Beberapa waktu belakangan ini sepertinya saya bekerja terlalu keras. Sampai-sampai, saya tidak ingat bahwa tanggal 17 Agustus kemarin ternyata merupakan tanggal merah. Yap, sepertinya berbagai kegiatan dan kesibukan membuat saya lupa merencanakan jadwal untuk berlibur. Sehingga di pagi hari yang syahdu itu, saya hanya terdiam lesu di dalam kamar. Tanpa rencana sedikitpun..

Pacar saya, Thina, saat itu sedang kebagian jadwal menjaga pendaftaran mahasiswa baru di kampusnya. Jadwal jaganya cukup padat, dari pagi hari hingga pukul enam sore. Otomatis, ia pun tidak bisa menemani saya untuk pergi berpetualang hari ini.

Eh, bentar..Berpetualang? Emangnya saya mau berpetualang kemana? Apanan rencana juga kan ga ada ya 🙁

Otak saya pun langsung berputar-putar dengan begitu kencangnya. Jemari saya mulai menyusuri isi Google beserta hasil pencariannya satu per satu. Hingga akhirnya, tanpa butuh waktu lama, secercah lampu bohlam 5 watt pun muncul di samping kepala saya. ‘Saya mau ke puncak aja ahhh!’, gumam saya dalam hati.

Segera saja saya berpacking ria dengan sekebut-kebutnya. Daypack Everki kesayangan saya pun saya letakkan di atas meja. Tidak banyak sih peralatan yang saya bawa, cuma kamera DSLR, action camera, tripod, monopod, gimbal, steadycam, peralatan lightning, lampu studio… Eh, Mukhlis, itu mah banyak namanya.

Saat itu jam dinding sudah menunjukkan waktu pukul 10 siang. Bisa dibilang, ini sudah terlalu siang untuk berangkat menuju ke puncak bogor. Tapi hal tersebut tidak terlalu saya risaukan, kareana saya berangkat dengan mengendarai motor. Jadi ga akan ngaruh deh tuh sama yang namanya buka tutup jalur. Gaspol ajalah.

Destinasi utama saya waktu itu adalah Masjid At-Tawun. Sebuah masjid ikonik di daerah puncak, yang terkenal karena pemandangan di sekelilingnya, ketenangannya, dan air wudhu nya yang dingin seperti air kulkas. Wah, tak sabar rasanya saya untuk bisa segera tiba ke mesjid tersebut. Motor kawasaki pun saya kendarai dengan agresif, menyalip satu per satu kendaraan dengan kecepatan tinggi..

Sayangnya, di postingan ini saya tidak akan bercerita tentang Masjid At-Tawun, ehehehe. Biarlah nanti cerita mengenai Masjid tersebut akan saya sajikan di artikel yang berbeda. Dengan gaya penulisan yang lebih religius, tentunya.

Kali ini saya akan bercerita pengalaman saya sepulang dari perjalanan ke puncak tersebut…

 

——–

 

Perut saya tiba-tiba mengalunkan nada-nada keroncong, pertanda sudah waktunya bagi saya untuk beristirahat sejenak. Mengilangkan rasa lapar dan dahaga yang mulai terasa begitu menyeruak. Saya pun menurunkan kecepatan motor saya, sambil sesekali celingak celinguk melihat sisi kanan dan kiri jalan raya.

Akhirnya pandangan saya tertuju pada sebuah kedai ramen sederhana, tak jauh dari Jalan Raya Ciawi – Cianjur. Nama yang tertera di spanduk kedai tersebut adalah Ramen Giant, lengkap dengan ilustrasi karakter Giant dalam kartun Doraemon di atasnya. Posisinya cukup strategis, karena berada persis di samping SPBU. Jadi meskipun area parkirnya terbatas, tapi kita bisa numpang parkir di SPBU apabila datang dengan membawa mobil.

Tanpa pikir panjang, saya pun langsung melangkahkan kaki ke area dalam kedai tersebut..

Suasana di dalam kedai ini terasa cukup tenang. Mungkin karena saya datang di momen 17 agustusan, sehingga pengunjung kedai saat itu tidak terlalu ramai. Di kedai ini tersedia dua pilihan tempat duduk. Ada yang model kursi duduk, dan ada juga yang lesehan. Berhubung saya memiliki garis keturunan orang sunda, jadi saya pilih yang lesehan aja deh. 😀

Beberapa saat kemudian, salah seorang pelayan menghampiri saya dan memberikan buku daftar menu. Saya pun langsung membukanya, dan menatapi satu per satu menu yang tersedia.

