Di era modern yang luar biasa sekarang ini, smartphone dan internet sepertinya sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Sebegitu pentingnya smarphone bagi people zaman now, sampai-sampai mereka lebih memilih untuk ketinggalan dompet ketimbang ketinggalan smartphone-nya.

Pun begitu juga dengan saya pribadi, yang saat ini berprofesi sebagai admin olshop. Smartphone merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam hidup saya, setiap jam, setiap menit, dan setiap detiknya.

Dalam satu hari, smartphone saya mungkin bisa berdering puluhan kali, dan menerima hingga ratusan notifikasi.

Ya, ratusan. Mulai dari chat para buyer di Whatsapp, SMS konfirmasi dari para driver ojek online, hingga berbagai notif lainnya dari aplikasi e-Commerce yang saya gunakan untuk berjualan. Seperti Tokopedia, Bukalapak dan Shopee. Tak jarang, saya harus menghela nafas panjang karena smartphone saya terasa lemot sekali saat akan berpindah antar aplikasi. Bahkan lebih parah lagi, seringkali smartphone saya pun nge-hang karena tak sanggup menahan beban tugasnya yang berat itu. Hiks 🙁

Smartphone yang saya gunakan sebelumnya adalah Xiaomi Redmi 4X, dengan spesifikasi yang terbilang cukup pas-pasan seperti RAM 2GB, dan Internal Memory 16GB saja. Awalnya saya pikir smartphone untuk mengelola olshop itu tidak perlu tinggi-tinggi. Spesifikasi standar dan pas-pasan juga sudah cukup. Toh cuma buat jualan ini, bukan buat main game.

Tapi ternyata dugaan saya salah. Dengan semakin banyaknya media yang saya gunakan untuk berjualan, maka semakin besar pula tuntutan spesifikasi yang diperlukan untuk menunjang keseluruhan operasional saya sehari-hari. Itu artinya, sudah waktunya bagi Redmi saya untuk pensiun lebih dini. Saya pun mencoba bersemedi, mencari smartphone pengganti untuk saya pinang selanjutnya.

Bagi seorang jebolan fakultas ekonomi seperti saya, tentu sangat haram hukumnya membeli sesuatu hanya atas dasar keinginan yang menggebu-gebu saja. Dalam membeli berbagai barang kebutuhan saya, selalu saya hitung dan pikirkan secara mendalam. Bahkan, seringkali saya membuat perbandingan dengan berbagai produk sejenis lainnya, sehingga pilihan saya benar-benar tepat dan tidak menyesal di kemudian hari.

Dan akhirnya, setelah bersemedi selama satu minggu penuh.. Sepertinya saya telah berhasil menemukan pilihan yang tepat. Pilihan itu adalah…… BlackBerry Aurora 🙂

Wait, what? Blackberry? Emangnya masih ada ya yang pake Blackberry? Bukannya udah ketinggalan zaman?

Well, memang benar adanya kalau BlackBerry sudah terlempar jauh dari persaingan Smartphone di Indonesia. Tapi itu bukan berarti brand legendaris ini sudah sebegitu jadul dan ketinggalan zaman. Buktinya, sampai sekarang Blackberry pun tetap menelurkan sejumlah inovasi dan model smartphone terbaru.

Cuma ya… Gitu. Emang kurang laku aja si di pasaran Indonesia.

Pun begitu juga dengan BlackBerry Aurora ini. Saat pertama kali diluncurkan, harganya cukup tinggi hingga mencapai angka 2.9 juta rupiah. Alih-alih laku, produk ini justru anjlok dan gagal menarik minat pembeli di pasaran. Hingga akhirnya, tahun ini harganya pun hancur lebur menjadi kisaran 1.4 juta rupiah saja.

Dan itulah alasan utama kenapa saya merekomendasikan smartphone ini untuk dipinang. Bayangkan saja, dengan hanya merogoh kocek sebesar 1.4 juta rupiah saja, kita bisa mendapatkan fitur-fitur dari smartphone seharga 2 juta keatas. Diantaranya adalah layar lebar berukuran 5.5 Inch, RAM dan Memory Internal Ekstra lega 4 / 32Gb, dan dukungan OS terbaru, Android Nougat. Wahwah.. ini baru nih, spek idaman para admin olshop 😀

Yuk ah, langsung aja kita bahas semuanya secara detail, satu per satu. Mulai dari…

 

1. Desain & Build Quality

Elegant & Luxurious, mungkin dua kata itu yang paling tepat untuk menggambarkan pendapat saya akan desain dari Blackberry Aurora ini. Layarnya yang melengkung di bagian sisi, dengan warna hitam pekat saat dalam kondisi off, membuat smartphone ini terasa sangat mewah saat berada di atas meja kerja saya. Apalagi logo Blackberry berwarna chrome yang berkilau di bagian belakang, seakan mempertegas image ‘mewah’ yang dibangun oleh Blackberry Aurora.

