buka laptop, eeeh.. spot-nya malah diambil sama orang lain yang sebenernya bisa nunggu di kursi aja.
Toilet, Mushola & Ruang Laktasi


Kalau ini mah gausah ditanya yaa, Mushola dan Toilet memang sebuah fasilitas standar yang memang harus ada dalam fasilitas transit di transportasi publik. Jadi mau panggilan alam ataupun panggilan Tuhan, kita bisa siap siaga dan langsung menunaikan masing-masing kewajibannya.
Untuk ruang laktasinya, saya nggak foto ya. Karena kebetulan, masa menyusuinya Putri sudah lewat. Sudah disapih. Jadi gak perlu lagi masuk-masuk ke ruang laktasi ini dengan segala drama-dramanya, hahaha
Tempat Isi Daya dan Air Minum


Ini dua fasilitas terbaik yang ada di KAI, dan selalu saya gunakan jika ada kesempatan. Khususnya air minum tuh yaaa, yang memang gratisss. Udahlah gitu, tersedia opsi air dingin juga. Mantap betul!
Untuk pegiat frugal seperti saya, matanya pasti langsung berbinar-binar kala melihat mesin ini, hihihi
Sementara untuk yang fakir daya, tak perlu khawatir. Karena colokan pun sudah tersedia, dan siap untuk digunakan. Tapi kalo saya mah kebetulan udah prepare ya. Sebelum berangkat, semua gawai di-charge sampai 100 persen dulu.
Daya perangkat penuh, hati pun tenang dan riang.
Turun ke Area Peron

Tak lama kemudian, kami mendengar suara panggilan dari petugas untuk para penumpang KA Gunungjati.
Wis, kami pun langsung segera berpindah lokasi sesuai instruksi. Meninggalkan area tunggu, lalu menuruni eskalator menuju ke area peron 3.


Di Stasiun Bekasi ini, kereta yang datang tak akan berhenti lama. Hanya mampir sebentar, lalu tancap gas lagi menuju ke stasiun berikutnya.
Maka dari itulah, posisi antrian penumpang pun akan diatur sedemikian rupa oleh para petugas yang sudah bersiaga. Mereka segera membagi dan mengarahkan penumpang sesuai kelas serta nomor gerbong yang tertera di tiket masing-masing.
Untungnya untuk gerbong kelas Ekonomi, posisinya masih agak ke tengah ya. Jadi lumayan hemat energi, gak perlu capek-capek geret koper lagi sampai ke area penghujung gerbong.
Yah maklum lah, hari sudah semakin malam. Tenaga dan kesadaran pun kian menipis…

Sekitar 5 menit kemudian, saya bisa lebihat cahaya yang tiba dari kejauhan. Cahaya terang yang bergerak perlahan, makin mendekat.. dan terus mendekat.
“Aaaaaaah.. itu dia keretanya! Yuk, siap-siap!”
Suasana di Dalam Gerbong

Ketika memasuki kabin, saya langsung merasakan sebuah sensasi familiar, atau bahasa populernya : dejavu.
Deretan kursi berwarna cokelat yang tidak bisa diputar (retractable), dimana setengah gerbong menghadap ke depan dan sebagiannya lagi menghadap belakang. Membuat saya langsung teringat kala terakhir kali kami ke Bandung naik KA Argo Parahyangan.
Sepertinya, gerbong sejenis ini sudah ‘dilungsurkan’ ya. Dari yang tadinya kelas bisnis, sekarang turun kasta menjadi gerbong ekonomi. Hal serupa yang saya perhatikan dari kereta ekonomi sejenis, semisal KA Cikuray.
Meskipun kursi model begini terhitung nyaman (karena gak terlalu tegak), tapi posisi keberangkatannya terasa untung-untungan. Sebab, kalau lagi ‘apes’, kita bakal mendapatkan kursi yang menghadap ke belakang, sehingga keretanya jadi terasa berjalan mundur.
Dan lebih apes lagi kalau misalkan kita dapet posisi kursi yang ada di deretan 12, karena nantinya akan mendapat kursi yang saling berhadapan. Mirip-mirip kayak di gerbong ekonomi yang lawas.