Menu ramen yang tersedia disini cukup banyak dan bervariasi. Nama-nama yang digunakan pun cukup unik, dan agak berbeda dibandingkan restoran jepang lainnya. Misalnya ada Ramen Kompilasi, Ramen Monster, Ramen Sea World.. Duh, itu isinya apaan aja ya? Sepertinya saya harus memanggil pelayan untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut.

 

Pada akhirnya, pilihan saya pun tertuju pada menu Giant Ramen, yang mana merupakan menu ramen spesial di tempat ini. Pikir saya, menu spesial artinya menu yang paling enak. Dan porsinya paling banyak juga, tentunya. hehehe. Sebagai tambahan, saya memesan 1 porsi chicken wings. Sementara untuk minumannya saya pesan yang standar saja, 1 gelas es teh manis. Yap, lengkaplah sudah pesanan saya.

Sesaat setelah pelayan mencatat semua pesanan saya dan beranjak menuju dapur, tiba-tiba batin saya bergumam. ‘Haduuuh.. ini mah gagal deh rencana buat diet, hihihi’ 😀 . Tapi tak apalah, namanya lagi kulineran, ya musti nyobain makanan yang enak dongs. Soal rencana diet dipinggirin dulu aja deh untuk sementara waktu.

 

 

Tak lama kemudian, satu per satu pesanan saya pun mulai berdatangan ke atas meja. Yang pertama kali datang adalah es teh manis terlebih dahulu. Saya pun langsung takjub, karena ukuran gelasnya cukup besar dan nampak terisi dengan penuh. Ini sih, kalo untuk ukuran cewe, bisa buat minum 2 sampe 3 orang kayaknya deh. Serius!

Tapi meski jumlahnya cukup banyak, bukan berarti bikinnya buru-buru dan asal-asalan ya. Rasanya sih lumayan nikmat kok, manisnya juga pas. Gula yang digunakan juga bukan gula pasir, melainkan gula cair yang biasanya dihgunakan di hotel dan restoran-restoran mainstream. Mantep deh pokoknya.

 

Beberapa saat kemudian, giliran menu Giant Ramen dan Spicy Chicken Wings yang gantian tersaji di atas meja saya. Dan lagi-lagi saya pun takjub, karena ukuran mangkok ramennya ternyata cukup besar. Jauh lebih besar dari yang saya bayangkan sebelumnya. Benar-benar Giant, sesuai seperti namanya.

Topping yang disediakan cukup lengkap, mulai dari yang standar seperti potongan crab, jamur, dan wortel. Hingga yang unik seperti chicken drumstick dan otak-otak. Ya, saya serius! Ada otak-otak di toppingnya, jadi unik banget ya. Ini semacem akulturasi rasa Jepang dan Bogor Wetan sepertinya sih, ehehehe. 😀

Soal rasa, saya sih berani ngasih dua jempol untuk menu ramen yang satu ini. Kuahnya terasa begitu sedap, meskipun tidak terlalu kental sih ya. Rasa mie nya pun sangat enak, berpadu dengan berbagai macam toppings yang berkumpul di atasnya. Langsung saja saya menyantapnya dengan lahap, sesendok demi sesendok.

Oya, masih ada 1 pesanan lagi yang belum saya habiskan, yakni Spicy Chicken Wings. Menu yang terakhir ini juga tidak kalah sedapnya. Bumbu spicy nya lumayan terasa di lidah, berpadu dengan mayonaise dan potongan sayuran-sayuran kecil di atasnya

Secara keseluruhan, saya menikmati seluruh sajian yang saya pesan dari Ramen Giant ini. Bahkan lebih dari itu, perut saya yang tadinya meringis keroncongan pun, kini melenguh karena kepenuhan. Haduh, serba salah ya. Laper berasa sakit perut, kekenyangan juga rasanya sakit perut. hehehe 😀

Oya, harga yang dipatok pun lumayan terjangkau kok untuk kantong-kantong generasi milenial. Untuk 1 porsi ramen ‘raksasa’ itu saya hanya perlu membayar 27 ribu rupiah saja. Ditambah 17 ribu rupiah untuk spicy chicken wings dan 6 ribu rupiah untuk 1 gelas munclung es teh manis. Totalnya beserta PPN1 0%, hanya di kisaran 50 ribuan saja. Worth it deh untuk ukuran makanan dan minuman sebanyak itu.

Jadi kesimpulannya, kalau kalian lagi jalan ke puncak, jangan lupa mampir kedai ramen yang satu ini ya.

Recommended banget 😀

 

Ramen Giant
Jl. Raya Ciawi – Cianjur No.372, Bendungan, Ciawi, Bogor, Jawa Barat 16720
Telp : (0251) 8885458
Instagram : @Ramen_Giant

 

Bekasi, 29 Agustus 2018
Ditulis sambil mencari lirik lagu depapepe di google.