Bagian belakang dari smartphone ini memang bukan terbuat metal ataupun kaca, melainkan lapisan seperti karet dengan tekstur yang sedikit kasar. Namun, saya justru menyukainya. Bahan yang semi-semi karet ini membuatnya tidak licin dan nyaman di genggaman tangan, serta tidak terasa panas saat digunakan untuk beban kerja  yang berat. Build Qualitynya pun cukup bagus, cukup berat dan solid, sehingga tidak terasa ringkih sama sekali.

Ada 4 buah tombol yang tersedia di samping kanan dan kiri smarphone ini. 2 buah tombol volume di sebelah kanan, berdampingan dengan 1 buah tombol khusus yang disebut Convenience Key. Tombol ini digunakan untuk mengakses aplikasi favorit kita dengan lebih cepat. Bisa diset menuju untuk Kamera, Gmail, atau aplikasi to-do seperti yang saya atur sekarang ini.

Lantas dimanakah tombol powernya? Nah, secara mengejutkan ia justru ditempatkan di sebelah kiri smartphone. Posisi yang tidak lazim untuk sebuah tombol power. Sampai-sampai saya merasa harus beradaptasi ulang. Seringkali tombol Convenience Key tertukar karena saya salah menganggapnya sebagai tombol power. Duh, bener-bener kudu adaptasi ya 🙁

Tidak ada tombol navigasi yang disediakan oleh BlackBerry. Jadi untuk tombol navigasinya sendiri sudah menyatu di dalam layar, dan secara otomatis menghilang saat sedang digunakan untuk bermain game. Meski begitu, terkadang saya merasa sebal, karena tombol navigasi ini selalu ikut ter-ambil saat saya sedang men-screenshot layar.

Oya, desain BlackBerry Aurora ini bukan Unibody ya. Jadi kita bisa membuka bagian belakangnya untuk mengganti kedua SIM Card atau menambahkan memory tambahan berbentuk MicroSD. Tapi meski begitu, baterai dari smartphone ini ternyata merupakan baterai tanam. Jadi khusus untuk baterainya tidak bisa dicabut atau diganti selayaknya smartphone non-unibody lainnya. Weleh, ada-ada aja ya 😀

 

 

2. Performa Kerja

Untuk smartphone terjangkau yang hanya dihargai 1,4 juta rupiah saja, Blackberry Aurora ternyata dilengkapi dengan spesifikasi yang lumayan mumpuni, diantaranya adalah :

  • LCD IPS 5.5 Inch, resolusi 720 x 1280 pixels
  • Chipset Qualcomm MSM8917 Snapdragon 425
  • CPU Quad-core 1.4 GHz Cortex-A53
  • GPU Adreno 308
  • Internal Memory 32 GB, 4 GB RAM
  • OS Android 7.0 (Nougat)
  • Non-removable Li-Ion 3000 mAh battery

 

Salah satu yang perlu saya garis bawahi dari spesifikasinya adalah RAM-nya yang sangat luas sebesar 4 GB. Prosesor yang ditanamkan mungkin saja tidak terlalu istimewa, yakni hanya Snapdragon 425. Tapi dengan RAM sebesar itu, berbagai aplikasi baik itu e-Commerce maupun media sosial, bisa dieksekusi dengan sangat mudah dan cepat. Berpindah antar aplikasi pun terasa sangat smooth, tanpa ada lag yang berarti.

Ini sangat ideal untuk kebutuhan saya sebagai admin olshop, dimana saya harus membuka satu per-satu notifikasi yang muncul dari berbagai aplikasi yang berbeda. Semakin cepat smartphone ini mengkakses, maka semakin lancar pula pekerjaan saya. Apalagi smartphone ini sudah mendukung Android versi ‘lumayan terbaru’, yakni Android Nougat. Jadi bakalan cocok deh untuk kebutuhan jangka panjang.

Memang, dalam hal penggunaan gaming, smartphone ini memang terasa kurang nendang. Untuk game standar seperti Mobile Legends atau AOV sih mungkin lancar-lancar saja. Nah, begitu game-nya udah lumayan berat seperti PUBG, seringkali terjadi frame drop sehingga outputnya jadi terasa agak patah-patah. Tapi yaa, namanya juga Blackberry. Dari dulu Ia kan lebih terkenal sebagai sebagai smartphone bisnis ketimbang smartphone gaming. Jadi kalian jangan berharap banyak yak! 😀

Oya, satu-satunya kekurangan yang paling menonjol dari smartphone ini adalah kapasitas baterainya yang cukup pas-pasan. Dengan kapasitas hanya 3.000 MaH, seringkali saya harus nge-charge lebih sering karena baterainya memang terasa cukup boros. Solusinya, yaah… mungkin akali aja dengan menurunkan kecerahan layar, hehehe.