Daaaan yah, sudah bisa ditebak. Saya mah apesnya double, hahahaha.
Karena selain mendapatkan kursi yang menghadap arah belakang kereta, saya juga dapet kursi yang tepatttt persis nomor 12A dan 12B. Jadi udah mah berangkatnya mundur, adep-adepan pulak.
Jiaaaaahhhhh…


Tapi wis, yaudahlah lah yaaa. Toh, perjalanan ini pun nggak yang lama-lama amat. Cuma sekitar 2,5 jam saja. Dan situasi di sekeliling kereta yang gelap gulita, membuat kami tidak bisa sepenuhnya merasakan kereta ini bergerak ke depan ataupun ke belakang.
Ditambah lagi, sejak memasuki gerbong tadi Putri tuh udah beberapa kali menguap. Malam sudah larut, dan sepertinya Ia sudah mulai ngantuk berat. Atau lebih tepatnya sih, memang sudah waktunya dia tidur juga ya.

Pada akhirnya, baik Thina maupun Putri, dua-duanya tertidur dengan pulas selama perjalanan. Rencana untuk melipir ke gerbong restorasi pun, hanya menjadi angan-angan belaka, hahahaha.
Tiba di Stasiun Cirebon

Tepat jam 1 dini hari waktu setempat, suara pengumuman dari Masinis membangunkan kami semua. Mengingatkan bahwa kereta akan tiba di Stasiun penghujung, yakni Stasiun Cirebon.
Ya, KA Gunungjadi ini rutenya emang cuma sampai ke Cirebon aja, nggak lanjut ke daerah Jawa sonoan lagi. Itulah mengapa ketika kami mengintip ke sisi kanan kiri, nampak gerbong sudah sangat sunyi dan sepi sekali. Sebab, sebagian penumpang sudah turun di Stasiun sebelumnya, yakni Stasiun Arjawinangun.
Smartphone saya pun berdering, panggilan dari Farid yang menanyakan dimana posisi kami saat ini. Sepertinya dia sudah menanti di parkiran sejak setengah jam yang lalu.
Well, Kuningaan… Here I Come!
Nantikan cerita liburan lebaran saya di seri tulisan berikutnya yaaa!
Bekasi, 7 April 2026
Ditulis sembari mengintip jok motor yang abis dicakarin kucing.