 

 

3. Kualitas Kamera

Blackbery Aurora dilengkapi dengan kamera yang lumayan bagus, dengan 13 Megapixel di bagian belakang dan 8 Megapixel di bagian depan. Uniknya, kamera depannya ternyata dilengkapi dengan flash, sementara bagian belakangnya dilengkapi dengan double flash. Weleh, banjir flash ini sih yak 😀

Dari dulu, Blackberry memang terkenal dengan hasil kameranya yang menawan. Dan hal itu pun terbukti dengan kamera Blackberry Aurora ini yang terasa sangat baik dan responsif. Kalau dibandingkan dengan smartphone saya sebelumnya, hasil jepretan Blackberry Aurora terasa lebih tajam dengan detail yang lebih dalam.

Sementara untuk kamera depannya, ternyata tidak kalah jernih dibandingkan dengan kamera belakangnya. Fokusnya pun terasa cepat, dan memberikan hasil yang memuaskan baik untuk jepretan indoor maupun outdoor. Terlebih lagi, kamera depannya dilengkapi dengan flash, yang tentunya sangat membantu untuk ber-selfie ria dalam kondisi kurang cahaya.

Berikut ini sejumlah hasil percobaan jepretan saya ya :

Kamera belakang, Outdoor

Kamera Belakang, Indoor

Kamera Depan, Outdoor

Kamera Depan, Indoor

Gimana? Lumayan bagus kan untuk ukuran smartphone 1,4 jutaan? Hehehe. Okelah, lanjut lagi ya ke poin pembahasan selanjutnya yaitu..

 

 

4. Kualitas Speaker

 Jujur saja ya, kualitas speaker bawaan dari Blackberry Aurora ini benar-benar terasa… Buruk.

Volume output suaranya tidak hanya sangat kecil, tetapi juga cempreng saat diatur dalam setting-an volume tertinggi. Untuk mendengarkan musik via Spotify, sepertinya mustahil untuk bisa dinikmati kecuali kita menggunakan headset di telinga. Ya, speaker sepertinya bukan poin yang bisa diunggulkan dari smartphone yang satu ini.

Untungnya Blackberry masih bermurah hati ya, dengan memberikan headset pabrikan di dalam isi box Aurora. Jadi setidaknya, kegelisahan kita akan kualitas speakernya yang buruk masih bisa ‘sedikit terobati’.

 

5. Fitur-Fitur Lainnya

Meskipun Blackberry Aurora dilengkapi dengan spesifikasi yang cukup mumpuni, namun ternyata dari segi fitur, ia bisa dibilang kurang lengkap. Beberapa fitur yang tidak hadir di smartphone ini diantaranya adalah Dual Camera, Sensor NFC, Sensor Gyroscope, serta Sensor Fingerprint.

Tapi dari sekian banyak fitur yang absen tadi, sepertinya tidak banyak berpengaruh dalam penggunaan sehari-hari saya. Palingan hanya Fingerprint saja yang paling terasa efeknya. Kalau biasanya di Redmi 4X saya tinggal menyentuhkan jari ke sensor untuk membuka kunci, kini saya harus kembali ke metode lama : menekan tombol power dan memasukkan pola keamanan.

Yah.. mau gimana lagi, namanya juga hape murah 😀

 

 

 

KESIMPULAN.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya yang sudah saya sebutkan diatas tadi, maka apakah Blackberry Aurora ini masih pantas untuk kita beli? Ehm… jawabannya sih kembali lagi ya, kepada pilihan dan selera masing-masing.

Kalau menurut saya sih, layak banget. Karena untuk menunjang kebutuhan saya sebagai admin olshop, spesifikasi dan RAM yang ekstra besar dari Aurora ini membuat saya bisa melaksanakan pekerjaan saya sehari-hari dengan lancar tanpa hambatan yang berarti sedikitpun. Harganya yang cuma 1,4 juta sudah pasti sebanding untuk menebus semua itu.

Tapi sayangnya, kalau kebutuhan kalian lebih ke entertain, maka sebaiknya kalian tahan saja dulu. Karena kekurangan dari Aurora ini sudah nampak jelas : Speaker yang cempreng, Prosesor kelas bawah, serta Baterai yang cukup boros. So this is perfect for the online shop, but very bad for the entertainer / gamer.

 

BLACKBERRY AURORA.
Kelebihan : RAM dan memory ekstra-besar, Layar lebar, Performa oke, Kualitas kamera mantap, Harga sangat terjangkau.
Kekurangan : Speaker cempreng, Boros baterai, Agak laggy untuk gaming, belum ada sensor fingerprint.

 

 

Bekasi, 17 September 2018
Ditulis sambil menambahkan wishlist baru di aplikasi Tokopedia.