Aku pernah sih ke cirebon dari stasiun Gambir mas, dan dapetnya jam 11 malem juga, cuman kan bukan suasana idul fitri, tapi ya tetep aja itu libur tgl merah, syukur ga ada anak kecil, kan kasian kalo udah kemaleman, fasilitas di stasiun juga udh lumayan sih, sama jg keq di Gambir ada air minum gratis, keq nya apa semua stasiun gitu jg ga yak, cuman pas sampe stasiun kita di jemput mobil travelnya, pan sampe jam 2 apa 3 gitu.
Kalo gambir mah kayaknya lebih nyaman mbaaak. Apalagi kelas eksekutifnya, kayaknya sih dapet semacem lounge khusus gitu yaa, jadi lebih nyaman lagi fasilitas di dalamnya, hihihi.
Tapi penasaran si, kapan2 pengen nyobain kereta yang agak mahalan dikit dari gambir, hihihi
waiting lounge nya nampak selesa, cantik dan moden! priceless experience sgt ni
Terakhir ke stasiun Bekasi sekitar tahun 2000,-an
Wah semakin keren banget ya
Harga tiket tergolong murah
Dulu, naik kereta api, jika tidak kebagian kursi, duduknya di lorong atau bahkan di wc nya.
Wah ayo sesekali naik lagi mas. Cobain naik kereta Walahar, dari bekasi ke Cikarang dulu.
Tiketnya murah lho, cuma 4000 an saja.
Lumayan bagus sekarang mbak suzie. Kalau ada waktu, boleh sesekali nanti coba naik kereta dari sini, hehehe
Fasilitasnya lengkap sangat. Saya suka tempat yg boleh isi air minum tu!
Perjalanan 2.5 jam tidaklah terlalu lama. Nyengak putri sama wife tidur ya hahaha
Betul mbak, makanya saya ndak sempat mampir ke restorasi sama sekali.
benar-benar masuk ke kabin, lepas tu langsung tidur hahahaha
Orang sedang enak2 tidur, di fotonya! Memang nakal penulis ini… hahaha.
FYI: Gerbong di Malaysia di sebur Gerabak
Hahahaha, biar ada dokumentasi dong uncle.
Wah, diksi baru lagi nih. hihihi, makasih uncle
Pengalaman yang sangat menarik..
Nampak bersih dan selesa kesemua keadaan di stesen..
Mujurlah sudah ada yang menanti di penghujung jalan ya..
Alhamdulillah, kebetulan Adik bungsu yang waktu itu menjemput 😀
menarik sungguh perjalannya.. kalau di Malaysia, tiket kereta api itu, memang harus di beli awal2..lagi bagus sebulan awal, kalau tidak, memang sudah sold out
Laris betul ya. Tidak di Indonesia, tidak di Malaysia. Kereta Api selalu jadi primadona
Naik kereta api malam rasanya lebih nyaman ya, berbanding siang, kerana panas. Lagi-lagi lewat malam, tidur sajalah, biasanya. Tapi kena ada family member yang alert la ya, takut satu keluarga tidur, boleh terlepas stesen yang harus diturun. 😀
Nah oya, cuma minusnya jadi tak bisa melihat ada apa saja di sekitar kereta api jadinya, hihihi.
Apalagi kalo kertanya tidak berhenti di stasiun akhir. Wah itu ngeri-ngeri sedap mbak, hahaha
Bayangin tahun 90an mamang naek kereta dari Jakarta ke Cirebon pake nama keretanya Tegal Arum dulu dari pasar senen, karena kalo naik Cirebon Express kala itu ga kejangkau harganya…
pas masuk malem lampu neon yang nyala cuma satu, jendela yang bisa kebuka atasnya, ga bisa di tutup, KOndektur mengingatkan supaya jangan naro tas di meja deket jendela takut ada bajing loncat
Sekarang alhmadulillah ga bakal nemu lagi suasana seperti ini
Penasaran tahun 90an keretanya kayak gimana ya? Apakah ada yang non AC kalau ke arah luar kota sana?
Sekarang mah Alhamdulillah aman mang. Jarang banget ada kasus bajing loncat. Paling adanya kasus lempar batu ke kaca aja.
Eh, Jar. klo dapat kursi berhadapan gitu, leg room nya lebih lebaaarrr loh.
Aku pas dari Jogja ke Sbu, naik Sancaka pagi, dapat KA ekonomi premium, seat coklat persissss kyk gini
Dan IMHo kalo jarak deket, meskipun jalan mundur, is okayyy yha..
dan yeahhh st Bekasi memang ciamiik. Thn lalu pas ponakanku merit, aku naik KA ke Sby juga berangkat dari st Bekasi. Minusnya satu doang: Variasi tempat jajannya kureeengg
aku mau jajan Kopi Kenangan aja , kudu kluar stasiun dulu
Eh iya si, enaknya jadi lebih legaaaa. Cuma ya tetep aja, rada awkward kalo adep-adepan gitu. Apalagi kalo sama orang yang kita gak kenal, wkwkwk
yaaa bener si. Kalo dibanding sama gambir, secara jajanannya kurang banyak. Tp ya wajar juga, karena ini kan bukan stasiun utama.
kini pengangkutan awam spt LRT n MRT semakin selesa dan ada banyak fasiliti disediakan kpd penumpang2 di stesen. keep it up!
Terima kasih banyak uncle!